Kisah Pilu dari Seratus Ribu Pasang Sepatu di Auschwitz-Birkenau

Ilustrasi/thirteen.org
Bau kulit tua tidak pernah benar-benar hilang.

Di sebuah bangunan bata merah di Oświęcim, Polandia selatan, tersimpan sekitar 110.000 pasang sepatu. Sebagian retak. Sebagian kehilangan tali. Sebagian lain masih mempertahankan bentuk kaki pemiliknya seolah seseorang baru saja melepaskannya beberapa menit lalu. Kulit yang mengeras, sol yang aus, jahitan yang terkelupas. Di balik kaca museum, benda-benda itu tampak seperti barang rongsokan yang dikumpulkan dari pasar loak terbesar di dunia.

Masalahnya, setiap pasang sepatu di sana pernah dimiliki seseorang. Sepatu anak-anak yang panjangnya hanya beberapa belas centimeter. Sepatu perempuan dengan hak kecil yang mungkin dipakai untuk menghadiri pesta keluarga di Kraków atau Łódź. Sepatu kerja milik seorang tukang kayu. Sepatu laki-laki yang tumitnya habis termakan jalanan. Semua berhenti di satu tempat: Auschwitz-Birkenau.

Kebanyakan orang mengenal Holocaust melalui angka. Enam juta orang Yahudi dibunuh. Sekitar 1,1 juta manusia dibunuh di Auschwitz. Angka-angka itu begitu besar hingga kehilangan makna biologisnya. Otak manusia tidak dirancang untuk memahami sejuta kematian. Kita bisa memahami satu wajah yang menangis. Kita bisa memahami satu anak yang tersesat. Kita bisa memahami satu ibu yang memegang tangan anaknya. Sejuta? Angka itu berubah menjadi kabut.

Sepatu-sepatu itu memecahkan kabut tersebut.

Nazi sangat pandai mengubah manusia menjadi inventaris. Mereka mencatat, mengklasifikasi, mengangkut, menyortir, dan memusnahkan manusia dengan efisiensi administratif yang membuat bulu kuduk berdiri. Kereta api tiba di Auschwitz. Para tahanan turun. Seleksi dilakukan di peron oleh dokter SS seperti Josef Mengele. Sebagian dikirim bekerja. Sebagian langsung menuju kamar gas.

Sebelum dibunuh, barang-barang mereka diambil. Koper diambil. Jam tangan diambil. Kacamata diambil. Rambut dicukur dan dikumpulkan. Gigi emas dicabut. Sepatu pun diambil.

Kalimat itu terdengar sederhana. Diambil. Kata yang dingin dan administratif. Seolah seseorang sedang mengurus gudang logistik.

Padahal yang terjadi jauh lebih brutal. Pengambilan sepatu merupakan bagian dari proses penghapusan identitas. Nazi tidak sekadar membunuh manusia. Mereka membongkar manusia menjadi komponen-komponen yang masih bisa dimanfaatkan. Rambut untuk industri tekstil. Emas untuk kas negara. Pakaian untuk didistribusikan kembali. Sepatu untuk dipakai orang lain.

Ada sesuatu yang sangat mengganggu dalam logika tersebut. Pembunuhan biasanya lahir dari amarah, kebencian, atau ledakan emosi. Auschwitz memperlihatkan bentuk lain yang lebih menakutkan: pembunuhan yang dilakukan dengan ketenangan seorang pegawai administrasi.

Ruangan penuh sepatu di Auschwitz tidak menampilkan darah. Tidak menampilkan mayat. Tidak menampilkan teriakan. Justru karena itulah dampaknya begitu keras. Mata tidak melihat kematian. Mata melihat kehidupan yang terputus.

Sepatu anak-anak sering menjadi bagian yang paling menyakitkan. Banyak pengunjung museum mengaku berhenti terlalu lama di depan tumpukan tersebut. Ukurannya kecil sekali. Sebagian berwarna cokelat muda. Sebagian masih memiliki pita.

Anak-anak itu tidak pernah memiliki kesempatan menjadi dewasa. Mereka tidak sempat jatuh cinta. Tidak sempat belajar mengendarai sepeda. Tidak sempat mengeluh tentang pekerjaan. Tidak sempat menjadi orang tua. Semua kemungkinan masa depan mereka berhenti pada sepasang sepatu.

Salah satu kesaksian yang sering muncul dari para penyintas Auschwitz adalah kebingungan ketika pertama kali melihat sistem kamp tersebut. Mereka datang dengan asumsi bahwa dunia masih memiliki batas-batas rasional tertentu. Bahwa pasti ada alasan. Bahwa pasti ada titik ketika kegilaan akan berhenti. 

Ternyata tidak.

