Hitler Mati, Tentara Soviet Masuk Jerman, Para Wanita Bunuh Diri Massal

Ilustrasi/bbc.com
Alkohol murah, asap rokok, dan debu bangunan runtuh memenuhi apartemen-apartemen di Berlin ketika Tentara Merah masuk ke kota itu. Perang sudah hampir selesai. Nazi kalah. Hitler bersembunyi di bunker bawah tanah Reich Chancellery bersama Eva Braun, anjingnya, dan sisa-sisa ilusi tentang Reich Seribu Tahun yang ternyata bahkan tak bertahan seperempat abad.

Orang sering membayangkan akhir perang sebagai momen lega; tentara datang membawa kemenangan, warga sipil bersorak, tirani runtuh. Film-film Hollywood suka menjual adegan semacam itu. Musik naik perlahan, bendera berkibar, pelukan di stasiun kereta. Berlin tahun 1945 tidak punya kemewahan semacam itu.

Perempuan-perempuan Jerman menutup jendela dengan lemari, menyembunyikan anak perempuan di ruang bawah tanah, mengoles wajah dengan arang supaya terlihat tua dan kotor. Sebagian memakai beberapa lapis pakaian sekaligus. Sebagian lain mencoba tidur bersama lelaki tua atau tetangga pria demi menciptakan kesan “sudah dimiliki”. Di kota-kota seperti Königsberg, Breslau, Pomerania, dan Berlin sendiri, desas-desus menyebar lebih cepat daripada kendaraan tempur Soviet; tentara Rusia memperkosa perempuan secara massal.

Desas-desus itu ternyata bukan paranoia. Ketika Tentara Merah bergerak masuk ke wilayah Jerman setelah bertahun-tahun perang brutal di Front Timur, dendam ikut bergerak bersama mereka. Sulit memahami skala kebencian itu tanpa melihat apa yang dilakukan Nazi sebelumnya di Uni Soviet. Desa dibakar. Tawanan perang Soviet mati jutaan karena kelaparan. Kota seperti Stalingrad berubah menjadi kuburan batu dan baja. Einsatzgruppen menembaki Yahudi secara massal di Ukraina dan Belarus. Tentara Jerman memperlakukan warga Soviet seperti submanusia.

Lalu perang berbalik arah. Tentara Soviet yang masuk ke Jerman banyak yang sudah melihat keluarganya dibunuh, kampungnya dibakar, atau ibunya diperkosa tentara Jerman. Propaganda Soviet ikut menyulut amarah. Penulis Soviet, Ilya Ehrenburg, pernah menulis pamflet terkenal yang isinya nyaris mendorong kebencian total terhadap bangsa Jerman. “Bunuh orang Jerman,” tulisnya dalam salah satu propaganda perang yang menyebar luas di kalangan tentara.

Ketika sebuah negara memelihara kebencian selama bertahun-tahun, kadang yang lahir bukan kemenangan, tapi pesta balas dendam. Perempuan Jerman menjadi sasaran utama.

Sejarawan Antony Beevor memperkirakan sekitar dua juta perempuan Jerman mengalami pemerkosaan oleh tentara Soviet, meski angka pastinya tetap diperdebatkan. Sebagian korban berusia belasan tahun. Sebagian lansia. Banyak perempuan diperkosa berkali-kali oleh kelompok tentara berbeda dalam satu malam. Ada yang sampai bunuh diri setelahnya. Ada yang tetap hidup puluhan tahun sambil menyimpan diam-diam rasa malu yang bahkan bukan kesalahan mereka.

Di Berlin, seorang jurnalis anonim menulis buku harian yang kemudian diterbitkan dengan judul “A Woman in Berlin”. Buku itu terasa dingin justru karena nadanya tidak melodramatis. Ia menulis bagaimana perempuan-perempuan mulai menghitung jenis tentara berdasarkan perilaku mereka. Tentara muda lebih brutal. Perwira kadang lebih terkendali. Kadang tidak juga. Ia menulis soal langkah sepatu bot di tangga apartemen yang membuat semua penghuni perempuan menahan napas.

Ada bagian ketika ia memilih “bernaung” pada seorang mayor Soviet demi menghindari pemerkosaan beramai-ramai oleh tentara biasa. Kalimat-kalimatnya pendek dan melelahkan. Tidak ada heroisme di sana. Hanya strategi bertahan hidup.

Banyak lelaki Jerman sudah mati di medan perang atau menjadi tawanan. Kota dipenuhi perempuan, anak-anak, dan orang tua. Struktur sosial runtuh total. Polisi nyaris tidak ada. Pemerintahan tidak ada. Gereja kehilangan wibawa. Di beberapa daerah, perempuan pergi ke kantor medis dengan kaki gemetar meminta pemeriksaan penyakit kelamin atau aborsi darurat. Rumah sakit penuh.

