Perpindahan Manusia Terbesar dan Teraneh dalam Perang Dunia II

Ilustrasi milik BSM
Foto-foto pengungsi Polandia yang baru tiba di Pahlavi sering memiliki sesuatu yang ganjil: wajah-wajah yang terlalu kurus untuk ukuran orang yang baru saja “diselamatkan”. Anak-anak digendong, perempuan berdiri dengan pakaian yang kusut, lelaki berseragam menatap kamera, sementara di belakang mereka Laut Kaspia masih membentang. Kapal telah membawa mereka keluar dari Uni Soviet, tetapi tubuh mereka belum sempat menyadari bahwa perjalanan itu selesai.

Yang terjadi di pelabuhan Pahlavi—sekarang Bandar-e Anzali, di pesisir utara Iran—merupakan salah satu perpindahan manusia terbesar dan paling aneh dalam Perang Dunia II. Dalam dua tahap pada 1942, lebih dari 115.000 warga negara Polandia keluar dari Uni Soviet menuju Iran; angka yang dicatat sejumlah lembaga Polandia mencapai sekitar 116.500 orang, terdiri atas sekitar 78.600 personel militer dan lebih dari 37.000 warga sipil. Di antara warga sipil itu terdapat ribuan anak.

Mereka tidak datang dari Polandia. Polandia yang mereka kenal sudah diduduki sejak 1939. Mereka datang dari tempat-tempat seperti Uzbekistan, Kazakhstan, Kirgizstan, dan wilayah Soviet lainnya setelah bertahun-tahun menjalani deportasi, kerja paksa, kelaparan, penahanan, atau pengasingan. Sebagian telah kehilangan rumah, pekerjaan, keluarga, bahkan kemampuan untuk mengingat kapan terakhir kali mereka hidup secara normal.

Rute keluarnya sendiri terasa seperti lelucon geografis yang kejam. Orang-orang yang berasal dari Eropa Tengah harus bergerak jauh ke timur, ke pedalaman Uni Soviet, sebelum dapat berbelok lagi ke selatan. Mereka naik kereta menuju Krasnovodsk, sebuah pelabuhan di Turkmenistan yang menghadap Laut Kaspia. Dari sana kapal membawa mereka ke Pahlavi. Jalur tersebut merupakan bagian dari evakuasi Angkatan Darat Polandia yang dibentuk di Uni Soviet di bawah Jenderal Władysław Anders.

Kesepakatan yang memungkinkan mereka keluar muncul dari keadaan yang hampir tidak masuk akal. Setelah Jerman menyerang Uni Soviet pada Juni 1941, hubungan Soviet-Polandia berubah. Perjanjian Sikorski–Mayski membuka jalan bagi pembentukan kembali tentara Polandia di wilayah Soviet dan pembebasan warga Polandia dari tempat-tempat pengasingan. Ribuan orang bergerak menuju pusat-pusat perekrutan tentara, berharap bergabung dengan pasukan Anders sekaligus menemukan jalan keluar dari negeri yang telah menahan mereka. Masalahnya segera menjadi makanan.

Pada Maret 1942, sekitar 70.000 tentara Polandia hanya menerima sekitar 26.000 jatah makanan. Jatah tersebut juga harus menopang warga sipil yang berkumpul di sekitar pusat-pusat tentara. Anders menghadapi pilihan yang buruk: mempertahankan pasukan di Soviet dengan persediaan yang tidak cukup, atau membawa mereka keluar. Dalam pertemuannya dengan Josef Stalin pada 18 Maret, keputusan evakuasi disepakati.

Evakuasi pertama berlangsung dari 24 Maret sampai awal April. Sekitar 43.850 orang meninggalkan Soviet melalui Krasnovodsk; lebih dari 33.000 di antaranya tentara. Kereta membawa mereka menuju pelabuhan. Dari sana mereka masuk kapal dan menyeberangi Kaspia menuju Iran. Dalam waktu sekitar sepuluh hari, gelombang pertama telah mencapai Pahlavi.

Kata “menyeberang” terdengar terlalu sederhana untuk menggambarkan apa yang terjadi. Orang-orang itu sudah menempuh ribuan kilometer sebelum melihat laut. Mereka datang dalam keadaan kurang makan, sakit, dan kelelahan. Sejumlah tentara bahkan terlalu lemah untuk segera menjalani kehidupan militer yang normal. Warga sipil membawa apa yang masih tersisa dari kehidupan mereka: pakaian, benda keluarga, kadang foto, kadang tidak lebih daripada sebuah tas.

Pahlavi segera berubah menjadi tempat yang penuh manusia sakit. Pasukan Inggris dan organisasi bantuan harus menangani arus pengungsi yang datang hampir bersamaan. Mereka memerlukan makanan, pakaian, obat-obatan, tempat mandi, pemeriksaan kesehatan, dan tempat tinggal. Penyakit jadi masalah besar. Orang-orang yang keluar dari Uni Soviet tidak otomatis menjadi sehat hanya karena telah melewati perbatasan.

