Kerbau Nyaris Punah, dan Orang-orang Tampak Tidak Peduli
https://www.belajarsampaimati.com/2026/07/kerbau-nyaris-punah-dan-orang-orang.html
![]() |
| Ilustrasi/tokyo-zoo.net |
Kerbau sedang menghilang, dan nyaris tak seorang pun panik.
Kalimat itu terdengar aneh. Orang panik ketika harimau berkurang. Orang membuat kampanye ketika orangutan kehilangan hutan. Ketika badak Jawa tersisa puluhan ekor, berita muncul di mana-mana. Kerbau tidak mendapat perlakuan semacam itu. Kerbau terlalu biasa. Terlalu dekat dengan kehidupan sehari-hari. Terlalu lama menjadi bagian latar belakang sehingga banyak orang mengira ia akan selalu ada.
Beberapa pekan terakhir, peringatan lama kembali beredar. Prof. Iman Supriatna, Guru Besar Fakultas Kedokteran Hewan IPB, pernah mengemukakan proyeksi yang mengerikan: jika tren penurunan populasi terus berlanjut, populasi kerbau Indonesia dapat mendekati nol pada 2031. Pernyataan itu pertama kali muncul lebih dari satu dekade lalu, tetapi data terbaru belum memberi alasan kuat untuk merasa tenang.
Data BPS menunjukkan populasi kerbau nasional terus menurun dalam jangka panjang. Pada 2022 jumlahnya sekitar 1,08 juta ekor, turun dari lebih dari 1,14 juta ekor setahun sebelumnya. Berbagai laporan penelitian menyebut penyebabnya berlapis: reproduksi rendah, lahan penggembalaan menyusut, mesin pertanian menggantikan tenaga hewan, keragaman genetik menurun, serta sistem pemeliharaan yang tidak lagi menarik secara ekonomi.
Saya kira masalah terbesar kerbau justru bukan penyakit, bukan iklim, bukan genetika. Masalah terbesarnya adalah citra.
Kerbau adalah korban dari keberhasilannya sendiri. Ia terlalu lama membantu manusia tanpa pernah membangun reputasi yang romantis. Dalam buku pelajaran SD, kerbau muncul sebagai ilustrasi sawah. Dalam cerita rakyat, ia sering digambarkan bodoh. Dalam percakapan sehari-hari, kata "kerbau" bahkan sering dipakai sebagai ejekan. Tidak banyak hewan yang bekerja begitu keras lalu mendapat penghargaan serendah itu.
Pergilah ke Pampangan di Kabupaten Ogan Komering Ilir, Sumatera Selatan. Kerbau rawa di sana menghabiskan sebagian besar hidupnya di air. Tubuh hitam besar mengapung di rawa gambut berwarna cokelat seperti bongkahan batu hidup. Pada musim panas yang panjang, kulit mereka berkilat oleh lumpur. Anak-anak masih melompat dari punggung kerbau ke air. Foto-foto drone yang diambil jurnalis lingkungan sering memperlihatkan titik-titik hitam bergerak perlahan di antara genangan luas. Pemandangan seperti itu terasa sangat tua, seolah berasal dari abad yang berbeda.
Kerbau Sumbawa menghadapi dunia lain. Musim kering bisa berlangsung lebih dari delapan bulan. Rumput menguning. Tanah retak. Debu menempel di bibir. Kerbau tetap bertahan. Para peneliti berulang kali mencatat ketangguhan biologis hewan ini. Ia mampu hidup dengan pakan yang kualitasnya lebih rendah dibanding kebutuhan sapi. Suhu tubuhnya relatif rendah. Kemampuan adaptasinya luar biasa. Secara teoritis, kerbau justru memiliki banyak karakteristik yang akan berguna dalam dunia yang makin panas akibat perubahan iklim.
Keanehannya muncul di sini. Hewan yang cocok menghadapi masa depan justru sedang menghilang.
Kita sering mendengar cerita tentang teknologi yang membuat sesuatu jadi usang. Mesin tik digantikan komputer. Kamera film digantikan kamera digital. Kerbau mengalami nasib serupa, hanya lebih sunyi. Traktor masuk ke sawah. Mesin bajak jadi lebih murah. Anak petani tidak lagi bermimpi memelihara ternak besar selama bertahun-tahun. Mereka ingin membuka bengkel motor, bekerja di kota, menjadi sopir logistik, berdagang secara daring. Pilihan itu masuk akal. Tidak ada yang salah.
