Seorang Pria Gantung Diri karena Banyak Utang demi Nikahkan Anak

Ilustrasi/um-surabaya.ac.id
Tenda pernikahan sudah berdiri. Kursi-kursi plastik sudah tersusun. Sebagian bahan makanan mungkin sudah dibeli. Nama mempelai sudah tersebar dari mulut ke mulut di Kecamatan Semen, Kabupaten Kediri. Dalam hitungan jam, sebuah keluarga seharusnya memasuki salah satu momen yang paling dirayakan dalam budaya Indonesia: menikahkan anak perempuan.

Yang terjadi justru sebaliknya.

Seorang buruh bangunan berusia 51 tahun berinisial S ditemukan meninggal dunia di rumahnya pada pagi hari. Orang pertama yang menemukan jasadnya bukan tetangga, bukan perangkat desa, bukan kerabat jauh yang datang membantu persiapan hajatan. Yang menemukan adalah putranya sendiri yang masih berusia empat tahun. Bagian itu membuat saya berhenti lebih lama dibanding detail lain dalam berita.

Anak berusia empat tahun belum memahami utang. Belum memahami biaya pesta. Belum memahami tekanan sosial. Dunia seorang anak seusia itu biasanya berisi mainan, makanan kesukaan, dan orang tua yang dianggap akan selalu ada ketika ia membuka mata pada pagi hari. Pagi itu berbeda.

Kisah itu cepat menyebar karena memuat ironi yang terlalu tajam untuk diabaikan. Sehari sebelum akad nikah putrinya, sang ayah meninggal dunia. Akad kemudian tetap berlangsung. Pengantin perempuan, RDS yang baru berusia 17 tahun, menikah dengan calon suaminya, FF, di hadapan jenazah ayahnya yang sedang disemayamkan.

Berita semacam itu sering dibaca orang dengan perasaan campur aduk. Sedih, tentu saja. Terkejut juga. Sebagian mungkin langsung mencari sosok yang bisa disalahkan. Istri. Keluarga. Tradisi. Rentenir. Tetangga. Masyarakat desa. Kenyataan biasanya lebih kusut.

Menurut keterangan kepolisian, S diketahui bekerja sebagai buruh bangunan di Kalimantan. Ia baru pulang ke Kediri sekitar sebulan sebelum pernikahan putrinya. Polisi juga menyebut bahwa ia memiliki banyak utang yang diduga digunakan untuk membiayai pesta pernikahan anaknya. Kapolsek Semen saat itu, AKP Ni Ketut Suartiningsih, mengatakan bahwa sang istri menginginkan hajatan yang meriah.

Kata "meriah" terdengar biasa dalam percakapan sehari-hari. Hampir tidak ada yang aneh. Orang tua ingin pernikahan anak meriah. Tetangga ingin pernikahan anak meriah. Keluarga besar ingin pernikahan anak meriah. Masalah muncul ketika kata itu bertemu dengan angka di buku utang.

Masyarakat Indonesia memiliki hubungan yang rumit dengan pesta pernikahan. Secara resmi, semua orang tahu bahwa akad nikah adalah inti acara. Secara praktik, urusannya jauh lebih panjang. Tenda harus bagus. Konsumsi harus cukup. Musik harus tersedia. Saudara jauh harus diundang. Kerabat yang datang dari luar kota harus dihormati. Keluarga takut dianggap pelit. Takut dianggap tidak menghargai tamu. Takut menjadi bahan pembicaraan setelah acara selesai.

Ketakutan sosial sering bekerja diam-diam. Tidak ada orang yang berdiri di depan rumah sambil mengacungkan senjata dan memaksa seseorang menggelar pesta besar. Tekanan muncul melalui obrolan kecil, perbandingan, komentar yang terdengar sepele, dan kebiasaan yang diwariskan begitu lama sampai terasa alami.

"Anak si anu kemarin pestanya besar."

"Masak anak perempuan satu-satunya tidak dibuatkan hajatan yang layak?"

"Kan, cuma sekali seumur hidup."

Kalimat-kalimat seperti itu ringan ketika diucapkan. Ringan pula ketika didengar oleh orang yang memiliki uang cukup.

Beban kalimat berubah ketika masuk ke kepala seseorang yang harus menghitung harga beras, biaya sekolah, cicilan motor, dan tagihan utang dalam waktu yang sama.

