Deddy Dores, Musisi dan Pencipta Lagu Produktif Indonesia

Ilustrasi/republika.co.id
Deddy Dores hidup di sebuah ruang yang aneh dalam sejarah musik Indonesia. Namanya dikenal hampir semua orang yang tumbuh pada era kaset, tetapi wajahnya tidak selalu muncul pertama kali ketika orang mengingat lagu-lagu yang mereka cintai. Banyak orang hafal liriknya tanpa sadar bahwa penciptanya adalah orang yang sama.

Banyak penyanyi menjadi besar melalui lagu-lagunya, sementara dirinya sendiri sering berdiri sedikit di belakang sorotan. Posisi semacam itu jarang. Di industri hiburan yang biasanya memuja wajah dan ketenaran, Deddy Dores berkali-kali menunjukkan bahwa seseorang bisa menjadi mesin penghasil lagu yang nyaris tak habis-habis, lalu membiarkan orang lain memanen sebagian besar perhatian publik.

Sulit membicarakan musik populer Indonesia akhir 1980-an dan 1990-an tanpa tersandung nama Deddy Dores. Jumlah lagu yang ia ciptakan sangat besar. Angkanya berbeda-beda tergantung sumber yang digunakan, tetapi semua sepakat bahwa jumlahnya mencapai ribuan. 

Ketika orang menyebut pencipta lagu produktif, biasanya yang dimaksud puluhan atau ratusan karya. Dalam kasus Deddy Dores, skalanya sudah berbeda. Ia seperti seseorang yang terus-menerus menemukan melodi bahkan ketika industri sedang berubah, selera pasar bergeser, dan generasi penyanyi datang silih berganti.

Kariernya sendiri tidak dimulai dari posisi pencipta lagu yang duduk diam di balik meja kerja. Ia lebih dulu menjadi musisi panggung. Pada era 1970-an, ia bergabung dengan sejumlah kelompok musik yang cukup dikenal. Nama seperti Freedom of Rhapsody, God Bless, dan kemudian Super Kid, muncul dalam perjalanan kariernya. 

Indonesia waktu itu berbeda. Studio rekaman tidak semudah sekarang. Lagu tidak lahir dari laptop yang dibuka di kamar tidur. Musik lahir dari latihan panjang, peralatan yang sering terbatas, perjalanan antarkota yang melelahkan, dan pertunjukan langsung yang kadang berlangsung sampai larut malam dengan asap rokok memenuhi ruangan.

Mungkin karena latar belakang itulah lagu-lagu Deddy Dores memiliki karakter yang sangat langsung. Ia tidak terlalu tertarik bermain-main dengan kerumitan lirik yang membutuhkan pembacaan berlapis. Banyak lagunya berbicara tentang cinta, kehilangan, pengkhianatan, kerinduan, penyesalan. Tema-tema yang sebenarnya sangat umum. 

Menurut saya, di situlah kekuatannya. Ia memahami pasar Indonesia dengan naluri yang tajam. Banyak pencipta lagu berusaha menjadi penyair. Deddy Dores tampaknya lebih tertarik menjadi komunikator. Ia tahu kalimat mana yang mudah diingat orang yang sedang naik bus antarkota. Ia tahu bagian mana yang akan dinyanyikan kembali oleh penonton di hajatan, warung kopi, terminal, atau radio daerah.  

Kecerdasan semacam itu sering diremehkan karena tampak sederhana. Padahal menciptakan lagu yang rumit jauh lebih mudah daripada menciptakan lagu yang bisa dinyanyikan jutaan orang. Kesederhanaan yang efektif adalah pekerjaan yang sulit.

Hubungannya dengan Nike Ardilla menjadi salah satu bagian paling penting dalam sejarah musik populer Indonesia. Ketika Nike masih belia, Deddy Dores melihat sesuatu yang mungkin belum dilihat banyak orang lain. Industri musik penuh anak muda berbakat. Tidak semuanya berubah menjadi fenomena nasional. 

Nike berubah menjadi fenomena nasional. Lagu-lagu ciptaan Deddy Dores membantu membangun identitas musikal Nike. Hubungan mereka bukan sekadar hubungan pencipta lagu dan penyanyi. Nama keduanya begitu sering muncul bersama sampai terasa seperti satu paket budaya pop pada awal 1990-an. 

Ketika mendengarkan lagu seperti "Bintang Kehidupan", sulit mengabaikan bagaimana lagu itu dibangun. Tidak rumit. Tidak penuh eksperimen. Melodinya langsung menghantam. Emosinya disampaikan tanpa malu-malu. 

