Resep Sukses Sederhana yang Saya Pahami Setelah Dewasa

Ilustrasi/depoedu.com
Hampir semua resep sukses yang terdengar sangat cerdas biasanya terlalu rumit untuk dijalankan, sedangkan resep yang benar-benar bekerja sering terdengar terlalu sederhana untuk dipercaya. Saya baru menyadari hal itu setelah dewasa. Maksud saya, setelah saya benar-benar dewasa.

Kalau saya harus merumuskannya, berdasarkan pengamatan terhadap banyak tokoh dari bidang yang sangat berbeda—ilmuwan, pengusaha, penulis, atlet, investor—resepnya kira-kira seperti ini: Temukan permainan yang layak dimainkan, bangun kemampuan yang bernilai di dalam permainan itu, lalu bertahan lebih lama daripada kebanyakan orang.

Bagian pertama justru yang paling sering diremehkan: memilih permainan.

Banyak orang bekerja sangat keras di arena yang sebenarnya tidak cocok bagi mereka. Ada yang senang menulis tetapi memaksa diri menjadi pedagang saham. Ada yang sangat berbakat berjualan tetapi menghabiskan hidup mengejar karier akademik. Ada yang terobsesi teknologi tetapi masuk bidang yang membuat mereka bosan setiap hari.

Saya sering mendengar nasihat sukses terlalu fokus pada kerja keras. Dan dulu saya percaya, jujur saja. Setelah dewasa, saya menyadari bahwa kerja keras di arah yang salah bisa menghasilkan kegagalan yang sangat efisien. Kerja keras pada sesuatu yang tidak kita sukai juga seperti menyiksa diri sendiri.

Bagian kedua adalah membangun kemampuan yang bernilai. 

Dunia tidak memberi imbalan berdasarkan niat baik, kerja keras, atau penderitaan. Dunia memberi imbalan pada nilai yang dirasakan orang lain.

Kalau seseorang mampu menulis lebih baik daripada 99% orang, itu bernilai. Kalau seseorang mampu menjual produk lebih baik daripada 99% orang, itu bernilai. Kalau seseorang mampu menyelesaikan masalah teknis yang rumit, itu bernilai.

Banyak orang ingin sukses tanpa menjadi sangat baik pada sesuatu. Itu seperti ingin memenangkan lomba lari tanpa berlari lebih cepat.

Bagian ketiga yang menurut saya paling menentukan: daya tahan.

Ketika membaca kisah tokoh-tokoh besar, saya sering menemukan pola yang membosankan. Mereka tidak selalu yang paling jenius. Mereka sering bukan yang paling berbakat saat muda.

Mereka hanya terus ada. Mereka masih terus menulis ketika orang lain berhenti. Mereka masih berlatih ketika orang lain pindah hobi. Mereka masih membangun bisnis ketika kompetitor menyerah. Mereka masih belajar ketika orang lain merasa sudah cukup pintar. Banyak orang gagal bukan karena kalah. Mereka gagal karena keluar dari permainan.

Ada satu pengamatan lain yang menurut saya jarang dibahas. Sukses sering terlihat seperti akumulasi kecerdasan, padahal sering kali merupakan akumulasi keputusan yang tidak spektakuler. Tidur cukup. Datang tepat waktu. Menyelesaikan pekerjaan. Membalas email. Belajar satu jam. Membaca beberapa halaman. Menabung sedikit uang. Semuanya terlihat remeh.

Masalahnya, manusia sangat buruk dalam menghargai efek penggandaan. Kita mudah kagum pada hasil besar, dan mengabaikan penyebab kecil yang berulang ribuan kali.

Tidak ada orang yang tiba-tiba membaca ratusan buku. Mereka membacanya satu per satu, lembar demi lembar, dilakukan setiap hari, sampai bertahun-tahun. Dari satu buku jadi sepuluh buku, lalu belasan, dan terus bertambah, hingga jumlahnya mencengangkan.

Begitu pun, tidak ada orang yang tiba-tiba menulis ribuan artikel. Mereka menulisnya satu demi satu. Mungkin dimulai satu artikel per hari. Lalu bertambah sedikit demi sedikit. Seiring waktu, kemampuan makin terasah, dan menghasilkan dua atau tiga artikel per hari jadi terasa biasa. Dan ketika sesuatu yang dianggap “biasa” itu terus diulangi sampai ribuan kali, hasilnya tampak spektakuler.

Pengulangan. Disiplin brutal. Kemampuan mengalahkan bosan. Itulah yang mengubah manusia biasa jadi luar biasa.

Kalau ada satu hal yang saya anggap berbahaya, justru obsesi terhadap motivasi. Karena motivasi itu menyenangkan, tetapi tidak dapat diandalkan. Hari ini seseorang menonton video inspiratif dan merasa bisa menaklukkan dunia. Tiga hari kemudian semangatnya hilang.

Kedisiplinan jauh lebih membosankan, tapi kedisiplinan tidak peduli suasana hati. Kalau saya pribadi harus memilih antara orang yang sangat termotivasi dan orang yang memiliki sistem kedisiplinan yang dijalankan selama sepuluh tahun, saya akan bertaruh pada orang kedua hampir setiap kali.

Namun ada satu tambahan yang menurut saya penting: jangan hanya mengejar sukses, tetapi juga perhatikan apakah kita menyukai prosesnya.

Karena hidup sebagian besar bukan berada di garis finis. Hidup adalah hari Selasa biasa pukul 09.17 pagi, ketika tidak ada yang bertepuk tangan. Hidup adalah pekerjaan yang sama, yang harus dilakukan lagi minggu depan. Kalau prosesnya begitu menyiksa sampai kita membencinya setiap hari, keberhasilan akhirnya sering terasa lebih kecil daripada yang dibayangkan.

Mungkin itulah satu-satunya bagian yang dulu kurang saya pahami. Banyak nasihat sukses berbicara seolah-olah hidup adalah perlombaan menuju suatu titik akhir. Saya semakin curiga bahwa hidup lebih mirip pekerjaan panjang yang tidak pernah benar-benar selesai.

Karena itu, sekarang, jika saya harus memberi satu nasihat kepada seseorang yang masih membangun sesuatu, saya tidak akan berkata "berpikirlah lebih besar" atau "kejarlah mimpimu".

Saya mungkin akan bertanya: Pekerjaan apa yang masih bersedia kamu lakukan ketika hasilnya belum terlihat selama lima tahun?

Jawaban atas pertanyaan itu sering lebih berguna daripada seratus buku motivasi.


Related

Hoeda's Note 7176668342254641136

Posting Komentar

emo-but-icon

Terbaru

Banyak Dibaca

Ebook BSM

Mengapa Dunia Seperti Sekarang? 100 Peristiwa yang Membentuk Dunia Kita

Pernah bertanya-tanya, mengapa dunia seperti sekarang? Mengapa dunia terbagi-bagi dalam banyak negara? Mengapa ada orang-orang yang sangat k...

item