Indonesia Masuk Daftar Negara Religius, Arab Saudi Malah Tidak
https://www.belajarsampaimati.com/2026/06/indonesia-masuk-daftar-negara-religius.html
![]() |
| Ilustrasi/jatimtimes.com |
Di sebuah gang sempit di Lhokseumawe, Aceh, suara azan magrib bertabrakan dengan suara knalpot RX-King dan denting sendok di warung kopi. Para lelaki berhenti ngobrol, beberapa buru-buru mengenakan peci. Di Jakarta, orang-orang berdebat soal RUU sambil mengutip ayat. Di Padang, baliho caleg kadang lebih mirip spanduk pengajian. Di televisi, ustaz muncul di antara iklan obat dan skincare. Agama tidak cuma hadir di Indonesia. Ia menempel di dinding, di seragam sekolah, di jam kerja kantor, di algoritma TikTok, bahkan di tulisan belakang truk.
Lalu datang survei global Gallup yang melibatkan lebih dari 370 ribu responden di 148 negara. Indonesia masuk 10 besar negara paling religius di dunia. Arab Saudi malah tidak masuk. Negara yang selama puluhan tahun dijual sebagai pusat spiritual Islam justru tersingkir dari daftar itu.
Data semacam itu sering dibaca dengan cara malas: “Indonesia bangsa yang religius.” Kalimat itu biasanya diucapkan dengan nada bangga, seperti medali. Padahal daftar tersebut menyimpan sesuatu yang jauh lebih mengganggu. Banyak negara yang masuk kategori paling religius justru adalah negara-negara yang miskin, tidak stabil, korup, atau penuh konflik sosial. Afghanistan, misalnya. Atau Yaman. Beberapa negara Afrika Sub-Sahara. Indonesia sendiri masih bergulat dengan ketimpangan ekonomi, korupsi politik, dan ledakan populisme agama. Sulit mengabaikan polanya.
Gallup mengukur religiusitas bukan dari jumlah rumah ibadah atau seberapa sering negara menyebut nama Tuhan dalam konstitusi. Mereka bertanya soal peran agama dalam kehidupan sehari-hari: “Apakah agama penting dalam hidup Anda? Apakah ia mempengaruhi keputusan? Apakah ia menjadi bagian identitas sosial dan moral?”
Indonesia menjawab dengan sangat keras: “Ya.”
Di negara ini, agama bukan ruang privat. Ia masuk ke meja makan keluarga. Masuk ke rapat RT. Masuk ke pemilu. Orang bisa kehilangan pekerjaan gara-gara dianggap menghina agama. Seorang gubernur bisa jatuh bukan karena gagal membangun kota, tapi karena satu potongan video pendek yang dipelintir di Kepulauan Seribu.
Mata orang Jakarta pernah menyaksikan itu pada 2016. Ribuan orang berpakaian putih memadati jalanan ibu kota sambil meneriakkan ayat dan ancaman penjara. Basuki Tjahaja Purnama tumbang di tengah gelombang demonstrasi yang bercampur antara iman, politik, kemarahan kelas, dan hasrat kekuasaan. Setelah itu, politisi Indonesia cepat belajar; agama jauh lebih murah daripada program kerja. Spanduk pengajian lebih efektif daripada diskusi kebijakan publik.
Arab Saudi justru menarik. Negara itu tidak masuk daftar negara paling religius, padahal Ka’bah ada di sana. Madinah ada di sana. Polisi moral pernah berpatroli di pusat perbelanjaan Riyadh sambil memukul orang yang telat shalat berjamaah. Tetapi kehidupan sosial Saudi berubah cepat dalam beberapa tahun terakhir. Bioskop dibuka lagi. Konser musik internasional digelar. Perempuan mulai mengemudi. Mohammed bin Salman mendorong proyek modernisasi besar-besaran sambil secara perlahan memangkas dominasi ulama Wahabi dalam ruang publik.
Ada kemungkinan sederhana yang sering diabaikan; masyarakat yang terlalu lama dipaksa religius oleh negara bisa mengalami kelelahan batin. Orang patuh di depan, tapi dingin di dalam. Ketika kontrol mulai longgar, ekspresi religius ikut menurun. Agama berubah jadi formalitas administrasi.
Indonesia berbeda. Religiusitas di sini tumbuh dari bawah sekaligus dipelihara dari atas. Negara mengurus agama sampai detail absurd. KTP mencantumkan agama. Sekolah wajib punya pelajaran agama. Pegawai negeri kadang dinilai dari kesalehan visual. Di saat bersamaan, masyarakat sendiri terus memproduksi gairah religius secara sukarela. Industri umrah meledak. Kajian-kajian penuh. Pendakwah muda tampil dengan sneaker mahal dan mikrofon headset seperti motivator Silicon Valley.
