Anak Zaman Sekarang Ternyata Tidak Bisa Membaca Jam Analog
https://www.belajarsampaimati.com/2026/08/anak-zaman-sekarang-ternyata-tidak-bisa.html
![]() |
| Ilustrasi milik BSM |
Anak-anak yang lahir hari ini mungkin akan tumbuh besar tanpa pernah benar-benar memahami apa yang dilakukan dua batang logam tipis di wajah sebuah jam dinding. Mereka tahu waktu. Mereka bahkan bisa membaca waktu lebih cepat daripada generasi sebelumnya. Pukul 09.45 langsung terbaca sebagai 09.45. Tidak ada proses menerjemahkan, tidak ada perhitungan kecil di kepala, tidak ada jeda sepersekian detik untuk melihat posisi jarum panjang dan jarum pendek. Informasi datang dalam bentuk yang sudah selesai.
Beberapa tahun lalu, sejumlah guru di Inggris mengeluhkan fenomena yang terdengar sepele: murid-murid mereka kesulitan membaca jam analog saat ujian. Sekolah-sekolah bahkan mulai mengganti jam dinding analog dengan jam digital karena siswa merasa lebih nyaman membaca angka daripada menafsirkan posisi jarum.
Berita semacam itu sempat dianggap lucu. Banyak orang menanggapinya dengan nada bercanda, seolah-olah itu hanya contoh kemalasan generasi muda. Padahal yang sedang terjadi sebenarnya lebih menarik daripada sekadar cerita anak-anak yang tidak mau belajar membaca jam.
Kita sedang menyaksikan hilangnya sebuah keterampilan yang pernah dianggap begitu dasar, sehingga tidak pernah dibayangkan akan punah.
Jam analog pernah menjadi bagian dari lanskap sehari-hari. Di ruang kelas SD, tergantung di atas papan tulis. Di ruang tunggu puskesmas. Di stasiun kereta. Di kantor kecamatan. Di ruang tamu rumah-rumah yang dindingnya dicat hijau muda atau krem kusam. Banyak orang Indonesia masih bisa mengingat suara detiknya pada malam hari. Tik. Tik. Tik. Tik. Suara kecil yang kadang terdengar lebih keras ketika listrik padam dan televisi mati.
Membaca jam analog bukan sekadar melihat waktu. Otak harus melakukan interpretasi spasial. Jarum pendek tidak menunjuk tepat ke angka ketika waktu bergerak. Pukul 09.45 misalnya, jarum pendek sudah mendekati angka 10. Anak-anak harus memahami hubungan proporsional antara posisi jarum dan perjalanan waktu. Mereka belajar bahwa satu lingkaran penuh berarti satu jam. Mereka belajar bahwa angka 3 berarti seperempat putaran. Angka 6 berarti setengah putaran. Angka 9 berarti tiga perempat putaran.
Jam analog diam-diam mengajarkan geometri.
Jam digital tidak peduli soal itu. Angka muncul begitu saja, seperti hasil akhir kalkulator. Tidak perlu memahami proses di baliknya.
Di sebuah sekolah dasar pada awal 1990-an, seorang guru mungkin menggambar lingkaran besar di papan tulis dengan kapur putih yang meninggalkan debu di jemari. Jarum panjang dibuat dari garis lurus sederhana. Murid-murid diminta maju ke depan dan menebak pukul berapa. Sebagian salah. Sebagian benar. Proses belajar berlangsung melalui kebingungan kecil yang berulang. Hari ini, seorang anak mungkin pertama kali melihat waktu dari layar ponsel ibunya. Tidak ada lingkaran. Tidak ada jarum. Hanya empat digit yang bersinar.
08:17.
Selesai.
Teknologi sering menghapus kebutuhan akan keterampilan tertentu tanpa meminta izin. Dulu orang menghafal puluhan nomor telepon. Banyak orang yang hidup pada era 1980-an masih bisa mengingat nomor rumah teman masa kecilnya. Nomor telepon rumah paman. Nomor kantor ayah. Informasi itu menempel di kepala karena memang diperlukan. Ponsel datang, dan pekerjaan menghafal diserahkan kepada chip silikon. Sebagian besar orang sekarang bahkan tidak hafal nomor pasangan mereka sendiri.
Peta mengalami nasib yang sama. Pernah ada masa ketika sopir truk antarkota mengenal jalur-jalur Jawa dari ingatan. Mereka tahu belokan menuju Cirebon, tanjakan Nagreg, arah ke Pelabuhan Merak. Kini navigasi GPS mengurus sebagian besar pekerjaan itu. Jam analog mungkin sedang mengikuti jejak yang sama.
