Kurban Idul Adha Menurun Drastis, Dompet Orang RI Makin Tipis
https://www.belajarsampaimati.com/2026/05/kurban-idul-adha-menurun-drastis-dompet.html?m=0
![]() |
| Ilustrasi/kompas.com |
Kandang-kandang kurban tahun ini terasa lebih lengang. Bukan lengang yang tenang, tapi jenis sepi yang bikin panitia kurban di masjid mulai saling lihat sambil pura-pura sibuk memeriksa tali tambang kambing. Di beberapa tempat, spanduk “Menerima Hewan Kurban” masih tergantung sampai mendekati Idul Adha, padahal biasanya jauh hari sudah penuh daftar nama.
Di Masjid Al-Azhar Jakarta Selatan, jumlah hewan kurban turun. Di sejumlah daerah Jawa Tengah dan Jawa Timur, panitia mulai mengeluh pelan-pelan. Orang-orang yang biasanya rutin patungan sapi mendadak bilang, “tahun ini belum bisa.” Kalimat sederhana, tapi muncul terlalu sering.
Laporan dari NU Online menyebut jumlah pekurban tahun 2025 turun tajam. Bahkan lebih rendah dibanding masa pandemi Covid-19. Data itu keluar dari riset Institute for Demographic and Poverty Studies (IDEAS). Penurunan jumlah pekurban diperkirakan mencapai ratusan ribu orang. Potensi ekonominya ikut turun triliunan rupiah.
Lucu juga kalau dipikir. Dulu, saat pandemi, orang masih bisa memaklumi penurunan ekonomi karena memang ada monster besar bernama virus. Jalanan kosong, rumah sakit penuh, ambulans lewat tiap malam. Sekarang mal tetap ramai, konser tetap penuh, influencer tetap flexing liburan ke Jepang, tapi orang yang mau beli kambing kurban justru menyusut.
Mungkin karena pandemi dulu terasa seperti musuh bersama. Sekarang orang merasa sendirian menghadapi harga hidup yang diam-diam naik dari segala arah.
Harga beras naik. Bensin naik. UKT naik. Tarif ini-itu naik. Orang bertahan hidup sambil pura-pura biasa saja. Indonesia punya bakat aneh dalam menyamarkan krisis. Kita tetap bisa bikin konten TikTok sambil dompet mulai tipis.
Kurban sebenarnya salah satu indikator ekonomi paling jujur di Indonesia. Jauh lebih jujur dibanding pidato pejabat atau angka pertumbuhan ekonomi yang dipresentasikan dengan layar LED dan font tebal. Kurban tidak bisa dimanipulasi terlalu jauh, karena ia berhubungan langsung dengan kemampuan disposable income masyarakat muslim kelas menengah bawah.
Orang membeli kambing bukan karena kebutuhan pokok. Kurban muncul setelah kebutuhan lain selesai dibereskan; cicilan motor, uang sekolah anak, listrik, biaya berobat orang tua, galon air, kuota internet, utang pinjol yang bunganya mulai mencekik.
Kalau jumlah pekurban turun drastis, artinya banyak rumah tangga sedang menahan napas.
Saya teringat obrolan dengan seorang penjual kambing di daerah saya, tahun lalu. Namanya Pak Wiyono. Kulitnya gelap terbakar matahari, suaranya terdengar ramah di telinga. Ia bilang, pembeli sekarang lebih banyak tanya daripada transaksi. Datang, lihat-lihat kambing, minta foto, lalu bilang, “nanti saya kabari lagi ya, Pak.”
Biasanya kalimat itu berarti batal.
Bau kandang kambing sangat khas kalau siang hari. Campuran rumput basah, kotoran, tanah lembap, dan seng yang kepanasan. Tahun-tahun lalu, menjelang Idul Adha, tempat seperti itu ramai oleh tawar-menawar dan suara anak kecil yang takut-takut saat mencoba menyentuh kambing. Tahun ini banyak pedagang mulai khawatir hewan tidak habis terjual.
Orang kota mungkin tidak sadar efek domino dari penurunan kurban. Yang kena bukan cuma panitia masjid. Peternak kecil ikut terpukul. Pedagang rumput. Sopir pickup pengangkut hewan. Tukang jagal musiman. Penjual tusuk sate dadakan dekat lokasi penyembelihan.
Ekonomi rakyat kecil di Indonesia sering bergerak lewat momentum-momentum seperti itu.
