Kisah Pria di Sulawesi Selatan yang Rutin Minum Semen Setiap Hari
https://www.belajarsampaimati.com/2026/07/kisah-pria-di-sulawesi-selatan-yang.html
![]() |
| Ilustrasi/detik.com |
Dua atau tiga sendok semen. Dicampur air. Diaduk. Diminum. Kalimat itu terdengar seperti tantangan iseng yang muncul tengah malam di internet, atau cerita berlebihan yang biasanya berakhir dengan seseorang tertawa lalu berkata, “Ah, masa, sih?”
Masalahnya, cerita ini bukan lelucon. Di Kabupaten Takalar, Sulawesi Selatan, seorang pria bernama Haris Dg Ngalle benar-benar melakukan itu. Ia bekerja sebagai kuli bangunan. Tubuhnya kurus. Wajahnya biasa saja. Tidak tampak seperti manusia yang sedang melakukan sesuatu yang secara teori bisa membuat dokter panik. Warga sekitar mengenalnya dengan julukan yang sangat spesifik: Rumbu. Dalam bahasa Makassar, rumbu berarti bubuk semen.
Nama panggilan itu bukan muncul karena profesinya. Nama itu muncul karena kebiasaannya. Ia suka minum semen.
Berita tentang Haris sempat menyebar ke seluruh Indonesia pada 2023. Video-video dan potongan wawancara beredar di media sosial. Orang-orang menontonnya dengan ekspresi yang hampir sama: antara takjub, ngeri, dan penasaran. Kamera memperlihatkan bubuk semen abu-abu dituangkan ke dalam gelas. Air ditambahkan. Campuran itu berubah jadi cairan keruh yang tampak seperti kopi susu yang salah aduk.
Haris meminumnya tanpa ragu.
Bagi kebanyakan orang, bagian paling aneh bukan tindakan itu sendiri. Manusia memang sering melakukan hal-hal aneh. Bagian paling aneh adalah fakta bahwa ia mengaku baik-baik saja. Tidak sakit perut. Tidak muntah. Tidak tumbang. Tidak masuk rumah sakit.
Ia bahkan mengatakan kebiasaan tersebut membuat tenaganya lebih kuat. Kalimat itu terasa seperti pukulan kecil terhadap semua pengetahuan dasar yang kita miliki tentang tubuh manusia.
Semen dibuat untuk menyatukan batu bata. Semen dibuat untuk mengikat pasir. Semen dibuat untuk mengeras. Tidak ada satu pun bagian dari proses produksinya yang dirancang dengan asumsi bahwa suatu hari produk itu akan masuk ke lambung seorang manusia di Takalar.
Karena itulah kisah Haris menarik. Bukan semata karena ia minum semen, tapi karena cerita itu mempertemukan dua hal yang sering berbenturan dalam kehidupan sehari-hari: pengalaman pribadi dan ilmu pengetahuan.
Pengalaman pribadi berkata, "Saya minum semen dan saya sehat."
Ilmu pengetahuan berkata, "Semen bukan bahan konsumsi."
Masalahnya, manusia jauh lebih mudah mempercayai apa yang mereka lihat daripada apa yang mereka baca di buku.
Jika seseorang berdiri di depan kita sambil meminum semen, lalu tetap hidup bertahun-tahun, otak kita langsung mulai bernegosiasi dengan logika. Mungkin semen tidak berbahaya. Mungkin tubuh manusia lebih kuat daripada yang kita kira. Mungkin dokter berlebihan.
Pikiran semacam itu muncul otomatis. Padahal tubuh manusia penuh keanehan statistik. Perokok berat bisa hidup sampai usia sembilan puluh tahun. Sebagian orang minum alkohol hampir setiap hari dan tetap panjang umur. Ada orang yang selamat setelah jatuh dari ketinggian luar biasa. Keberadaan satu kasus tidak otomatis mengubah hukum umum. Tubuh manusia bukan mesin yang bekerja identik pada setiap orang.
