Operasi Barbarossa, Mimpi Basah Adolf Hitler yang Gagal Total

Ilustrasi/historyhit.com
Mesin-mesin Panzer bergerak melintasi ladang gandum Soviet dengan suara seperti logam raksasa yang lapar. Debu beterbangan di Belarus. Kuda-kuda milik tentara Jerman ikut menyeret artileri di belakang kolom tank, sesuatu yang sering hilang dari film-film perang yang terlalu sibuk memoles citra Wehrmacht sebagai mesin modern sempurna. Bau solar bercampur keringat, tanah basah, dan mayat yang belum sempat dikubur.

Di langit, pesawat Luftwaffe menghajar lapangan udara Soviet, sebelum banyak pilot Soviet sempat menghidupkan mesin mereka. Ratusan pesawat Uni Soviet hancur di darat. Sebagian terbakar bersama mekaniknya. Sebagian lagi cuma jadi rangka hitam di ujung landasan.

Operasi Barbarossa dimulai dengan rasa percaya diri yang nyaris arogan. Adolf Hitler mengira Uni Soviet akan runtuh cepat, seperti pintu reyot yang ditendang terlalu keras. Ia pernah mengatakan bahwa “kita hanya perlu menendang pintunya, lalu seluruh struktur busuk Bolshevik akan roboh.”

Kalimat itu terdengar seperti orang yang terlalu lama menang.

Sebelum menyerbu Uni Soviet, Jerman Nazi memang tampak nyaris tak terkalahkan. Polandia jatuh cepat. Prancis dipermalukan hanya dalam hitungan minggu pada 1940. Tentara Inggris kabur dari Dunkirk sambil meninggalkan kendaraan dan perlengkapan. Di Berlin, aura kemenangan terasa pekat. Perwira-perwira Wehrmacht berjalan dengan seragam abu-abu rapi di Unter den Linden sambil percaya bahwa sejarah sedang memihak mereka. Lalu Hitler memutuskan menyerang ke timur.

Banyak jenderal Jerman sebenarnya gelisah. Front Soviet terlalu luas. Jaraknya gila. Peta Rusia di meja staf militer terlihat seperti ruang kosong tanpa ujung. Tapi Hitler terobsesi. Barbarossa bukan sekadar operasi militer. Ia perang ideologi, perang rasial, perang kolonial modern yang dibungkus fantasi kekaisaran.

Dalam pandangan Hitler, wilayah Soviet adalah ruang hidup—Lebensraum—untuk bangsa Jerman. Orang Slavia dianggap lebih rendah. Komunis dianggap musuh eksistensial. Invasi itu sejak awal sudah membawa aroma genosida.

Tiga juta lebih tentara Poros bergerak ke Uni Soviet. Skala operasinya sulit dibayangkan. Sekitar 600.000 kendaraan bermotor. Lebih dari 600.000 kuda. Ribuan tank dan pesawat. Garis invasi membentang dari Baltik sampai Laut Hitam.

Nama “Barbarossa” diambil dari Kaisar Frederick Barbarossa, tokoh Kekaisaran Romawi Suci abad pertengahan yang berjanggut merah dan dikelilingi legenda perang salib. Nazi memang gemar memberi nama operasi dengan nuansa mitologi, seolah perang modern adalah drama Wagner dengan ledakan artileri.

Awal invasi tampak seperti mimpi basah para jenderal Blitzkrieg. Kota demi kota jatuh. Minsk runtuh. Smolensk direbut. Ratusan ribu tentara Soviet terkepung. Di BiaƂystok dan Kiev, pasukan Soviet terjebak dalam kantong-kantong besar. Tawanan perang berjalan kaki berkilo-kilometer dengan wajah kosong, bibir pecah, seragam lusuh penuh lumpur.

Foto-foto lama memperlihatkan mereka berdiri berdesakan di ladang terbuka, dijaga tentara Jerman yang tampak santai sambil merokok.

Stalin sendiri sempat lumpuh secara psikologis di awal invasi. Ia terlalu lama percaya Hitler tidak akan menyerang secepat itu karena Pakta Molotov–Ribbentrop masih berlaku. Bahkan ketika laporan intelijen datang bertubi-tubi sebelum invasi, Stalin menganggap banyak peringatan sebagai provokasi Inggris.

Ada momen absurd di Kremlin ketika negara sebesar Uni Soviet nyaris tidak siap menghadapi salah satu invasi terbesar dalam sejarah manusia.

Jerman bergerak terlalu cepat. Tentara Soviet bergerak terlalu kacau. Jalan-jalan penuh pengungsi, sapi, truk rusak, tentara tersesat. Di beberapa wilayah Belarus dan Ukraina, penduduk lokal awalnya bahkan menyambut Jerman karena benci pada Stalin dan kolektivisasi brutal Soviet.

Lalu kebrutalan Nazi mulai terlihat jelas. Pasukan Einsatzgruppen mengikuti di belakang garis depan. Mereka bukan tentara biasa, tapi unit pembunuh massal SS. Di tempat-tempat seperti Babi Yar dekat Kiev, ribuan orang Yahudi ditembak di tepi jurang. Bau darah dan tanah basah memenuhi udara. Peluru ditembakkan begitu dekat sampai pakaian algojo kadang terciprat jaringan tubuh manusia. Invasi Barbarossa membawa Holocaust memasuki fase industrial yang lebih terbuka.