Pemerintah berkali-kali mengatakan ekonomi Indonesia tetap tumbuh stabil di atas 5 persen. Kalimat itu diulang terus sampai terdengar seperti jingle iklan. Masalahnya, banyak orang tidak merasakan hidup mereka tumbuh 5 persen. Yang tumbuh justru rasa waswas tiap buka aplikasi mobile banking.
Data makro kadang terasa seperti dunia paralel.
Di media sosial, mulai banyak video orang membandingkan situasi sekarang dengan masa pandemi. Ironis, memang. Waktu Covid, orang takut mati. Sekarang orang takut tagihan. Dulu ancamannya virus. Sekarang ancamannya lebih banal; PHK, sepi orderan, omset turun, kontrak kerja tidak diperpanjang.
Kelas menengah Indonesia sedang masuk fase yang aneh. Mereka belum miskin, tapi sudah tidak nyaman hidup. Gaji habis sebelum akhir bulan. Tabungan terpakai buat kebutuhan rutin. Banyak yang masih terlihat “baik-baik saja” karena budaya kita memang suka menjaga penampilan sosial. Tetap nongkrong, tetap upload story kopi kekinian, tetap ikut arisan kantor. Padahal isi rekening mulai megap-megap.
Makanya penurunan kurban terasa simbolik sekali.
Kurban bukan sekadar ritual agama. Di banyak kampung, ia juga semacam penanda harga diri sosial. Orang yang rutin berkurban lalu tiba-tiba berhenti biasanya akan ditanya tetangga. “Tahun ini nggak kurban, Pak?” Pertanyaan kecil yang kadang bikin tenggorokan terasa kering.
Orang Indonesia hidup dalam tekanan ekonomi sekaligus tekanan sosial.
Di laporan IDEAS, penurunan pekurban disebut berkaitan dengan melemahnya daya beli masyarakat. Frasa “daya beli melemah” sebenarnya terlalu halus untuk menggambarkan realitas di bawah. Yang terjadi sering lebih kasar dari itu. Orang mengurangi makan daging. Orang menunda bayar BPJS. Orang berhenti ngopi di luar. Orang tua pura-pura kenyang supaya anaknya bisa tambah lauk.
Kalimat “ekonomi sedang tidak baik-baik saja” sering terdengar abstrak sampai kita melihat detail-detail kecilnya.
Jumlah kurban turun lebih rendah dibanding masa pandemi. Kalimat itu mestinya bikin pemerintah malu setengah mati. Masa setelah pandemi lewat, kondisi psikologis masyarakat membaik, mobilitas normal lagi, pusat perbelanjaan penuh lagi, tapi kemampuan berkurban justru lebih jeblok?
Atau sebenarnya kita sedang hidup dalam ekonomi yang sibuk terlihat sehat di permukaan sambil diam-diam keropos di bawah?
Saya sempat melihat video seorang panitia kurban di daerah Bekasi yang bilang tahun ini proposal ke donatur jauh lebih sulit. Banyak nomor WhatsApp yang dulu responsif sekarang cuma centang dua. Sebagian membalas sopan, “Mohon maaf tahun ini belum bisa ikut.”
Kalimat “belum bisa” makin sering terdengar di Indonesia beberapa bulan terakhir. Belum bisa beli rumah. Belum bisa punya anak. Belum bisa resign. Belum bisa kredit motor. Belum bisa kurban.
Orang-orang mulai hidup dengan mode menunda.
Ekonomi yang sehat biasanya memberi ruang untuk sedikit bernapas. Ruang untuk berbagi. Ruang untuk melakukan sesuatu di luar kebutuhan bertahan hidup harian. Kurban salah satunya. Ketika ruang itu mengecil, masyarakat berubah lebih tegang, lebih sensitif, lebih gampang marah.
Coba lihat media sosial sekarang. Orang ribut terus. Sedikit-sedikit ngamuk. Sedikit-sedikit curiga. Energi kolektifnya terasa capek.
Mungkin karena terlalu banyak orang sedang memikul beban finansial sambil pura-pura santai.
Sementara itu, pejabat masih sibuk bicara optimisme ekonomi dengan grafik warna-warni. Presentasi di hotel. Forum investasi. Kata-kata seperti “resiliensi” dan “transformasi”. Bahasa kelas atas memang sering terdengar bersih karena tidak pernah menyentuh bau kandang kambing yang kotor.
Di sebuah gang sempit di Pekalongan, seorang bapak memandangi kambing-kambing yang tertambat di tempat penjualan. Pandangannya tampak ragu. Dia sempat tanya harga pada si penjual, mengangguk, dan diam.
Lalu dia bilang pelan ke pedagangnya, “Saya pikir-pikir dulu ya, Kang.”

.png)

