Ikhwan as-Shafa, Persaudaraan Rahasia Para Intelektual Muslim Kuno

Ilustrasi/tafsiralquran.id
Basra menyimpan banyak rahasia pada abad ke-10. Kota pelabuhan di selatan Irak itu dipenuhi kapal-kapal dari India, Afrika Timur, Persia, dan Teluk Arab. Bau rempah bercampur lumpur sungai. Para pedagang berbicara dalam bahasa Arab, Persia, Suryani, bahkan bahasa yang tak dikenal sebagian besar penduduk kota. 

Di masjid, para ulama berdebat tentang hadis dan hukum. Di pasar buku, para penerjemah memperjualbelikan gagasan-gagasan Yunani yang baru beberapa generasi sebelumnya dianggap asing. Di tengah keramaian intelektual semacam itu, muncul sebuah kelompok yang hingga hari ini masih terasa ganjil: Ikhwan as-Shafa, Persaudaraan Kesucian.

Mereka tidak meninggalkan istana. Mereka tidak mendirikan dinasti. Mereka tidak memimpin pasukan. Nama-nama mereka pun sebagian besar hilang. Yang tersisa adalah puluhan risalah tebal yang membahas hampir segala hal yang bisa dipikirkan manusia: matematika, astronomi, musik, geografi, logika, zoologi, metafisika, politik, hingga nasib jiwa setelah kematian. Kelompok itu terasa seperti perpustakaan yang menyamar jadi organisasi rahasia.

Sejarahwan masih berdebat mengenai siapa sebenarnya anggota Ikhwan as-Shafa. Beberapa nama sering muncul dalam dugaan, seperti Abu Sulayman al-Maqdisi, Abu al-Hasan al-Zanjani, atau Ali ibn Harun al-Zanjani. Tak satu pun dapat dipastikan sepenuhnya. Kerahasiaan tampaknya memang disengaja. Mereka hidup pada masa ketika dunia Islam sedang dipenuhi pertarungan ideologi. Kekhalifahan Abbasiyah masih berdiri, tetapi kekuasaannya tidak lagi mutlak. Dinasti-dinasti regional bermunculan. Kelompok Sunni, Syiah, Mu'tazilah, Hanbali, dan berbagai aliran lain saling menyerang secara intelektual maupun politik. Dalam situasi seperti itu, menyebarkan gagasan filsafat secara terbuka bukan selalu pilihan yang aman.

Ikhwan as-Shafa menyebut diri mereka sebagai persaudaraan yang bertujuan menyucikan jiwa melalui ilmu pengetahuan. Frasa itu terdengar sederhana sampai seseorang membuka karya mereka yang paling terkenal, Rasa'il Ikhwan al-Shafa—Ensiklopedia Persaudaraan Kesucian. Isinya sekitar lima puluh dua risalah yang membentuk salah satu proyek intelektual paling ambisius dalam sejarah Islam.

Mereka tampaknya memiliki keyakinan yang hampir naif sekaligus radikal: seluruh pengetahuan manusia sebenarnya saling terhubung.

Matematika tidak berdiri sendiri. Musik terkait dengan matematika. Astronomi terkait dengan musik. Politik terkait dengan kosmologi. Jiwa manusia terkait dengan gerak bintang. Alam semesta dipahami sebagai satu struktur besar yang teratur, dan tugas manusia adalah memahami pola-pola itu sebelum kematian menghentikan kesempatan belajar.

Pembaca modern kadang tersenyum melihat beberapa bagian tulisan mereka. Dalam salah satu risalah zoologi, Ikhwan as-Shafa membahas hewan-hewan dengan cara yang mencampurkan pengamatan nyata dan legenda kuno. Mereka dapat berbicara tentang perilaku semut dengan cukup rinci, lalu berpindah ke kisah makhluk yang berasal dari tradisi Yunani atau Persia. Batas antara ilmu pengetahuan dan simbolisme belum setegas sekarang. Tetapi menganggap mereka sekadar kumpulan pemikir eksentrik akan keliru.

Mereka hidup pada masa ledakan intelektual yang luar biasa. Beberapa generasi sebelumnya, Baghdad telah menjadi pusat Gerakan Penerjemahan. Karya-karya Aristotle, Plato, Pythagoras, dan Euclid diterjemahkan ke bahasa Arab. Naskah-naskah dari Alexandria, Gundishapur, dan tradisi Suryani mengalir ke dunia Islam. Ikhwan as-Shafa berdiri di tengah persimpangan itu dan tampaknya ingin membangun sistem besar yang mampu menampung semuanya.

Mereka mengagumi Pythagoras secara hampir berlebihan. Angka-angka bukan sekadar alat hitung, tapi struktur terdalam realitas. Musik menjadi penting karena harmoni nada dianggap mencerminkan harmoni kosmos. Jika seseorang mendengar alat musik petik dimainkan dengan baik pada malam hari di Basra, bagi Ikhwan as-Shafa pengalaman itu bukan hanya hiburan. Harmoni bunyi menjadi petunjuk tentang bagaimana alam semesta bekerja.

Pandangan seperti itu terdengar asing bagi telinga modern yang terbiasa memisahkan fisika dari etika, matematika dari agama, atau astronomi dari spiritualitas.