Di Yogyakarta beberapa tahun lalu, seorang mahasiswa menjelaskan kepada saya kenapa ia ikut “hijrah”. Kami duduk di angkringan dekat Jalan Kaliurang, asap sate menguarkan aroma yang menusuk hidung. Ia bilang, hidup modern membuat kepalanya kosong. Kampus penuh persaingan, media sosial membuat semua orang terlihat sukses, sementara dirinya merasa tidak jadi apa-apa. Komunitas hijrah memberinya arah, teman, dan rasa penting. Bukan soal teologi dulu. Rasa diterima jauh lebih kuat.
Negara-negara miskin memang sering lebih religius. Ini bukan hinaan, juga bukan kebetulan statistik. Ketika hidup penuh ketidakpastian, agama memberi struktur. Saat rumah sakit buruk, orang mencari doa. Saat hukum bisa dibeli, orang berharap pada keadilan akhirat. Ketika pekerjaan sulit dan masa depan kabur, surga terasa lebih nyata daripada janji pemerintah.
Di Lagos, Nigeria, gereja-gereja Pentakosta tumbuh seperti minimarket. Di Karachi, Pakistan, ceramah agama memenuhi radio dan pengeras suara. Di Kabul, Taliban memerintah atas nama iman di tengah reruntuhan perang puluhan tahun. Orang-orang Barat kadang salah membaca fenomena ini sebagai “kesalehan”. Mereka lupa rasa takut sering melahirkan religiusitas yang sangat kuat.
Negara-negara Nordik justru rendah tingkat religiusitasnya. Swedia, Denmark, Norwegia. Warga di sana tidak terlalu rajin ibadah, tapi korupsi rendah, pendidikan bagus, layanan kesehatan berjalan. Orang tidak perlu terlalu sering memohon keajaiban untuk bertahan hidup. Kenyamanan sosial kadang membuat Tuhan terdengar lebih sunyi.
Indonesia punya kontradiksi yang aneh. Negeri ini sangat religius, tetapi juga sangat brutal dalam banyak hal sehari-hari. Orang bisa menangis saat mendengar ceramah agama, tapi membuang sampah sembarangan. Pejabat korupsi miliaran rupiah setelah pulang umrah. Kekerasan terhadap minoritas masih terjadi sambil pelakunya merasa sedang membela moral. Tahun 2011, jemaat Ahmadiyah diserang di Cikeusik. Rekaman videonya masih beredar sampai sekarang; tubuh dipukul ramai-ramai sementara orang-orang berteriak takbir. Sulit menontonnya lama-lama. Tenggorokan terasa kering.
Kalau religiusitas benar-benar identik dengan moralitas sosial, Indonesia mestinya sudah menjadi salah satu negara paling beradab di bumi. Sayang sekali, kenyataannya tidak begitu.
Orang Indonesia sangat percaya pada Tuhan, tapi sering tidak percaya pada sesama warga. Itu sebabnya pagar rumah makin tinggi, CCTV makin banyak, komentar media sosial makin ganas. Agama tumbuh subur, sementara ruang publik dipenuhi kecurigaan dan amarah. Setiap beberapa bulan muncul keributan baru; pengeras suara masjid, larangan ibadah, penolakan rumah doa, ceramah yang dipotong, ustaz yang dituduh sesat, pendeta yang dianggap menghina.
Kadang rasanya agama di Indonesia bukan lagi tempat orang mencari ketenangan. Ia berubah menjadi identitas tempur.
Tentu tidak semuanya gelap. Ribuan pesantren tetap memberi pendidikan murah untuk anak-anak miskin. Banyak gereja membuka dapur umum saat bencana. Vihara dan pura ikut menggalang bantuan ketika pandemi Covid-19 menghantam. Di Semarang, relawan lintas agama pernah membagikan oksigen gratis ketika rumah sakit penuh dan sirene ambulans terdengar hampir tiap malam saat pandemi. Orang-orang semacam itu jarang viral karena mereka tidak berteriak. Media sosial lebih menyukai kemarahan dibanding kemurahan hati.
Tetap saja, daftar Gallup tadi seharusnya tidak dibaca sebagai trofi nasional. Ia lebih mirip hasil laboratorium yang memperlihatkan sesuatu tentang kecemasan kolektif manusia. Negara-negara yang hidup nyaman cenderung tidak terlalu sibuk memanggil Tuhan setiap jam. Negara-negara yang penuh ketidakpastian justru memeluk agama erat-erat sampai kadang nyaris kehabisan napas sendiri.
Di Indonesia, pengeras suara masjid masih akan terus bersahutan sebelum subuh. Orang-orang akan tetap memenuhi kajian, mengunggah potongan ceramah, berdebat soal halal-haram sambil cicilan motor menunggak. Di sudut lain, anak-anak muda tetap antre membuat paspor untuk kerja ke Korea Selatan atau Jepang—negara-negara yang jauh lebih sekuler, jauh lebih dingin, tapi gajinya stabil dan listriknya tidak sering mati.

.png)


