Buku Teka-Teki Silang dengan Sampul Wanita Cantik Berpose Seksi

Ilustrasi/arikuncoro.xyz
Teka-teki silang mungkin satu-satunya produk di Indonesia yang berhasil menjual gairah seksual dan kosakata dalam satu paket yang sama.

Pemandangan itu dulu biasa sekali. Rak kawat di depan kios koran. Deretan majalah film, tabloid olahraga, novel silat, roman Fredy S, horor Tara Zagita, komik wayang, lalu di antaranya bertumpuk buku-buku TTS. Ukurannya tanggung, lebih besar sedikit dari novel saku. Harga murah. Kertas koran. Sampul mengilap. Di sampul itulah keajaiban pemasaran bekerja.

Perempuan berambut panjang menoleh ke kamera. Kadang mengenakan pakaian renang. Kadang gaun ketat. Kadang pose yang sebenarnya biasa saja menurut standar sekarang, tetapi pada masa itu cukup membuat remaja laki-laki memperlambat langkah di depan kios. Judulnya bisa "TTS Super", "TTS Selebriti", "TTS Favorit", atau nama-nama lain yang terdengar sangat fungsional. 

Hubungan antara foto perempuan di sampul dan isi buku hampir tidak ada. Di dalamnya hanya kotak-kotak hitam putih yang meminta jawaban seperti "ibu kota Uruguay" atau "alat musik petik dari Sulawesi Selatan".

Lucu, kalau dipikir sekarang. Seseorang membeli buku demi melihat foto perempuan cantik, lalu menghabiskan satu jam berikutnya memikirkan nama sungai terpanjang di Eropa.

Generasi yang tumbuh dengan internet mungkin sulit memahami betapa berharganya gambar perempuan cantik pada masa itu. Hari ini seseorang bisa melihat jutaan foto hanya dengan menggerakkan ibu jari beberapa centimeter di layar ponsel. Dulu gambar semacam itu adalah komoditas. Kelangkaan menciptakan nilai. Sebuah foto model yang sekarang tampak sangat biasa pernah memiliki daya tarik luar biasa hanya karena tidak banyak alternatif.

Kios koran menjadi semacam jendela kecil menuju dunia lain. Dunia yang lebih glamor, lebih modern, lebih berani daripada lingkungan sehari-hari. Banyak kota Indonesia pada 1990-an masih jauh dari gemerlap metropolitan. Seorang anak SMA di Purwodadi, Kebumen, Blora, atau Pati, mungkin tidak pernah melihat model profesional secara langsung sepanjang hidupnya. Mereka melihatnya di sampul TTS.

Penerbit memahami psikologi itu dengan sangat baik. Mereka tidak menjual teka-teki silang. Mereka menjual alasan untuk mengambil buku dari rak. Begitu buku sudah berada di tangan calon pembeli, setengah pekerjaan selesai.

Kadang saya merasa para penerbit TTS memahami sifat manusia lebih baik daripada banyak akademisi pemasaran. Mereka tahu bahwa orang sering tidak membeli barang karena fungsi utamanya. Orang membeli pemicu emosi. Sesudah transaksi terjadi, fungsi utama menyusul. Sampul menjadi umpan. TTS menjadi produk sebenarnya.

Keadaan itu melahirkan situasi yang agak absurd. Seorang bapak bisa pulang membawa buku TTS dengan alasan ingin mengasah otak. Tidak ada yang bisa membantah. Semua bukti mendukung klaim itu. Isi bukunya memang teka-teki silang. Hanya saja, sampulnya sering kali memiliki agenda tambahan.

Kebudayaan membaca buku murah Indonesia waktu itu penuh dengan kompromi-kompromi semacam itu. Novel Nick Carter menjual petualangan melalui perempuan berpistol di sampul. Novel horor menjual rasa takut melalui ilustrasi perempuan cantik yang dikejar pocong atau kuntilanak. TTS menjual latihan otak melalui foto model. Hampir semua penerbit tampaknya sampai pada kesimpulan yang sama: apa pun produknya, wajah perempuan menarik perhatian lebih dulu.