Saya tidak terlalu tertarik pada keluhan bahwa generasi sekarang kehilangan kemampuan membaca jam analog. Yang lebih menarik adalah pertanyaan lain: mengapa kita menganggap keterampilan itu penting?
Jawabannya sering terdengar sentimental. Karena itu bagian dari pendidikan dasar. Karena itu warisan budaya. Karena kita dulu mempelajarinya. Alasan-alasan seperti itu kurang meyakinkan.
Generasi yang lebih tua juga kehilangan banyak keterampilan tanpa merasa bersalah. Berapa banyak orang modern yang mampu membaca posisi bintang untuk menentukan arah? Berapa banyak yang bisa menggunakan sextant di laut seperti para pelaut abad ke-18? Berapa banyak yang bisa memperbaiki radio tabung?
Teknologi memang memilih korban-korbannya. Tetapi jam analog terasa sedikit berbeda karena ia tidak hanya alat. Ia mengajarkan cara tertentu dalam membayangkan waktu.
Jam digital menampilkan waktu sebagai titik. 09.45. Satu informasi tunggal. Jam analog menampilkan waktu sebagai ruang yang bergerak.
Ketika melihat jarum panjang mendekati angka 12, seseorang dapat merasakan satu jam hampir selesai. Ketika jarum baru bergerak sedikit dari angka 6, terasa masih banyak waktu tersisa. Bentuk lingkaran membuat waktu terlihat sebagai perjalanan fisik.
Karena itu banyak guru matematika menyukai jam analog. Ia membantu anak memahami pecahan, proporsi, dan hubungan antarbagian dalam sebuah keseluruhan. Jam digital tidak menawarkan pengalaman serupa.
Saya pernah melihat seorang anak berusia sekitar delapan tahun di sebuah pusat perbelanjaan, menatap jam dinding besar beberapa detik lebih lama dari yang seharusnya. Ia mengernyit. Matanya bergerak dari jarum pendek ke jarum panjang, lalu kembali lagi. Akhirnya ia bertanya kepada ibunya. Sang ibu menjawab sambil tetap melihat layar ponsel.
Anak itu sebenarnya tidak gagal memahami waktu. Ia hanya tidak mempelajari bahasa yang digunakan benda di depannya. Persis seperti seseorang yang bisa berbicara bahasa Indonesia tetapi tidak bisa membaca aksara Jawa.
Pernah pula terjadi sesuatu yang lebih lucu. Seorang remaja Amerika, dalam sebuah video internet, mengira simbol telepon pada aplikasi panggilan berasal dari gambar aneh yang tidak jelas bentuknya. Ia tidak tahu bahwa ikon itu adalah gagang telepon rumah model lama. Teknologi kadang meninggalkan fosil-fosil visual yang masih digunakan jauh setelah benda aslinya hilang. Jam analog berpotensi menjadi fosil semacam itu.
Bayangkan sebuah hotel tua di Yogyakarta tahun 2050. Sebuah jam bundar masih tergantung di lobi, karena dekorator interior menganggapnya estetik. Anak-anak melihatnya seperti mereka melihat gramofon atau mesin tik: benda dari masa lalu yang bentuknya menarik tetapi fungsinya tidak intuitif.
Mereka tahu jam itu menunjukkan waktu, tentu saja. Mereka juga tahu cara mencari waktunya jauh lebih mudah. Tinggal keluarkan ponsel.
Kita sering menganggap kemajuan teknologi berarti penambahan kemampuan. Kenyataannya lebih aneh. Setiap teknologi baru juga merupakan mesin penghapus. Ia menghapus kebutuhan akan keterampilan lama, lalu perlahan menghapus keterampilan itu sendiri. Tidak ada konspirasi. Tidak ada kemunduran moral. Tidak ada generasi malas. Kebutuhan menghilang, kemampuan ikut menghilang.
Di sebuah rumah, entah di Bandung, Surabaya, atau Tasikmalaya, mungkin masih tergantung jam dinding merek Seiko yang dipasang sejak akhir 1990-an. Kacanya sedikit berdebu. Jarumnya bergerak pelan. Anak-anak lewat di bawahnya tanpa pernah benar-benar melihat ke atas.
Tik. Tik. Tik.
Beberapa benda rupanya bisa terus bekerja bertahun-tahun setelah orang berhenti memahami bahasanya.
Catatan terkait: Anak Ajaib: Bagaimana Bayi Bisa Lahir dengan Otak Jenius?
.jpg)

