Ulasan Novel The Mysterious Affair at Styles Karya Agatha Christie

Ilustrasi/themontclarion.org
Sebuah cangkir kopi terjatuh di malam hari. Seorang perempuan tua menjerit dari balik pintu kamar yang terkunci. Orang-orang berlari di lorong rumah besar pedesaan Inggris sambil mengenakan pakaian tidur dan membawa lilin. Ada bunyi furnitur tergeser, bunyi gagang pintu dibuka paksa, dan aroma obat yang pahit nyaris terasa keluar dari halaman novel.

Begitulah The Mysterious Affair at Styles (Misteri di Styles) membuka pintu menuju salah satu karier paling besar dalam sejarah sastra populer. Pembunuhan pertama Agatha Christie tidak muncul dengan gaya gotik yang berlebihan atau kekerasan berdarah. Ia datang lewat detail-detail kecil; kopi, surat wasiat, botol obat, percakapan makan malam yang terdengar biasa.

Lalu seseorang mati karena strychnine.

Ada sesuatu yang hampir lucu membaca Mysterious Affair at Styles hari ini, setelah puluhan tahun budaya populer dipenuhi pembunuhan psikopat sadis, detektif depresif, dan serial kriminal penuh organ tubuh. Novel ini begitu sopan. Orang-orang tetap minum teh setelah tragedi. Polisi tetap menjaga tata krama. Bahkan kepanikan terasa Inggris sekali. Tetapi kesopanan dalam novel ini seperti taplak meja putih yang menutupi meja operasi.

Christie menulis Mysterious Affair at Styles ketika dunia sedang retak oleh Perang Dunia I. Novel ini terbit pada 1920, dan perang masih terasa seperti bau lumpur yang belum hilang dari sepatu tentara. Narator cerita, Kapten Arthur Hastings, baru pulang dari perang dan datang ke Styles Court untuk memulihkan kesehatan. Ia seperti banyak pria Inggris pascaperang; sedikit bingung, sedikit kosong, mencoba kembali ke ritme hidup normal yang ternyata sudah berubah. 

Rumah Styles Court terasa sangat spesifik; rumah pedesaan Essex yang tenang, dengan taman luas, pelayan, meja makan panjang, dan ketegangan keluarga yang mulai membusuk diam-diam. Emily Inglethorp, perempuan kaya pemilik rumah itu, baru menikah dengan pria yang jauh lebih muda, bernama Alfred Inglethorp. Kumis Alfred langsung terasa mencurigakan sejak awal. Kumisnya terlalu rapi. Sikapnya terlalu manis. Semua orang di rumah tampak membencinya diam-diam. Christie paham satu hal penting; pembunuhan paling menarik sering lahir dari makan malam keluarga.

Karakter-karakter dalam novel ini tampak seperti stok karakter klasik misteri Inggris—anak tiri yang emosional, dokter desa, perempuan muda cemas, pria kaya aneh—tetapi Christie memberi detail kecil yang membuat mereka terasa hidup. John Cavendish terlalu kaku. Mary Cavendish terlalu dingin. Cynthia Murdoch bekerja di dispensari rumah sakit dan paham soal racun. Lawrence Cavendish tampak seperti pria yang lebih nyaman membaca puisi daripada bicara dengan manusia lain.

Semua orang menyimpan sesuatu. Bahkan cara mereka menuang kopi terasa mencurigakan. 

Lalu muncul Hercule Poirot.

Sulit membayangkan sekarang bahwa itu pertama kalinya dunia bertemu detektif kecil Belgia berkumis aneh tersebut. Poirot belum menjadi ikon budaya populer saat Christie menulis Mysterious Affair at Styles. Ia cuma pengungsi Belgia eksentrik yang tinggal dekat desa Styles St. Mary.

Tetapi sejak kemunculan awalnya, Poirot sudah terasa berbeda dari detektif lain. Ia bukan sosok maskulin keras ala Sherlock Holmes versi muram. Poirot cerewet soal simetri. Ia memperhatikan debu di meja. Ia membetulkan barang-barang yang tidak sejajar. Kepalanya seperti mesin kecil obsesif yang tidak tahan melihat ketidakteraturan.

Ada detail yang saya suka sekali; Poirot begitu terganggu oleh benda yang miring di atas perapian, sampai ia membetulkannya di tengah penyelidikan pembunuhan. Orang bisa mati keracunan di rumah itu, tetapi vas bunga miring tetap masalah serius baginya.

Hastings, narator novel, jelas mengagumi Poirot sekaligus tidak sepenuhnya memahami dia. Dinamika mereka menjadi tulang punggung banyak novel Christie berikutnya. Hastings terlalu mudah tertipu penampilan luar. Poirot justru percaya manusia paling sering berbohong lewat hal-hal yang tampak sepele.

“Les petites cellules grises,” kata Poirot tentang “sel-sel abu-abu kecil” di otaknya.

Ungkapan itu terdengar sedikit konyol. Poirot memang kadang terasa konyol. Christie sengaja membuatnya begitu. Kumisnya terlalu megah. Kepalanya berbentuk telur. Ia suka memuji kecerdasannya sendiri. Tetapi di balik semua itu, Poirot punya kualitas yang lebih berbahaya daripada detektif penuh aksi; ia benar-benar memperhatikan orang.

Banyak pembunuhan dalam sastra kriminal terjadi karena orang terlalu sibuk melihat racun, pisau, sidik jari. Poirot melihat ego.

