Suami Dicerai karena Tidak Memenuhi Standar Media Sosial
https://www.belajarsampaimati.com/2026/07/suami-dicerai-karena-tidak-memenuhi.html
![]() |
| Ilustrasi/heylaw.id |
Perceraian sekarang kadang terasa seperti review bintang satu di aplikasi belanja online.
“Suami kurang effort.”
“Tidak romantis.”
“Tidak aesthetic.”
“Tidak sesuai ekspektasi.”
Kalimat-kalimat semacam itu bertebaran di TikTok dan Instagram dengan latar musik galau, font putih tipis, dan potongan video perempuan termenung di kursi kafe sambil memegang iced latte seharga setengah gaji harian buruh. Ribuan komentar masuk:
“Kak, kamu pantas dapat yang lebih baik.”
“Lelaki kalau sayang pasti tahu caranya.”
“Bare minimum jangan dinormalisasi.”
Lalu seseorang benar-benar menceraikan pasangannya karena dianggap gagal memenuhi “standar medsos”.
Kata-kata itu sendiri sudah aneh; standar medsos. Seolah hubungan manusia sekarang punya spesifikasi minimum seperti RAM ponsel atau kamera iPhone terbaru.
Dulu orang menikah sambil sadar hidup akan berat. Sekarang banyak orang menikah sambil membawa algoritma masuk ke rumah.
Saya membaca unggahan soal seorang istri yang menceraikan suaminya karena merasa kehidupannya tidak sesuai standar yang ia lihat di media sosial. Ceritanya cepat menyebar karena banyak orang diam-diam merasa akrab dengan situasi itu. Tidak selalu sampai perceraian, tapi cukup banyak hubungan sekarang retak karena satu pihak terus merasa hidupnya “kurang”. Kurang mewah. Kurang romantis. Kurang fotogenik. Kurang bisa dipamerkan.
Ada perempuan yang kesal karena suaminya tidak pernah membuat video anniversary dengan drone dan musik piano. Ada laki-laki yang merasa istrinya “tidak seperti cewek-cewek TikTok”. Ada pasangan bertengkar karena feed Instagram mereka terlihat biasa saja dibanding pasangan lain yang honeymoon ke Paris atau makan malam di rooftop hotel Marina Bay Sands.
Media sosial membuat manusia terus membandingkan backstage hidupnya dengan highlight reel orang lain.
Masalahnya, otak manusia tidak dirancang untuk dibombardir ribuan kehidupan “sempurna” setiap hari.
Seorang pria di Bekasi mungkin bekerja sembilan jam di gudang logistik dengan punggung pegal dan sepatu bau hujan, lalu malamnya membuka Instagram dan melihat lelaki lain memberikan gelang Cartier untuk istrinya sambil naik yacht di Dubai. Besok paginya ia tetap harus bangun jam lima naik motor sambil menahan angin dingin dan cicilan. Rasa gagal tumbuh pelan-pelan dari layar enam inci.
Hubungan beberapa dekade lalu tentu tidak otomatis lebih bahagia. Orang dulu juga bertengkar soal uang, selingkuh, bosan, dan saling menyakiti. Bedanya, penderitaan mereka tidak dipertontonkan berdampingan dengan ribuan fantasi romantis setiap hari.
Ibu-ibu generasi lama sering menikah dengan ekspektasi yang jauh lebih kasar dan realistis. Mereka tahu suami bisa pulang dengan tubuh bau solar. Bisa emosian. Bisa pendiam. Bisa tidak pernah bilang “I love you” sampai mati. Mereka hidup di dunia tanpa konten “green flag husband starter pack”.
Sekarang, standar pasangan ideal berubah jadi semacam pertunjukan performatif tanpa akhir. Laki-laki harus romantis, mapan, humoris, tersedia secara emosional, jago masak, atletis, wangi, rajin bikin konten, dekat dengan keluarga pasangan, paham bahasa love language, bisa fotografi, bisa edit video, tahu spot brunch estetik, sekaligus tetap maskulin.
Pecah ndase!
Perempuan juga dihajar standar brutal yang sama gilanya. Harus cantik natural tapi tetap flawless. Harus mandiri tapi jangan terlalu dominan. Harus keibuan tapi tetap seksi. Harus produktif, healing, pilates, skincare, soft spoken, bisa bikin matcha latte homemade, dan tetap terlihat menarik jam enam pagi.