Karya mereka juga memperlihatkan ketertarikan yang luar biasa pada gagasan evolusi bertingkat. Mereka menggambarkan alam sebagai rantai keberadaan yang bergerak dari mineral ke tumbuhan, dari tumbuhan ke hewan, lalu menuju manusia. Sebagian penulis modern terlalu tergesa-gesa menyebut mereka sebagai pendahulu Darwin. Klaim itu berlebihan. Ikhwan as-Shafa tidak berbicara tentang seleksi alam sebagaimana dipahami biologi modern. Namun sulit mengabaikan keberanian mereka membayangkan alam sebagai proses yang berkesinambungan, bukan kumpulan kategori yang sepenuhnya terpisah.

Salah satu bagian paling aneh dari seluruh ensiklopedia mereka adalah kisah "Perkara Hewan Melawan Manusia". Dalam alegori tersebut, berbagai spesies hewan mengajukan gugatan terhadap umat manusia di hadapan raja jin. Keledai, unta, lebah, burung, dan hewan lain mengeluhkan perlakuan manusia yang eksploitatif. Teks itu ditulis seribu tahun sebelum istilah hak-hak hewan menjadi bagian dari perdebatan modern.

Membaca bagian itu sekarang terasa sedikit tidak nyaman. Seekor hewan dalam cerita mereka dapat berbicara dengan argumen yang lebih masuk akal daripada banyak komentar internet abad ke-21.

Hubungan Ikhwan as-Shafa dengan Syiah Ismailiyah masih jadi bahan perdebatan panjang. Banyak peneliti melihat jejak kuat pemikiran Ismaili dalam struktur kosmologi dan hierarki pengetahuan mereka. Sebagian lain menganggap hubungan itu lebih longgar. Kerumitan itu diperparah oleh kenyataan bahwa kelompok tersebut sengaja menyembunyikan identitas dan tujuan politik mereka.

Kerahasiaan itu menghasilkan aura yang hampir mirip organisasi bawah tanah modern. Mereka mengadakan pertemuan rutin. Mereka memilih anggota secara selektif. Mereka membangun jaringan intelektual yang melampaui kota dan wilayah tertentu. Tulisan-tulisan mereka beredar dari Basra menuju Baghdad, Persia, Yaman, hingga Afrika Utara.

Seseorang dapat membayangkan sebuah rumah di Basra menjelang malam. Lampu minyak menyala redup. Rak-rak kayu dipenuhi manuskrip. Udara terasa hangat dan agak pengap. Seorang anggota membaca bagian dari Euclid. Anggota lain menanggapi dengan kutipan Al-Qur'an. Yang lain lagi menghubungkannya dengan teori musik. Gulungan kertas berpindah tangan. Tinta mengering perlahan di atas halaman.

Tidak ada catatan yang benar-benar menggambarkan adegan seperti itu. Justru karena tidak ada, pikiran mudah mengisinya sendiri.

Warisan Ikhwan as-Shafa bergerak jauh melampaui Basra. Risalah mereka dibaca oleh para pemikir Ismailiyah di Mesir Fatimiyah. Pengaruhnya muncul dalam tradisi filsafat Islam berikutnya, meskipun sering secara tidak langsung. Sebagian gagasan mereka diterima, sebagian ditolak, sebagian larut tanpa jejak yang jelas. Nasib seperti itu umum terjadi dalam sejarah intelektual. Banyak ide tidak mati; hanya kehilangan label asalnya.

Ketika orang membicarakan Zaman Keemasan Islam, perhatian biasanya tertuju pada tokoh-tokoh besar seperti Al-Farabi, Ibn Sina, atau Al-Biruni. Ikhwan as-Shafa terasa berbeda karena sulit dipersonifikasikan. Tidak ada wajah tunggal yang bisa dicetak di sampul buku. Tidak ada makam terkenal yang bisa diziarahi. Yang bertahan adalah suara kolektif yang berbicara dari balik halaman-halaman manuskrip.

Suara itu kadang terdengar sangat cerdas, kadang terlalu percaya pada numerologi, kadang mengagumkan, kadang membuat alis terangkat. Mereka menyusun salah satu proyek ensiklopedis terbesar pada zamannya, lalu menghilang ke dalam kabut sejarah.

Di perpustakaan-perpustakaan tua dari Istanbul sampai Teheran masih tersimpan salinan Rasa'il Ikhwan al-Shafa. Nama para penulisnya tetap samar. Halaman-halaman itu masih membawa jejak jari para penyalin yang telah lama menjadi debu. Basra sendiri telah berubah berkali-kali—dilanda perang, banjir, pergantian dinasti, dan kekacauan politik—sementara kelompok yang mungkin pernah berkumpul diam-diam di salah satu sudut kotanya terus menolak untuk menjadi jelas.


Related

Sejarah 6274133969067945256

Posting Komentar

emo-but-icon

Terbaru

Banyak Dibaca

Ebook BSM

Mengapa Dunia Seperti Sekarang? 100 Peristiwa yang Membentuk Dunia Kita

Pernah bertanya-tanya, mengapa dunia seperti sekarang? Mengapa dunia terbagi-bagi dalam banyak negara? Mengapa ada orang-orang yang sangat k...

item