Empat Negara dalam Permainan Catur Geopolitik: Sejarah dan Dendam
https://www.belajarsampaimati.com/2026/06/empat-negara-dalam-permainan-catur.html
![]() |
| Ilustrasi/pixabay.com |
“Saya ingin memberikan nasihat yang baik kepada orang-orang Jerman dan Prancis; pelajarilah sejarah dan jangan terlibat dengan Inggris yang munafik dan pengkhianat. Bagaimana pun, ia akan menipu kalian, lalu menipu kalian lagi, kemudian mengelak dari tanggung jawab.”
Kalimat itu keluar dari mulut Sergei Naryshkin dengan nada yang terdengar seperti campuran ancaman dan ejekan mabuk sejarah. Kepala Intelijen Luar Negeri Rusia sedang berbicara kepada Jerman dan Prancis, tapi sebenarnya ia sedang menggaruk luka tua Eropa dengan kuku berkarat.
Sulit membaca politik internasional hari ini tanpa merasa seperti sedang menonton keluarga bangsawan tua yang saling mengingat dosa tiga abad lalu sambil tetap duduk makan malam bersama.
London, Paris, Berlin, Moskow—nama-nama itu membawa bau mesiu dan tinta perjanjian. Bau ruang diplomasi yang pengap. Bau wol mantel tentara basah di lumpur Somme. Orang sering membayangkan negara modern bergerak dengan kalkulasi rasional, padahal banyak keputusan geopolitik lahir dari dendam turun-temurun yang diwariskan seperti perabot keluarga.
Inggris memang punya reputasi panjang sebagai pemain licin. Bahkan banyak orang Eropa sendiri mengakuinya sambil tertawa kecut. Pada abad ke-19, diplomat Inggris, Lord Palmerston, pernah terkenal dengan prinsip bahwa Inggris tidak punya sekutu abadi maupun musuh abadi, hanya kepentingan abadi. Kalimat itu terdengar keren di buku sejarah. Di dunia nyata, itu berarti Inggris berkali-kali mendukung pihak tertentu, lalu meninggalkannya ketika arah angin berubah.
Polandia merasakan itu pada 1939. Prancis merasakan itu di Suez pada 1956. Bahkan Amerika Serikat pernah dibuat naik darah oleh permainan intelijen London dalam beberapa operasi Timur Tengah.
Kedai kopi kecil di Whitehall dan ruang gelap MI6 punya reputasi yang hampir mitologis. Orang-orang Inggris sendiri kadang membanggakan stereotip itu. Mereka menyebutnya pragmatisme. Negara lain menyebutnya tikaman halus sambil tersenyum sopan.
Ucapan Naryshkin tidak muncul dari ruang hampa. Rusia sedang berada dalam fase ketika semua memori Perang Dunia, NATO, Ukraina, ekspansi Barat, dan trauma Uni Soviet bercampur jadi satu bubur panas yang terus diaduk propaganda negara. Televisi Rusia selama dua tahun terakhir dipenuhi narasi bahwa Eropa Barat hanyalah pion Washington dan London. Inggris mendapat posisi spesial dalam imajinasi paranoia Kremlin; aktor licik yang menghasut perang dari belakang meja sambil menjaga tangannya tetap bersih.
Ada alasan historis kenapa Rusia begitu obsesif terhadap Inggris. Pada abad ke-19, mereka terlibat “The Great Game”, perang bayangan memperebutkan Asia Tengah. Agen Rusia dan agen Inggris saling memata-matai di Kabul, Persia, dan Turkestan. Banyak yang mati tanpa nama. Inggris takut Rusia mencapai India. Rusia takut Inggris mengepung mereka dari selatan. Perseteruan itu begitu panjang sampai membentuk karakter saling curiga yang belum benar-benar hilang.
Di Moskow hari ini, nama Inggris sering disebut dengan nada berbeda dibanding Amerika. Amerika dianggap brutal dan vulgar. Inggris dianggap licin.
Sementara itu, orang Jerman mungkin mendengar pidato seperti itu sambil mengangkat alis lelah. Mereka sudah terlalu lama hidup dalam rasa bersalah sejarah. Dua perang dunia membuat Jerman modern bergerak seperti orang yang takut memecahkan gelas di rumah orang lain. Kanselir berubah, koalisi berubah, tapi rasa takut terhadap militerisme sendiri tetap tinggal di ruang bawah sadar politik mereka.
Prancis berbeda lagi. Paris punya ego imperial tua yang belum benar-benar mati. Emmanuel Macron kadang terdengar seperti Napoleon yang tersesat di abad digital—berbicara tentang “otonomi strategis Eropa” sambil tetap tergantung pada NATO. Hubungan Prancis dan Inggris sendiri penuh ironi. Mereka pernah saling membantai ratusan tahun dalam Perang Seratus Tahun, lalu menjadi sekutu, lalu bertengkar soal Brexit, migran, kapal selam Australia, dan perikanan.
