Perselingkuhan Terjadi, Seringkali, Karena Orang Memilih Selingkuh
https://www.belajarsampaimati.com/2026/07/perselingkuhan-terjadi-seringkali.html
![]() |
| Ilustrasi/hellosehat.com |
Saya menemukan berita yang terkesan biasa, tapi terasa menggelisahkan. Seorang suami di Labuhanbatu, yang sehari-hari bekerja sebagai tukang becak, melaporkan istrinya ke polisi atas dugaan perselingkuhan. Dalam laporannya pada polisi, dia juga menyertakan rekaman pengakuan dari pria yang diduga berselingkuh dengan istrinya.
Berita seperti itu selalu terasa lebih dingin daripada angka statistik. Statistik perselingkuhan bisa dibaca sambil minum kopi. Statistik bisa dibantah, diperdebatkan, atau dilupakan. Tetapi seorang penarik becak yang pulang kerja, lalu menemukan pria lain di dalam rumahnya, menghadirkan sesuatu yang jauh lebih konkret.
Rantai becak yang berkarat. Keringat yang sudah mengering di punggung. Jalan Padang Bulan di Labuhanbatu. Rumah sederhana yang selama ini dianggap tempat paling aman. Lalu seorang lelaki asing berdiri di dalamnya.
Kita sering membungkus perselingkuhan dengan bahasa ekonomi. Orang kaya selingkuh karena punya akses. Orang terkenal selingkuh karena banyak godaan. Orang sukses selingkuh karena kekuasaan menciptakan peluang. Narasi semacam itu begitu populer, sampai-sampai tanpa sadar kita membangun khayalan bahwa kemiskinan adalah semacam vaksin moral. Seolah-olah kehidupan yang sulit otomatis membuat orang lebih setia.
Kenyataannya, ternyata, tidak begitu.
Perselingkuhan tidak pernah tunduk pada kelas sosial. Ia muncul di vila mewah yang menghadap laut di Bali. Ia muncul di apartemen mahal kawasan Sudirman. Ia juga muncul di rumah-rumah sederhana dengan dinding yang mulai mengelupas. Perselingkuhan tidak meminta slip gaji sebelum datang. Ia tidak peduli seseorang memiliki rekening miliaran rupiah atau hanya cukup uang untuk membeli beras hingga akhir minggu.
Itulah bagian pahit yang sering dihindari orang.
Banyak orang percaya bahwa jika tekanan ekonomi selesai, masalah hubungan juga selesai. Padahal sejarah manusia menunjukkan pola yang jauh lebih rumit. Kekayaan memang bisa menciptakan kesempatan untuk berselingkuh, tetapi keinginan untuk berselingkuh berasal dari tempat yang berbeda. Dari kebosanan. Dari ego. Dari pencarian validasi. Dari nafsu. Dari rasa marah yang dipendam bertahun-tahun. Dari keinginan dihargai. Kadang dari kombinasi semuanya sekaligus.
Kasus di Labuhanbatu menarik karena memaksa kita melihat kenyataan yang tidak romantis. Seorang tukang becak bukan simbol kemewahan. Pekerjaan itu keras. Panas jalanan Sumatra Utara bukan panas yang bersahabat. Asap knalpot bercampur debu masuk ke paru-paru sepanjang hari. Telapak tangan mengeras karena pegangan setang. Pendapatan naik turun mengikuti jumlah penumpang.
Banyak orang mungkin membayangkan bahwa pasangan dalam kondisi ekonomi seperti itu pasti lebih fokus bertahan hidup daripada memikirkan hubungan di luar pernikahan.
Ternyata manusia tidak sesederhana itu.
Justru karena manusia tidak sesederhana itu, perselingkuhan selalu menjadi salah satu tema tertua dalam sejarah. Kitab-kitab kuno memuatnya. Drama Yunani memuatnya. Novel abad ke-19 memuatnya. Film-film modern memuatnya. Dari istana hingga gubuk, cerita dasarnya hampir sama. Seseorang melanggar kepercayaan seseorang yang lain. Perbedaannya hanya dekorasi.
Raja Inggris abad pertengahan memiliki skandal cinta. Pengusaha teknologi Silicon Valley memiliki skandal cinta. Penarik becak di Labuhanbatu juga bisa terjebak dalam kisah serupa. Manusia membawa perangkat biologis dan psikologis yang kurang lebih sama ke mana pun ia pergi. Kekayaan mengubah ukuran rumah, bukan struktur dasar emosi.
Saya sering merasa aneh ketika membaca komentar-komentar media sosial setiap kali kasus perselingkuhan muncul. Banyak orang langsung mencari penyebab tunggal. Pasti karena miskin. Pasti karena kaya. Pasti karena pendidikan rendah. Pasti karena media sosial. Pasti karena moral rusak.
