Nokia Masih Menguasai Dunia Lewat Ponsel, Tapi Tak Terlihat

Ilustrasi/lippincott.com
Nama Nokia pernah begitu besar sampai terdengar seperti hukum alam. Pada awal 2000-an, di halte bus Jakarta, di kereta komuter Helsinki, di pasar malam Lagos, di jalanan New Delhi, orang-orang bisa berbeda bahasa, berbeda agama, berbeda warna kulit, tetapi benda yang mereka keluarkan dari saku sering kali sama: Nokia.

Nokia 3310. Nokia 1100. Nokia 6600.

Nada dering khasnya terdengar di mana-mana. Tombol-tombol karetnya aus karena terlalu sering dipencet. Baterainya nyaris tidak masuk akal. Ponselnya jatuh dari meja, terpental ke lantai, lalu tetap hidup seolah sedang mengejek gravitasi.

Karena itu banyak orang menganggap Nokia sebagai perusahaan ponsel yang gagal bertahan di era smartphone. Cerita yang rapi. Juga cerita yang salah.

Nokia bukan kisah tentang perusahaan ponsel. Nokia adalah kisah tentang seekor hewan aneh yang telah berganti kulit berkali-kali selama lebih dari satu setengah abad.

Lihat saja tempat kelahirannya. Bukan Silicon Valley. Bukan laboratorium elektronik. Bukan pusat teknologi modern. Tapi sebuah kota kecil bernama Nokia di Finlandia bagian selatan.

Pada abad ke-19, wilayah itu dipenuhi hutan, sungai, dan musim dingin yang panjang. Seorang insinyur tambang bernama Fredrik Idestam mendirikan pabrik bubur kertas di tepi Sungai Nokianvirta. Produk utamanya bukan telepon. Bukan elektronik. Bukan perangkat komunikasi. Kertas.

Sulit membayangkan bahwa perusahaan yang kelak menjual ratusan juta ponsel setiap tahun memulai hidupnya dengan mengubah batang-batang pohon menjadi lembaran kertas.

Kisah jadi lebih aneh ketika bisnis karet masuk ke dalam gambar. Menjelang akhir abad ke-19, perusahaan lain mulai memproduksi sepatu bot, ban, dan berbagai barang berbahan karet. Finlandia adalah negeri yang basah, berlumpur, dan dingin. Sepatu bot karet laku keras. Kabel listrik menyusul. Pembangkitan tenaga air menyusul.

Perusahaan-perusahaan itu perlahan saling terkait sampai akhirnya bergabung. Hasilnya bukan perusahaan teknologi. Hasilnya lebih mirip organisme konglomerat yang menjual apa saja yang bisa dijual.

Banyak orang tidak sadar bahwa, selama sebagian besar hidupnya, Nokia justru terlihat seperti Samsung modern. Bisnisnya tersebar ke mana-mana. Karet. Kabel. Energi. Elektronik. Infrastruktur.

Kalau seseorang datang ke Finlandia tahun 1950 dan diberi tahu bahwa Nokia suatu hari akan dikenal sebagai perusahaan ponsel, kemungkinan besar ia akan tertawa.

Tahun 1960-an membawa arah baru. Dunia sedang tegang. Perang Dingin membelah planet menjadi dua kubu besar. Komunikasi menjadi urusan strategis. Nokia mulai bergerak lebih dalam ke elektronik, transmisi data, radio militer, dan telekomunikasi.

Perusahaan itu punya kebiasaan yang menarik; mereka jarang terlihat romantis terhadap masa lalu.

Banyak perusahaan jatuh cinta pada identitas mereka sendiri. Nokia tampaknya tidak terlalu peduli. Jika kertas menjanjikan keuntungan, mereka menjual kertas. Jika kabel menjanjikan keuntungan, mereka menjual kabel. Jika elektronik terlihat menjanjikan, mereka masuk ke elektronik.

Ketika dekade 1980-an tiba, Nokia bahkan memproduksi komputer pribadi dan televisi. Di beberapa rumah Eropa Utara, nama Nokia pernah muncul di layar TV ruang keluarga jauh sebelum muncul di telepon genggam.

Saat itulah benih masa depan mulai tumbuh. Ukurannya belum muat di saku. Beratnya bisa beberapa kilogram. Antena menjulur seperti alat komunikasi dalam film spionase murahan.

Pada 1982, Nokia meluncurkan salah satu telepon mobil pertamanya, Mobira Senator. Bobotnya sekitar 10 kilogram. Menyebutnya "telepon genggam" terasa seperti lelucon. Membawa benda itu membutuhkan mobil.

Sebuah foto lama memperlihatkan perangkat tersebut diletakkan di dalam kendaraan seperti koper elektronik yang terlalu serius terhadap dirinya sendiri.

Beberapa tahun kemudian, sesuatu berubah. Perubahan besar sering terlihat dramatis jika dilihat dari jauh. Dari dekat biasanya terasa membosankan; rapat, laporan keuangan, restrukturisasi, pemotongan divisi.

Awal 1990-an, Finlandia mengalami resesi berat setelah runtuhnya Uni Soviet, salah satu mitra dagang pentingnya. Banyak perusahaan limbung.

