Julian Sevillano Mati dan Bawa Senjata untuk Pertempuran di Akhirat

Ilustrasi/zonamahasiswa.id
Peti mati putih itu nyaris tak terlihat lagi karena tertutup senjata. Senapan mesin hitam disandarkan melintang di atas tubuh Julian Sevillano. Pistol-pistol diletakkan di dekat dadanya seperti benda ritual. Foto-foto dari pemakamannya beredar cepat; tangan pelayat menyentuh kayu peti, wajah-wajah keras penuh tato, anak-anak kecil berdiri menonton di pinggir ruangan dengan mata kosong, seperti sedang melihat pesta keluarga biasa. Udara lembap. Lampu neon membuat kulit semua orang terlihat abu-abu.

Seseorang berkata kepada wartawan: “Dia pergi ke dunia lain dengan terlindungi.”

Kalimat itu terdengar seperti gabungan doa, ancaman, dan mitologi jalanan sekaligus.

Julian Sevillano, alias El Fatal, mati di usia 39 tahun. Pemimpin geng narkoba Los Fatales di Ekuador. Negara kecil di Amerika Selatan yang dulu jarang masuk berita internasional selain soal Kepulauan Galapagos dan pantai tropisnya, sekarang berubah jadi salah satu jalur kokain paling brutal di dunia. Kontainer pisang dari pelabuhan Guayaquil sering jadi kendaraan tersembunyi untuk mengirim kokain ke Eropa. Kartel Meksiko masuk. Mafia Albania masuk. Senjata mengalir. Kota-kota pelabuhan berubah tegang.

Nama “Los Fatales” mungkin terdengar seperti nama kelompok dalam film Netflix. Kenyataannya lebih kotor dari film mana pun. Di Ekuador, geng narkoba bukan cuma organisasi kriminal; mereka sering tumbuh menjadi identitas sosial lokal. Anak-anak muda miskin melihat mereka seperti perpaduan gangster, selebritas, dan pemimpin lingkungan. El Fatal bukan cuma bos kartel bagi sebagian orang. Ia dianggap pelindung kawasan, pemberi uang, pemberi kerja, orang yang membagi sembako saat negara terasa jauh dan polisi cuma datang setelah mayat jatuh.

Kamera televisi menangkap detail yang mengganggu; senjata-senjata di atas peti itu bukan replika mainan. Beberapa tampak seperti rifle otomatis sungguhan. Dingin logamnya hampir terasa meski hanya lewat layar ponsel. Saya sempat menghentikan videonya beberapa detik. Ada sesuatu yang absurd melihat ritual kematian berubah seperti persiapan perang di akhirat.

Orang-orang kuno memang sering mengubur pemimpin mereka dengan benda berharga. Firaun Mesir dikubur bersama emas, makanan, bahkan pelayan yang dibunuh untuk menemani mereka di alam kematian. Bangsa Viking meletakkan pedang dan kapal. Di beberapa kebudayaan Asia, keluarga membakar replika mobil dan uang kertas untuk arwah.

El Fatal mendapat AK-47. Mungkin itu bentuk paling jujur dari dunia modern. Bahkan setelah mati, orang masih percaya ancaman belum selesai.

Ekuador beberapa tahun terakhir berubah cepat dengan cara yang buruk. Rekaman video penjara dikuasai geng, beredar seperti trailer film horor amatir; kepala dipenggal, tubuh dibakar, narapidana bersenjata otomatis berjalan santai sambil merekam TikTok. Pada Januari 2024, dunia sempat tercengang ketika sekelompok pria bersenjata menyerbu studio televisi TC Televisión saat siaran langsung berlangsung di Guayaquil. Pembawa acara dipaksa tiarap di lantai. Kamera tetap menyala. Suara teriakan bercampur dengung elektronik. Mata saya sakit menonton rekaman itu terlalu lama.

Negara terlihat seperti kehilangan monopoli atas rasa takut.

Di lingkungan seperti itu, pemakaman gangster menjadi pertunjukan kekuasaan. Orang tidak sekadar berkabung. Mereka sedang mengirim pesan; jaringan ini masih hidup. Loyalitas belum mati. Musuh harus lihat baik-baik.

Makanya senjata di peti mati El Fatal terasa penting secara simbolik. Itu bukan dekorasi sentimental. Itu deklarasi.

Ada detail yang terus mengganggu kepala saya; seseorang benar-benar harus memilih senjata mana yang layak dibawa ke kubur. Seseorang memegang rifle, memastikan posisinya rapi di dekat jasad. Mungkin tangan mereka gemetar. Mungkin tidak sama sekali.

