Woolsack, Kisah Sekarung Wol Domba dari Abad Pertengahan


Ruangan itu dipenuhi mantel hitam, wig putih, dan suara-suara yang dijaga agar tetap rendah. Di tengah kemegahan kayu ek dan tata upacara yang terasa terlalu tua untuk abad modern, ada sebuah benda yang tampak nyaris absurd; bantal merah besar berisi wol. Bukan singgasana emas. Bukan kursi dengan ukiran heraldik rumit. Karung wol.

Di sanalah Lord Chancellor duduk selama berabad-abad ketika memimpin sidang di House of Lords, di Istana Westminster, London. Woolsack. Nama yang terdengar seperti benda gudang pelabuhan abad pertengahan, bukan bagian dari jantung politik salah satu kerajaan paling berpengaruh dalam sejarah dunia.

Turis yang datang ke Westminster sering lebih terpukau pada Big Ben, lorong-lorong batu yang dingin, atau langit-langit bergaya Gothic Revival karya Charles Barry dan Augustus Pugin. Woolsack sering cuma lewat sebagai trivia eksentrik Inggris; “oh ya, ketuanya duduk di atas karung wol.” Padahal benda itu jauh lebih jujur daripada pidato-pidato politik di ruangan tersebut. Ia mengingatkan sesuatu yang tidak nyaman; kekuasaan besar Inggris dibangun dari perdagangan, dan perdagangan itu dibangun dari bulu domba.

Wol pernah menjadi minyak bumi Inggris sebelum minyak bumi ditemukan.

Sulit membayangkan hal itu sekarang, ketika Inggris identik dengan bank, universitas elite, dan nostalgia kerajaan yang dijual dalam bentuk mug suvenir di toko dekat Trafalgar Square. Tetapi selama ratusan tahun, wol adalah mesin ekonomi Inggris. Raja-raja Inggris tidak hanya memerintah tanah; mereka memerintah domba.

Pada abad ke-13 dan ke-14, wol Inggris dianggap salah satu yang terbaik di Eropa. Dataran berbukit di Cotswolds, Lincolnshire, sampai Yorkshire dipenuhi peternakan domba. Kota-kota seperti Norwich dan Lincoln tumbuh kaya karena tekstil. Para pedagang wol membangun gereja-gereja besar dengan uang mereka. Di banyak kota kecil Inggris masih berdiri “wool churches”, gereja megah yang ukurannya terasa aneh untuk populasi desa yang kecil. Batu-batunya dibayar oleh wol.

Raja-raja memahami betul uang mengalir dari mana. Edward III memungut pajak besar dari ekspor wol untuk membiayai perang melawan Prancis dalam Perang Seratus Tahun. Mahkota Inggris nyaris kecanduan pada wol. Tidak ada wol, tidak ada perang. Tidak ada perang, tidak ada kejayaan monarki.

Orang sering membayangkan kekaisaran lahir dari pedang atau kapal perang. Pedang dan kapal perang mahal. Domba lebih penting.

Di aula parlemen lama, para pejabat tinggi duduk di atas karung wol sebagai pengingat terang-terangan bahwa kemakmuran negara berasal dari perdagangan itu. Simbolismenya bahkan tidak disembunyikan. Inggris cukup vulgar soal uang pada masa itu. Mereka tidak membungkusnya dengan bahasa-bahasa abstrak tentang “kemajuan nasional” atau “visi ekonomi”. Wol menghasilkan uang. Uang menghasilkan kerajaan.

Karung wol itu sendiri dulunya benar-benar karung. Besar, berat, dan kasar. Orang-orang abad pertengahan hidup lebih dekat dengan tekstur benda dibanding manusia modern. Mereka tahu bau wol basah. Tahu rasa gatal kain yang belum diproses sempurna. Tahu bagaimana wol menyimpan lembap dan aroma kandang. Ruang sidang parlemen modern sekarang steril dan dipoles, tetapi simbolnya berasal dari benda yang dulu mungkin meninggalkan serpihan-serpihan serat di pakaian bangsawan.

Ada detail yang cukup ironis; Lord Chancellor duduk di atas simbol perdagangan, tetapi perdagangan wol Inggris sendiri bertahun-tahun bergantung pada tenaga petani kecil dan pekerja miskin yang hidup jauh dari aula Westminster. Nama mereka tidak tercatat sebaik nama para bangsawan.

Thomas Wolsey, penasihat terkenal Henry VIII, pernah mengeluh tentang enclosure, praktik penguasaan lahan bersama untuk peternakan domba skala besar. Domba menghasilkan lebih banyak uang dibanding pertanian. Petani pun diusir. Tanah dipagar. Desa berubah.

“A sheep devours men,” tulis Thomas More dalam Utopia. Domba memakan manusia. Kalimat itu terdengar seperti satire mabuk, tetapi sebenarnya cukup literal. Industri wol membuat banyak petani kehilangan tanah dan pekerjaan.

