Abu Ma’shar al-Balkhi, Astrolog Paling Berpengaruh dalam Sejarah Islam

Ilustrasi/indozone.id
Ada ironi yang nyaris lucu dalam kehidupan Abu Ma’shar al-Balkhi. Selama berabad-abad, ia mungkin jadi ilmuwan Muslim yang paling terkenal di Eropa, tetapi hari ini namanya jauh lebih asing dibanding Al-Khwarizmi atau Ibn Sina. Pada Abad Pertengahan Latin, para ilmuwan menyebutnya Albumasar. Raja-raja membaca karyanya. Astrolog Eropa mengutipnya dengan hormat. Dante mengenal reputasinya. Para cendekiawan di Paris, Bologna, dan Toledo memperdebatkan teorinya. Di dunia modern, ia nyaris tenggelam dalam catatan kaki.

Nama lengkapnya adalah Ja’far ibn Muhammad ibn Umar al-Balkhi, lebih dikenal sebagai Abu Ma’shar al-Balkhi. Ia lahir di Balkh, wilayah yang sekarang berada di Afghanistan utara. 

Balkh bukan kota kecil di pinggiran dunia. Selama berabad-abad, kota itu merupakan salah satu persimpangan besar Eurasia. Kafilah dari Persia, India, Transoxiana, dan Tiongkok melintas di sana. Agama-agama bertemu dan saling bertabrakan. Sebelum Islam menguasainya, Balkh pernah jadi pusat Buddhisme yang penting. Reruntuhan biara-biara besar masih berdiri di sekitar wilayah itu selama masa Abu Ma’shar muda.

Ia lahir sekitar tahun 787 M, hanya beberapa dekade setelah revolusi Abbasiyah mengguncang dunia Islam. Ketika Abu Ma’shar tumbuh dewasa, Baghdad sedang berubah menjadi pusat intelektual terbesar di dunia. Perjalanan dari Balkh ke Baghdad bukan perjalanan sederhana. Ribuan kilometer memisahkan keduanya. Gurun, pegunungan, pos-pos dagang, sungai, dan ancaman perampok, berada di antaranya. Banyak orang menghabiskan hidup tanpa pernah meninggalkan daerah kelahirannya. Abu Ma’shar justru bergerak menuju jantung kekaisaran.

Hal pertama yang sering membuat orang terkejut adalah kenyataan bahwa ia tidak memulai karier sebagai astronom atau astrolog. Ia mula-mula dikenal sebagai ahli hadis. Sumber-sumber biografi klasik menggambarkannya sebagai seorang ulama yang mempelajari tradisi keagamaan secara serius. Ia sudah berusia cukup tua ketika memasuki dunia astronomi dan astrologi. Beberapa riwayat bahkan menyebut titik balik hidupnya muncul setelah perselisihan intelektual dengan Al-Kindi.

Kisahnya terdengar hampir seperti legenda akademik. Abu Ma’shar mengkritik Al-Kindi karena mempelajari filsafat Yunani. Al-Kindi membalas dengan menunjukkan bahwa seseorang tidak dapat mengkritik ilmu yang bahkan belum dipelajarinya. Abu Ma’shar kemudian mulai membaca matematika, astronomi, logika, dan filsafat, untuk menyerang lawannya dengan lebih efektif.

Serangan itu tidak pernah benar-benar terjadi. Yang terjadi justru kebalikannya. Ia jatuh cinta pada bidang yang awalnya ingin ia kritik.

Saya menyukai cerita itu karena terasa sangat manusiawi. Banyak biografi ilmuwan dibentuk menjadi kisah rapi tentang bakat sejak kecil dan jalan hidup yang lurus. Kisah Abu Ma’shar tampak lebih berantakan. Seorang ahli hadis berusia matang tiba-tiba menyelam ke dunia astronomi. Ia mempelajari tabel-tabel planet, gerhana, teori Yunani, warisan Persia, dan tradisi India. Hidupnya berbelok cukup tajam.

Baghdad pada abad kesembilan menyediakan lingkungan yang sempurna untuk transformasi semacam itu. Kota tersebut dipenuhi penerjemah yang mengalihbahasakan karya-karya Yunani ke dalam bahasa Arab. Nama-nama seperti Ptolemaios, Aristotle, dan Euclid mulai menjadi bagian dari percakapan intelektual Abbasiyah. Naskah datang dari Suriah, Alexandria, Gundishapur, dan wilayah-wilayah lain yang pernah menjadi bagian dari dunia Helenistik. Abu Ma’shar menyerap semua itu dengan rakus.

Banyak astronom Muslim terkenal berusaha memisahkan astronomi dari astrologi. Abu Ma’shar justru bergerak ke arah sebaliknya. Ia menjadi astrolog paling berpengaruh dalam sejarah Islam.

Pembaca modern sering bereaksi aneh terhadap fakta ini. Kata “astrologi” hari ini identik dengan ramalan zodiak di majalah atau video media sosial yang menjanjikan keberuntungan minggu depan. Dunia Abu Ma’shar sangat berbeda. Astrologi pada zamannya merupakan disiplin intelektual serius yang melibatkan matematika rumit, pengamatan astronomis, dan teori kosmologi yang kompleks. Banyak pemikir paling cerdas pada masanya menganggap hubungan antara langit dan bumi sebagai sesuatu yang layak diteliti.

Apakah mereka benar? Menurut standar ilmu modern, tentu tidak. Tetapi menganggap mereka sekadar takhayul juga terlalu malas.