Foto-foto kedatangan mereka karena itu terasa lebih keras ketika dilihat tanpa keterangan. Anak kecil dengan kepala dicukur. Perempuan kurus dengan pakaian yang tampak kebesaran. Tentara dengan wajah cekung. Mereka berdiri di bawah matahari Iran yang jauh lebih terang daripada langit tempat hidup sebelumnya.

Jumlah keseluruhannya juga sering berubah tergantung sumber dan cara menghitung. IPN menyebut hampir 120.000 warga Polandia mencapai Iran; sumber pemerintah Polandia menggunakan angka sekitar 115.000 atau 116.000 untuk keseluruhan evakuasi. Perbedaan itu tidak mengubah skala sebenarnya: puluhan ribu manusia keluar dari Uni Soviet dalam beberapa bulan.

Gelombang kedua berlangsung pada Agustus 1942. Sekitar 70.000 orang lagi diangkut menuju Pahlavi. Setelah September, para pengungsi ditempatkan di berbagai wilayah Iran dan Irak. Teheran menjadi salah satu pusat penting. Isfahan, Mashhad, dan Ahvaz juga menampung komunitas Polandia. Iran yang mereka masuki bukan sekadar ruang transit; selama beberapa waktu negeri itu menjadi tempat mereka tidur, makan, berobat, bersekolah, dan mencoba mengingat bagaimana menjadi manusia biasa. 

Nasib anak-anak membuat perjalanan itu semakin ganjil. Sekitar 40.000 perempuan dan anak termasuk dalam kelompok yang keluar dari Soviet. Sebagian besar tidak mungkin dikirim ke medan perang. Pemerintah dan organisasi Polandia harus mencari tempat yang cukup aman bagi mereka. Iran sendiri dianggap belum cukup aman sebagai tujuan permanen, karena wilayah sekitar Laut Kaspia dapat kembali menjadi kawasan perang. Maka perjalanan diteruskan. Sebagian anak Polandia dikirim jauh sekali ke India. 

Sekitar 600 anak yatim yang berada dalam kondisi buruk di sekitar pusat-pusat perekrutan tentara dipindahkan melalui Iran dan Afghanistan menuju India. Mereka kemudian ditempatkan di Balachadi, dekat Jamnagar, dalam sebuah permukiman yang didirikan berkat bantuan Maharaja Jam Saheb Digvijaysinhji. Sang maharaja menyediakan tempat bagi anak-anak yang nyaris tidak memiliki apa-apa. Yang lain dikirim lebih jauh lagi ke Afrika Timur. 

Sekitar 20.000 pengungsi Polandia ditempatkan di berbagai permukiman di Tanganyika, Uganda, dan Kenya. Permukiman-permukiman tersebut kemudian memiliki sekolah, gereja, bengkel, kebun, dan kehidupan komunitas sendiri. Di Rusape, Rhodesia Selatan, misalnya, terdapat lebih dari 70 rumah bata beratap seng, kapel, kamar mandi bersama, ruang makan, serta peternakan babi, sapi, dan ayam. Tempat semacam itu terasa hampir absurd jika dibandingkan dengan titik awal perjalanan penghuninya: kamp kerja paksa di Soviet.

Sementara warga sipil bergerak ke berbagai penjuru Kekaisaran Inggris, tentara Anders menjalani transformasi yang berbeda. Setelah meninggalkan Soviet, mereka mendapat persenjataan dan pelatihan di Iran serta Irak. Pada 1943 pasukan tersebut direorganisasi menjadi II Korpus Polandia. Setahun kemudian mereka berada di Italia dan bertempur bersama Angkatan Darat Kedelapan Inggris. Mereka akan dikenang karena Monte Cassino.

Jadi, foto orang Polandia menyeberangi Kaspia pada 1942 menyimpan dua cerita sekaligus. Di permukaan, ia adalah adegan evakuasi: kapal, pelabuhan, tentara, pengungsi. Beberapa tahun kemudian, orang yang sama bisa ditemukan di India, Afrika Timur, Palestina, Irak, atau Italia. Rutenya bercabang begitu jauh sehingga peta Eropa saja tidak cukup untuk menggambarkan diaspora perang itu.

Seorang anak yang pada 1942 turun dari kapal di Pahlavi mungkin kemudian belajar di sekolah Polandia di Uganda. Anak lain mungkin sampai ke Balachadi. Seorang pemuda yang turun bersama mereka bisa mengenakan seragam II Korpus dan berakhir di Monte Cassino. Mereka semua pernah berada di kapal yang sama, atau setidaknya dalam arus evakuasi yang sama, setelah bertahun-tahun dipaksa bergerak menjauh dari rumah.

Di Pahlavi, perjalanan itu belum selesai. Mereka baru saja turun dari kapal.


Related

Sejarah 3164995825418537506

Posting Komentar

emo-but-icon

Terbaru

Banyak Dibaca

Ebook BSM

Mengapa Dunia Seperti Sekarang? 100 Peristiwa yang Membentuk Dunia Kita

Pernah bertanya-tanya, mengapa dunia seperti sekarang? Mengapa dunia terbagi-bagi dalam banyak negara? Mengapa ada orang-orang yang sangat k...

item