Kepulangan Terakhir

Ilustrasi/inilah-koran.id
Saya sedang berdiri di toko kelontong, membeli sesuatu, ketika di belakang saya ada suara pria bertanya ke penjual di toko, “Rokok sing murah opo, Pak?” (“Rokok yang murah apa, Pak?”)

Bapak penjual menyahut dengan nada bercanda, “Rokok sing murah yo rokok konco.” (“Rokok yang murah ya rokok teman.”)

“Serius iki, opo rokok sing murah?” (“Serius ini, apa rokok yang murah?”)

Bapak penjual mengambil sebungkus rokok, lalu mengatakan, “Yo iki rokok sing murah, rokok Konco.” (“Ya ini rokok yang murah, rokok Konco.”)

Ternyata “Konco” yang dimaksud si penjual adalah merek rokok. Gara-gara tergelitik dengan hal itu, saya menengok ke bungkus rokok yang disodorkan penjual toko, dan terkejut mendapati pria tadi—yang tanya rokok murah—ternyata Benu.

“Lhoh?” Saya menyapa Benu dengan kaget.

Benu sama terkejut, “Lhah, kok iso temu nang kene?” (“Lhah, kok bisa ketemu di sini?”)

Singkat cerita, Benu membeli rokok tadi—rokok merek “Konco”—dan saya ikut-ikutan beli karena penasaran. Ternyata rokok filter, dengan bungkus berwarna hijau tua, dan ada tulisan “Konco” dalam lingkaran. Sambil menikmatinya, Benu dan saya bercakap-cakap di depan toko.

“Kirain kamu masih di Kalimantan, Ben,” ujar saya.

“Udah pulang cukup lama,” sahut Benu. “Aku sekarang ngekos, Da’. Dekat sini. Ayo mampir ke kosanku, sekalian ngobrol-ngobrol.”

“Nggak ganggu?” 

“Nggak, lah! Kosanku lumayan dekat dari sini. Kangen ngobrol sama kamu.”

Kami pun lalu menuju ke kosan Benu.

Nama aslinya Ibnu, tapi orang-orang biasa memanggilnya Benu. Sekian tahun lalu, Benu berangkat ke Kalimantan untuk bekerja, dan sejak itu kami tidak pernah ketemu. Sampai bertahun-tahun. Karena dia sepertinya memang tidak pernah pulang—atau mungkin pula dia sempat pulang, tapi kami tidak ketemu. Jadi, waktu ketemu di toko tadi, saya benar-benar terkejut, karena tidak menyangka.

Kami sampai di depan sebuah rumah, dan Benu berkata, “Ini kosanku.”

Benu mengajak saya masuk, lalu kami duduk lesehan di ruang tamu. Rumah itu tampak mungil tapi adem, karena di depan rumah ada pepohonan. Saya bertanya, “Kok bisa kamu ngekos di sini, Ben?”

Benu mengambil teh gelas kemasan, lalu menyodorkan ke saya. “Panjang ceritanya,” ujar dia.

Lebih dari enam tahun, Benu bekerja di Kalimantan. Selama itu, menurut ceritanya, dia hanya pulang beberapa kali. “Karena berat ongkos transpornya.” 

Bertahun-tahun di Kalimantan, Benu merasa nyaman, meski hidup jauh dari tanah kelahiran. Sampai suatu hari, sekitar setahun yang lalu, Benu dikabari kakaknya kalau ibu mereka masuk rumah sakit. Benu masih ingat suara kakak perempuannya yang terisak ketika menelepon, waktu itu, “Sebaiknya kamu pulang, Ben. Mungkin ini saat-saat terakhir Ibu.”

Tanpa pikir panjang, Benu segera pulang, dengan kalut. Kata-kata dan suara isak kakak perempuannya terngiang-ngiang selama perjalanan. 

Sesampai di rumah, dia mendapati kehampaan. Biasanya, setiap kali pulang, dia disambut hangat oleh ibu dan kakak-kakaknya, dan mereka saling melepas kerinduan. Tapi waktu itu rumah sepi, hanya ada keponakannya. Kata si keponakan, semua orang sedang di rumah sakit. “Saya diminta jaga rumah,” katanya.

Tak menghiraukan lelahnya setelah perjalanan jauh, Benu pergi ke rumah sakit. Di sana, ia mendapati tiga kakaknya—satu laki-laki dan dua perempuan—sedang mengerubungi ibu mereka yang terbaring, dan seketika Benu merasakan air matanya membanjir. Ibunya tampak tidak sadar, dan Benu segera memeluknya, menumpahkan air mata di dada ibunya. 

