Kehidupan Manusia di Antara Kebenaran Nyata dan Rezim Algoritma
https://www.belajarsampaimati.com/2026/07/kehidupan-manusia-di-antara-kebenaran.html?m=0
![]() |
| Ilustrasi/khittah.co |
Jari bergerak cepat di layar. Satu video perang lewat. Anak kecil menangis di Gaza. Swipe. Video pria memasak steak wagyu dengan mentega meleleh. Swipe. Seorang influencer spiritual berkata hidup manusia sedang naik vibrasi kosmik. Swipe. Video banjir di Bekasi. Swipe lagi. Orang berjoget di TikTok diiringi lagu remix dipercepat 1,5 kali.
Semua muncul dalam satu permukaan datar dengan bobot emosional yang hampir sama. Itu mungkin salah satu perubahan paling aneh dalam sejarah manusia; tragedi, propaganda, humor, pornografi lunak, filsafat receh, dan berita geopolitik, sekarang bertarung di ruang yang sama, memakai senjata yang sama—perhatian manusia beberapa detik.
Algoritma tidak terlalu peduli mana yang benar. Ia peduli mana yang membuat orang berhenti scrolling. Kalau dipikir-pikir, itu cukup gila.
Dulu, manusia mengenal dunia lewat pengalaman langsung dalam radius kecil. Bau pasar. Wajah tetangga. Musim panen. Sungai tempat mandi. Informasi bergerak lambat. Bohong pun bergerak lambat. Orang bisa mati tanpa pernah tahu bentuk kota lain di luar tempat lahirnya.
Hari ini, seorang remaja di kamar kos panas di Depok bisa punya opini sangat kuat tentang perang Ukraina, politik gender di California, konflik Laut China Selatan, dan teori konspirasi laboratorium Wuhan—semua sebelum sarapan.
Mayoritas opini itu dibentuk bukan oleh pengalaman, tapi oleh distribusi. Apa yang paling sering muncul terasa paling nyata.
Algoritma memahami kelemahan biologis manusia, jauh lebih baik daripada banyak manusia memahami dirinya sendiri. Platform seperti TikTok, Instagram, atau YouTube, dibangun bukan untuk menunjukkan realitas objektif, tapi untuk memaksimalkan engagement. Kata “engagement” terdengar bersih dan teknis. Isinya sebenarnya sangat primitif; kemarahan, ketakutan, penasaran, iri, horny, tersinggung, terhibur.
Insinyur perangkat lunak di Silicon Valley mungkin menulis kode sambil minum oat milk latte dan mendengarkan podcast produktivitas, tapi sistem yang mereka bangun bekerja langsung di lapisan reptil otak manusia. Video yang membuat jantung sedikit naik akan menang. Konten yang memicu kemarahan menyebar lebih cepat daripada klarifikasi panjang.
Penelitian MIT pada 2018 pernah menunjukkan berita palsu di Twitter menyebar lebih cepat daripada berita benar, terutama karena kebaruan dan muatan emosionalnya. Orang tidak menyebarkan informasi seperti ilmuwan. Orang menyebarkan informasi seperti primata sosial yang haus status dan stimulasi.
Feed media sosial hari ini lebih dekat ke mesin saraf kolektif daripada koran tradisional.
Ada momen aneh beberapa tahun lalu, ketika kebakaran hutan di Amazon menjadi topik global besar. Timeline penuh foto langit merah dan hewan terbakar. Selebritas menangis di Instagram. Orang merasa bumi sedang runtuh minggu itu. Lalu algoritma bergerak ke topik lain. Protes Hong Kong. COVID. Crypto. AI. Palestina. Ukraina. Semua datang seperti badai perhatian bergilir.
Dunia nyata tidak berubah secepat feed. Perang masih berlangsung lama setelah hashtag mati. Manusia modern hidup dalam ritme psikologis yang makin ditentukan distribusi informasi, bukan ritme realitas itu sendiri. Kita merasa suatu isu penting bukan karena memahami skalanya, tetapi karena melihatnya 700 kali dalam seminggu.
Lalu sesuatu yang lebih menyeramkan terjadi; pengalaman langsung mulai kalah pamor dibanding pengalaman yang sudah dikurasi kamera.
Orang datang ke konser sambil merekam layar LED raksasa, bukan menonton penyanyinya. Turis di Louvre berdesakan mengambil selfie dengan Mona Lisa sambil nyaris tidak melihat lukisannya beberapa detik penuh. Makanan dingin di meja karena difoto dulu. Matahari tenggelam lebih dulu diproses sebagai potensi story Instagram. Kita mulai menjalani hidup sambil membayangkan bagaimana hidup itu akan tampil di feed.
