Rhoma Irama adalah Influencer Terbesar Pertama di Indonesia

Ilustrasi/ibtimes.id
Seorang influencer zaman sekarang bisa membuat satu unggahan pada pagi hari, kemudian sore harinya sebuah produk kehabisan stok. Ia menunjukkan sepatu, orang membeli sepatu. Ia makan di sebuah restoran, meja restoran penuh. Ia memakai model rambut tertentu, barbershop mendapat pelanggan dengan foto yang sama di ponsel.

Rhoma Irama pernah melakukan sesuatu yang secara mekanisme tidak terlalu berbeda. Hanya saja produknya lebih banyak. Rambut. Pakaian. Gitar. Lagu. Film. Cara berbicara. Cara mencintai. Cara memandang perempuan. Cara memandang agama. Bahkan cara seorang lelaki Indonesia membayangkan dirinya sendiri di hadapan perempuan. Semua bisa keluar dari satu pusat gravitasi bernama Rhoma Irama.

Kata “influencer” memang terasa terlalu baru untuk lelaki yang mulai membangun kariernya pada era ketika orang masih menunggu lagu dari radio dan membeli musik dalam bentuk piringan hitam atau kaset. Kamus digital, media sosial, algoritma, engagement rate—semuanya datang belakangan. Rhoma Irama tidak memiliki Instagram, karena di zamannya Instagram belum ada. Ia tidak pernah mengunggah story. Tidak ada kolom komentar yang harus dimoderasi.

Tetapi pengaruh tidak membutuhkan internet. Yang dibutuhkan pengaruh adalah massa manusia yang memperhatikan seseorang.

Indonesia sudah memilikinya jauh sebelum istilah influencer masuk ke percakapan sehari-hari. Bung Karno mempengaruhi cara berpakaian, berbicara, dan membayangkan bangsa. Raden Saleh mempengaruhi dunia seni. Ki Hadjar Dewantara mempengaruhi pendidikan. Para ulama mempengaruhi kehidupan sosial melalui pengajian dan pesantren. Para bintang film mempengaruhi mode dan gaya pergaulan. Jadi kalau pertanyaannya dibuat secara harfiah—siapa influencer pertama Indonesia?—jawabannya hampir tidak mungkin.

Pertanyaan yang lebih menarik: kapan seorang entertainer mulai menggunakan dirinya sendiri sebagai medium pengaruh dalam skala yang menyerupai influencer modern?

Nama Rhoma Irama muncul sangat cepat dalam daftar kandidat. Karena Rhoma Irama tidak berhenti pada lagu.

Seorang penyanyi biasanya menjual suara. Rhoma Irama menjual sebuah dunia yang kebetulan memiliki soundtrack. Dunia tersebut mempunyai tokoh laki-laki, perempuan, keluarga, cinta, dosa, agama, kemiskinan, kekayaan, perselingkuhan, perjudian, narkoba, pergaulan, dan godaan. Penonton tidak hanya mendengar apa yang dinyanyikan Rhoma. Mereka mendapatkan gambaran tentang bagaimana dunia seharusnya dipandang. 

Film memperbesar jangkauan itu. “Raja Dangdut”, misalnya, menjadikan Rhoma sebagai tokoh cerita yang namanya sama dengan nama bintang di luar layar. Ida Royani memainkan perempuan yang mengaguminya. Surat-surat penggemar menjadi bagian dari plot. Rhoma hadir sebagai penyanyi terkenal di dalam film yang diperankan oleh Rhoma, penyanyi terkenal di luar film.

Jarak antara selebritas dan pengikut jadi sangat tipis.

Penonton melihat orang yang sudah mereka kenal memainkan dirinya sendiri, kemudian karakter tersebut dicintai perempuan lain. Secara industri, itu brilian. Secara psikologis, agak “licin”. Penggemar mendapat kesempatan masuk ke dalam fantasi seorang penggemar.

Rhoma juga memiliki sesuatu yang sangat penting bagi influencer modern: konsistensi persona.

Orang tahu apa yang mereka dapat ketika berhadapan dengan Rhoma Irama. Ia memiliki suara tertentu, penampilan tertentu, tema tertentu, dan sikap tertentu. Ia bisa menyanyikan cinta, tetapi cinta tersebut sering beririsan dengan norma agama dan keluarga. Ia bisa menjadi simbol maskulinitas, tetapi juga membawa pesan moral. Ia bisa tampil sebagai seniman populer sekaligus tokoh yang berbicara mengenai kehidupan sosial.

Persona itu tidak muncul sekali. Ia diulang. Diulang dalam album. Diulang dalam film. Diulang di panggung. Diulang melalui wawancara. Diulang melalui penampilan fisik. Diulang melalui cerita cinta. Diulang melalui konflik antara gaya hidup modern dan nilai agama.

Pengulangan semacam itu sekarang disebut branding. Pada masa Rhoma, ia mungkin lebih sederhana: penonton tahu siapa Rhoma.

Justru karena medianya terbatas, efeknya dapat terasa lebih besar. Hari ini seseorang dapat memiliki satu juta pengikut di media sosial, tetapi masing-masing pengikut berada di ruang informasi yang berbeda. Satu orang mengikuti akun memasak, orang lain mengikuti politik, yang lain mengikuti sepak bola, yang lain mengikuti lima puluh influencer sekaligus. Perhatian terpecah.

