Disobedience, Dua Mbakyu Terperangkap dalam Tradisi dan Cinta Terlarang
https://www.belajarsampaimati.com/2026/07/disobedience-dua-mbakyu-terperangkap.html
![]() |
| Ilustrasi/hulu.com |
Ada beragam alasan orang menonton film. Alasan saya menonton Disobedience karena ada Rachel Weisz dan Rachel McAdams, dua wanita yang, dalam perspektif saya, “sangat mbakyu”. Alasan menonton yang mungkin terdengar ringan, hampir impulsif. Tidak ada persiapan untuk sesuatu yang berat. Tapi seiring perjalanan film, saya mendapati alur cerita yang mengejutkan.
Dalam Disobedience, kamera tidak terburu-buru menjelaskan apa pun. Ia mengamati. Jalanan London terlihat dingin, tidak hanya dalam arti suhu, tapi juga dalam cara orang-orang bergerak—tertib, terukur, seolah-olah ada batas yang tidak terlihat tapi dipatuhi bersama. Komunitas Yahudi Ortodoks yang menjadi latar film ini tidak digambarkan sebagai sesuatu yang eksotis. Justru sebaliknya; ia terasa padat, tertutup, dengan aturan yang tidak selalu diucapkan tapi jelas terasa.
Ronit Krushka, karakter yang diperankan Rachel Weisz, kembali ke lingkungan itu setelah lama pergi. Ia datang bukan sebagai bagian dari komunitas, tapi sebagai seseorang yang pernah menjadi bagian dan memilih keluar. Cara orang-orang memandangnya—sekilas, cepat, lalu berpaling—lebih banyak bicara daripada dialog panjang.
Tidak semua kepulangan terasa seperti pulang.
Detail kecil mulai menumpuk. Rambut yang ditutup, pakaian yang longgar, interaksi yang dijaga. Bahkan cara duduk di meja makan punya pola. Film ini tidak menjelaskan semuanya secara eksplisit. Ia mengandalkan penonton untuk menangkap ritme yang sedikit asing.
Di tengah suasana itu, Esti Kuperman—karakter yang diperankan Rachel McAdams—muncul dengan sesuatu yang lebih halus. Ia tidak memberontak secara terbuka. Ia menyesuaikan diri, menjalani peran sebagai istri Dovid, seorang pria yang dihormati dalam komunitas. Dovid diperankan Alessandro Nivola dengan cara yang tidak karikatural. Ia bukan antagonis. Ia percaya pada apa yang ia jalani.
Sampai di titik itu, film mulai terasa berat, bukan karena konflik besar yang eksplosif, tapi karena ketegangan yang terus menumpuk tanpa pelepasan cepat.
Hubungan antara Ronit dan Esti bukan rahasia bagi mereka berdua, tapi jadi sesuatu yang tidak punya tempat di lingkungan itu. Ketika mereka akhirnya bertemu lagi, ada jeda yang panjang—tatapan yang terlalu lama, kalimat yang tidak selesai. Masa lalu tidak muncul sebagai kilas balik dramatis. Ia hadir dalam cara mereka saling melihat, dalam sesuatu yang tidak diucapkan.
Ada adegan makan malam yang terasa hampir biasa. Percakapan berlangsung sopan, topik-topik aman. Tapi di bawah permukaan, ada ketegangan yang sulit diabaikan. Sendok menyentuh piring, gelas diangkat, semuanya terdengar sedikit lebih keras karena keheningan yang mengelilinginya.
Film ini tidak memberi kenyamanan berupa konflik yang jelas dan cepat diselesaikan. Ia membiarkan ketidaknyamanan itu tumbuh.
Ketika akhirnya hubungan Ronit dan Esti kembali terungkap—lebih tepatnya, tidak lagi bisa disembunyikan—reaksi yang muncul tidak meledak dalam bentuk kemarahan yang berlebihan. Ia datang dalam bentuk tekanan yang lebih halus, tapi justru lebih menekan. Komunitas tidak perlu berteriak untuk membuat seseorang merasa terasing.
Satu hal yang terasa kuat adalah bagaimana film ini memperlakukan iman. Ia tidak diposisikan sebagai sesuatu yang harus dilawan atau ditinggalkan begitu saja. Ia hadir sebagai struktur yang memberi makna bagi banyak orang di dalamnya. Itu membuat konflik jadi lebih rumit. Tidak ada pilihan yang benar-benar bersih.