Orang-orang kelelahan bahkan sebelum benar-benar mengenal pasangannya.
Media sosial menciptakan ilusi bahwa selalu ada pasangan lebih baik di luar sana. Sedikit konflik saja langsung muncul pikiran, “Mungkin aku salah pilih orang.” Algoritma memperparah semuanya. Semakin seseorang menonton konten hubungan ideal, semakin banyak konten serupa disodorkan. Lama-lama realitas terasa jelek karena kalah filter.
Saya pernah melihat video seorang perempuan menangis karena suaminya memberinya bunga asli, bukan bunga uang. Saya paham itu cuma konten. Tapi ribuan komentar mendukung si perempuan. Lelakinya dihina habis-habisan. Seolah nilai cinta sekarang bisa diukur dari seberapa viral gesture seseorang.
Konyolnya, banyak pasangan yang terlihat sempurna di media sosial justru hidup seperti rekan kerja yang kebetulan tidur serumah.
Ada influencer pasangan terkenal di Jakarta yang videonya selalu penuh tawa dan prank romantis. Belakangan tersebar cerita, kru produksi mereka harus merekam ulang adegan pegangan tangan beberapa kali karena keduanya bertengkar sebelum syuting.
Romansa sekarang sering terasa seperti produksi konten. Lampu ring light menyala lebih lama daripada percakapan jujur.
Orang mulai takut punya hubungan yang biasa saja. Padahal sebagian besar hubungan memang biasa saja. Sebagian besar cinta terjadi di tempat membosankan; antre BPJS, beli galon, menunggu motor di bengkel, makan nasi telur jam sebelas malam karena uang tinggal sedikit. Tidak ada soundtrack sinematik di sana.
Yang menyedihkan, media sosial bukan cuma menciptakan standar tinggi. Ia juga menghapus toleransi terhadap ketidaksempurnaan kecil. Sedikit kurang perhatian dianggap toxic. Sedikit kikuk dianggap red flag. Sedikit membosankan dianggap gagal total. Hubungan berubah jadi proses audit tanpa akhir.
Saya melihat banyak orang sekarang lebih fasih membicarakan “attachment style” daripada belajar bertahan menghadapi manusia nyata. Mereka hafal istilah avoidant, narcissist, gaslighting, trauma bond. Kadang benar. Kadang cuma cara keren untuk mengatakan, “Kami sebenarnya dua orang yang sama-sama egois dan capek.”
Ada momen lucu sekaligus menyedihkan ketika pasangan bertengkar, lalu, bukannya bicara, mereka malah upload story sindiran. Orang asing ikut campur. Followers jadi hakim hubungan. Teman-teman memberi komentar tanpa tahu apa yang sebenarnya terjadi di rumah mereka.
Privasi hubungan perlahan mati. Bahkan rasa sedih sekarang terasa harus punya nilai tontonan.
Perceraian karena “standar medsos” terdengar dangkal kalau dibaca cepat. Tapi saya rasa masalahnya lebih dalam daripada sekadar istri matre atau suami kurang romantis. Media sosial telah mengubah cara manusia memandang kepuasan hidup. Orang tidak lagi sekadar ingin bahagia. Mereka ingin terlihat bahagia. Dua hal itu beda jauh.
Ada pasangan yang diam-diam utangnya menumpuk demi honeymoon estetik. Ada yang memaksa beli rumah di luar kemampuan supaya bisa bikin konten “couple goals”. Ada yang rela kerja sampai burnout karena takut terlihat kalah dibanding teman-temannya yang upload dinner mewah tiap minggu.
Kehidupan sekarang seperti kompetisi yang tidak pernah diumumkan secara resmi, tapi semua orang tahu sedang ikut. Dan cinta jadi ikut rusak di dalamnya.
Seorang suami mungkin sebenarnya setia, pekerja keras, tidak kasar, pulang tepat waktu, menemani anak belajar tiap malam. Lima belas tahun lalu itu sudah dianggap suami baik. Sekarang ia bisa kalah hanya karena tidak pernah bikin video ulang tahun dengan proyektor dan taburan lilin aromaterapi.
Lalu orang bertanya kenapa makin banyak hubungan terasa rapuh.
Karena manusia modern masuk ke hubungan sambil membawa penonton imajiner di kepala mereka.