Pada masa kejayaan Rhoma, sebuah lagu bisa beredar melalui radio, kaset, televisi, pertunjukan, dan bioskop. Satu nama dapat muncul berkali-kali dalam satu hari dari berbagai arah. Pasar hiburan belum penuh sesak oleh ribuan identitas. Nama besar menjadi sangat besar.

Kaset memainkan peranan yang sering diremehkan dalam cerita ini. Kaset memungkinkan penggemar membawa Rhoma pulang. Musik tidak lagi hanya sesuatu yang didengar ketika radio kebetulan memutarnya. Orang membeli benda yang membawa suara Rhoma ke ruang keluarga, kamar tidur, warung, perjalanan, dan hajatan.

Seorang influencer modern hidup melalui layar ponsel. Rhoma Irama hidup melalui tape recorder. Perbedaannya terutama terletak pada perangkat.

Pengaruhnya bekerja melalui kedekatan berulang. Suara yang sama masuk ke telinga berkali-kali. Lirik yang sama dihafalkan. Gaya yang sama dilihat. Nama yang sama dicetak. Penggemar mulai mengetahui bukan hanya lagu Rhoma, tetapi juga sosok Rhoma.

Pada tahap tertentu, orang membeli bukan lagi rekaman tertentu. Mereka membeli Rhoma Irama. Seorang influencer modern mungkin menjual kaus bertuliskan namanya. Rhoma Irama membuat namanya menjadi lagu.

Ada unsur lain yang lebih penting: pengaruh Rhoma tidak berhenti pada konsumsi hiburan. Ia ikut menentukan percakapan moral.

Tema-tema seperti perjudian, narkoba, kehidupan malam, hubungan laki-laki dan perempuan, keluarga, serta agama, masuk ke lagu dan film. Ketika sebuah pesan moral disampaikan oleh tokoh yang sudah dicintai, pesan tersebut mempunyai jalur masuk yang berbeda dari ceramah atau editorial koran.

Rhoma tidak perlu menjadi guru untuk mengajari sesuatu. Ia cukup menjadi Rhoma. Itulah bagian yang membuat label influencer terasa masuk akal.

Influencer modern tidak harus menjadi ahli. Mereka sering kali memiliki pengaruh karena orang menyukai mereka terlebih dulu. Kepercayaan muncul dari kedekatan yang terus-menerus, kemudian opini mengenai produk, makanan, pakaian, gaya hidup, atau politik, memperoleh bobot tambahan.

Rhoma Irama memiliki mekanisme yang mirip. Orang menyukai lagunya. Kemudian mereka mendengar pandangannya. Mereka menyukai filmnya. Kemudian mereka melihat bagaimana tokoh Rhoma bersikap. Mereka menyukai penampilannya. Kemudian gaya tersebut menjadi bagian dari citra yang lebih luas. Pengaruh bergerak melalui hubungan emosional, bukan melalui sertifikat keahlian.

Tentu saja ada perbedaan besar. Rhoma adalah seniman dengan karya yang sangat produktif dan karier panjang. Ia bukan seseorang yang jadi terkenal hanya karena kemampuannya menarik perhatian. Musik adalah pusat pekerjaannya. Menyamakan Rhoma begitu saja dengan influencer Instagram akan mengecilkan kerja artistiknya.

Justru itu yang membuat kasusnya menarik. Influencer modern sering menjadikan dirinya sebagai konten. Rhoma menjadikan karya sebagai perpanjangan dirinya. Keduanya bertemu di satu tempat: nama pribadi menjadi alat distribusi.

Rhoma Irama membawa lagu. Lagu membawa film. Film membawa karakter. Karakter memperkuat nama. Nama membawa penonton kembali kepada lagu. Siklusnya berputar tanpa media sosial.

Ada satu bukti kecil yang menurut saya lebih ajaib daripada semua angka penjualan atau daftar penghargaan: orang Indonesia masih bisa mengenali Rhoma Irama tanpa perlu menjelaskan siapa dia.

Dua kata itu sudah cukup. Rhoma Irama. Nama tersebut langsung memanggil suara. Gitar. Dangdut. Film. Rambut. Pakaian panggung. Agama. Cinta. Kontroversi. Generasi. Itulah pekerjaan sebuah persona yang telah bekerja sangat lama.

Jadi, apakah Rhoma Irama influencer pertama Indonesia? Secara harfiah, tidak. Secara sejarah, istilah itu terlalu luas untuk diklaim seorang penyanyi.

Sebagai eksperimen budaya, saya justru ingin mengatakan: Rhoma mungkin salah satu orang Indonesia pertama yang menjalankan hampir seluruh mesin influencer modern tanpa memiliki satu pun teknologi influencer.

Ia memiliki audiens. Ia memiliki persona. Ia memiliki distribusi. Ia memiliki produk. Ia memiliki komunitas penggemar. Ia memiliki gaya yang ditiru. Ia memiliki opini yang didengar. Ia memiliki wajah yang menjual tiket. Ia memiliki nama yang menjual kaset. Ia bahkan memiliki lagu yang menjual namanya sendiri.

Yang belum ia miliki, waktu itu, hanya media sosial. Untuk ukuran tahun 1970 atau 1980-an, itu detail kecil.


Related

Tokoh 2753454991857087860

Posting Komentar

emo-but-icon

Terbaru

Banyak Dibaca

Ebook BSM

Mengapa Dunia Seperti Sekarang? 100 Peristiwa yang Membentuk Dunia Kita

Pernah bertanya-tanya, mengapa dunia seperti sekarang? Mengapa dunia terbagi-bagi dalam banyak negara? Mengapa ada orang-orang yang sangat k...

item