Kerbau tidak kalah dalam pertarungan biologis. Ia kalah dalam pertarungan ekonomi.
Pernah melihat kerbau dari jarak sangat dekat? Ukuran kepalanya mengejutkan. Hidungnya basah. Napasnya berat dan hangat. Bau lumpur bercampur bau rumput fermentasi keluar dari mulutnya. Telinganya bergerak-gerak mengusir lalat. Saat seekor kerbau dewasa berjalan di tanah becek, suara yang muncul bukan bunyi langkah biasa. Terdengar seperti seseorang menjatuhkan karung berisi pasir basah berulang-ulang. Dug. Dug. Dug.
Saya curiga banyak orang Indonesia yang lahir setelah tahun 2000 tidak lagi akrab dengan pengalaman semacam itu. Mereka mengenal kerbau sebagai gambar. Lebih jauh lagi, mereka mengenal sawah sebagai gambar.
Lihat statistik urbanisasi. Lihat bentang jalan tol yang memotong bekas area persawahan di berbagai daerah Jawa. Lihat perubahan pinggiran kota Bekasi, Tangerang, Karawang, atau Sidoarjo dalam dua puluh tahun terakhir. Kehidupan yang dulu menjadi habitat budaya kerbau menyusut sedikit demi sedikit. Hewan itu tidak hanya kehilangan lahan. Ia kehilangan panggung tempat keberadaannya terasa normal.
Kisah kerbau sebenarnya tidak berdiri sendiri. Banyak spesies lokal Indonesia menghadapi tekanan serupa. Bedanya, kerbau berada tepat di depan mata. Tidak hidup di hutan terpencil Papua. Tidak bersembunyi di lereng gunung. Tidak memerlukan ekspedisi mahal untuk ditemukan.
Orang bisa melihat kerbau setiap hari dan tetap gagal menyadari bahwa jumlahnya sedang merosot.
Saya menemukan sesuatu yang agak mengganggu ketika membaca kembali berbagai laporan tentang penurunan populasi kerbau. Berita-berita itu muncul sejak 2015. Kutipan Prof. Iman Supriatna diulang berkali-kali. Media menulis. Peneliti menulis. Organisasi lingkungan menulis. Respons publik hampir nihil. Seolah masyarakat mendengar peringatan tersebut, mengangguk sebentar, lalu kembali menggulir layar ponsel.
Seekor panda yang mati bisa menjadi berita internasional. Satu juta kerbau yang perlahan menghilang tidak menghasilkan kegaduhan setara.
Mungkin karena kepunahan yang paling mudah diabaikan bukan kepunahan yang terjadi mendadak. Kepunahan yang paling mudah diabaikan adalah kepunahan yang berlangsung cukup lambat sehingga setiap tahun tampak biasa saja. Tahun ini jumlahnya turun sedikit. Tahun depan turun sedikit lagi. Tidak ada ledakan. Tidak ada kebakaran raksasa. Tidak ada gambar dramatis yang membuat mata pedih ketika melihat layar. Angka-angka bergerak turun dalam tabel statistik.
Sementara itu seorang bocah di Sumatera Selatan masih duduk di atas punggung kerbau rawa. Seorang peternak tua di Sumbawa masih membawa rumput kering di bawah matahari. Seekor kerbau Jawa masih berkubang di kubangan yang semakin sempit.
Orang-orang sering membayangkan kepunahan sebagai peristiwa besar. Saya justru membayangkannya sebagai pagi yang biasa. Seseorang pergi ke sawah dan tidak melihat kerbau lagi. Tidak terjadi apa-apa. Burung tetap berkicau. Matahari tetap terbit. Warung tetap buka.
Tiga puluh tahun kemudian, seorang anak mungkin melihat foto lama dari Pampangan dan bertanya mengapa ada hewan bertanduk besar berendam di rawa.
Orang dewasa di sebelahnya sibuk memeriksa notifikasi ponsel.
Pertanyaan itu lewat begitu saja.


