Scarlett Johansson Telanjang dalam Film yang Tidak Jelas

Ilustrasi/primevideo.com
Mobil van putih melaju pelan di jalanan Glasgow. Hujan tipis. Lampu toko memantul di aspal basah. Seorang pria Skotlandia masuk ke dalam mobil, setelah diajak bicara perempuan berambut hitam dengan jaket bulu. Wajah perempuan itu familiar sekali. Saya tahu wajah itu. Semua orang juga tahu. Scarlett Johansson.

Lalu film bergerak seperti obat tidur.

Dua puluh menit pertama saya masih mencoba sabar. Tiga puluh menit, saya mulai membuka ponsel. Empat puluh menit, saya merasa tubuh saya sendiri ikut kehilangan kesadaran. Kepala berat. Mata pedih. Rasanya seperti duduk terlalu lama di ruang tunggu rumah sakit tanpa sinyal internet. Film itu terus berjalan pelan sekali, seolah sengaja ingin menguji ketahanan biologis penontonnya.

Under the Skin sering diperlakukan seperti karya seni besar oleh kritikus film. Sutradaranya, Jonathan Glazer, memang punya reputasi serius. Ia bukan pembuat film sembarangan. Sebelumnya, ia membuat Sexy Beast dan Birth, dua film yang masih terasa punya denyut kehidupan. Ada ritme. Ada manusia. Di Under the Skin, denyut itu seperti sengaja dicekik.

Saya menontonnya bukan karena tertarik dengan filsafat eksistensial atau simbol alien tentang tubuh manusia. Saya menontonnya karena Scarlett Johansson. Sesederhana itu. Kadang orang menonton film memang karena aktornya menarik. Tidak semua keputusan menonton lahir dari intelektualitas sinema. Kadang cuma karena wajah seseorang terlihat bagus di poster.

Poster film Under the Skin sudah terasa dingin, ketika saya menonton film ini. Wajah Scarlett Johansson setengah gelap dengan lingkaran cahaya aneh di matanya. Saya kira akan mendapat thriller sci-fi yang atmosfernya kuat. Mungkin semacam Species versi arthouse. Ternyata saya malah seperti dihukum dua jam dalam lorong buram tanpa ujung.  

Banyak adegan terasa seperti eksperimen sekolah film yang terlalu percaya diri. Kamera diam terlalu lama. Orang berjalan terlalu lama. Mobil melaju terlalu lama. Bahkan suara napas dibuat terdengar seperti proyek seni instalasi di galeri kontemporer yang pengunjungnya pura-pura paham supaya tidak terlihat bodoh.

Yang paling menyiksa justru keheningan film ini. Tidak ada percakapan yang benar-benar hidup. Karakter-karakternya terasa seperti bayangan biologis. Saya tahu memang itu sengaja; alien yang sedang mempelajari manusia, keterasingan, tubuh sebagai objek konsumsi, bla-bla-bla. Saya sudah membaca interpretasi kritikus setelahnya. Mereka membahas identitas, gender, predator seksual, alienasi modern, bahkan kapitalisme tubuh perempuan.

Tetap membosankan.

Saya sering curiga sebagian kritikus takut mengakui bahwa film “penting” kadang memang melelahkan untuk ditonton. Ada budaya aneh dalam dunia cinephile; makin lambat filmnya, makin sedikit dialognya, makin besar kemungkinan dianggap mahakarya. Penonton biasa yang bosan dianggap tidak cukup cerdas menangkap lapisan simboliknya. Padahal rasa bosan itu juga reaksi yang sah.

Di beberapa titik, saya malah merasa film ini seperti sedang mengejek penonton. Adegan pria-pria masuk ke ruang hitam cair direkam dengan visual yang memang unik—tubuh tenggelam perlahan di cairan gelap seperti mimpi buruk abstrak. Oke, visualnya kuat. Musik garapan Mica Levi juga aneh dan menusuk, seperti biola yang digesek sambil menahan migrain. Tetapi satu visual kuat tidak otomatis membuat keseluruhan film jadi menarik.

Saya ingat adegan di pantai. Itu salah satu bagian yang justru efektif. Seorang pria mencoba menyelamatkan pasangan yang tenggelam di laut dingin Skotlandia. Ombak besar. Angin brutal. Setelah semuanya kacau, karakter Scarlett hanya berdiri melihat situasi dengan wajah kosong. Ada bayi kecil menangis sendirian di pantai berbatu. Film tidak memberi musik dramatis. Tidak memberi kepastian emosional. Adegan itu dingin sekali. Untuk beberapa menit, saya merasa sedang menonton sesuatu yang benar-benar punya tenaga.