Rak-rak kios koran sebenarnya lebih jujur daripada banyak diskusi budaya. Mereka memperlihatkan apa yang benar-benar dicari orang, bukan apa yang mereka akui sedang dicari.

Sore hari di depan stasiun Tawang Semarang, terminal Tirtonadi Solo, atau Pasar Johar sebelum kebakaran besar, sering terlihat orang berdiri cukup lama di depan kios. Mereka membolak-balik buku. Kadang tidak membeli apa pun. Kadang membeli satu. Kadang kembali esok hari hanya untuk melihat terbitan baru. Aktivitas itu sekarang hampir hilang. Internet mengubah hubungan antara rasa ingin tahu dan akses informasi.

Kelangkaan mempunyai efek psikologis yang aneh. Ketika sesuatu sulit diperoleh, benda itu memperoleh aura tambahan yang tidak selalu berasal dari kualitas aslinya. Foto model dalam sampul TTS mendapatkan sebagian daya tariknya dari kelangkaan tersebut. Banyak foto itu, jika dilihat sekarang, tampak sangat polos. Tidak sedikit yang sebenarnya lebih mirip foto studio biasa daripada materi yang dianggap provokatif.

Reaksi orang terhadap gambar selalu bergantung pada lingkungan visual tempat mereka hidup. Mata manusia cepat beradaptasi. Orang yang hidup di tengah gurun menganggap sepetak rumput sebagai kemewahan. Orang yang hidup di tengah hutan mungkin tidak terlalu mempedulikannya.

Internet menghancurkan kelangkaan visual hampir secara total. Banjir gambar datang tanpa henti. Ironisnya, setelah segala sesuatu tersedia, sebagian daya tariknya ikut menguap. Foto yang dulu cukup membuat remaja berdiri lima menit di depan kios kini tenggelam dalam lautan miliaran gambar lain.

Bagian yang paling saya sukai justru bukan foto modelnya, tapi kontras yang lahir dari keseluruhan situasi. Seseorang membeli buku karena sampulnya. Sesampainya di rumah, ia benar-benar mengerjakan TTS. Ia mencari jawaban untuk "raja pertama Mataram Islam", "planet terbesar dalam tata surya", atau "pengarang Salah Asuhan". Buku itu tetap menjalankan fungsi intelektualnya. Pancingannya mungkin visual, hasil akhirnya tetap kosakata.

Sulit menemukan kombinasi yang lebih ganjil. Pendidikan umum, hiburan murah, fantasi ringan, dan pemasaran agresif, bercampur dalam satu benda seharga beberapa ribu rupiah.

Ketika orang membicarakan sejarah budaya populer Indonesia, perhatian sering tertuju pada film, musik, televisi, atau novel. Buku TTS jarang masuk percakapan. Padahal jutaan eksemplar pernah beredar. Tumpukan TTS pernah memenuhi warung, kios, ruang tunggu dokter, meja tamu, pos satpam, warung kopi, dan gerbong kereta ekonomi. Pensil pendek yang ujungnya sudah digigit-gigit sering terselip di tengah halamannya.

Banyak benda budaya mati tanpa meninggalkan jejak emosional. Buku TTS memiliki nasib yang berbeda. Ia masih memunculkan senyum ketika diingat. Bukan karena isi pertanyaan di dalamnya hebat. Bukan karena ada hadiahnya. Tapi karena seluruh ekosistem di sekelilingnya terasa sangat berasal dari dunia lain.

Dunia ketika seseorang bisa membeli buku demi melihat perempuan cantik di sampul, lalu pulang membawa pengetahuan baru tentang ibu kota Paraguay, sambil berusaha menghapus bekas karet penghapus yang mengotori kotak nomor 17 mendatar.


Related

Buku 2673108146168968280

Posting Komentar

emo-but-icon

Terbaru

Banyak Dibaca

Ebook BSM

Mengapa Dunia Seperti Sekarang? 100 Peristiwa yang Membentuk Dunia Kita

Pernah bertanya-tanya, mengapa dunia seperti sekarang? Mengapa dunia terbagi-bagi dalam banyak negara? Mengapa ada orang-orang yang sangat k...

item