Mile 22, Film Aksi yang Terasa Hidup karena Kemunculan Iko Uwais

Ilustrasi/catchplay.com
Kekacauan dimulai bahkan sebelum penonton sempat memahami siapa sebenarnya yang sedang mereka ikuti. Kamera bergerak gelisah. Potongan gambar datang terlalu cepat. Wajah muncul dan hilang sebelum sempat dikenali. Peluru beterbangan. Orang-orang berteriak lewat headset. Seseorang memberi perintah. Seseorang lain mengumpat. Lalu darah menyembur.

Banyak film aksi mencoba membuat penonton tegang. Mile 22 tampaknya punya tujuan lain: membuat penonton kelelahan.

Film garapan sutradara Peter Berg ini dirilis pada 2018, mempertemukan kembali Berg dengan Mark Wahlberg setelah Lone Survivor, Deepwater Horizon, dan Patriots Day. Dalam tiga film sebelumnya, kerja sama mereka menghasilkan sesuatu yang cukup jelas bentuknya. Ada tragedi nyata, ada pahlawan, ada musuh, ada garis emosional yang bisa diikuti. Mile 22 datang dengan energi berbeda. Lebih gugup. Lebih paranoid. Lebih berisik.

Mark Wahlberg memerankan James Silva, pemimpin unit operasi rahasia bernama Overwatch. Mereka bukan pasukan resmi yang bisa dipamerkan di depan kamera. Mereka adalah instrumen yang bekerja di ruang abu-abu. Jika misi berhasil, pemerintah akan diam. Jika gagal, pemerintah juga akan diam.

Silva bukan karakter yang mudah disukai. Itu salah satu keputusan paling menarik dalam film ini. Biasanya tokoh utama film aksi diberi ruang agar penonton bisa mengidentifikasi diri dengannya. Silva justru terasa seperti orang yang akan membuat seluruh ruangan ingin keluar saat rapat belum selesai.

Ia cerewet, agresif, arogan, dan berbicara seolah IQ semua orang di sekitarnya berada tiga tingkat di bawah dirinya. Pada awal film, ia mengomeli rekan-rekannya. Beberapa menit kemudian ia mengomeli atasannya. Setelah itu ia mengomeli dirinya sendiri.

Mark Wahlberg memainkan karakter itu dengan intensitas yang hampir tidak pernah turun. Rahangnya mengeras sepanjang film. Tatapannya seperti orang yang sudah minum kopi enam gelas sejak subuh. Kadang performanya menarik. Kadang melelahkan.

Misi utama cerita sebenarnya sederhana. Seorang polisi misterius bernama Li Noor, diperankan Iko Uwais, datang ke Kedutaan Amerika Serikat di negara fiktif bernama Indocarr. Ia mengaku memiliki informasi tentang bahan radioaktif yang hilang. Sebagai gantinya, ia meminta perlindungan dan penerbangan keluar negeri.

Jarak menuju pesawat hanya 22 mil. Judul film lahir dari angka itu. Masalahnya, hampir seluruh kota ingin membunuhnya.

Konsepnya terdengar seperti video game. Bergerak dari satu titik ke titik lain sambil dihujani gelombang musuh. Peter Berg tampaknya sadar akan hal tersebut. Film ini bergerak seperti orang yang sedang menekan tombol sprint terus-menerus. Hampir tidak pernah berhenti. Kendaraan dihancurkan. Jendela pecah. Tulang patah. Leher dipelintir.

Tubuh manusia dalam Mile 22 diperlakukan seperti benda yang bisa dirusak dengan kreativitas tak terbatas. Di sinilah Iko Uwais masuk sebagai elemen paling menarik dalam seluruh film.

Sulit mengabaikan kenyataan bahwa setiap kali Iko Uwais muncul dalam adegan laga, film mendadak terasa hidup. Koreografi pertarungannya memiliki ritme yang berbeda dari gaya aksi Hollywood modern yang sering menyembunyikan gerakan di balik puluhan potongan editing. Iko Uwais datang dari tradisi The Raid. Tubuhnya bergerak dengan logika yang lebih jelas. Pukulan terasa menghantam. Tendangan terasa memiliki berat. 

Adegan pertarungan di klinik medis menjadi contoh yang paling mudah diingat. Tangan menghantam kaca. Pisau muncul dan menghilang. Tubuh dilempar ke meja logam. Mata sedikit pedih mengikuti editing yang terlalu cepat, tetapi kemampuan fisik Iko Uwais tetap berhasil menembus kekacauan visual tersebut.

Ironisnya, film ini terlihat kurang percaya diri terhadap aset terbaiknya sendiri.

