Apa yang Akan Terjadi Kalau Kita Tidak Makan Selama 4 Hari?

Ilustrasi/klikdokter.com
Hari ketiga biasanya paling aneh. Lidah terasa seperti dilapisi logam tipis. Napas berubah bau, agak tajam, seperti aseton bercampur kopi basi. Kepala ringan tapi bukan ringan yang nyaman. Tubuh terasa ringan sekaligus gelisah. Di malam hari, suara penjual gorengan bisa terdengar brutal. Bunyi wajan dan minyak panas bikin otak langsung bereaksi seperti hewan.

Orang modern takut lapar dengan cara yang hampir lucu. Sedikit telat makan siang, langsung panik; “gula darah turun.” Belum sarapan jam sembilan pagi, tangan sudah gemetar dramatik seolah tubuh memasuki fase kiamat biologis. Industri makanan selama puluhan tahun memang mengajari manusia bahwa metabolisme adalah tungku rapuh yang harus terus diisi tiap beberapa jam. Sarapan paling penting. Snack sehat jam tiga sore. Protein bar. Granola. Greek yogurt. Makan sedikit tapi sering. 

Tubuh manusia sebenarnya jauh lebih liar dari slogan iklan sereal.

Dr. Jason Fung jadi terkenal karena menyerang dogma nutrisi modern dengan cara yang hampir provokatif. Ia nefrolog asal Kanada, banyak menangani pasien diabetes tipe 2 dan obesitas. Di ceramah-ceramahnya, ia sering mengulang argumen yang membuat ahli gizi konvensional kesal; puasa tidak otomatis membuat metabolisme “mati”. Tubuh manusia justru punya mekanisme adaptasi rumit saat makanan berhenti masuk.

Hari pertama puasa biasanya masih penuh sisa glikogen. Tubuh membakar cadangan gula di hati dan otot. Mood naik turun. Perut berbunyi keras seperti pipa air rusak. Orang mulai membuka aplikasi ojek online hanya untuk melihat foto makanan tanpa membeli.

Tubuh modern terbiasa hidup dalam banjir insulin. Sarapan manis, kopi gula aren, snack sore, minuman boba malam. Pankreas bekerja tanpa henti seperti pegawai lembur yang tak pernah diizinkan pulang. Saat puasa dimulai, insulin turun. Tubuh mulai membuka “gudang energi” yang selama ini dikunci.

Lemak sebenarnya adalah rekening tabungan biologis. Tubuh menyimpannya justru untuk masa tanpa makanan. Lucu kalau dipikir-pikir; manusia modern punya cadangan energi berlimpah di pinggang dan perut, tapi secara psikologis tetap panik saat telat makan beberapa jam.

Hari kedua mulai terasa berbeda. Rasa lapar datang bergelombang, bukan konstan. Banyak orang kaget mengetahui lapar ternyata punya ritme. Ia muncul, keras sebentar, lalu hilang lagi. Tubuh mulai meningkatkan norepinefrin. Sistem saraf simpatik aktif. Sebagian orang malah melaporkan fokus mental meningkat. Mata terasa lebih tajam. Tidur justru lebih pendek. Tubuh lapar ternyata tidak selalu ingin rebahan.

Secara evolusi memang masuk akal. Manusia purba yang jadi lemas total saat lapar mungkin sudah mati duluan dimakan hewan buas. Saat makanan langka, tubuh justru perlu lebih waspada untuk berburu. Jason Fung sering memakai argumen itu untuk menjelaskan kenapa metabolisme basal tidak langsung anjlok saat puasa pendek.

Ada penelitian yang menunjukkan puasa beberapa hari dapat meningkatkan hormon pertumbuhan manusia atau HGH secara signifikan. Tubuh mulai mempertahankan jaringan otot sambil lebih agresif memakai lemak sebagai bahan bakar. Ketosis muncul. Hati memproduksi keton. Otak mulai memakai sumber energi alternatif selain glukosa.

Kalimat-kalimat biokimia itu terdengar bersih di jurnal medis. Realitasnya lebih berantakan. Mulut bau. Kepala sedikit nyut-nyutan. Emosi jadi aneh. Beberapa orang merasa euforia kecil, sebagian lain jadi gampang marah. Ada momen absurd ketika mencium aroma nasi hangat dari rice cooker bisa terasa hampir erotis.

Orang-orang di internet sering membicarakan puasa seperti ritual superhuman. “Autophagy”. “Reset tubuh”. “Detoks”. Kata-kata itu dilempar seperti mantra biohacking. Sebagian memang punya dasar ilmiah. Autophagy, misalnya, adalah proses ketika sel mulai “membersihkan” komponen rusak. Yoshinori Ohsumi bahkan memenangkan Nobel karena riset soal mekanisme itu.

Masalahnya, internet selalu suka mengubah sains menjadi agama kecil baru.