Jean Baudrillard pernah menulis tentang simulacra; representasi yang akhirnya lebih dominan daripada realitas asli. Banyak orang mengutip Baudrillard tanpa benar-benar merasakan maksudnya. Sekarang rasanya lebih mudah dipahami. Dunia digital bukan lagi sekadar “mewakili” kenyataan; ia mulai menggantikan cara manusia mengalami kenyataan.
Orang mengenal perang lewat drone footage vertikal 9:16 dengan musik sinematik. Orang mengenal kemiskinan lewat konten motivasi. Orang mengenal cinta lewat video pasangan cantik yang sebenarnya sedang menjual skincare. Realitas dikompresi jadi format yang cocok untuk algoritma.
Bahkan bahasa berubah. Kalimat makin pendek. Ekspresi wajah makin dilebihkan. Thumbnail YouTube dipenuhi mata melotot dan lingkaran merah. Banyak konten creator bicara dengan ritme aneh seolah dikejar alarm bom, “Guys, kalian gak bakal percaya ini—”
Algoritma menghukum kebosanan lebih keras daripada ketidakjujuran.
Ada alasan kenapa politisi modern makin mirip influencer. Donald Trump memahami logika itu secara naluriah, jauh sebelum banyak analis politik sadar. Trump berbicara seperti feed berjalan; provokatif, cepat, emosional, absurd, sulit diabaikan. Media membencinya sambil terus memberinya perhatian gratis miliaran dolar.
Di Indonesia juga terasa jelas. Potongan ceramah paling marah lebih cepat viral dibanding penjelasan tenang berdurasi satu jam. Podcast dengan judul “FAKTA MENGERIKAN!” lebih laku daripada diskusi teliti penuh nuansa. Orang yang berbicara hati-hati sering kalah oleh orang yang berbicara yakin. Keyakinan punya distribusi lebih bagus daripada keraguan.
Feed juga menciptakan ilusi mayoritas. Kalau timeline penuh opini tertentu, manusia mudah merasa “semua orang berpikir begini”. Padahal algoritma hanya sedang memperkuat pola konsumsi pribadi. Dua orang hidup di kota yang sama bisa memiliki dunia psikologis total berbeda karena feed mereka berbeda.
Seseorang bisa bangun pagi sambil merasa dunia dipenuhi feminis radikal. Orang lain bangun pagi sambil merasa dunia dipenuhi ultra-konservatif berbahaya. Keduanya mungkin tinggal satu apartemen beda lantai. Dunia bersama mulai retak jadi gelembung persepsi paralel.
Yang lebih liar lagi, algoritma sekarang bukan sekadar memilih informasi, tapi membentuk emosi kolektif harian. Ada hari-hari ketika internet terasa agresif. Ada hari ketika semua orang mendadak sentimental. Kadang satu video pembunuhan polisi, satu pidato politisi, atau satu klip selebritas, bisa mengubah suhu psikologis jutaan orang dalam beberapa jam. Manusia dulu hidup di bawah cuaca alam. Sekarang hidup di bawah cuaca algoritmik.
Sebagian orang masih berpikir mereka kebal. “Saya cuma pakai media sosial buat hiburan.” Kalimat itu terdengar polos sekali sekarang. Platform digital modern dirancang oleh perusahaan bernilai ratusan miliar dolar dengan tim neuroscientist, behavioral analyst, dan machine learning engineer yang tugasnya memahami perilaku manusia sampai level mikro. Tombol merah notifikasi bukan kebetulan estetika.
Las Vegas membangun mesin slot untuk membuat orang terus menarik tuas. Silicon Valley membangun feed tanpa akhir untuk membuat orang terus menarik jempol.
Kadang saya merasa manusia belum sepenuhnya memahami betapa besar eksperimen psikologis yang sedang berlangsung sekarang. Peradaban kita baru beberapa belas tahun hidup bersama algoritma skala masif, tapi efeknya sudah masuk ke politik, seksualitas, agama, perang, kecemasan, bahasa, bahkan cara anak kecil memandang wajahnya sendiri.
Anak perempuan umur 13 tahun sekarang bisa merasa tubuhnya gagal hanya karena algoritma terus menampilkan wajah dan pinggang yang telah difilter.
Pria dewasa bisa merasa dunia runtuh karena tiap hari dijejali video kriminalitas meski statistik lokal tidak berubah banyak.
Kebenaran perlahan berubah bentuk; bukan lagi apa yang paling sesuai fakta, tapi apa yang paling dominan hadir dalam kesadaran kolektif. Distribusi menjadi semacam takdir epistemologis.
Di kereta, di warung kopi, di springbed sebelum tidur, jutaan wajah menunduk diterangi cahaya dingin layar. Mata sedikit merah. Jempol bergerak otomatis. Satu video lagi. Satu swipe lagi.
Di luar sana, dunia fisik tetap ada; pohon tumbuh, orang mati, hujan turun, perang sungguhan menghancurkan tubuh sungguhan.
Feed terus berjalan seolah semuanya memiliki durasi 30 detik.