Lalu film kembali melambat seperti siput depresi.

Orang sering lupa bahwa membangun atmosfer juga perlu ritme. Tarkovsky lambat, tapi masih punya gravitasi emosional. Stanley Kubrick bisa membuat keheningan terasa mencekam. Di Under the Skin, banyak momen yang hanya terasa kosong. Kosong literal. Saya sampai beberapa kali mengecek progress bar video karena merasa waktu tidak bergerak.

Konyolnya, satu-satunya bagian yang benar-benar membuat saya terbangun penuh justru adegan telanjang Scarlett Johansson.

Itu juga mungkin alasan banyak orang diam-diam penasaran pada film ini meski mereka malu mengakuinya.

Scarlett Johansson selama bertahun-tahun dibangun Hollywood sebagai simbol sensualitas modern. Wajahnya muncul di Lost in Translation, Match Point, Vicky Cristina Barcelona, sampai franchise The Avengers sebagai Natasha Romanoff. Kamera Hollywood selalu tahu bagaimana menjual auranya tanpa benar-benar membuka semuanya. Selalu ada jarak aman industri. Di film ini, jarak itu hilang. 

Adegan telanjang dalam Under the Skin sebenarnya tidak erotis dalam cara biasa. Justru terasa dingin dan klinis. Scarlett berdiri memandang tubuh manusia dengan rasa ingin tahu alien. Tubuhnya ditampilkan bukan sebagai fantasi glamour Marvel, tetapi objek biologis. Saya tahu, itu bagian dari konsep film. Tapi tetap saja, bagi banyak penonton, termasuk saya waktu itu, adegan tersebut jadi semacam kejutan karena hampir tidak pernah melihat Scarlett tampil sefrontal itu di film-film sebelumnya.

Lucunya, setelah adegan itu selesai, film kembali membuat saya ingin tidur.

Saya pernah membaca bahwa beberapa adegan diambil diam-diam dengan kamera tersembunyi di jalanan Glasgow. Pria-pria yang masuk van sebagian bukan aktor profesional, dan tidak sadar lawan main mereka adalah Scarlett Johansson sampai proses tertentu selesai. Teknik itu memang memberi rasa dokumenter yang aneh. Percakapan terdengar canggung dan realistis. Orang-orang Skotlandia berbicara dengan aksen tebal yang kadang nyaris sulit dipahami.

Tetapi realismenya juga membuat film terasa seperti rekaman CCTV berkualitas artistik.

Saya bisa memahami kenapa film ini dipuja sebagian penonton. Visualnya berani. Atmosfernya unik. Under the Skin tidak terdengar seperti film Hollywood biasa. Ia punya keberanian untuk diam terlalu lama ketika studio besar takut penonton kehilangan fokus dalam lima detik. 

Saya tetap tidak tahan menontonnya.

Kadang film terlalu sibuk ingin menjadi pengalaman, sampai lupa menjadi tontonan. Saya tahu kalimat itu akan membuat sebagian penggemar film arthouse marah. Mereka akan bilang saya gagal menikmati meditasi visualnya, gagal memahami kesunyian eksistensialnya, gagal membaca tubuh sebagai lanskap keterasingan.

Mungkin.

Tetapi tubuh manusia punya kejujuran sendiri. Saat saya menonton Under the Skin malam itu, yang saya rasakan bukan kekaguman intelektual. Saya cuma merasa lelah. Kepala berat. Mata panas. Saya bahkan ingat bunyi kipas laptop lebih menarik daripada dialog filmnya.

Scarlett berjalan lagi. Van putih muncul lagi. Musik gesek aneh itu terdengar lagi.

Saya pause filmnya sebentar, pergi ke dapur, minum air dingin langsung dari botol.

Related

Entertainment 5885966202125657821

Posting Komentar

emo-but-icon

Terbaru

Banyak Dibaca

Ebook BSM

Mengapa Dunia Seperti Sekarang? 100 Peristiwa yang Membentuk Dunia Kita

Pernah bertanya-tanya, mengapa dunia seperti sekarang? Mengapa dunia terbagi-bagi dalam banyak negara? Mengapa ada orang-orang yang sangat k...

item