Puasa bukan sihir. Tubuh manusia juga tidak otomatis jadi mesin sempurna setelah empat hari tanpa makan. Orang dengan diabetes tertentu, gangguan makan, masalah ginjal, atau kondisi medis lain, bisa berbahaya kalau asal ikut tren puasa ekstrem. Ada alasan kenapa beberapa orang pingsan saat mencoba prolonged fasting tanpa persiapan. Tubuh manusia bukan podcast kesehatan.

Pembatasan kalori kronis memang sering membuat metabolisme melambat. Itu salah satu poin yang sering dibawa Jason Fung. Orang makan sedikit terus menerus—1.200 kalori, salad hambar, cracker rendah lemak—sambil tetap memicu insulin berkali-kali sehari. Tubuh membaca situasi itu sebagai ancaman jangka panjang. Energi dihemat. Orang jadi gampang lelah, gampang dingin, berat badan stagnan.

Puasa bekerja secara berbeda, karena tubuh tidak terus menerima sinyal “makanan sedikit masuk”. Saklarnya berubah total. Tubuh beralih memakai energi tersimpan. Setidaknya, teorinya begitu. 

Dunia nutrisi sendiri penuh perang saudara intelektual yang melelahkan. Satu kubu memuja intermittent fasting. Kubu lain bilang manfaatnya dibesar-besarkan. Ahli gizi tradisional kadang memandang komunitas puasa seperti sekte internet yang terlalu percaya diri. Komunitas puasa membalas dengan menyebut industri makanan dan farmasi sengaja mempertahankan manusia dalam kondisi insulin tinggi. Semua orang membawa grafik sendiri.

Saya lebih tertarik pada sisi psikologisnya. Saat manusia berhenti makan beberapa hari, hubungan mereka dengan waktu ikut berubah. Jam makan hilang. Aktivitas sosial terasa asing. Orang sadar betapa banyak kehidupan modern sebenarnya dipaku pada konsumsi. Meeting sambil ngopi. Nongkrong sambil ngemil. Kencan sambil makan. Nonton film sambil mengunyah popcorn. Bahkan rasa bosan sering langsung diterjemahkan tubuh menjadi keinginan membuka kulkas.

Hari ketiga puasa kadang terasa seperti melihat kota tanpa soundtrack biasa. Banyak orang melaporkan indra penciuman meningkat. Bau bawang goreng dari warteg dekat kos bisa menusuk hidung dari jarak jauh. Bunyi minyak mendesis membuat perut bereaksi refleks. Di supermarket, lorong roti jadi tempat paling berbahaya. Tubuh lapar punya cara sendiri memperbesar detail.

Ada juga aspek yang jarang dibahas influencer kesehatan; puasa panjang membuat sebagian orang menyadari betapa emosional hubungan mereka dengan makanan. Orang tidak cuma makan karena lapar. Mereka makan karena kesepian, stres, marah, cemas, ingin hadiah kecil setelah hari buruk. Makanan modern sangat sering dipakai seperti obat penenang mikro.

Mungkin itu sebabnya industri snack begitu besar. Manusia suka sesuatu untuk dikunyah saat hidup terasa tidak jelas.

Puasa juga punya sejarah spiritual panjang, jauh sebelum masuk podcast kesehatan Silicon Valley. Biarawan Ortodoks, sufi, biksu Buddha, pertapa Hindu—banyak tradisi memakai lapar sebagai alat mengubah kesadaran. Tubuh yang kosong kadang membuat pikiran bergerak aneh. Ada kejernihan tertentu, tapi juga semacam kerapuhan.

Empat hari tanpa makan bisa membuat seseorang merasa sangat hidup sekaligus sangat rapuh. Jantung terasa berdetak lebih jelas saat berbaring malam hari. Napas terasa panas di tenggorokan. Lutut agak ringan waktu berdiri terlalu cepat.

Internet suka membingkai tubuh seperti mesin matematika; masuk sekian kalori, keluar sekian kalori. Tubuh manusia sebenarnya lebih mirip pasar malam yang listriknya semrawut. Hormon, stres, tidur, trauma, kebiasaan kecil, cahaya layar ponsel pukul dua pagi, semuanya saling tarik-menarik. Jason Fung benar tentang satu hal penting; tubuh manusia bukan kalkulator sederhana.

Di dapur, jam menunjukkan hampir tengah malam. Kulkas berdengung pelan. Sisa sayur masih ada di panci. Tangan membuka tutup rice cooker sebentar hanya untuk mencium aromanya, lalu menutup lagi.

Perut mengencang keras beberapa detik.

Related

Tubuh Manusia 8023733970201903526

Posting Komentar

emo-but-icon

Terbaru

Banyak Dibaca

Ebook BSM

Mengapa Dunia Seperti Sekarang? 100 Peristiwa yang Membentuk Dunia Kita

Pernah bertanya-tanya, mengapa dunia seperti sekarang? Mengapa dunia terbagi-bagi dalam banyak negara? Mengapa ada orang-orang yang sangat k...

item