Benarkah Kasus Bunuh Diri Banyak Dilakukan Orang Ateis?

Ilustrasi/wahananews.co
Kita mungkin sering mendengar klaim bahwa orang ateis cenderung lebih banyak melakukan bunuh diri daripada orang beragama. Namun, sebenarnya, klaim itu tidak didukung bukti yang kuat.

Sebuah studi pada 2013, yang dipublikasikan di jurnal PLOS ONE, meneliti hubungan antara keyakinan keagamaan dan tingkat bunuh diri di berbagai negara di seluruh dunia. Studi ini menemukan bahwa tidak ada hubungan yang signifikan antara keyakinan keagamaan dan tingkat bunuh diri. 

Studi itu melibatkan data dari 192 negara dan wilayah di seluruh dunia, dan menunjukkan bahwa faktor-faktor lain—seperti masalah kesehatan mental dan lingkungan sosial—lebih kuat terkait dengan tingkat bunuh diri daripada keyakinan keagamaan.

Studi itu menemukan bahwa faktor-faktor yang terkait dengan bunuh diri termasuk tingkat kemiskinan, tingkat kematian bayi, angka perceraian, angka kelahiran, dan tingkat konsumsi alkohol. Faktor-faktor ini lebih kuat terkait dengan tingkat bunuh diri, daripada faktor agama atau keyakinan keagamaan. 

Studi itu juga menunjukkan bahwa terdapat perbedaan dalam tingkat bunuh diri di antara negara-negara dengan tingkat keyakinan keagamaan yang berbeda. Misalnya, negara-negara dengan tingkat keyakinan keagamaan yang tinggi, seperti Indonesia dan Filipina, memiliki tingkat bunuh diri yang rendah, sementara negara-negara dengan tingkat keyakinan keagamaan yang rendah, seperti Jepang dan Swedia, memiliki tingkat bunuh diri yang tinggi. Tetapi, persentase ini tetap tidak menutup fakta bahwa pelaku bunuh diri dari kalangan ateis maupun kalangan beragama sama-sama besar.

Sebuah studi meta-analisis yang diterbitkan di jurnal The Lancet Psychiatry pada 2014 juga menemukan tidak ada perbedaan signifikan dalam tingkat bunuh diri antara orang yang beragama dan ateis. Studi ini menganalisis data dari 36 studi yang melibatkan lebih dari dua juta orang di seluruh dunia, dan menemukan bahwa tidak ada perbedaan yang signifikan dalam tingkat bunuh diri antara orang yang beragama dan ateis.

Penting untuk dicatat bahwa seseorang mungkin mengidentifikasi dirinya sebagai ateis, namun memiliki keyakinan yang kuat dalam nilai-nilai moral atau etis, atau bahkan memiliki praktik spiritual tertentu. Di sisi lain, seseorang mungkin memiliki keyakinan agama yang kuat, namun tetap dapat mengalami masalah kesehatan mental atau lingkungan sosial yang menyebabkan ia melakukan tindakan bunuh diri.

Jadi, klaim bahwa orang ateis lebih cenderung melakukan bunuh diri daripada orang beragama, tidak didukung oleh bukti yang kuat. Berbagai studi menunjukkan bahwa faktor-faktor seperti masalah kesehatan mental, tingkat kemiskinan, dan lingkungan sosial, lebih kuat terkait tingkat bunuh diri daripada keyakinan keagamaan seseorang. Karena itu, kita perlu memperhatikan pentingnya faktor-faktor non-agama dalam memahami tingkat bunuh diri, dan mengambil tindakan pencegahan yang efektif.

Kenyataannya, stigma dan diskriminasi yang sering dialami oleh orang ateis dapat memperburuk masalah kesehatan mental mereka. Sebuah studi pada 2016, yang terbit di jurnal Social Psychiatry and Psychiatric Epidemiology menemukan bahwa orang yang mengidentifikasi diri sebagai ateis atau tidak memiliki keyakinan agama tertentu lebih cenderung mengalami diskriminasi dan stres akibat stigma sosial, yang dapat meningkatkan risiko masalah kesehatan mental seperti depresi dan kecemasan.

Karena itu, jauh lebih baik menciptakan lingkungan yang inklusif dan mendukung bagi orang yang tidak memiliki keyakinan agama tertentu, dan memperjuangkan hak mereka untuk tidak didiskriminasi. Upaya-upaya untuk meningkatkan kesadaran dan aksesibilitas layanan kesehatan mental juga penting untuk membantu mencegah bunuh diri di semua golongan masyarakat, tanpa memandang agama atau keyakinan seseorang.

Hmm... ada yang mau menambahkan?

Related

Studi 7611061869230781197

Posting Komentar

emo-but-icon

Recent

Banyak Dibaca

item