Orangutan Disuruh Pergi dari Hutan, Padahal Mereka Orangutan

Ilustrasi/thedodo.com
Bulu orangutan itu cokelat kusam, lengannya panjang, gerakannya lambat seperti seseorang yang baru bangun dari mimpi buruk. Di depannya, ekskavator kuning terus menggigit pohon satu demi satu. Besi melawan daging. Mesin melawan makhluk yang bahkan tidak benar-benar paham apa itu perusahaan, izin konsesi, atau harga minyak sawit global.

Video-video seperti itu sering muncul di media sosial sekarang. Orangutan berdiri kebingungan di tanah merah yang baru dibuka. Kadang mendekati alat berat. Kadang memanjat batang pohon terakhir yang tersisa. Kadang cuma duduk sambil melihat hutan yang sudah berubah menjadi suara mesin dan asap solar.

Komentar manusia biasanya dapat diprediksi. Sedih. Marah. Lalu scroll lagi.

Masalah sebenarnya jauh lebih brutal daripada sekadar “orangutan kehilangan rumah”. Hutan bagi orangutan bukan alamat. Hutan adalah seluruh struktur hidupnya. Tempat makan, tidur, berkembang biak, bergerak, belajar, menghindari predator. Orangutan liar di Kalimantan dan Sumatra menghabiskan hampir seluruh hidupnya di atas pohon. Mereka membuat sarang baru hampir setiap malam dari ranting dan daun. Induk orangutan mengajari anaknya selama bertahun-tahun tentang pohon mana yang buahnya aman dimakan, kapan musim durian hutan tiba, di mana sumber air berada saat kemarau.

Kalau hutan hilang, bukan berarti mereka tinggal pindah beberapa kilometer seperti manusia pindah kontrakan.

Pindah ke mana?

Pertanyaan itu sebenarnya sudah punya jawaban pahit; banyak yang tidak pindah ke mana-mana. Mereka mati.

Orangutan Kalimantan termasuk satwa yang sangat teritorial dan sangat tergantung pada habitat hutan tropis. Ketika hutan dibuka untuk perkebunan sawit, tambang batu bara, jalan logging, atau proyek industri lain, orangutan sering terjebak di fragmen hutan kecil yang terisolasi. Pulau-pulau pohon di tengah lautan kebun monokultur.

Dari udara, pemandangan di beberapa wilayah Kalimantan sekarang terlihat aneh sekali. Hamparan hijau masih ada, tapi hijau yang seragam. Sawit berjajar rapi seperti pasukan. Hutan asli tropis tidak pernah serapi itu. Hutan hujan punya kekacauan alami; pohon besar menjulang dengan akar banir, liana kusut, suara serangga yang terus berdengung bahkan menjelang malam. 

Kebun sawit terasa sunyi dengan cara berbeda.

Orangutan tidak bisa hidup normal di sana. Mereka mungkin masuk perkebunan untuk mencari makan karena habitatnya habis. Hasilnya sering tragis. Dianggap hama. Dipukul. Ditembak. Diracun. Ada juga yang ditangkap hidup-hidup lalu dijual ilegal sebagai peliharaan eksotis.

Bayi orangutan biasanya sampai ke pasar gelap setelah induknya dibunuh terlebih dulu. Bagian itu sering tidak muncul di video lucu orang memelihara bayi orangutan memakai popok.

Saya pernah melihat foto penyelamatan orangutan di Taman Nasional Tanjung Puting. Mata hewan itu tampak merah dan kosong, bulunya sebagian rontok. Di lengannya ada bekas luka seperti terbakar. Tubuh orangutan punya kualitas fisik yang aneh ketika dilihat dekat; sangat mirip manusia, tapi juga tidak sepenuhnya. Tangannya terasa terlalu panjang. Jemarinya seperti tangan pekerja tua yang kurus.

Kesamaan itu justru membuat banyak orang tidak nyaman.

Genetik manusia dan orangutan berbagi sekitar 97 persen lebih DNA. Orangutan bisa menunjukkan rasa ingin tahu, kesedihan, bahkan tanda-tanda trauma. Induk orangutan diketahui membawa bayi mati mereka selama berhari-hari atau berminggu-minggu. Para peneliti primata di Camp Leakey pernah mencatat perilaku berkabung seperti itu.

Lalu ekskavator datang.

Orang sering membingkai konflik itu terlalu sederhana; manusia versus alam. Padahal banyak pekerja yang menebang hutan juga hidup dalam tekanan ekonomi. Sopir alat berat mungkin cuma pekerja kontrak. Buruh kebun mungkin pendatang yang ingin menyekolahkan anaknya. 

