Alka Yagnik dan Kumar Sanu, Penggemar Lagu/Film India Pasti Tahu
https://www.belajarsampaimati.com/2026/08/alka-yagnik-dan-kumar-sanu-penggemar.html
![]() |
| Ilustrasi/biztoday.news |
Kaset-kaset India bajakan di Asia Tenggara pernah dipenuhi dua suara yang sama. Suara laki-laki yang agak sengau, empuk, penuh vibrato tipis seperti orang sedang tersenyum sambil bernyanyi. Suara perempuan yang manis, tinggi, kadang terdengar terlalu bersih untuk dunia nyata. Mereka muncul terus-menerus sampai rasanya absurd. Ganti filmnya, ganti aktornya, ganti ceritanya—suaranya tetap itu lagi.
Di kios VCD Glodok, pasar tape di Surabaya, toko elektronik kecil dekat Stasiun Lempuyangan, lagu mereka bocor dari speaker murah Polytron dengan suara pecah. Shah Rukh Khan membuka tangan di pegunungan Swiss, yang bernyanyi Kumar Sanu. Kajol menangis di bawah hujan, muncul suara Alka Yagnik. Salman Khan mengejar Juhi Chawla di pantai, lagi-lagi Kumar Sanu dan Alka Yagnik. Bahkan orang yang tidak tahu bahasa Hindi hafal nada mereka. Ada generasi besar di Indonesia yang lebih hafal “Tujhe Dekha To Yeh Jaana Sanam” daripada lagu kebangsaan negara tetangga sendiri.
Jumlah lagu yang mereka nyanyikan memang nyaris tidak masuk akal. Kumar Sanu pernah masuk Guinness World Records karena merekam 28 lagu dalam sehari pada awal 1990-an. Angka yang terdengar seperti mitos industri musik. Penyanyi pop sekarang mungkin butuh tiga minggu hanya untuk menyelesaikan satu single karena revisi label, mixing, mastering, promosi TikTok, pemotretan Spotify Canvas. Di Bombay era itu, penyanyi datang ke studio, minum teh, rekaman, pindah studio lain, rekaman lagi. Mesin berjalan tanpa henti.
Bombay belum jadi Mumbai waktu itu. Industri film Hindi tahun 1990-an seperti pabrik tekstil yang tak pernah mematikan mesin. Studio Mehboob di Bandra, Film City di Goregaon, ruang rekaman sempit dengan abu rokok menempel di dinding. Komposer seperti Nadeem–Shravan, Jatin-Lalit, Anu Malik, atau duo Anand-Milind memproduksi lagu cinta dalam jumlah brutal. Mereka butuh suara yang bisa dikenali publik secepat mungkin. Kumar Sanu dan Alka Yagnik menjadi semacam “font default” Bollywood.
Kumar Sanu sebenarnya lahir sebagai Kedarnath Bhattacharya di Kolkata. Anak penyanyi klasik Bengali. Ada ironi kecil di sana; salah satu suara paling dominan dalam perfilman Hindi justru datang dari lingkungan Bengali yang kuat dengan tradisi musik sendiri. Pengaruh Kishore Kumar menempel jelas pada cara Kumar Sanu bernyanyi. Tarikan napas, getaran suara, cara mengucapkan huruf tertentu. Kadang sampai terlalu mirip. Kritik itu sering muncul. Beberapa orang bahkan menganggap Kumar Sanu hanyalah bayangan Kishore Kumar versi 1990-an.
Tetapi Bollywood memang tidak terlalu peduli soal orisinalitas suara, selama pasar masih mabuk cinta.
Lagu-lagu Kumar Sanu bekerja karena ada rasa sentimental yang hampir berlebihan. “Ab Tere Bin Jee Lenge Hum”, dari film Aashiqui, terdengar seperti pria yang rela hujan-hujanan semalaman demi mantan pacar yang bahkan belum tentu keluar rumah. Produksi musik Nadeem–Shravan penuh keyboard sintetis khas 1990-an, tabla digital, string yang terdengar seperti berasal dari sound card komputer tua. Aneh sekali musik seperti itu bisa begitu kuat melekat di kepala. [Saat menulis catatan ini, saya sempat mengecek ke YouTube, dan video lagu itu ternyata sudah ditonton 94,3 juta kali!]
Alka Yagnik datang dari sisi berbeda. Suaranya tidak punya luka kasar seperti Anuradha Paudwal atau tekstur berat seperti Kavita Krishnamurti. Alka terdengar terlalu bening. Kadang seperti suara yang memang dibuat untuk playback film romantis. Ia mulai rekaman sejak kecil; ibunya, Shubha Yagnik, penyanyi musik klasik Gujarati. Ada cerita lama tentang bagaimana Alka muda dibawa ke Mumbai dan diperkenalkan pada Raj Kapoor. Industri film India memang sering bergerak seperti cerita dongeng bercampur nepotisme dan keberuntungan aneh.
Playback singing di India sendiri selalu terasa ganjil, kalau dipikir lama-lama. Aktor tidak bernyanyi. Mereka meminjam suara orang lain. Satu wajah bisa memiliki puluhan “jiwa vokal” berbeda sepanjang kariernya. Shah Rukh Khan pada era 1990-an hampir tidak bisa dipisahkan dari Kumar Sanu atau Udit Narayan. Madhuri Dixit punya bayangan suara Alka Yagnik di belakang tubuhnya. Penonton menerima ilusi itu sepenuhnya. Tidak ada yang protes.