Ruangan House of Lords sekarang penuh tradisi yang terlihat teatrikal. Para bangsawan memakai jubah merah dengan bulu ermine putih. Upacara pembukaan parlemen memiliki Black Rod yang mengetuk pintu Commons tiga kali. Semua tampak seperti pertunjukan sejarah hidup untuk BBC.

Lalu ada woolsack di tengahnya, bentuknya kotak besar merah menyala, agak canggung secara visual. Seperti furnitur yang salah kirim.

Woolsack modern di House of Lords diisi wol dari seluruh bagian Britania Raya dan Persemakmuran; Inggris, Skotlandia, Wales, Irlandia Utara, bahkan Australia dan Selandia Baru pernah menyumbang wol untuk pengisiannya. Simbol imperialisme terselip di sana juga. Inggris tidak pernah benar-benar berhenti mengubah perdagangan menjadi ritual kenegaraan.

Orang Inggris punya kebiasaan aneh mempertahankan simbol bahkan ketika makna aslinya sudah lama kabur. Mereka mempertahankan pedang upacara, gada parlemen, seruan-seruan Norman French seperti “Le Roy le veult”. Woolsack bertahan karena tradisi Inggris sering bekerja seperti loteng rumah tua; barang lama tidak dibuang, hanya dipindahkan sedikit dan terus diwariskan.

Kadang saya curiga banyak tradisi Inggris bertahan bukan karena masyarakatnya terlalu menghormati sejarah, tapi karena mereka terlalu malas membongkarnya sepenuhnya.

Tetapi woolsack punya sesuatu yang berbeda. Ia terlalu telanjang sebagai simbol ekonomi. Tidak romantis. Tidak heroik. Bayangkan kalau parlemen negara modern lain meletakkan simbol industri paling dominan mereka di kursi ketua sidang. Ketua parlemen duduk di atas tumpukan minyak sawit. Atau litium. Atau semikonduktor.

Inggris melakukannya tanpa malu.

Di Westminster, wisatawan biasanya memotret dari kejauhan. Lampu-lampu kuning memantul pada kayu tua. Udara ruangan terasa agak pengap, campuran debu karpet, kain tua, dan pendingin udara modern yang kalah oleh usia bangunan. Kalau berdiri cukup lama di House of Lords, mata bisa sedikit pedih. Entah karena pencahayaan atau karena ruangan itu terlalu penuh sejarah yang sengaja diawetkan.

Woolsack juga pernah menjadi sasaran kritik. Ketika jabatan Lord Chancellor direformasi lewat Constitutional Reform Act 2005, fungsi yudisial dan legislatifnya dipisahkan. Orang bertanya-tanya apakah simbol-simbol lama seperti itu masih relevan. Tetapi Inggris punya hubungan emosional dengan benda-benda tua. Mereka bisa memperdebatkan Brexit habis-habisan, tetapi tetap mempertahankan ritual abad pertengahan dengan keseriusan nyaris religius.

Lucu juga memikirkan bahwa di era algoritma, AI, perdagangan derivatif, dan pasar mata uang digital, salah satu pusat kekuasaan politik dunia masih menempatkan sekarung wol sebagai furnitur utama.

Mungkin karena negara-negara modern sebenarnya tidak pernah sepenuhnya modern. Mereka hanya menumpuk lapisan baru di atas naluri lama; dagang, pajak, perang, simbol. Kadang simbol itu berubah menjadi gedung pencakar langit. Kadang tetap berupa bantal merah besar yang asal-usulnya dari kandang domba basah di Yorkshire tujuh ratus tahun lalu.

Peternak-peternak abad pertengahan yang menggiring domba melintasi bukit berlumpur mungkin tidak pernah membayangkan wol dari hewan mereka akan berubah menjadi lambang negara. Mereka cuma memikirkan cuaca, harga pasar di Flanders, atau apakah hujan akan merusak bulu domba sebelum dicukur.

Di House of Lords, seorang pejabat duduk di atas wol sambil membacakan prosedur parlemen dengan suara tenang dan datar. Di luar, London bergerak dengan bunyi sirene, bus merah, turis yang antre di Westminster Bridge, pekerja kantor yang makan sandwich tergesa di bangku taman St. James’s.

Karung wol itu masih di sana. Merah. Diam. Agak ganjil. Seperti sesuatu yang lolos dari abad ke-14 lalu menolak pergi.

Related

Umum 2125759601709556236

Posting Komentar

emo-but-icon

Terbaru

Banyak Dibaca

Ebook BSM

Mengapa Dunia Seperti Sekarang? 100 Peristiwa yang Membentuk Dunia Kita

Pernah bertanya-tanya, mengapa dunia seperti sekarang? Mengapa dunia terbagi-bagi dalam banyak negara? Mengapa ada orang-orang yang sangat k...

item