Filsafat Hegel, Kontradiksi, dan Kekacauan yang Membentuk Sejarah

Ilustrasi/thecollector.com
Orang-orang sering membayangkan kemajuan sejarah sebagai jalan raya yang mulus. Peradaban bergerak dari titik A ke titik B. Pengetahuan bertambah. Teknologi berkembang. Kehidupan jadi lebih baik. Dalam imajinasi semacam itu, konflik adalah gangguan. Krisis adalah kecelakaan. Revolusi adalah penyimpangan dari jalur normal.

Georg Wilhelm Friedrich Hegel memandang sejarah dengan cara yang jauh lebih gelap sekaligus lebih menarik. Ia melihat kekacauan bukan sebagai gangguan terhadap sejarah. Kekacauan adalah mesin sejarah itu sendiri.

Gagasan itu lahir dari seseorang yang hidup pada masa yang penuh guncangan. Hegel lahir di Stuttgart pada 1770. Ketika masih muda, Eropa diguncang Revolusi Prancis. Raja-raja tumbang. Kepala dipenggal. Kekaisaran berguncang. Napoleon bergerak melintasi benua seperti badai yang mengenakan seragam militer.

Pada Oktober 1806, pasukan Napoleon memasuki Jena. Hegel sedang berada di kota itu, menyelesaikan naskah besar pertamanya, Phenomenology of Spirit. Dari jendela, ia melihat Napoleon menunggang kuda. Dalam suratnya kepada temannya, Hegel menggambarkan Napoleon sebagai "roh dunia di atas kuda". Kalimat itu terdengar berlebihan, bahkan sedikit aneh. Tetapi kalimat tersebut membuka jendela ke cara berpikirnya.

Ia tidak melihat Napoleon semata sebagai seorang jenderal. Ia melihat sejarah sedang bergerak.

Matahari terbit setiap hari dengan pola yang bisa diprediksi. Sejarah tidak bekerja seperti itu. Sejarah bergerak dengan cara yang lebih brutal. Kekaisaran Romawi runtuh. Gereja Katolik kehilangan monopoli intelektualnya setelah Reformasi Protestan. Monarki Prancis yang tampak kokoh selama berabad-abad mendadak roboh dalam beberapa tahun.

Banyak orang yang hidup di tengah peristiwa-peristiwa tersebut menganggapnya sebagai bencana. Hegel tidak menyangkal unsur bencana itu. Ia hanya melihat sesuatu yang lain di baliknya.

Ketika sebuah sistem mulai retak, retakan tersebut sering kali bukan serangan dari luar. Retakan muncul dari dalam tubuh sistem itu sendiri. Struktur lama melahirkan masalah yang tidak bisa diselesaikannya sendiri. Kontradiksi tumbuh. Ketegangan meningkat. Pada titik tertentu, bangunan yang tampak kokoh mulai kehilangan kemampuannya menopang dirinya sendiri.

Itulah inti cara berpikir Hegel. Sebuah tatanan dihancurkan oleh sesuatu yang sudah terkandung di dalam dirinya.

Banyak buku pengantar filsafat menjelaskan itu melalui rumusan tesis-antitesis-sintesis. Rumusan tersebut sebenarnya lebih sering dikaitkan dengan Johann Gottlieb Fichte daripada Hegel sendiri. Hegel jarang menggunakan formula itu secara eksplisit. Meski begitu, sebagai alat bantu, rumusan tersebut cukup berguna.

Sebuah gagasan melahirkan lawannya. Konflik terjadi. Dari konflik, muncul bentuk baru. Masalahnya, ketika orang mendengar penjelasan itu, mereka sering membayangkan proses yang terlalu rapi.

Sejarah tidak pernah serapi diagram. Perhatikan Revolusi Prancis. Kaum revolusioner menggulingkan monarki atas nama kebebasan, kesetaraan, dan persaudaraan. Tidak lama kemudian muncul Teror. Guillotine bekerja hampir setiap hari. Orang-orang yang dulu meneriakkan kebebasan saling mengirim sesama revolusioner ke tempat eksekusi. Beberapa tahun berikutnya, Napoleon muncul dan membangun kekaisaran baru.

Kebebasan melahirkan kekuasaan baru. Kontradiksi tidak hilang. Kontradiksi berubah bentuk.

Hegel menyukai gerak semacam itu. Ia melihat perkembangan sejarah sebagai proses yang oleh para penerjemah sering dijelaskan melalui istilah Jerman; Aufhebung. Kata itu sulit diterjemahkan, karena mengandung beberapa makna sekaligus. Membatalkan. Menghapus. Mempertahankan. Mengangkat ke tingkat yang lebih tinggi.

Keanehan bahasa Jerman kadang membantu menjelaskan filsafatnya. Sesuatu dihancurkan. Sesuatu dipertahankan. Sesuatu berubah menjadi bentuk baru. Ketiganya terjadi bersamaan.

Feodalisme tidak sepenuhnya menghilang ketika kapitalisme muncul. Banyak struktur lama tetap hidup dalam bentuk berbeda. Monarki Inggris masih bertahan setelah demokrasi berkembang. Hukum Romawi tetap mempengaruhi sistem hukum modern meskipun kekaisarannya sudah lama mati. Kuburan sejarah ternyata penuh penghuni yang masih bergerak.