Kapitalisme modern punya kemampuan luar biasa membuat orang miskin ikut menghancurkan sesuatu yang sebenarnya juga mereka butuhkan.

Kayu keluar. Batu bara keluar. Sawit keluar. Kota tumbuh jauh dari hutan. Orang membeli sabun, mi instan, kosmetik, biodiesel, tanpa pernah melihat suara mesin yang memecah habitat satwa liar.

Hubungannya terlalu panjang untuk terasa nyata.

Kalimantan kehilangan jutaan hektare hutan dalam beberapa dekade terakhir. Kebakaran besar tahun 2015 memperparah semuanya. Asapnya menyebar sampai Malaysia dan Singapura. Langit berubah abu-abu. Tenggorokan perih. Sekolah ditutup di beberapa daerah. Orangutan yang lolos dari api sering keluar dalam kondisi dehidrasi dan kelaparan.

Foto-foto pasca-kebakaran terlihat seperti dunia setelah perang. Batang hitam hangus berdiri di tanah abu. Bau gambut terbakar itu khas sekali—asam, berat, menempel di pakaian.

Hutan tropis sebenarnya salah satu sistem kehidupan paling rumit di bumi. Sekali rusak, tidak mudah kembali. Orang suka bicara “reboisasi” seolah hutan bisa ditumbuhkan ulang seperti menanam jagung. Padahal hutan hujan primer terbentuk lewat proses ratusan tahun. Ada jaringan jamur tanah, pola air, spesies pohon tertentu, serangga, burung, primata, semuanya saling terkait. Menanam seribu bibit tidak otomatis mengembalikan dunia yang hilang.

Ketika orangutan dipaksa keluar dari hutan, pilihan mereka sempit. Masuk kebun. Mendekati desa. Mati kelaparan. Dibunuh karena dianggap mengganggu. Atau ditangkap tim penyelamat lalu direlokasi.

Relokasi sendiri bukan solusi ajaib. Orangutan dewasa sangat sensitif terhadap perubahan wilayah. Tidak semua bisa beradaptasi di habitat baru. Konflik dengan orangutan lain bisa terjadi. Sebagian yang lama hidup dekat manusia juga kesulitan kembali liar sepenuhnya.

Pusat rehabilitasi seperti Borneo Orangutan Survival Foundation atau Orangutan Foundation International merawat ratusan orangutan hasil penyelamatan. Bayi-bayi tanpa induk diajari memanjat pohon di “forest school”. Relawan manusia memakai masker dan sarung tangan untuk mengurangi penularan penyakit karena orangutan sangat rentan terhadap virus manusia.

Pemandangan itu kadang terasa absurd. Primata liar harus diajari kembali menjadi liar oleh spesies yang menghancurkan rumahnya.

Di video yang beredar di media sosial, beberapa orang tertawa dan berteriak mengusir orangutan, seiring habitatnya dihancurkan dengan ekskavator. Manusia sering kesulitan memahami tragedi ketika berada terlalu dekat dengan rutinitasnya sendiri. Ekskavator harus jalan. Target kerja harus selesai. Hidup terus bergerak. Hewan itu tampak seperti gangguan proyek.

Padahal kalau dipikir lebih lama, ada sesuatu yang nyaris pilu dari pemandangan orangutan mencoba “melawan” alat berat. Lengannya tidak mungkin menghentikan mesin puluhan ton. Ia bahkan mungkin tidak mengerti apa yang sedang dihancurkan. Ia cuma tahu pohon tempatnya hidup tumbang satu demi satu.

Kadang saya membayangkan bagaimana suara hutan terdengar bagi orangutan sebelum semua itu. Bunyi serangga sore hari. Daun bergerak setelah hujan. Durian hutan jatuh dengan dentuman berat. Bau tanah basah setelah malam.

Lalu suatu pagi datang suara mesin. 

Dan manusia masih suka bertanya kenapa orangutan masuk kampung.

Related

Indonesia 5079694891999322582

Posting Komentar

emo-but-icon

Terbaru

Banyak Dibaca

Ebook BSM

Mengapa Dunia Seperti Sekarang? 100 Peristiwa yang Membentuk Dunia Kita

Pernah bertanya-tanya, mengapa dunia seperti sekarang? Mengapa dunia terbagi-bagi dalam banyak negara? Mengapa ada orang-orang yang sangat k...

item