Peter Berg memiliki aktor bela diri kelas dunia di depan kamera, tetapi berkali-kali memilih memotong adegan terlalu cepat. Kamera berguncang. Potongan gambar datang seperti rentetan senapan mesin. Ada momen ketika penonton sebenarnya ingin melihat gerakan Iko Uwais secara utuh, tetapi film justru memutusnya menjadi lima atau enam sudut berbeda dalam dua detik. 

Beberapa sutradara aksi memahami bahwa tubuh manusia bisa menjadi narasi. Gareth Evans memahami itu dalam The Raid. Chad Stahelski memahami itu dalam John Wick. Peter Berg terlihat lebih tertarik pada sensasi daripada kejelasan.

Keputusan tersebut membuat Mile 22 terasa aneh. Film ini dipenuhi aksi, tetapi tidak selalu memberi kesempatan kepada aksi untuk bernapas.

Lauren Cohan sebagai Alice Kerr membawa lapisan emosional yang lumayan menarik. Karakternya sedang menghadapi perceraian dan hubungan yang retak dengan anaknya. Film berkali-kali kembali pada konflik itu melalui panggilan telepon dan percakapan singkat. Potongan-potongan emosional tersebut sebenarnya bisa menjadi jangkar manusiawi di tengah kekacauan operasi militer.

Masalahnya, film hampir tidak pernah memberi ruang cukup lama untuk mengembangkannya. Satu menit seseorang berbicara tentang keluarganya. Tiga puluh detik kemudian peluru kembali beterbangan.

Ritme seperti itu membuat Mile 22 terasa seperti seseorang yang terus berbicara tanpa mengambil napas.

Saya justru tertarik pada lapisan lain yang jarang dibahas ketika orang mengulas film ini. Mile 22 adalah film yang lahir dari suasana politik Amerika pasca-9/11 yang panjang dan melelahkan. Dunia dalam film ini penuh operasi rahasia, negara asing yang ambigu, intelijen yang tidak bisa dipercaya, serta keyakinan bahwa keamanan nasional membutuhkan tindakan yang tidak bisa dijelaskan kepada publik. Tidak ada romantisme perang di sini. Tidak ada patriotisme yang megah.

Orang-orang dalam Overwatch tampak seperti pegawai yang terlalu lama bekerja dalam sistem yang membuat mereka kehilangan kemampuan membedakan kewarasan dan paranoia.

James Silva bahkan meminum obat secara rutin untuk mengendalikan kondisi psikologisnya. Detail kecil itu sering lewat begitu saja. Padahal cukup penting. Tokoh utama film bukan mesin pembunuh yang sempurna. Ia adalah seseorang yang tampak nyaris pecah sepanjang waktu.

John Malkovich, yang berperan sebagai Bishop, beberapa kali muncul di ruang komando sambil mengawasi monitor dan memberi instruksi. Rambutnya yang memutih, wajahnya yang lelah, dan ekspresinya yang datar, menciptakan kesan birokrasi keamanan yang sudah terlalu lama hidup dalam krisis permanen.

Film bergerak menuju twist besar pada bagian akhir. Saya tidak akan membocorkannya secara rinci, tetapi twist tersebut cukup berani dibandingkan banyak film aksi studio besar yang biasanya memilih jalur aman. Sebagian penonton membencinya. Sebagian menyukainya.

Saya termasuk yang menganggap twist itu salah satu keputusan terbaik dalam film.

Masalahnya bukan pada akhir ceritanya. Masalahnya terletak pada perjalanan menuju akhir tersebut, yang sering terasa seperti menonton seseorang mengocok kaleng berisi baut dan mur selama satu setengah jam.

Ketika kredit penutup mulai muncul, yang tertinggal di kepala saya bukan James Silva, bukan Overwatch, bahkan bukan konspirasi bahan radioaktif yang jadi inti cerita. Yang tertinggal justru wajah Iko Uwais yang penuh memar, koridor-koridor sempit yang dipenuhi pecahan kaca, suara napas yang terengah-engah setelah pertarungan, serta rasa berdenging di telinga akibat film yang nyaris tidak pernah mau diam.

Peter Berg membuat film yang ingin bergerak lebih cepat daripada penontonnya. Kadang berhasil. Kadang tersandung kakinya sendiri.

Kendaraan lapis baja terus melaju menuju landasan. Radio masih berisik. Orang-orang masih saling berteriak. Di kursi belakang, Li Noor duduk tenang dengan wajah yang hampir tidak berubah sejak awal.


Related

Entertainment 5323418864221335218

Posting Komentar

Jangan menyisipkan link ke dalam komentar, karena akan ditandai sebagai spam.

emo-but-icon

Terbaru

Banyak Dibaca

Ebook BSM

Mengapa Dunia Seperti Sekarang? 100 Peristiwa yang Membentuk Dunia Kita

Pernah bertanya-tanya, mengapa dunia seperti sekarang? Mengapa dunia terbagi-bagi dalam banyak negara? Mengapa ada orang-orang yang sangat k...

item