Kontradiksi yang dibicarakan Hegel sering terdengar abstrak ketika dijelaskan di ruang kuliah. Dosen menggambar panah di papan tulis. Mahasiswa mencatat istilah-istilah rumit. Setelah ujian selesai, sebagian besar lupa. Padahal kontradiksi jauh lebih mudah ditemukan dalam kehidupan sehari-hari.

Sebuah perusahaan teknologi ingin meningkatkan produktivitas pekerjanya. Mereka memasang sistem pengawasan digital yang semakin ketat. Produktivitas naik. Kreativitas turun. Pekerja mulai kehilangan motivasi. Sistem yang dirancang untuk meningkatkan efisiensi justru menghasilkan masalah baru. Kontradiksi.

Sebuah kota ingin mengurangi kemacetan dengan membangun jalan raya yang lebih besar. Jalan diperlebar. Kendaraan bertambah. Beberapa tahun kemudian kemacetan kembali muncul. Kontradiksi.

Media sosial dibangun untuk menghubungkan manusia. Banyak orang kini merasa lebih kesepian meskipun terhubung sepanjang hari. Kontradiksi.

Hegel mungkin akan tersenyum melihat semua itu. Bukan karena ia menikmati masalah. Tapi karena masalah tersebut menunjukkan bahwa sejarah belum berhenti bergerak.

Sebagian orang membenci filsafat Hegel karena alasan yang dapat dimengerti. Tulisannya terkenal sulit. Kalimat-kalimatnya panjang. Beberapa halaman terasa seperti hasil konspirasi antara filsafat dan kabut. Mata bisa pedih membaca paragraf-paragrafnya. Kepala terasa berat. Mahasiswa filsafat selama dua abad terakhir telah mengeluh tentang hal yang sama.

Arthur Schopenhauer bahkan menuduh Hegel sengaja menulis secara tidak jelas. Schopenhauer tidak setengah-setengah dalam membenci Hegel. Ia menganggap filsuf itu sebagai penipu intelektual yang disokong negara Prusia. Permusuhan mereka hampir legendaris.

Lucunya, sejarah kemudian memperlakukan keduanya dengan cara yang berbeda. Hegel menjadi salah satu filsuf paling berpengaruh dalam sejarah modern. Karl Marx mengambil dialektika Hegel, lalu membalikkannya menjadi materialisme historis. Alexandre Kojève menggunakannya untuk membaca sejarah modern. Francis Fukuyama berdebat dengannya ketika menulis tentang "akhir sejarah". 

Jejak Hegel muncul di tempat-tempat yang bahkan tidak mengenal namanya. Ketika orang berbicara tentang revolusi, perubahan sosial, konflik kelas, perkembangan institusi, atau kemajuan sejarah melalui krisis, bayangan Hegel sering berada di latar belakang percakapan.

Saya justru tertarik pada sisi yang lebih mengganggu dari pemikirannya. Hegel memaksa kita mempertimbangkan kemungkinan bahwa stabilitas sering kali dilebih-lebihkan. Orang memuja stabilitas. Pemerintah memuja stabilitas. Perusahaan memuja stabilitas. Keluarga memuja stabilitas.

Padahal kehidupan terus menghasilkan ketegangan yang tidak mau diam. Dalam tubuh manusia, jutaan sel mati setiap hari. Dalam ekonomi, perusahaan bangkrut setiap hari. Dalam politik, gagasan lama terus digerogoti gagasan baru. Kita menyebut sebagian proses tersebut sebagai krisis karena kita berada di tengahnya.

Orang yang hidup di Berlin pada 1988 mungkin mengira Tembok Berlin akan bertahan lama. Tembok itu tampak permanen. Beton terlihat permanen. Tentara terlihat permanen. Negara terlihat permanen.

Tahun berikutnya warga memanjat tembok itu. Palu menghantam beton. Potongan-potongan kecil berjatuhan ke trotoar. Debu beterbangan. Orang-orang bersorak. Sejarah sedang melakukan pekerjaannya yang paling khas. Menghancurkan sesuatu yang tampaknya tidak mungkin dihancurkan.

Di sebuah perpustakaan universitas, mahasiswa filsafat masih membuka buku-buku Hegel yang tebal. Sebagian mengantuk setelah beberapa halaman. Sebagian kesal. Sebagian mulai memahami mengapa filsuf tua dari Stuttgart itu begitu terobsesi pada kontradiksi.

Di luar jendela, dunia tetap sibuk memproduksi kontradiksi-kontradiksi baru.


Related

Filsafat 4219147530256488368

Posting Komentar

emo-but-icon

Terbaru

Banyak Dibaca

Ebook BSM

Mengapa Dunia Seperti Sekarang? 100 Peristiwa yang Membentuk Dunia Kita

Pernah bertanya-tanya, mengapa dunia seperti sekarang? Mengapa dunia terbagi-bagi dalam banyak negara? Mengapa ada orang-orang yang sangat k...

item