Anak-anak Muda Antre Sejak Subuh demi Bisa Masuk Perpustakaan
https://www.belajarsampaimati.com/2026/06/anak-anak-muda-antre-sejak-subuh-demi.html
![]() |
| Ilustrasi/disway.id |
Jam lima pagi di Hangzhou, antrean sudah mulai terbentuk di depan Zhejiang Library. Anak-anak muda berdiri sambil memegang tumbler kopi, beberapa masih memakai jaket karena udara subuh menusuk sampai ke kulit tangan. Ada yang duduk di trotoar sambil menghafal kosa kata IELTS. Ada yang membuka laptop sebelum matahari benar-benar naik. Satpam perpustakaan belum membuka pintu, tapi kursi-kursi di dalam gedung sudah seperti emas.
Video-video seperti itu belakangan sering muncul dari China; pelajar antre berjam-jam demi tempat duduk di perpustakaan.
Buat orang Indonesia, pemandangan itu terasa hampir sureal. Di sini, perpustakaan sering identik dengan ruang pengap, rak kusam, kipas angin bunyi tek-tok, dan buku-buku yang sampulnya menguning seperti biskuit tua. Anak muda Indonesia rela antre konser, antre sepatu limited edition, antre restoran viral. Antre perpustakaan? Sulit membayangkan kerumunan sepanjang itu terjadi di depan Perpustakaan Daerah kecuali ada pembagian sembako.
Perbedaan itu terlalu mencolok sampai terasa tidak nyaman.
China memang sedang mengalami demam belajar yang nyaris brutal. Gaokao—ujian masuk universitas nasional mereka—bukan sekadar ujian biasa. Itu semacam gladiator intelektual massal. Sekitar 13 juta siswa mengikuti gaokao tiap tahun. Nasib hidup bisa berubah hanya dari selisih beberapa poin. Universitas seperti Tsinghua atau Peking University diperlakukan hampir seperti gerbang menuju kasta sosial baru. Tekanan itu merembes ke mana-mana. Perpustakaan jadi medan perang sunyi.
Di National Library of China, Beijing, mahasiswa datang sebelum jam buka demi mengamankan meja dekat colokan listrik. Orang-orang membawa bantal leher, tablet, buku latihan matematika setebal batu bata. Di media sosial China, istilah “juan” atau involusi sering dipakai untuk menggambarkan kompetisi tanpa akhir itu; semua orang bekerja lebih keras hanya agar tetap bertahan di tempat yang sama. Mata merah karena kurang tidur jadi pemandangan biasa.
Video antrean perpustakaan sering dibagikan netizen Indonesia dengan nada kagum bercampur malu. “Lihat tuh budaya baca mereka.” Kalimat itu sebenarnya terlalu sederhana. China bukan negeri utopis penuh anak rajin membaca Dostoevsky sambil minum teh melati. Banyak dari mereka belajar karena takut kalah. Takut jatuh. Takut menjadi bagian dari ratusan juta orang yang tersingkir dalam kompetisi ekonomi paling ganas di planet ini. Kecemasan bisa menghasilkan disiplin dalam skala industri.
Sistem pendidikan China dibangun di atas obsesi meritokrasi yang sangat tua. Akar sejarahnya panjang, bahkan sejak ujian kekaisaran pada Dinasti Sui dan Tang. Dulu, orang belajar Konfusianisme klasik bertahun-tahun, demi lolos ujian negara dan menjadi pejabat kekaisaran. Hari ini, bentuknya berubah jadi matematika, coding, TOEFL, machine learning, dan teknik elektro. Tubuhnya modern. Jiwanya masih ujian kekaisaran.
Anak-anak China sering hidup dalam ritme yang bagi sebagian orang Indonesia mungkin terasa gila. Sekolah pagi sampai sore, lanjut bimbingan belajar malam. Sabtu tambahan les. Libur musim panas dipakai kursus. Orang tua menginvestasikan uang besar untuk pendidikan anak, karena mereka tahu persaingannya tidak main-main. Di kota seperti Shenzhen atau Shanghai, harga apartemen dekat sekolah unggulan bisa melonjak secara absurd.
Seorang ibu di Wuhan pernah diwawancarai media lokal sambil menangis karena anaknya cuma tidur lima jam sehari menjelang gaokao. Wajah anak itu pucat. Jerawat memenuhi dahinya. Tangannya masih memegang buku soal fisika.
Orang Indonesia kadang melihat antrean perpustakaan China lalu langsung menyimpulkan, “Mereka cinta ilmu.” Mungkin sebagian iya. Sebagian lain cuma takut gagal dalam mesin ekonomi yang tidak punya banyak belas kasihan.