Banyak masyarakat modern suka berpura-pura bahwa kriminal dan agama berada di dua dunia terpisah. Kenyataannya berantakan. Kartel narkoba Amerika Latin justru penuh simbol religius. Anggota geng membawa rosario. Mereka menato gambar Yesus di dada. Mereka berdoa sebelum pembunuhan. Di Meksiko, ada kultus Santa Muerte—figur kerangka berjubah yang dipuja sebagian kriminal sebagai pelindung. Lilin-lilin menyala di altar kecil dekat senapan dan paket kokain.

Manusia tampaknya sulit hidup tanpa keyakinan spiritual, bahkan ketika tangannya penuh darah.

Kita sering membayangkan bos kartel sebagai monster dingin tanpa emosi. Film-film membuat mereka tampak seperti mesin pembunuh yang selalu tenang sambil minum wiski mahal. Kenyataannya sering lebih kampungan, lebih emosional, lebih kacau. 

Banyak dari mereka tumbuh di lingkungan miskin, masuk ke dunia kriminal sejak remaja, terbiasa hidup dengan paranoia ekstrem. Orang-orang di sekitar El Fatal mungkin benar-benar percaya ia membutuhkan perlindungan senjata setelah mati. Bukan simbolis. Benar-benar percaya. Itu yang membuatnya terasa liar.

Saya membayangkan bau ruangan pemakaman hari itu. Campuran parfum murah, alkohol, keringat, bunga yang mulai busuk, asap rokok menempel di dinding. Mungkin ada musik diputar pelan dari speaker pecah. Mungkin seseorang menangis sambil mabuk. Mungkin ada anak kecil berlari di dekat peti tanpa benar-benar memahami siapa pria yang sedang mereka hormati.

Kartel sering bekerja seperti keluarga besar yang rusak. Ada solidaritas, ada rasa memiliki, ada perlindungan finansial. Sekaligus ada pembunuhan, pengkhianatan, mutilasi. Dunia luar sering gagal memahami kenapa anggota geng begitu loyal bahkan sampai mati. Mereka mengira semua cuma soal uang. Banyak anggota kartel justru takut kembali menjadi “bukan siapa-siapa”.

Nama El Fatal sendiri berarti sesuatu seperti “Si Fatal” atau “Yang Mematikan”. Julukan gangster Amerika Latin memang sering terdengar teatrikal. El Chapo. Fito. El Mencho. Nama-nama yang dirancang supaya terasa lebih besar dari manusia biasa. Ironisnya, tubuh mereka tetap membusuk seperti semua orang lain.

Tubuh Julian Sevillano sekarang mungkin sudah hancur di bawah tanah, sementara rifle-rifle itu ikut terkubur bersamanya. Logam, kayu, tulang, kain jas. Sulit membayangkan absurditas itu tanpa merasa sedikit mual.

Internet memperlakukan pemakaman itu seperti tontonan eksotis. Banyak komentar bercanda, “Biar bisa war di akhirat.” Orang tertawa karena gambar peti penuh senjata memang tampak surreal. Tetapi ada sesuatu yang suram di balik semua itu. Pemakaman tersebut terasa seperti pengakuan bahwa hidup El Fatal tidak pernah benar-benar keluar dari medan perang. Bahkan kematian pun tidak diberi kesempatan menjadi sunyi.

Kota-kota pelabuhan di Ekuador sekarang hidup dengan ritme ketakutan baru. Polisi bersenjata berat berjaga di jalan. Sirene terdengar lebih sering. Orang kaya pindah ke kompleks berpagar tinggi. Anak-anak muda miskin melihat video gangster di TikTok sambil membayangkan rantai emas dan motor sport.

Kadang kekerasan menyebar bukan karena orang mencintai darah, tapi karena dunia legal terlihat terlalu lambat memberi martabat.

Saya terus teringat satu foto lain dari pemakaman itu. Seorang perempuan berdiri dekat peti sambil memegang wajahnya sendiri. Kukunya dicat merah terang. Mata kirinya sembap. Di belakangnya, moncong senapan tampak mencuat dari atas peti seperti benda hidup.

Tidak ada yang terlihat damai di ruangan itu. Karena bahkan orang mati pun masih dipersenjatai.

Related

Internasional 5385868400674380290

Posting Komentar

emo-but-icon

Terbaru

Banyak Dibaca

Ebook BSM

Mengapa Dunia Seperti Sekarang? 100 Peristiwa yang Membentuk Dunia Kita

Pernah bertanya-tanya, mengapa dunia seperti sekarang? Mengapa dunia terbagi-bagi dalam banyak negara? Mengapa ada orang-orang yang sangat k...

item