Di Barat, sinkronisasi bibir sering dianggap murahan. Di India, playback singer bisa lebih dicintai daripada aktornya sendiri.
Kumar Sanu dan Alka Yagnik berada di masa ketika lagu film India menjadi semacam oksigen sosial. Pernikahan, bus malam, warung makan, tukang cukur, radio FM, semuanya penuh lagu Bollywood. Lagu-lagu itu tidak datang sebagai “soundtrack”, tapi seperti bagian utama film. Banyak orang bahkan tidak menonton filmnya, hanya mendengar kasetnya sampai pita kusut.
Aashiqui tahun 1990 menjual jutaan kopi soundtrack sebelum orang peduli siapa pemeran filmnya. Lagu lebih dulu terkenal daripada cerita. Itu sulit dibayangkan sekarang ketika lagu film sering cuma tempelan marketing.
Ada sisi melelahkan dari dominasi mereka. Terutama Kumar Sanu. Setelah puluhan film, suaranya mulai terasa seperti parfum yang disemprot terlalu banyak. Semua karakter pria romantis terdengar sama. Entah itu mahasiswa miskin, polisi, miliarder, penjahat bertobat, suaranya tetap Kumar Sanu dengan desahan khas dan vibrato sentimental. Industri Bollywood saat itu juga malas mengambil risiko. Formula dijaga mati-matian. Kalau satu lagu sukses, buat lima puluh versi lain dengan chord mirip.
Film-film seperti Dil Hai Ki Manta Nahin, Saajan, Raja Hindustani, Pardes, Dhadkan—semuanya seperti hidup di atmosfer musikal yang sama. Hujan buatan, chiffon sari, bukit hijau Eropa, laki-laki menatap perempuan dengan tatapan terlalu lama. Lagu-lagu mereka menjadi soundtrack hiper-romantis untuk masyarakat India yang sebenarnya masih konservatif dan penuh represi sosial. Orang pacaran diam-diam, lalu mendengar Kumar Sanu bernyanyi tentang cinta abadi di walkman murah sambil duduk di atap rumah.
Telinga bisa lelah juga.
Masuk akhir 1990-an, muncul Udit Narayan, Sonu Nigam, lalu generasi baru dengan gaya lebih ringan. Kumar Sanu terdengar makin tua dibanding perubahan selera pasar. Musik Bollywood mulai dipengaruhi R&B, hip-hop, elektronik. Era Shah Rukh Khan dengan sweater rajut Swiss perlahan bergeser ke era remix dan klub malam.
Alka Yagnik bertahan lebih lama karena suara perempuan di Bollywood punya umur pasar berbeda. Ia masih muncul di lagu-lagu 2000-an seperti “Suraj Hua Maddham” dari Kabhi Khushi Kabhie Gham. Lagu itu direkam dengan visual gurun Mesir yang tampak seperti iklan parfum mahal. Shah Rukh Khan dan Kajol berjalan di antara piramida, sambil bibir mereka digerakkan oleh suara orang lain. Produksi Karan Johar memang punya bakat membuat kemewahan terasa terlalu penuh sampai kepala agak pening.
Sebenarnya, saya sangat jarang nonton film India, karena durasi rata-ratanya yang terlalu panjang. Tapi saya suka banyak lagu India, khususnya yang dinyanyikan Kumar Sanu dan Alka Yagnik.
Saya suka momen-momen kecil ketika suara mereka terdengar tidak sempurna. Napas yang terlalu dekat dengan mikrofon. Sedikit serak di ujung nada tinggi. Produksi musik India era kaset belum terlalu steril. Ada bunyi analog samar, seperti debu yang ikut terekam. Musik sekarang terlalu bersih. Semua autotune, semua presisi. Kumar Sanu kadang terdengar seperti pria yang benar-benar kelelahan karena habis rekaman di tiga studio berbeda dalam sehari.
Kehadiran mereka juga menunjukkan betapa rakusnya Bollywood terhadap suara manusia. Industri itu mengunyah penyanyi seperti mesin tekstil mengunyah kapas. Rekaman terus, film terus, lagu terus. Penyanyi menjadi buruh emosi untuk jutaan penonton. Mereka menyanyikan patah hati yang mungkin bahkan tidak mereka alami sendiri hari itu.
Kumar Sanu pernah mengeluh tentang bagaimana industri berubah, dan penyanyi sekarang terlalu bergantung pada teknologi. Komentar khas generasi lama memang, tapi ada sedikit kebenaran pahit di sana. Dulu penyanyi Bollywood harus benar-benar bisa menyanyi. Rekaman sering dilakukan dengan orkestra besar dan minim koreksi digital. Salah sedikit, ulang dari awal.
Sekarang orang lebih sering mengenal wajah penyanyi daripada suaranya. Kumar Sanu dan Alka Yagnik datang dari masa ketika suara bisa menjadi identitas kolektif sebuah negara. Suara mereka masuk ke warung teh di Dhaka, bus reyot di Kathmandu, toko kain di Chennai, ruang tamu keluarga India diaspora di Durban atau Leicester. Bahkan sampai gang sempit di Indonesia yang penghuninya mungkin tak tahu letak Uttar Pradesh di peta.
Televisi tabung menyala. Antena bergeser sedikit. Gambar semut muncul di layar. Shah Rukh Khan membuka tangan lagi. Kumar Sanu mulai bernyanyi sebelum adegannya benar-benar muncul.
Catatan terkait: Stand My Ground, Lagu Sederhana yang Terasa Abadi