Saya membayangkan S selama bekerja di Kalimantan. Bukan sebagai tokoh berita, tapi sebagai buruh bangunan biasa. Bangun pagi. Mengangkat semen. Menghirup debu proyek. Kulit menghitam karena matahari. Tangan mengeras. Punggung terasa berat menjelang malam. Banyak pekerja migran domestik hidup dengan ritme seperti itu bertahun-tahun.

Sebagian besar dari mereka memiliki tujuan sederhana. Membangun rumah. Menyekolahkan anak. Menikahkan anak. Tujuan-tujuan yang terdengar biasa sering membutuhkan pengorbanan yang tidak biasa.

Berita mengenai kematian S memunculkan pertanyaan yang mengganggu saya—bukan tentang dirinya, tapi tentang standar yang diam-diam kita ciptakan. Mengapa begitu banyak keluarga berpenghasilan pas-pasan merasa harus mengadakan pesta yang melampaui kemampuan keuangan mereka? Mengapa pesta pernikahan sering menjadi ajang pembuktian status bagi orang yang sebenarnya sedang kesulitan membayar kebutuhan sehari-hari?

Sebagian orang akan menjawab bahwa pesta juga merupakan bentuk syukur. Saya setuju. Masalahnya, rasa syukur dan tekanan sosial sering bercampur sampai sulit dibedakan.

Di banyak desa dan kota kecil, pesta pernikahan tidak hanya menjadi urusan dua mempelai. Acara itu berubah menjadi urusan reputasi keluarga. Nama baik ikut dipertaruhkan. Penilaian masyarakat ikut masuk ke dalam perhitungan. Dalam suasana seperti itu, keputusan ekonomi kadang berhenti menjadi keputusan ekonomi.

Ia berubah menjadi keputusan emosional. Satu keluarga ingin terlihat mampu walaupun sebenarnya tidak mampu. Keluarga lain memaksakan diri karena tidak ingin kalah dari tetangga. Lingkaran itu berputar terus.

Pemandangan yang paling menghantam dalam kasus ini bukan laporan polisi, bukan pula rincian penyelidikan. Pemandangan yang paling menghantam adalah akad nikah yang berlangsung di rumah duka.

Coba bayangkan suasananya secara konkret. Tenda masih berdiri. Pelayat keluar masuk rumah. Bunga-bunga pemakaman bercampur dengan perlengkapan pernikahan. Sebagian tamu mungkin mengenakan pakaian gelap. Sebagian lain mungkin datang dengan pakaian yang sudah disiapkan untuk menghadiri resepsi. Bau kopi, teh hangat, dan makanan untuk tamu bercampur dengan suasana kehilangan.

Pengantin perempuan duduk untuk mengucapkan janji pernikahan ketika ayahnya sudah tidak bisa lagi menyaksikan acara yang selama berbulan-bulan mungkin menjadi pusat pikirannya.

Mata siapa yang tidak sembab saat itu? Telinga siapa yang tidak berdenging mendengar ijab kabul dalam suasana seperti itu?

Berita ini sering dibaca sebagai tragedi keluarga. Saya membacanya juga sebagai cerita tentang benturan antara kemampuan ekonomi dan tuntutan sosial. S berada di titik pertemuan dua tekanan yang tidak kecil: kewajiban sebagai ayah dan keterbatasan sebagai pencari nafkah. Sebagian orang berhasil melewati benturan semacam itu. Sebagian tidak.

Keluarga kemudian menolak autopsi, dan menerima bahwa kematian tersebut murni akibat tindakan yang dilakukan sendiri. Polisi menutup penyelidikan dengan kesimpulan yang relatif jelas. S bunuh diri.

Yang tidak pernah benar-benar selesai adalah urusan yang tersisa setelah berita berhenti dimuat. Utang tidak langsung hilang. Kenangan tidak langsung hilang. Anak berusia empat tahun tetap harus tumbuh. Pasangan yang baru menikah tetap harus menjalani kehidupan rumah tangga.

Tenda pernikahan pada akhirnya akan dibongkar. Kursi-kursi akan diangkut kembali. Para tamu pulang. Jalan desa kembali sepi.

Sore hari turun pelan-pelan di Semen, Kediri. Di salah satu sudut rumah, mungkin masih tersisa undangan yang belum sempat dikirim.


Related

Indonesia 3616520570476655580

Posting Komentar

emo-but-icon

Terbaru

Banyak Dibaca

Ebook BSM

Mengapa Dunia Seperti Sekarang? 100 Peristiwa yang Membentuk Dunia Kita

Pernah bertanya-tanya, mengapa dunia seperti sekarang? Mengapa dunia terbagi-bagi dalam banyak negara? Mengapa ada orang-orang yang sangat k...

item