Dokter yang diwawancarai media, ketika kasus Haris ramai dibahas, justru mengingatkan bahwa semen mengandung berbagai zat yang dapat merusak saluran pencernaan dan organ tubuh jika dikonsumsi. Efeknya bisa muncul perlahan. Bisa pula tidak langsung terlihat. Tubuh sering menyimpan kerusakan dalam diam.
Masalahnya, kerusakan yang terjadi dalam diam tidak pernah menarik perhatian publik. Yang menarik perhatian adalah pria yang minum semen dan masih sanggup mengangkat karung.
Saya memikirkan bagaimana berita ini diterima masyarakat. Banyak orang menanggapinya dengan nada bercanda. Banyak pula yang mengaguminya. Sebagian memperlakukannya seperti manusia super.
Kita memang menyukai cerita semacam itu. Manusia yang kebal racun. Orang yang tidak tidur selama berhari-hari. Pria yang makan paku. Perempuan yang hidup puluhan tahun tanpa makanan tertentu.
Kisah-kisah semacam itu selalu memiliki daya tarik yang hampir purba. Rasanya seperti mendengar dongeng yang berhasil lolos ke zaman modern.
Di Sulawesi Selatan sendiri, julukan Rumbu terdengar hampir seperti nama tokoh rakyat. Nama yang mungkin muncul dalam cerita warung kopi. Nama yang berpindah dari satu percakapan ke percakapan lain.
"Sudah dengar tentang Rumbu?"
"Yang minum semen itu?"
Orang tertawa. Cerita berlanjut.
Saya justru tertarik pada detail yang lebih kecil. Haris bukan atlet ekstrem. Bukan selebritas. Bukan influencer yang sedang mengejar perhatian internet. Ia seorang kuli bangunan. Sehari-harinya bergelut dengan pasir, batu bata, adukan semen, panas matahari, debu yang menempel di kulit sampai malam.
Lingkungannya membuat semen jadi benda biasa. Mungkin sesederhana itu. Kadang kebiasaan paling aneh lahir dari kedekatan yang terlalu lama dengan sesuatu.
Nelayan bisa memegang ikan yang membuat orang lain jijik. Peternak bisa makan bagian hewan yang tidak pernah disentuh orang kota. Kuli bangunan menghabiskan hidup bersama semen. Kedekatan sering menghapus rasa takut.
Di internet, kisah Haris berubah jadi tontonan nasional selama beberapa minggu. Orang-orang yang tidak pernah menginjak Takalar mendadak mengetahui keberadaan seorang pria bernama Haris Dg Ngalle. Beberapa media mewawancarainya. Beberapa dokter memberikan penjelasan. Beberapa orang mencoba mencari penjelasan ilmiah. Sebagian netizen sekadar datang untuk menonton keanehan.
Setelah itu perhatian publik bergerak ke tempat lain. Begitulah cara internet bekerja. Hari ini seluruh negeri membicarakan satu orang. Bulan depan hampir tidak ada yang mengingat namanya.
Saya mencoba mencari kabar terbaru tentang Haris dan tidak banyak yang muncul. Mungkin ia masih bekerja seperti biasa. Mungkin masih mengaduk semen. Mungkin masih meminum campuran yang membuat jutaan orang mengernyit. Mungkin sudah berhenti. Tidak banyak yang tahu.
Internet jarang tertarik mengikuti babak kedua sebuah cerita. Internet menyukai ledakan pertama. Sesuatu yang aneh. Sesuatu yang membuat orang berhenti menggulir layar selama tiga detik. Sesudah itu perhatian pergi. Sementara kehidupan nyata tetap berjalan.
Di Takalar, matahari tetap terik. Truk pengangkut material bangunan tetap lalu lalang. Debu tetap menempel di kulit para pekerja. Suara sekop menghantam pasir tetap terdengar dari proyek-proyek kecil. Entah di salah satu sudut tempat itu, Haris mungkin sedang duduk di atas tumpukan batu bata, memegang gelas plastik kusam yang bagi orang lain terlihat seperti ancaman medis.
Bagi dirinya sendiri, mungkin cuma minuman sore.