Seorang tahanan bisa menghabiskan waktu berjam-jam hanya untuk memindahkan batu dari satu tempat ke tempat lain, kemudian memindahkannya kembali ke posisi semula. Kerja tanpa tujuan. Hukuman tanpa logika. Kekuasaan yang dijalankan semata-mata karena mampu melakukannya. Sepatu-sepatu itu lahir dari sistem yang sama. 

Ketika pasukan Soviet memasuki Auschwitz pada Januari 1945, mereka menemukan ribuan kilogram rambut manusia, ratusan ribu pakaian, dan gunungan barang pribadi yang belum sempat dikirim ke Jerman. Nazi sudah berusaha menghancurkan bukti. Mereka meledakkan krematorium. Membakar dokumen. Menghapus jejak. Sepatu-sepatu itu terlalu banyak untuk dimusnahkan seluruhnya.

Kadang saya menganggap benda mati lebih jujur daripada monumen atau pidato resmi. Politikus bisa berbohong. Buku sejarah bisa diperdebatkan. Ideologi selalu punya pengacara. Sepatu tidak memiliki kemampuan membela diri. Sepatu hanya berada di sana. Diam. Keras. Membusuk perlahan. Saksi yang tidak bisa disuap.

Pemandangan paling mengganggu bukan jumlahnya. Jumlah memang mengejutkan, tetapi mata manusia cepat beradaptasi terhadap kuantitas. Setelah melihat puluhan ribu benda yang sama, otak mulai mati rasa.

Yang menghantam justru variasinya. Sepatu anak. Sepatu wanita. Sepatu pria tua. Sepatu kerja. Sepatu pesta. Sepatu musim dingin. Sepatu dengan ukuran berbeda-beda.

Variasi itu membunuh narasi abstrak yang sering melekat pada Holocaust. Korban tidak lagi muncul sebagai massa anonim. Mereka kembali menjadi individu. Seseorang memilih sepatu tersebut suatu hari. Seseorang mengikat talinya setiap pagi. Seseorang pernah mengeluh karena ukurannya terlalu sempit.

Kehidupan manusia sering meninggalkan jejak aneh. Ketika seseorang meninggal, keluarga biasanya tidak menyimpan sendoknya. Mereka menyimpan foto, surat, pakaian, atau sepatu. Benda-benda yang pernah bersentuhan langsung dengan tubuh.

Mungkin karena tubuh selalu meninggalkan bentuk dirinya pada benda. Kulit kaki meninggalkan lipatan. Berat badan meninggalkan cekungan. Cara berjalan meninggalkan pola aus pada sol.

Dalam salah satu foto Auschwitz yang paling terkenal, tumpukan sepatu terlihat seperti gelombang hitam yang membeku. Mata bergerak dari satu pasang ke pasang lain tanpa mampu menemukan ujungnya. Beberapa pengunjung museum mengaku merasakan tenggorokan mereka mengering saat melihatnya. Sebagian tidak mengambil foto. Sebagian mengambil foto lalu tidak pernah melihatnya lagi.

Auschwitz sering dibahas sebagai pelajaran tentang kebencian. Saya tidak sepenuhnya puas dengan rumusan itu. Kebencian sudah ada sepanjang sejarah manusia. Pembantaian antarsuku, perang agama, pembersihan etnis, semua sudah berlangsung jauh sebelum Hitler lahir di Braunau am Inn pada 1889.

Yang membuat Auschwitz terasa berbeda adalah kombinasi antara kebencian dan efisiensi. Mesin birokrasi. Kereta api yang tepat waktu. Formulir. Stempel. Laporan. Gudang. Inventaris. Sepatu.

Peradaban modern sering membanggakan kemampuannya mengorganisasi dunia. Jalan raya, pelabuhan, jaringan listrik, komputer, logistik global. Auschwitz memperlihatkan bahwa kemampuan mengorganisasi tidak memiliki moral bawaan. Mesin yang sama dapat mengirim obat ke rumah sakit atau mengirim manusia ke kamar gas.

Di balik kaca museum, sepatu-sepatu itu masih menunggu. Kulitnya semakin rapuh setiap tahun. Warnanya semakin pudar. Para pemiliknya sudah lama hilang. Nama-nama mereka banyak yang tidak tercatat. Sepatu-sepatu itu masih bertahan.

Entah mengapa, justru benda paling rendah yang menempel di kaki manusia akhirnya menjadi salah satu arsip paling keras kepala yang pernah ditinggalkan abad ke-20. Di antara ribuan pasang sepatu itu, selalu ada satu pasang yang ukurannya sangat kecil. Terlalu kecil.


Related

Sejarah 6844051562497919439

Posting Komentar

emo-but-icon

Terbaru

Banyak Dibaca

Ebook BSM

Mengapa Dunia Seperti Sekarang? 100 Peristiwa yang Membentuk Dunia Kita

Pernah bertanya-tanya, mengapa dunia seperti sekarang? Mengapa dunia terbagi-bagi dalam banyak negara? Mengapa ada orang-orang yang sangat k...

item