Mysterious Affair at Styles sebenarnya sangat mekanis sebagai novel detektif. Christie seperti sedang menunjukkan permainan sulap yang sangat presisi. Semua petunjuk sudah ada. Semua kebohongan punya celah kecil. Pembaca diajak memperhatikan jam, surat terbakar, noda kopi, pecahan cangkir. 

Masalahnya, Christie juga “tukang tipu” yang luar biasa. Ia membuat pembaca merasa pintar sambil diam-diam menggeser perhatian ke arah lain. Hastings sendiri sering salah menduga. Kita ikut terseret bersamanya. Ada kenikmatan aneh membaca novel ini sambil sadar bahwa kita sedang dimanipulasi oleh perempuan yang sangat menikmati manipulasi intelektual.

Christie pernah bekerja di dispensari (tempat penyimpanan dan peracikan obat) selama perang, dan pengetahuannya soal racun membuat novel ini terasa lebih tajam. Strychnine dalam novel ini bukan sekadar alat plot; Christie benar-benar memahami bagaimana racun bekerja di tubuh manusia. Ada sesuatu yang dingin membaca detail kejang-kejang korban di ranjang pada malam pembunuhan. Tubuh Emily Inglethorp melengkung kaku. Orang-orang panik memegang gagang pintu. Lilin bergoyang. Napas pendek.

Novel detektif klasik sering dianggap “aman” dibanding thriller modern. Saya tidak terlalu percaya itu. Mysterious Affair at Styles penuh kecemasan tentang uang, warisan, pernikahan, dan rasa saling curiga di dalam keluarga sendiri. Hampir semua orang di rumah itu diam-diam menghitung siapa mendapat apa setelah Emily mati.

Pembunuhan dalam novel Christie sering terasa sangat domestik. Tidak ada monster bertopeng. Tidak ada gudang penuh mayat mutilasi. Orang membunuh sambil tetap menjaga etika meja makan. 

Ada bagian lucu ketika karakter-karakter tetap sibuk dengan urusan sosial kecil di tengah penyelidikan pembunuhan. Siapa duduk di mana. Siapa tampak terlalu emosional. Siapa tidak sopan. Inggris awal abad ke-20 terasa seperti masyarakat yang bisa panik terhadap racun sekaligus tetap khawatir apakah seseorang memakai pakaian makan malam yang pantas. Lalu Poirot mulai membuka lapisan demi lapisan kebohongan.

Christie punya kebiasaan menarik; ia suka memperlakukan cinta sebagai sesuatu yang agak mencurigakan. Orang jatuh cinta terlalu cepat. Pernikahan tampak seperti transaksi. Hasrat sering muncul bersamaan dengan motif pembunuhan. Alfred Inglethorp sendiri terasa seperti pria yang belajar cara tersenyum dari buku panduan penipu murahan. Kumisnya tetap mengganggu saya.

Sebagian pembaca modern mungkin merasa ritme Mysterious Affair at Styles terlalu lambat. Memang lambat. Orang duduk bicara panjang di ruang tamu. Surat dikirim. Polisi lokal berdiskusi formal. Tidak ada pengejaran mobil. Tidak ada ledakan. 

Tetapi justru ritme lambat itu yang membuat ketegangannya bekerja. Christie membiarkan kecurigaan mengendap seperti teh terlalu lama di cangkir porselen. Orang mulai saling memandang aneh saat sarapan. Bunyi langkah kaki malam hari terasa lebih keras. Bahkan keheningan koridor rumah besar menjadi bagian dari misteri.

Poirot sendiri belum sepenuhnya menjadi Poirot yang dikenal dunia. Ia masih lebih hangat di sini, kadang bahkan sentimental. Christie belum mengubahnya menjadi mesin deduksi hampir mitologis seperti di novel-novel berikutnya. Ada rasa eksperimental dalam novel ini. Seorang penulis muda sedang mencoba permainan yang nantinya akan ia kuasai sampai tingkat nyaris tak masuk akal. Lalu dunia sastra kriminal berubah selamanya.

Tanpa Mysterious Affair at Styles, mungkin tidak ada Poirot di Orient Express. Tidak ada pembunuhan di Sungai Nil. Tidak ada jutaan pembaca yang bertahun-tahun mencurigai semua karakter di setiap halaman Christie sambil tetap tertipu pada akhirnya. 

Saya suka membayangkan Agatha Christie muda menulis novel ini sambil memikirkan detail racun, dan alibi di meja kecil, dengan secangkir teh yang mulai dingin. Belum ada status “Ratu Misteri” waktu itu. Belum ada foto terkenal dirinya. Belum ada adaptasi TV. Hanya seorang perempuan dengan ide tentang pembunuhan di rumah pedesaan Inggris. Dan seorang detektif Belgia kecil yang sangat cerewet soal simetri.

Di Styles Court, malam masih terasa panjang. Lorong rumah sunyi. Seseorang mungkin belum tidur. Seseorang mungkin masih mendengar gema jeritan Emily Inglethorp dari balik pintu kamar yang tadi didobrak.

Related

Buku 2173922966876120168

Posting Komentar

emo-but-icon

Terbaru

Banyak Dibaca

Ebook BSM

Mengapa Dunia Seperti Sekarang? 100 Peristiwa yang Membentuk Dunia Kita

Pernah bertanya-tanya, mengapa dunia seperti sekarang? Mengapa dunia terbagi-bagi dalam banyak negara? Mengapa ada orang-orang yang sangat k...

item