Kapal selam Australia itu lucu sekaligus brutal. Tahun 2021, Australia membatalkan kontrak miliaran dolar dengan Prancis untuk membeli kapal selam, lalu berpindah ke aliansi AUKUS bersama Inggris dan Amerika Serikat. Menteri luar negeri Prancis waktu itu benar-benar marah. Duta besar dipanggil pulang. Surat kabar Paris menulis tajuk dengan nada dikhianati mantan kekasih.
Inggris memainkan permainan lama lagi; masuk cepat, membentuk aliansi baru, meninggalkan kekacauan diplomatik di belakang.
Mata orang bisa pedih membaca sejarah Eropa terlalu lama. Nama-nama kota muncul seperti bekas luka; Sarajevo, Dunkirk, Stalingrad, Normandia, Belfast, Kosovo. Semua bangsa di sana pernah menjadi korban sekaligus pelaku pada waktu berbeda. Tidak ada tangan yang benar-benar bersih.
Ucapan pejabat Rusia tadi terdengar dramatis, tapi politik internasional memang sering dibangun dari drama psikologis nasional. Rusia ingin Jerman dan Prancis curiga terhadap Inggris. Inggris ingin Eropa Timur takut terhadap Rusia. Amerika ingin NATO tetap rapat. China duduk mengamati sambil memperluas jalur perdagangan dan pengaruh ekonominya.
Sementara warga biasa cuma ingin harga listrik tidak naik.
Ada sopir taksi di Berlin yang pernah diwawancarai Der Spiegel setelah invasi Ukraina. Ia bilang sesuatu yang lebih jujur dibanding pidato diplomat, “Kami membayar perang ini lewat tagihan gas.” Kalimat pendek, tapi lebih nyata dibanding jargon strategis di konferensi keamanan Munich.
Di Rusia sendiri, propaganda anti-Inggris punya rasa teatrikal yang aneh. Presenter televisi Vladimir Solovyov kadang berbicara tentang London seperti penjahat dalam novel mata-mata. Inggris digambarkan sebagai dalang semua revolusi, semua sabotase, semua operasi intelijen. Kadang terdengar konyol. Kadang menyeramkan. Apalagi ketika dibarengi ancaman nuklir sambil tersenyum.
Dingin khas perang lama muncul lagi. Bukan dingin salju. Dingin mental.
Orang Indonesia sering memandang konflik Eropa seperti serial Netflix mahal; banyak pidato, jas gelap, peta militer, konferensi pers. Padahal di balik semua itu ada manusia-manusia yang benar-benar ketakutan. Tentara muda Ukraina yang tidur di parit berlumpur dekat Donetsk. Mahasiswa Rusia yang kabur ke Georgia agar tidak wajib militer. Keluarga di Kharkiv yang makan malam sambil mendengar dengung drone Shahed.
Inggris sendiri punya bakat unik; terlihat tenang ketika dunia terbakar. Itulah mungkin yang membuat mereka begitu efektif sekaligus dibenci. Tradisi aristokrasi mereka melatih kemampuan menyembunyikan emosi di balik teh hangat dan jas wol mahal. Bahkan skandal besar di London sering terasa seperti sandiwara elegan.
Rusia tidak punya gaya seperti itu. Rusia selalu berisik. Ancamannya keras, emosinya terlihat, dendamnya diumbar terang-terangan. Orang Kremlin berbicara seperti tokoh Dostoevsky yang mabuk vodka dan trauma perang.
Kadang saya pikir Eropa tidak pernah benar-benar keluar dari abad ke-20. Teknologi berubah, misil makin presisi, propaganda pindah ke Telegram dan TikTok, tapi struktur emosinya masih sama; takut dikepung, takut dikhianati, takut kehilangan dominasi.
Pidato kepala intelijen Rusia tadi terdengar seperti ucapan mabuk sejarah yang dilempar ke ruangan penuh orang yang sebenarnya sama-sama punya catatan kriminal. Inggris menipu. Rusia menginvasi. Prancis munafik. Jerman pura-pura lupa.
Di stasiun King’s Cross, orang-orang tetap buru-buru mengejar kereta pagi sambil memegang kopi kertas. Di Moskow, lampu restoran masih menyala sampai larut malam. Anak-anak sekolah di Paris tetap mengeluh soal PR matematika.
Sebuah drone jatuh di ladang gandum dekat Belgorod minggu lalu. Tidak banyak diberitakan. Petani yang menemukan katanya sempat berdiri lama sambil memegang topi jerami, bingung harus menelepon siapa terlebih dulu.

.png)