Beberapa saat setelah itu, ibunya meninggal dunia.

Selang beberapa minggu usai pemakaman, Benu diberi tahu kakak-kakaknya bahwa mereka menghadapi masalah keuangan. Selama ibu mereka menjalani perawatan di rumah sakit, butuh biaya besar, dan mereka terpaksa berutang pada para famili, karena keuangan mereka benar-benar kandas. Setelah ibu meninggal, mereka tentu harus mengembalikan uang yang telah mereka pinjam.

Salah satu kakak Benu mengusulkan untuk menjual rumah orang tua mereka, agar hasil penjualan bisa digunakan untuk membayar utang. Usul itu diterima, karena nyatanya tidak menemukan cara lain. Waktu itu, ada famili yang bersedia membeli rumah mereka, dan sejak itu Benu serta kakak-kakaknya harus meninggalkan rumah yang telah membesarkan mereka.

“Rumah ortuku nggak bagus-bagus amat, seperti yang kamu tahu,” ujar Benu waktu menceritakan kisah ini. “Tapi di sanalah aku tumbuh dari kecil hingga dewasa. Waktu harus meninggalkannya, aku merasa amat berat. Rasanya bukan hanya meninggalkan rumah, tapi juga meninggalkan banyak kenangan.”

Saya memahami yang dirasakan Benu. “Jadi, setelah itu kamu ngekos di sini?”

“Ya,” jawab Benu. “Untung aku nggak punya banyak barang, jadi nggak repot harus bawa macam-macam ke sini.”

“Kamu nggak terpikir untuk kembali ke Kalimantan, Ben?” 

“Sebenarnya terpikir. Cuma, aku mikirnya gini. Dulu, waktu di Kalimantan, aku merasa masih punya tempat untuk pulang—rumah ibuku. Sekarang, setelah Ibu nggak ada, dan rumah kami juga udah dijual, aku merasa nggak ada lagi tempat untuk pulang. Kalau misal sekarang aku kembali ke Kalimantan, aku akan merasa... kayak layang-layang putus. Paham, nggak?”

“Iya,” saya mengangguk. “Kamu merasa nggak lagi punya pijakan, nggak ada lagi tempat untuk pulang.”

“Benar. Itulah kenapa aku jadi merasa berat untuk kembali ke Kalimantan, meski juga betah di sana. Rasanya beda kalau kamu ada di tempat jauh dan memiliki tempat untuk pulang, lalu kamu kembali berada di tempat jauh dan nggak lagi punya tempat untuk pulang.”

“Aku baru terpikir soal itu.” 

Kami terdiam sejenak. Saya mematikan puntung rokok di asbak, dan berkata, “Omong-omong, rokok Konco ini lumayan enak, ya.”

Benu ngikik. “Nama rokoknya agak lucu, juga kayak satire. Rokok Konco. Ya, lumayan enak, dan suwun banget karena gara-gara beli rokok ini bisa ketemu dan ngobrol sama kamu. Sering-seringlah dolan ke sini.”

“Siap.” 

Lalu kami bertukar nomor WhatsApp.

Related

Hoeda's Note 8802914720049522920

Posting Komentar

  1. Setelah baca ini, aku teringat dengan teman masa kecilku. Dia kerja di Malaysia. Pulang ke Indonesia juga karena ayahnya meninggal. Dan saat ini dia ga balik lagi ke Malaysia, karena ayah dan ibunya udah meninggal. Cuma bedanya rumahnya ga dijual aja.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Salah satu kesedihan anak yang merantau mungkin gak bisa menikmati kebersamaan dengan orang tua di masa-masa akhir hidup mereka. Makanya sekarang aku sering dolan ke rumah ortu, mengingat ibuku udah sepuh. Itu hal yang dulu gak aku lakukan waktu ayahku masih hidup, dan sekarang aku sesali.

      Hapus
  2. yup betul. aku juga sebisa mungkin seminggu sekali ke rumah ibuku.

    wong pernah ibuku kata adekku lagi sakit, lalu aku ke rumah ibuku bareng2 sama istri dan anakku buat jenguk. setelah dijenguk, langsung semangat lagi dan ga sakit.

    kadang memang kangen bikin sakit.

    makanya dulu 2016 aku ada tawaran kerja ke Jakarta, ga aku ambil, karena bapakku lagi sakit2an. dan qodarulloh 2017, bapakku meninggal. coba aku ambil tawaran itu, pasti aku akan menyesalinya karena ga di samping bapakku di akhir2 hayatnya.

    BalasHapus

emo-but-icon

Recent

Banyak Dibaca

item