Seorang Ibu Meminta Sepatu Cristiano Ronaldo, Alasannya Bikin Nangis

Ilustrasi/cnbcindonesia.com
Seorang ibu datang untuk meminta sepatu bekas milik Cristiano Ronaldo. Rencananya sederhana dan menyedihkan sekaligus; sepatu itu akan dilelang untuk membiayai operasi otak bayinya yang sakit. Biaya operasinya 83 ribu dolar AS. Jumlah uang yang bagi sebagian pesepak bola elite mungkin habis dalam sekali makan malam sponsor, tapi bagi keluarga biasa terdengar seperti tembok beton setinggi langit.

Lalu Ronaldo melakukan sesuatu yang membuat cerita ini terus hidup bertahun-tahun setelahnya. Ia membayar seluruh biaya operasi bayi itu. dan sepatunya tetap diberikan.

Anehnya, bagian paling kuat dari kisah ini justru bukan kemurahan hati Ronaldo. Tapi fakta bahwa seorang ibu harus berharap pada sepatu seorang pesepak bola untuk menyelamatkan anaknya.

Cerita ini berasal dari masa ketika Ronaldo masih berada di Real Madrid. Media Spanyol waktu itu memberitakan tentang Erik Ortiz Cruz, bayi berusia 10 bulan yang menderita cortical dysplasia, kelainan otak serius yang menyebabkan kejang berkali-kali setiap hari. Ibunya, seorang perempuan bernama Inma, mencoba segala cara untuk mencari biaya operasi di Amerika Serikat.

Mereka bahkan membuat video dukungan yang melibatkan para pemain Portugal. Salah satu yang membantu menghubungkan kisah itu adalah agen Jorge Mendes. Dari situ, cerita sampai ke Ronaldo. Lalu semuanya berubah.

Saya membaca ulang berita lama soal itu, dan ada sesuatu yang terasa sangat manusiawi dalam detail kecilnya. Keluarga bayi itu awalnya tidak meminta Ronaldo menjadi penyelamat besar. Mereka cuma berpikir sepatu pemain terkenal bisa dijual mahal.

Bayangkan level keputusasaan yang membuat benda seperti sepatu bola berubah menjadi harapan medis. Orang miskin sering dipaksa memikirkan solusi yang terdengar absurd bagi orang lain.

Di banyak negara, termasuk Indonesia, kita juga akrab dengan pola semacam itu. Orang menjual motor untuk kemoterapi. Menjual sawah untuk cuci darah. Menggadaikan rumah demi operasi jantung. Bedanya, keluarga Erik kebetulan berhasil menembus orbit seorang superstar global.

Dan Ronaldo memang punya hubungan emosional yang cukup rumit dengan kemiskinan. Ia tumbuh di Madeira dalam kondisi yang jauh dari glamor. Ayahnya pemabuk. Rumahnya kecil. Dalam banyak wawancara lama, Ronaldo bicara tentang masa kecilnya dengan nada yang tidak sentimental, malah kadang terdengar dingin. Seperti orang yang terlalu cepat belajar bahwa dunia tidak otomatis peduli pada anak miskin.

Mungkin itu sebabnya beberapa aksi amal Ronaldo terasa lebih sunyi dibanding citra publiknya yang sangat narsistik di lapangan.

Karena, ya, Ronaldo memang narsistik. Sulit membantah itu. Cara selebrasinya. Cara ia memandangi kamera. Tubuhnya yang dipoles seperti patung mahal. Ego kompetitifnya yang nyaris patologis. Orang bisa mencintainya atau membencinya, tapi sulit membayangkan Ronaldo hidup biasa-biasa saja. Lalu muncul cerita seperti bayi Erik tadi, dan semuanya jadi lebih rumit. Karena manusia memang rumit.

Internet suka membelah tokoh publik menjadi dua kategori sederhana; baik atau jahat, tulus atau pencitraan. Ronaldo sering dianggap terlalu haus perhatian dibanding Lionel Messi yang lebih pendiam. Tapi ada daftar panjang bantuan sosial Ronaldo yang memang nyata. Donasi rumah sakit kanker. Bantuan korban bencana. Biaya operasi anak-anak.

Ia bahkan pernah menolak menato tubuhnya, karena rutin donor darah. Hal-hal seperti itu jarang viral sebesar video selebrasi gol. Mungkin karena dunia modern lebih menyukai konflik daripada kemurahan hati diam-diam.

Yang juga menarik, cerita Erik Ortiz Cruz terjadi jauh sebelum era TikTok penuh konten “random acts of kindness” yang sengaja direkam dari lima sudut kamera. Waktu itu media sosial belum terlalu dipenuhi influencer yang memberi uang sambil memastikan ekspresi penerima tertangkap jelas untuk thumbnail YouTube. Kisah Ronaldo terasa lebih tua. Lebih tidak rapi. Dan mungkin karena itu lebih menyentuh.