Ronit memilih pergi dari komunitas itu, hidup di luar dengan kebebasan yang lebih luas, tapi juga dengan jarak dari sesuatu yang dulu membentuk dirinya. Esti memilih bertahan, menyesuaikan diri dengan aturan yang ada, tapi menyimpan bagian dari dirinya yang tidak pernah benar-benar hilang.
Dua pilihan itu tidak disajikan sebagai benar atau salah. Mereka hanya ada, dengan konsekuensi masing-masing.
Ada adegan yang cukup terkenal—intim, panjang, tanpa potongan cepat—antara Ronit dan Esti. Banyak yang membicarakannya karena keberaniannya. Tapi yang lebih terasa adalah kerentanannya. Tidak ada dramatisasi berlebihan. Kamera tetap dekat, membiarkan momen itu berlangsung tanpa gangguan.
Bagi sebagian penonton, adegan itu mungkin menjadi pusat film. Tapi setelah itu, yang tersisa justru konsekuensinya. Apa yang terjadi setelah momen itu? Bagaimana seseorang kembali ke kehidupan yang menuntut sesuatu yang berbeda?
Film ini tidak buru-buru menjawab.
Dovid, yang berada di tengah, menjadi karakter yang menarik untuk diperhatikan. Ia tidak digambarkan sebagai suami yang kejam atau buta. Ia memahami lebih banyak daripada yang diucapkan. Ketika ia akhirnya menghadapi kenyataan tentang Esti, reaksinya tidak sederhana. Ada kekecewaan, tentu, tapi juga sesuatu yang lain—semacam usaha untuk tetap memegang keyakinannya sambil menghadapi sesuatu yang tidak sesuai dengan keyakinan itu.
Bagaimana seseorang menjaga keyakinan tanpa menutup mata terhadap realitas?
Film ini juga bermain dengan ruang. Interior rumah, sinagoga, jalanan—semuanya terasa sempit, bukan secara fisik, tapi secara emosional. Bahkan ketika kamera berada di luar, ruang itu tidak terasa benar-benar terbuka.
Bandingkan dengan kehidupan Ronit di luar komunitas, yang hanya ditampilkan sekilas. Ada kesan kebebasan, tapi juga kekosongan. Disobedience tidak romantis dalam menggambarkan “dunia luar” sebagai solusi yang sempurna.
Pilihan menjadi sesuatu yang berat, bukan karena sulit diambil, tapi karena tidak ada jaminan bahwa hasilnya akan lebih baik.
Menonton Disobedience dengan ekspektasi ringan terasa seperti salah langkah. Film ini tidak memberi hiburan dalam bentuk yang mudah. Ia meminta perhatian, kesabaran, dan kesediaan untuk duduk dengan ketidaknyamanan.
Ada momen ketika Ronit berdiri sendirian, mendengarkan sesuatu yang terjadi di dalam ruangan lain. Ia tidak masuk. Ia hanya berdiri, seperti seseorang yang tahu bahwa kehadirannya tidak sepenuhnya diinginkan, tapi juga tidak bisa sepenuhnya pergi. Perasaan itu sulit dijelaskan dengan kata-kata yang rapi.
Disobedience berakhir tanpa usaha besar untuk merapikan semuanya. Beberapa hubungan berubah, beberapa tetap tak terselesaikan. Tidak ada kemenangan yang jelas. Tidak ada kekalahan yang sepenuhnya bisa diterima. Yang tersisa lebih seperti sisa percakapan yang tidak selesai.
Usai menonton film ini, yang menempel bukan hanya cerita tentang cinta yang terlarang atau konflik dengan tradisi. Lebih seperti rasa tidak nyaman yang pelan-pelan masuk; bahwa kebebasan dan keterikatan sering kali saling mengganggu, dan memilih salah satunya tidak pernah benar-benar membuat yang lain hilang.
Beberapa orang mungkin menonton karena dua nama besar di poster, lalu pergi dengan sesuatu yang tidak mereka rencanakan untuk dibawa pulang. Dan rasanya agak sulit untuk menaruhnya kembali begitu saja.