Abu Ma’shar berusaha membangun kerangka teoritis yang besar. Ia ingin menjelaskan bagaimana benda-benda langit mempengaruhi dunia material. Ia menulis karya-karya yang tebal dan sering kali sangat teknis. Buku terkenalnya, Kitab al-Mudkhal al-Kabir atau Great Introduction, menjadi salah satu teks astrologi paling berpengaruh yang pernah ditulis.

Pengaruhnya melampaui dunia Islam. Pada abad kedua belas, karya-karyanya diterjemahkan ke bahasa Latin oleh penerjemah seperti John of Seville dan Hermann of Carinthia. Dari Toledo, teks-teks itu menyebar ke seluruh Eropa. Nama Ja’far bin Muhammad berubah jadi Albumasar. Banyak pembaca Latin bahkan tidak menyadari bahwa penulis yang mereka kagumi berasal dari Balkh.

Ada sesuatu yang nyaris absurd ketika membaca sejarah ini. Seorang pemikir Afghanistan abad kesembilan menjadi otoritas astrologi utama di universitas-universitas Eropa berabad-abad kemudian.

Karyanya tidak hanya membahas astrologi individual. Abu Ma’shar tertarik pada sejarah dunia dalam skala besar. Ia mengembangkan teori tentang konjungsi planet-planet besar, terutama Saturnus dan Jupiter. Menurutnya, pertemuan kedua planet itu memiliki kaitan dengan perubahan besar dalam sejarah manusia; munculnya dinasti baru, runtuhnya kerajaan, transformasi agama, atau pergantian zaman.

Sebagian besar gagasan tersebut tidak bertahan sebagai ilmu. Pengaruhnya terhadap cara orang memahami sejarah justru luar biasa. Banyak penguasa, penasihat istana, dan cendekiawan selama berabad-abad membaca sejarah melalui kerangka yang ia bangun.

Ada bagian lain yang sering terlupakan. Abu Ma’shar bukan sekadar pengguna warisan Yunani. Ia juga berusaha menyelaraskan berbagai tradisi intelektual yang berbeda. Dalam tulisannya muncul jejak pemikiran Persia, India, Babilonia, dan Yunani sekaligus. Membaca karya-karyanya kadang terasa seperti melihat peta perdagangan intelektual Eurasia. Gagasan bergerak dari satu peradaban ke peradaban lain, berubah bentuk sepanjang perjalanan.

Kehidupan pribadinya tidak terlalu terdokumentasi. Kita mengetahui lebih banyak tentang bukunya dibanding tentang dirinya sendiri. Sumber-sumber klasik menggambarkannya sebagai sosok yang keras kepala, tekun, dan sangat produktif. Ia menulis puluhan karya. Sebagian hilang. Sebagian bertahan dalam manuskrip Arab. Sebagian lagi justru lebih dikenal melalui terjemahan Latin.

Usianya panjang untuk ukuran zamannya. Banyak sumber menyebut ia meninggal pada tahun 886 M dalam usia mendekati seratus tahun. Angka itu mungkin dilebih-lebihkan, tetapi hampir semua riwayat sepakat bahwa ia hidup cukup lama.

Saya sering merasa Abu Ma’shar menunjukkan sesuatu yang jarang dibicarakan ketika orang membahas sejarah ilmu pengetahuan Islam. Kita suka merayakan tokoh yang kebetulan sejalan dengan ilmu modern. Kita mengangkat Al-Khwarizmi karena aljabar. Kita mengagumi Ibn al-Haytham karena optika. Tokoh seperti Abu Ma’shar terasa lebih sulit ditempatkan karena proyek intelektual utamanya tidak lagi kita anggap benar.

Padahal pengaruh historisnya mungkin lebih besar daripada banyak ilmuwan yang kini lebih terkenal.

Selama berabad-abad, orang membaca langit melalui matanya. Raja-raja mengambil keputusan setelah mendengar argumen yang berasal dari bukunya. Ilmuwan Kristen, Muslim, dan Yahudi memperdebatkan teorinya. Para mahasiswa di universitas Eropa mempelajari Albumasar jauh sebelum mereka mengenal banyak nama lain dari dunia Islam.

Ketika ia meninggal, Baghdad masih menjadi pusat dunia intelektual. Perpustakaan-perpustakaan masih berdiri. Pasukan Mongol masih beberapa abad jauhnya. Manuskrip-manuskripnya mulai menempuh perjalanan panjang ke barat, melewati Suriah, Sisilia, Toledo, Paris, dan Bologna.

Di suatu ruang belajar yang diterangi lilin, seorang mahasiswa Eropa membuka terjemahan Latin karya Albumasar. Nama Balkh mungkin tidak berarti apa-apa baginya. Gurun Khurasan terasa sejauh permukaan bulan. Ia tetap membaca halaman demi halaman, sementara debu dari Afghanistan abad kesembilan diam-diam menempel pada sejarah Eropa.

Related

Tokoh 1097685206165515485

Posting Komentar

emo-but-icon

Terbaru

Banyak Dibaca

Ebook BSM

Mengapa Dunia Seperti Sekarang? 100 Peristiwa yang Membentuk Dunia Kita

Pernah bertanya-tanya, mengapa dunia seperti sekarang? Mengapa dunia terbagi-bagi dalam banyak negara? Mengapa ada orang-orang yang sangat k...

item