Tetap saja, ada sesuatu yang tidak bisa diabaikan; masyarakat China memang menaruh pendidikan pada posisi sangat serius. Bahkan secara visual, itu terasa. Perpustakaan dibangun megah. Kampus diperluas. Kota-kota berlomba punya pusat riset. Negara menggelontorkan dana besar untuk STEM, AI, semikonduktor, bioteknologi.
Indonesia punya hubungan lebih ambigu dengan intelektualitas. Orang pintar di Indonesia sering dihormati secara simbolik, tapi tidak selalu secara praktis. Guru disebut “pahlawan tanpa tanda jasa”, lalu digaji menyedihkan. Perpustakaan sekolah dibangun sekadarnya, asal ada ruangan. Buku kadang datang lebih sebagai proyek anggaran daripada kebutuhan budaya.
Anak kecil Indonesia tumbuh dalam lingkungan yang sangat audiovisual. TikTok lebih hidup daripada rak buku. Grup WhatsApp keluarga lebih ramai daripada ruang baca. Bahkan banyak sekolah memperlakukan membaca sebagai tugas administratif; rangkum buku, kumpulkan, selesai. Tubuh hadir di perpustakaan, pikiran tidak.
Saya ingat suasana beberapa perpustakaan daerah di Indonesia yang nyaris memilukan. Lampu putih terlalu terang. Rak-rak buku agama dan buku motivasi mendominasi. Komputer tua menyala lambat. Petugas duduk sambil main ponsel karena pengunjung hampir tidak ada. Bau debu bercampur pendingin ruangan.
Sementara di China, beberapa perpustakaan harus membatasi durasi duduk, karena terlalu penuh.
Tentu situasi Indonesia tidak sesederhana “orang malas membaca”. Banyak faktor yang lebih kusut. Harga buku mahal. Distribusi buruk. Kota-kota dibangun tanpa kultur ruang publik intelektual yang kuat. Orang bekerja terlalu lama untuk sekadar bertahan hidup. Pulang malam dalam kondisi lelah, otak otomatis memilih hiburan yang paling cepat dicerna. Manusia capek sulit diajak membaca buku 400 halaman tentang sejarah Dinasti Ming.
Media sosial juga mengubah cara otak bekerja. Bacaan panjang terasa makin berat. Fokus pecah jadi potongan kecil. Notifikasi masuk terus. Video pendek membentuk ritme dopamin baru. China sebenarnya juga mengalami itu. Bedanya, mereka melawannya dengan tekanan kompetisi ekstrem. Pelajar tetap harus duduk berjam-jam karena, kalau tidak, ada jutaan orang lain siap menyalip.
Indonesia belum punya tekanan nasional sebesar itu. Mungkin untung. Mungkin juga masalah.
Kita sering membanggakan kreativitas, spontanitas, keramahan sosial. Semua itu bagus. Tapi ada sisi lain yang jarang dibicarakan; masyarakat kita juga cukup permisif terhadap mediokritas intelektual. Orang bisa terang-terangan anti membaca tanpa malu. Politisi salah bicara soal data tapi tetap dipilih. Hoaks absurd menyebar seperti virus rabies digital. Negara yang budaya bacanya lemah akhirnya lebih gampang dimanipulasi.
Saya tidak sedang meromantisasi China. Negara itu juga punya sisi gelap; sensor internet, tekanan akademik yang membuat tingkat stres remaja tinggi, budaya kerja “996” yang terkenal kejam. Banyak anak muda China sendiri mulai muak dengan kompetisi tanpa akhir. Gerakan “tang ping” atau “rebahan” muncul sebagai bentuk perlawanan pasif terhadap budaya kerja dan belajar yang menguras hidup. Tubuh manusia punya batas.
Tetap saja, pemandangan antre di perpustakaan itu susah diabaikan. Ada rasa panas kecil di dada ketika melihat anak-anak muda rela berdiri dua jam demi kursi baca, sementara di Indonesia debat publik sering tenggelam dalam gosip selebriti, potongan podcast marah-marah, dan konten prank receh.
Suara halaman buku dibalik pelan di perpustakaan sebenarnya tidak romantis. Kadang cuma bunyi kertas tipis kena jari kering. Punggung pegal karena duduk terlalu lama. Mata perih karena menatap teks.
China memahami satu hal dengan sangat dingin; pengetahuan bisa diterjemahkan menjadi kekuasaan nasional. Indonesia kadang masih memperlakukan pengetahuan seperti dekorasi pidato Hari Pendidikan.
Malam turun di Beijing. Lampu meja belajar masih menyala di balik jendela apartemen-apartemen tinggi. Seorang mahasiswa teknik menggosok matanya sambil menghafal rumus integral. Di Surabaya atau Medan, mungkin pada jam yang sama, seseorang sedang scrolling TikTok tiga jam tanpa sadar.
Perpustakaan di Hangzhou besok pagi akan penuh lagi sebelum matahari muncul.