Banyak kritikus musik modern mungkin menganggap pendekatan seperti itu terlalu gamblang. Pendengar Indonesia saat itu justru menyambutnya dengan tangan terbuka. Kaset-kaset terjual dalam jumlah besar. Radio memutarnya berulang kali. Di toko kaset, sampul album Nike menjadi salah satu benda yang paling mudah ditemukan.

Kematian Nike Ardilla pada 1995 membuat banyak orang teringat kembali pada Deddy Dores. Indonesia waktu itu seperti berhenti sejenak. Orang-orang yang mengalami masa itu biasanya masih ingat bagaimana berita kecelakaan tersebut menyebar. Televisi, radio, koran, percakapan tetangga. Nama Nike memenuhi ruang publik. Lagu-lagu yang sebelumnya populer mendadak terdengar berbeda. Sebagian besar lagu itu membawa sidik jari musikal Deddy Dores. 

Beberapa tahun kemudian, generasi baru mengenal nama lain: Nafa Urbach. Lagi-lagi Deddy Dores berada di dekat pusat proses kelahiran seorang bintang. Itu yang menarik. Banyak pencipta lagu hanya berhasil sekali menemukan talenta besar. Deddy Dores melakukannya lebih dari sekali, bahkan berkali-kali. Ia memiliki kemampuan membaca pasar sekaligus membaca manusia. Dua kemampuan yang tidak selalu muncul bersamaan.

Industri musik Indonesia penuh cerita tentang penyanyi yang gagal mempertahankan popularitas. Penyanyi datang dan pergi seperti musim. Deddy Dores justru bertahan melewati pergantian musim tersebut. Namanya muncul di berbagai era, dengan penyanyi yang berbeda-beda. Ketika satu generasi mulai menghilang dari panggung, ia sudah bekerja dengan generasi berikutnya. 

Kadang saya merasa pencipta lagu produktif seperti Deddy Dores kurang mendapat tempat dalam ingatan kolektif dibanding penyanyi yang membawakan lagu mereka. Orang mengenali suara. Orang mengenali wajah di sampul album. Orang mengenali artis yang tampil di televisi. Nama pencipta lagu sering tertinggal dalam tulisan kecil di bagian belakang kaset. 

Padahal dari sanalah semuanya dimulai. Sebelum panggung, sebelum lampu sorot, sebelum ribuan penonton bernyanyi bersama, seseorang harus duduk dan menulis lagu itu terlebih dulu. 

Produktivitas Deddy Dores sendiri hampir terasa tidak masuk akal. Ribuan lagu berarti ribuan kali memulai dari halaman kosong. Ribuan kali mencari melodi baru. Ribuan kali memikirkan susunan kata yang tidak terasa sama dengan karya sebelumnya. Banyak penulis mengalami kebuntuan setelah beberapa karya. Banyak musisi mengulang formula yang sama sampai habis. Deddy Dores memang memiliki formula tertentu, tetapi ia mampu memeras formula itu menjadi katalog yang luar biasa panjang. 

Mungkin karena ia lahir dari generasi musisi yang bekerja seperti pekerja pabrik sekaligus seniman. Jadwal rekaman padat. Permintaan industri tinggi. Tenggat waktu pendek. Dunia musik Indonesia pada masa kaset bergerak cepat. Album harus selesai. Lagu harus tersedia. Penyanyi membutuhkan materi baru. Di tengah ritme seperti itu, Deddy Dores terus menghasilkan lagu.

Ketika mendengar nama-nama besar yang pernah bekerja dengannya, yang terlihat bukan hanya seorang pencipta lagu. Terlihat seorang penghubung. Seorang figur yang berdiri di antara studio rekaman, produser, penyanyi, musisi pengiring, perusahaan rekaman, dan pasar yang terus berubah. Ia menyambungkan semuanya melalui lagu.

Beberapa musisi dikenang karena satu karya besar. Sebagian dikenang karena satu album legendaris. Deddy Dores meninggalkan jejak yang berbeda. Jejaknya tersebar di mana-mana. Di radio tua yang masih memutar lagu-lagu era 1990-an. Di kaset berdebu yang tersimpan dalam lemari. Di warung kopi yang kadang masih memutar lagu Nike Ardilla menjelang malam. Di konser nostalgia yang penontonnya kini beruban. 

Nama pencipta lagunya sering lewat begitu saja ketika kredit penutup selesai dibaca. Musiknya tetap tinggal. Dan jumlahnya terlalu banyak untuk diabaikan.


Related

Tokoh 5702549455558687341

Posting Komentar

emo-but-icon

Terbaru

Banyak Dibaca

Ebook BSM

Mengapa Dunia Seperti Sekarang? 100 Peristiwa yang Membentuk Dunia Kita

Pernah bertanya-tanya, mengapa dunia seperti sekarang? Mengapa dunia terbagi-bagi dalam banyak negara? Mengapa ada orang-orang yang sangat k...

item