Saya membayangkan ibu bayi itu ketika pertama kali mengirim permintaan soal sepatu. Mungkin ia tidak benar-benar percaya akan berhasil. Mungkin ia cuma mencoba satu pintu lagi setelah pintu-pintu lain tertutup. Orang tua dengan anak sakit biasanya hidup dalam mode bertahan yang aneh; lelah, takut, tapi terus bergerak karena tidak punya pilihan lain.

Rumah sakit anak punya atmosfer yang berbeda dari tempat lain. Bau antiseptik bercampur susu formula. Tangis kecil. Plastik kursi tunggu yang dingin. Orang tua tidur duduk sambil memegang map hasil scan otak atau tagihan medis yang tebalnya seperti novel tipis.

Lalu di tempat lain yang sangat jauh dari semua itu, seorang pemain bola bernilai jutaan euro sedang berlatih tendangan bebas.

Dunia memang sering terasa tidak seimbang sampai level yang hampir ofensif. Satu kaki Ronaldo bisa bernilai lebih mahal daripada hidup seseorang. Dan justru karena ketimpangan itulah tindakan kecil dari orang superkaya bisa terasa seperti keajaiban.

Ada bagian lain yang mengusik dari cerita ini; angka 83 ribu dolar. Di dunia sepak bola elite sekarang, angka itu hampir terasa kecil. Pemain Premier League bisa kehilangan uang sebanyak itu hanya karena salah investasi seminggu. Klub-klub Arab Saudi menghamburkan ratusan juta euro seperti orang membeli kopi. Tapi bagi keluarga Erik, angka itu adalah jurang antara hidup dan mati.

Saya kadang berpikir, olahraga modern sudah bergerak terlalu jauh dari realitas manusia biasa. Transfer pemain mencapai ratusan juta dolar. Jam tangan atlet seharga rumah. Kontrak sponsor bernilai absurd. Semua begitu besar, sampai publik mulai mati rasa terhadap nominal.

Lalu cerita seperti ini muncul, dan mendadak uang kembali terasa nyata. 83 ribu dolar ternyata bisa berarti seorang bayi untuk tetap hidup.

Dan ada sesuatu yang ironis pada cara dunia bekerja; jutaan orang miskin yang tidak pernah ditolong siapa-siapa tetap harus menonton berita tentang keberuntungan satu keluarga yang kebetulan berhasil menyentuh hati selebritas global.

Karena untuk setiap Erik Ortiz Cruz yang berhasil mendapat bantuan, ada ribuan keluarga lain yang tetap sendirian menghadapi sistem kesehatan mahal.

Kisah ini memang indah. Tapi juga brutal kalau dipikir terlalu lama. Sebab ia memperlihatkan betapa nasib seseorang kadang bergantung pada apakah penderitaannya cukup dekat dengan orang terkenal.

Tetap saja, saya tidak ingin bersikap sinis terhadap Ronaldo di sini. Terlalu mudah mengubah semua tindakan baik menjadi tuduhan pencitraan. Fakta paling sederhana tetap ada; seorang bayi membutuhkan operasi, lalu seorang pemain bola membayarnya. Dan sepatu itu tetap diberikan. Detail itu justru favorit saya. Sepatunya tetap diberikan.

Seolah Ronaldo memahami bahwa benda itu bukan lagi sekadar memorabilia olahraga. Bagi keluarga Erik, sepatu itu mungkin berubah menjadi simbol malam-malam panjang di rumah sakit, telepon penuh harapan, doa yang dibisikkan pelan sambil menunggu kabar dokter.

Mungkin sepatunya masih disimpan sampai sekarang. Mungkin sudah pudar. Mungkin karetnya mulai retak dimakan usia. Tapi saya membayangkan ada bekas aroma kulit dan rumput stadion yang masih tertinggal samar di sana.

Sementara seorang bayi yang dulu kepalanya dipenuhi ancaman kejang sekarang entah sedang apa di suatu tempat. Dan di lemari seseorang, mungkin masih ada sepasang sepatu bola yang tadinya ingin dijual untuk menyelamatkan hidupnya.

Related

Internasional 5436297300334460636

Posting Komentar

emo-but-icon

Terbaru

Banyak Dibaca

Ebook BSM

Mengapa Dunia Seperti Sekarang? 100 Peristiwa yang Membentuk Dunia Kita

Pernah bertanya-tanya, mengapa dunia seperti sekarang? Mengapa dunia terbagi-bagi dalam banyak negara? Mengapa ada orang-orang yang sangat k...

item