Nokia mengambil keputusan yang saat itu terlihat gila. Mereka mulai membuang sebagian besar bisnis lamanya. Karet dilepas. Televisi dilepas. Komputer dilepas. Berbagai cabang usaha yang selama puluhan tahun menjadi bagian identitas perusahaan satu per satu ditinggalkan. Perusahaan yang pernah menjual begitu banyak hal memutuskan bertaruh hampir seluruh hidupnya pada telekomunikasi.

Taruhan itu berhasil secara spektakuler.

Di bawah kepemimpinan Jorma Ollila, Nokia berubah menjadi monster global. Pada akhir 1990-an dan awal 2000-an, pangsa pasarnya begitu besar sampai terasa tidak masuk akal. Di banyak negara berkembang, ponsel pertama seseorang kemungkinan besar adalah Nokia.

Benda kecil itu bukan sekadar alat komunikasi. Ia menjadi jam alarm. Senter. Kalkulator. Buku alamat. Kamera. Pemutar gim Snake. Bagi jutaan orang, Nokia adalah pintu pertama menuju dunia digital. Ironisnya, justru pada puncak kejayaan itulah benih kejatuhan mulai tumbuh.

Masalah Nokia bukan karena mereka tidak melihat smartphone. Mereka melihatnya. Masalahnya lebih rumit. Perusahaan sebesar Nokia telah menjadi kerajaan yang sangat sukses dalam satu jenis dunia. Dunia tombol fisik. Dunia baterai tahan seminggu. Dunia perangkat keras yang mendominasi.

Ketika iPhone muncul pada 2007, perubahan yang dibawa bukan sekadar bentuk ponsel baru. Apple mengubah pusat gravitasi industri. Perangkat keras mulai menjadi kendaraan bagi perangkat lunak.

Nokia memahami telepon. Apple memahami ekosistem. Google memahami platform. Perbedaannya terlihat kecil pada awalnya. Beberapa tahun kemudian, perbedaannya menjadi jurang.

Tahun 2013, Nokia menjual bisnis ponselnya kepada Microsoft. Banyak orang menganggap momen itu sebagai kematian. Narasinya terlalu sederhana. 

Perusahaan yang mati tidak menginvestasikan miliaran euro pada riset jaringan telekomunikasi. Perusahaan yang mati tidak membangun infrastruktur 5G. Perusahaan yang mati tidak memiliki ribuan paten komunikasi yang digunakan di seluruh dunia. Nokia hanya melakukan sesuatu yang sudah mereka lakukan selama lebih dari seratus tahun. Berganti kulit.

Hari ini, sebagian besar orang tidak berinteraksi langsung dengan produk Nokia. Mereka tidak memegangnya di tangan. Mereka tidak memasukkannya ke saku. Mereka menggunakan jaringan yang sebagian infrastrukturnya dibangun oleh Nokia tanpa pernah menyadarinya.

Ada sesuatu yang menarik di situ. Kebanyakan perusahaan bermimpi menjadi merek yang dicintai publik. Nokia pernah memilikinya. Mereka pernah menjadi nama yang dikenal anak sekolah, pedagang kaki lima, sopir taksi, menteri, mahasiswa. Mereka kehilangan semua itu. Sebagai gantinya, mereka memperoleh sesuatu yang lebih sunyi; menjadi bagian dari tulang punggung internet modern.

Orang masih mengenang Nokia sebagai raja ponsel yang jatuh. Saya justru melihat kisah lain. Perusahaan itu telah hidup sebagai pabrik kertas, produsen karet, pembuat kabel, perusahaan energi, pembuat televisi, produsen komputer, raksasa ponsel, dan kini pemain utama jaringan telekomunikasi global.

Sebagian besar perusahaan bahkan tidak berhasil bertahan selama satu abad. Nokia sudah berganti identitas berkali-kali sampai identitas itu sendiri terasa seperti sesuatu yang sementara.

Di sebuah kantor di Espoo, dekat Teluk Finlandia, para insinyur sedang mengerjakan teknologi jaringan generasi berikutnya. Sebagian anak muda yang bekerja di sana mungkin tidak pernah memakai Nokia 3310. Sebagian bahkan mungkin terlalu muda untuk mengingat masa ketika logo Nokia ada di mana-mana.

Di luar gedung, musim dingin Finlandia turun lagi. Salju menumpuk di trotoar. Langit cepat gelap. Nama yang dulu identik dengan ponsel kini lebih sering muncul dalam dokumen teknis tentang 6G, komputasi awan perusahaan, dan lisensi paten.

Snake sudah lama hilang. Antena-antena baru sedang dibangun.

Related

Iptek 8470044330109395713

Posting Komentar

emo-but-icon

Terbaru

Banyak Dibaca

Ebook BSM

Mengapa Dunia Seperti Sekarang? 100 Peristiwa yang Membentuk Dunia Kita

Pernah bertanya-tanya, mengapa dunia seperti sekarang? Mengapa dunia terbagi-bagi dalam banyak negara? Mengapa ada orang-orang yang sangat k...

item