Keinginan mencari satu penyebab membuat dunia terasa lebih rapi. Masalahnya, dunia jarang serapi itu.
Perhatikan laporan yang beredar mengenai kasus ini. Sang suami disebut membawa rekaman pengakuan pria yang diduga terlibat. Kepala lingkungan ikut hadir. Polisi melakukan klarifikasi. Semua proses itu menunjukkan sesuatu yang sering luput dari perhatian. Perselingkuhan jarang hanya melukai dua orang. Lingkaran kerusakannya lebih luas. Tetangga tahu. Keluarga tahu. Anak-anak bisa tahu. Aparat lokal ikut terseret. Sebuah peristiwa yang bermula dari hubungan pribadi tiba-tiba menjadi urusan publik.
Di kota kecil atau lingkungan padat penduduk, efeknya bahkan lebih terasa. Nama seseorang bisa beredar lebih cepat daripada berita resmi. Dalam hitungan jam, warung kopi sudah membicarakannya. Orang-orang yang bahkan tidak mengenal pasangan tersebut mulai membentuk opini. Sebagian bersimpati. Sebagian menghakimi. Sebagian menikmati gosipnya.
Kenyataan yang paling menyedihkan bukanlah bahwa perselingkuhan terjadi. Perselingkuhan sudah setua peradaban manusia. Yang menyedihkan adalah betapa sering orang salah memahami sumber kebahagiaan dalam hubungan.
Banyak pasangan memasuki pernikahan dengan daftar kebutuhan yang sangat konkret. Rumah. Kendaraan. Uang sekolah anak. Tabungan. Semua itu memang penting. Sangat penting. Tanpa itu, kehidupan bisa runtuh.
Tetapi kebutuhan emosional sering diperlakukan seperti aksesori tambahan. Sesuatu yang bisa dipikirkan nanti.
Hubungan manusia ternyata tidak bekerja seperti mesin. Memberi makan seseorang tidak otomatis membuatnya setia. Memberikan rumah tidak otomatis membuatnya bahagia. Menafkahi keluarga dengan susah payah tidak otomatis menjamin rasa cinta bertahan. Kalimat itu terdengar kejam, terutama bagi orang yang bekerja keras setiap hari demi keluarganya.
Seorang penarik becak mungkin menghabiskan sepuluh atau dua belas jam di jalan. Ia pulang dengan tubuh lelah. Otot kaki nyeri. Kemeja basah oleh keringat. Dalam pikirannya, seluruh pengorbanan itu adalah bukti cinta. Sangat mungkin memang begitu. Masalahnya, manusia lain yang menerima pengorbanan itu belum tentu memaknainya dengan cara yang sama.
Di titik tertentu, pembahasan mengenai perselingkuhan selalu bertabrakan dengan sesuatu yang membuat banyak orang tidak nyaman: kebebasan manusia. Tidak semua keputusan buruk lahir dari kemiskinan. Tidak semua pengkhianatan lahir dari penderitaan. Sebagian orang memang melakukan hal buruk karena mereka memilih melakukannya.
Penjelasan itu terasa kurang memuaskan. Tidak sosiologis. Tidak kompleks. Tidak akademis. Tetapi kadang-kadang kenyataan memang sesederhana itu.
Berita perselingkuhan dari Labuhanbatu mungkin akan tenggelam dalam beberapa hari. Akan muncul berita lain. Skandal lain. Perselingkuhan lain. Internet bergerak terlalu cepat untuk mengingat lama-lama seorang penarik becak dari Jalan Padang Bulan.
Saya justru terpaku pada detail yang paling kecil: seorang pria yang memutuskan datang ke kantor polisi, karena merasa sudah tidak sanggup lagi menahan apa yang diyakininya sebagai pengkhianatan. Kalimat "sudah tidak sanggup lagi" sering terdengar biasa. Padahal di belakangnya biasanya terdapat malam-malam panjang, kecurigaan yang berulang, percakapan yang gagal, kemarahan yang dipendam, dan rasa malu yang terus menggigit dari dalam.
Orang sering mengira kemiskinan membuat hidup jadi sederhana. Berita seperti ini mengingatkan bahwa kehidupan orang miskin sama rumitnya dengan kehidupan miliarder. Cinta rumit. Pernikahan rumit. Kesetiaan rumit.
Becak tetap harus dijalankan besok pagi. Matahari tetap terbit di atas Labuhanbatu. Jalan Padang Bulan tetap ramai oleh orang yang berangkat bekerja.
Rumah yang sama masih berdiri di sana.