Sebagian tentara Soviet sebenarnya mencoba menghentikan kekerasan. Ada perwira yang menembak anak buahnya karena memperkosa warga sipil. Stalin secara resmi melarang kekerasan semacam itu. Kenyataan di lapangan jauh lebih kacau. Disiplin militer runtuh di banyak unit yang bergerak cepat menuju Berlin. Alkohol dijarah dari rumah-rumah. Tentara mabuk berkeliaran malam hari.

Kadang sejarah perang terasa seperti ledakan besar. Kadang terasa seperti suara gagang pintu diputar pelan tengah malam.

Kota Demmin di Jerman utara memberi gambaran lain tentang kepanikan massal itu. Ketika Tentara Merah mendekat, ribuan warga sipil melakukan bunuh diri. Orang tua membunuh anak mereka lalu bunuh diri bersama. Ada yang gantung diri. Ada yang menenggelamkan diri di sungai Peene. Seorang ibu ditemukan mati sambil memeluk bayinya.

Ketakutan terhadap tentara Soviet saat itu bukan lagi sekadar rumor. Orang-orang sudah mendengar apa yang terjadi di Prusia Timur.

Masalahnya, tragedi perempuan Jerman pascaperang sering terasa “tidak nyaman” untuk dibicarakan. Sebab korban berasal dari bangsa agresor perang. Nazi sudah melakukan kekejaman luar biasa terhadap Eropa dan Uni Soviet. Ketika perempuan Jerman diperkosa, sebagian orang merasa sulit memberi empati tanpa takut dianggap mengaburkan kejahatan Nazi. Padahal tubuh perempuan sipil bukan medan tempur moral.

Anak perempuan berusia 14 tahun di Berlin bukan orang yang merancang Holocaust. Nenek tua di Königsberg bukan komandan kamp konsentrasi. Perang sering menghancurkan batas itu. Identitas nasional berubah menjadi hukuman kolektif.

Di Jerman sendiri, kisah-kisah pemerkosaan itu lama tenggelam. Banyak perempuan memilih diam karena malu. Suami mereka pulang dari perang dalam keadaan kalah dan hancur. Sebagian suami malah marah pada istrinya karena “tidak menjaga kehormatan”. Kalimat menjijikkan. Seolah perempuan punya kendali atas sekelompok tentara bersenjata.

Anak-anak hasil pemerkosaan lahir dalam sunyi. Sebagian disebut “Russenkind”—anak Rusia. Banyak yang tumbuh tanpa tahu identitas ayahnya.

Politik Perang Dingin ikut mengubur banyak cerita itu. Jerman Timur berada di bawah pengaruh Soviet, sehingga pembicaraan soal kekerasan Tentara Merah menjadi tabu. Kritik terhadap Uni Soviet bisa dianggap tindakan politik berbahaya. Di Barat pun, narasi kemenangan Sekutu lebih disukai daripada membahas sisi gelap tentara pembebas. Pemenang perang selalu lebih mudah menulis buku sejarah.

Ada foto-foto Berlin tahun 1945 yang anehnya terasa sangat sunyi. Gedung runtuh. Trem terbalik. Seorang perempuan duduk di trotoar sambil memegang ember logam. Wajahnya kosong. Sulit menebak apakah ia baru kehilangan rumah, suami, atau sesuatu yang lebih buruk.

Orang sering berbicara tentang perang dalam bahasa strategi; front timur, divisi panzer, ofensif musim semi, perebutan Berlin. Peta bergerak. Jenderal memberi perintah. Panah merah dan biru ditarik di atas meja.

Lalu di bawah semua panah itu, ada perempuan yang berdiri di dapur gelap sambil mendengar langkah kaki asing naik tangga apartemen. Ada anak kecil pura-pura tidur di bawah selimut sambil mendengar ibunya menangis tertahan. Ada perempuan yang mencuci tubuhnya berulang kali sampai kulitnya lecet. Bau sabun murah dan darah.

Di beberapa wilayah Berlin, perempuan-perempuan kemudian saling berbagi tips bertahan hidup; jangan sendirian, sembunyikan gadis muda, cari perlindungan pada perwira tertentu, simpan rokok atau jam tangan untuk barter. Kehidupan berubah menjadi rangkaian improvisasi kecil demi bertahan satu malam lagi.

Hitler sudah mati saat itu. Reich Ketiga runtuh. Bendera Soviet berkibar di Reichstag.

Di ruang bawah tanah apartemen-apartemen Berlin, perang belum selesai.


Related

Sejarah 3650611423233485199

Posting Komentar

emo-but-icon

Terbaru

Banyak Dibaca

Ebook BSM

Mengapa Dunia Seperti Sekarang? 100 Peristiwa yang Membentuk Dunia Kita

Pernah bertanya-tanya, mengapa dunia seperti sekarang? Mengapa dunia terbagi-bagi dalam banyak negara? Mengapa ada orang-orang yang sangat k...

item