Hitler dan banyak jenderalnya percaya perang akan selesai sebelum musim dingin. Keyakinan itu hampir terasa kekanak-kanakan sekarang. Mereka meremehkan jarak Rusia. Mereka meremehkan kapasitas Soviet memindahkan industri ke timur Pegunungan Ural. Mereka meremehkan kemampuan negara totaliter untuk terus melempar manusia ke medan perang. Mereka juga meremehkan lumpur Rusia.

Rasputitsa—musim lumpur—mengubah jalan menjadi kubangan panjang. Truk Jerman terjebak. Tank melambat. Sepatu bot penuh lumpur dingin yang lengket seperti semen basah. Kuda mati kelelahan di pinggir jalan. Tentara mulai membakar furnitur rumah penduduk untuk menghangatkan tubuh.

Ada surat-surat tentara Jerman yang mengeluh tentang kaus kaki basah dan kutu tubuh lebih banyak, dibanding soal ideologi besar Reich Ketiga. Perang sering kali turun menjadi urusan kaki membusuk dan perut kosong.

Hitler mulai ikut campur terlalu jauh dalam strategi. Ia mengalihkan fokus dari Moskow ke Ukraina dan Kaukasus, karena tergoda gandum dan minyak. Para jenderal seperti Heinz Guderian frustrasi. Waktu terus habis. Lalu musim dingin datang.

Klip-klip dokumenter sering memperlihatkan salju putih yang tampak indah. Kenyataannya jauh lebih menjijikkan. Minyak mesin membeku. Baut logam menempel di kulit tangan. Senapan macet. Napas keluar seperti asap tipis dari wajah-wajah cekung yang tidak tidur cukup.

Tentara Jerman belum diperlengkapi sarana untuk menghadapi dingin ekstrem. Banyak yang masih memakai mantel tipis. Ada yang membungkus kaki dengan koran. Frostbite memakan jari-jari kaki dan tangan. Di dekat Moskow, suhu turun sampai minus 30 derajat Celsius.

Sementara itu, tentara Soviet justru mulai menyerang balik. Marsekal Georgy Zhukov memimpin pertahanan Moskow dengan brutal dan disiplin. Divisi Siberia yang terbiasa dengan cuaca dingin dipindahkan ke front barat setelah intelijen Soviet memastikan Jepang tidak akan menyerang dari timur. Mereka datang dengan mantel putih, ski, dan wajah keras yang tampak seperti pahatan batu.

Pasukan Jerman mulai sadar mereka tidak sedang menghadapi negara yang akan runtuh dalam beberapa minggu.

Di Stalingrad, beberapa waktu kemudian, kegilaan Barbarossa mencapai bentuk paling telanjang. Tentara bertempur dari kamar ke kamar, tangga ke tangga, reruntuhan pabrik ke reruntuhan pabrik. Pabrik Traktor Dzerzhinsky berubah jadi labirin mayat dan logam. Sungai Volga dipenuhi pecahan es dan darah.

Nama-nama kecil muncul di memoar perang; Vasily Grossman, wartawan Soviet yang mencatat bau mayat membusuk di reruntuhan. Letnan Anatoly Cherkasov, yang bertahan di satu gedung apartemen selama berminggu-minggu. Friedrich Paulus, yang akhirnya menyerah dengan wajah pucat dan mata kosong.

Ada sesuatu yang nyaris puitis dalam cara Nazi Jerman hancur di tanah yang mereka anggap inferior. Mereka datang dengan teori ras, peta, tank, opera Wagner, dan fantasi kekaisaran. Mereka pulang sebagai tulang-belulang di bawah salju Rusia.

Bahkan angka korban Barbarossa terasa tidak manusiawi. Jutaan tentara tewas. Jutaan warga sipil mati kelaparan, ditembak, atau membeku. Di Leningrad, orang merebus lem wallpaper untuk dimakan saat pengepungan. Di desa-desa Belarus, rumah-rumah dibakar bersama penghuninya.

Kadang statistik perang terasa terlalu besar sampai kehilangan bentuk. Lalu tiba-tiba kita membaca detail kecil; seorang ibu Soviet menyimpan potongan roti keras di saku mantel anaknya yang sudah mati karena dingin. Detail seperti itu menghancurkan lebih keras daripada pidato sejarah mana pun.

Di akhir perang, tentara Soviet masuk Berlin dengan kemarahan yang dipupuk bertahun-tahun. Reichstag dipenuhi asap dan debu bata. Kota itu bau hangus, alkohol, darah, dan beton basah. Beberapa tentara Soviet mencoret dinding dengan nama mereka memakai arang atau kapur. Nama-nama kasar dari Saratov, Minsk, Kiev, Novosibirsk.

Operasi Barbarossa, yang dimulai dengan keyakinan bahwa Uni Soviet dapat dihancurkan cepat, berakhir dengan bendera merah berkibar di jantung Berlin... sementara tubuh-tubuh tentara Jerman masih tertanam setengah beku di tanah Rusia.


Related

Sejarah 6832389553664653834

Posting Komentar

emo-but-icon

Terbaru

Banyak Dibaca

Ebook BSM

Mengapa Dunia Seperti Sekarang? 100 Peristiwa yang Membentuk Dunia Kita

Pernah bertanya-tanya, mengapa dunia seperti sekarang? Mengapa dunia terbagi-bagi dalam banyak negara? Mengapa ada orang-orang yang sangat k...

item