ChatGPT, Bakar Uang, dan Pertaruhan Bisnis Miliaran Dolar

Ilustrasi/sky.com
Di YouTube, saya menemukan cukup banyak video yang mengulas OpenAI, yang disebut terus mengalami kerugian, khususnya dari ChatGPT, dan saya pikir itu menarik. 

ChatGPT mendatangkan kerugian bukan karena tidak ada yang memakai. Sebaliknya, mesin pintar itu mendatangkan kerugian terus menerus, justru karena banyak yang pakai. Karena semakin banyak yang pakai, semakin besar sumber daya dibutuhkan, dan biayanya tidak sebanding dengan keuntungan yang masuk—setidaknya untuk saat ini.

Menurut saya, itu unik.

Sampai saat ini, OpenAI menghasilkan pendapatan yang sangat besar, tetapi juga mengeluarkan biaya yang sangat besar, sehingga perusahaan belum stabil dalam kondisi profit.

Yang sering membuat orang bingung adalah perbedaan antara tiga hal: Apakah ChatGPT populer? Apakah OpenAI menghasilkan banyak uang? Apakah OpenAI sudah untung?

Jawaban untuk dua pertanyaan pertama adalah "ya". Jawaban untuk yang ketiga lebih rumit.

OpenAI sekarang memiliki ratusan juta hingga mendekati satu miliar pengguna aktif dan pendapatan miliaran dolar per tahun. Pada 2025, perusahaan melaporkan tingkat pendapatan tahunan (annualized revenue) sekitar US$10 miliar dan kemudian meningkat lebih jauh. Masalahnya, menjalankan model AI modern sangat mahal.

Ketika seseorang membuka ChatGPT dan mengajukan pertanyaan sederhana, prosesnya tampak ringan. Dari sisi pengguna, hanya muncul beberapa paragraf teks. Dari sisi infrastruktur, permintaan itu memerlukan pusat data, GPU kelas atas, listrik, pendingin, jaringan, penyimpanan, penelitian, serta ribuan pegawai yang mengembangkan model tersebut.

Perusahaan perangkat lunak tradisional punya karakteristik menarik: setelah produk selesai dibuat, biaya melayani satu pengguna tambahan sering kali sangat kecil. AI generatif tidak sepenuhnya seperti itu. Setiap percakapan membutuhkan komputasi baru. Semakin canggih modelnya, semakin mahal biayanya.

Laporan keuangan yang beredar pada 2025 menunjukkan OpenAI membakar uang tunai (cash burn) miliaran dolar untuk penelitian dan operasional. Dalam paruh pertama 2025, perusahaan menghasilkan sekitar US$4,3 miliar pendapatan tetapi juga mengeluarkan biaya yang sangat besar untuk R&D dan operasional. Itulah sebabnya kita sering mendengar angka-angka kerugian yang terdengar fantastis.

Beberapa video YouTube menyajikannya dengan nada hampir apokaliptik: "OpenAI kehilangan miliaran dolar!", "ChatGPT tidak berkelanjutan!", "Gelembung AI akan pecah!"

Menurut saya, bagian yang sering hilang dari video-video semacam itu adalah konteks sejarah. Banyak perusahaan teknologi terbesar dalam sejarah pernah membakar uang dalam jumlah luar biasa sebelum menjadi mesin uang.

Amazon bertahun-tahun dianggap perusahaan yang tidak kunjung menghasilkan laba besar. Investor terus mengeluh bahwa perusahaan itu terlalu banyak berinvestasi. Kemudian pusat data dan bisnis cloud-nya berkembang menjadi salah satu mesin keuntungan terbesar di dunia.

Perbedaannya, AI mungkin lebih mahal daripada bisnis internet sebelumnya. Jauh lebih mahal.

Saya kira pertanyaan yang lebih menarik bukan "Apakah OpenAI rugi?" Itu relatif mudah dijawab: ya, biaya mereka masih sangat besar. Pertanyaan yang lebih sulit adalah: Apakah kerugian itu merupakan tanda bisnis yang gagal, atau investasi untuk membangun infrastruktur yang nantinya menghasilkan keuntungan besar?

Tidak seorang pun benar-benar tahu.

Para pendukung OpenAI berargumen bahwa perusahaan sedang membangun fondasi teknologi yang setara dengan pembangunan rel kereta api pada abad ke-19 atau jaringan internet pada akhir abad ke-20. Mereka melihat kerugian saat ini sebagai harga masuk menuju pasar yang jauh lebih besar.

Para skeptis memiliki argumen yang juga masuk akal. Mereka melihat pola yang mengkhawatirkan: semakin banyak pengguna, semakin besar kebutuhan GPU; semakin canggih model, semakin mahal biaya komputasi; semakin murah layanan untuk pengguna, semakin sulit mencapai margin keuntungan yang tinggi.

Saya pribadi menganggap situasinya agak aneh dibanding banyak startup lain. Biasanya perusahaan rugi karena belum cukup pelanggan. OpenAI justru rugi ketika pelanggan dan pengguna sudah sangat banyak. Itu situasi yang berbeda.

Bayangkan sebuah restoran yang selalu penuh, antrean sampai ke jalan, meja tidak pernah kosong, omset terus naik—tetapi biaya bahan baku, listrik, dan ekspansi cabang naik lebih cepat daripada pemasukannya. Itulah gambaran yang lebih dekat dengan kondisi perusahaan AI saat ini.

Ada satu ironi yang menurut saya cukup menarik. Banyak orang menganggap AI adalah bisnis digital murni, sesuatu yang hidup di awan, abstrak, tidak berwujud. Padahal di balik setiap percakapan ChatGPT terdapat sesuatu yang sangat fisik: gedung pusat data, kabel, pendingin industri, transformator listrik, dan rak-rak GPU yang jumlahnya bisa ribuan. Semua itu harus dibeli, dirawat, dan diberi daya.

Ketika orang berbicara tentang "AI", mereka sering membayangkan matematika. Ketika investor berbicara tentang "AI", mereka sering membayangkan tagihan listrik. Karena itu, jika kita menonton video yang mengatakan OpenAI masih merugi besar, pernyataan tersebut pada dasarnya memiliki dasar yang nyata.

Kalau video itu melangkah lebih jauh dan menyimpulkan bahwa "OpenAI pasti akan bangkrut", maka bagian tersebut sudah masuk wilayah prediksi, bukan fakta.

Sejarah bisnis dipenuhi perusahaan yang rugi besar lalu sukses besar. Sejarah bisnis juga dipenuhi perusahaan yang rugi besar lalu menghilang. Masalahnya, kita baru bisa membedakan kedua kategori itu setelah beberapa tahun berlalu. Saat sedang berada di tengah cerita, semua orang hanya menebak-nebak.

Related

Internet 5991864684323146749

Posting Komentar

emo-but-icon

Terbaru

Banyak Dibaca

Ebook BSM

Mengapa Dunia Seperti Sekarang? 100 Peristiwa yang Membentuk Dunia Kita

Pernah bertanya-tanya, mengapa dunia seperti sekarang? Mengapa dunia terbagi-bagi dalam banyak negara? Mengapa ada orang-orang yang sangat k...

item