Praktik Indulgensi, Gereja, dan Pria yang Mengamuk di Eropa

Ilustrasi/spiritualitaskatolik.com
Manusia memiliki bakat luar biasa untuk menciptakan sesuatu yang terdengar masuk akal pada zamannya dan terdengar absurd bagi generasi berikutnya.

Karena itulah saya selalu curiga terhadap anggapan bahwa masyarakat masa lalu hidup dalam dunia yang lebih sederhana daripada kita. Mereka tidak sederhana. Mereka hanya memiliki jenis keanehan yang berbeda.

Eropa pada awal abad ke-16 adalah contoh yang bagus. Orang-orang modern sering membayangkan dunia saat itu sebagai dunia yang sepenuhnya religius, penuh gereja batu, lonceng yang berdentang, biarawan yang menyalin manuskrip, dan petani yang tunduk pada otoritas rohani. Gambaran itu tidak sepenuhnya salah, tetapi menyisakan banyak hal. Dunia tersebut juga dipenuhi transaksi, kepentingan politik, jaringan utang, persaingan keluarga bangsawan, dan negosiasi kekuasaan yang rumit. Gereja Katolik Roma berdiri di pusat semuanya.

Sulit mencari institusi yang lebih berpengaruh daripada Gereja saat itu. Raja-raja memerlukan legitimasi. Bangsawan membutuhkan hubungan baik dengan uskup. Masyarakat biasa datang kepada imam untuk pembaptisan, pernikahan, pengakuan dosa, hingga pemakaman. Kehidupan manusia dari lahir sampai mati bersinggungan dengan Gereja.

Kekuatan sebesar itu hampir selalu menghasilkan masalah. Ketika sebuah lembaga mengelola keselamatan jiwa sekaligus memiliki kekayaan yang sangat besar, urusan surgawi dan urusan duniawi mulai bercampur. Sebagian paus hidup seperti pangeran Italia. Sebagian uskup mengumpulkan kekayaan yang tidak sedikit. Jabatan gerejawi kadang menjadi objek transaksi politik. Nepotisme bukan fenomena asing.

Orang-orang yang hidup di dalam sistem tersebut tentu menyadarinya. Mereka bukan manusia bodoh yang berjalan melewati kemewahan tanpa melihatnya.

Di sebuah kota kecil Jerman, seorang petani mungkin melihat imam lokal hidup jauh lebih baik daripada dirinya. Di tempat lain, seorang pedagang mendengar khotbah tentang kerendahan hati, sementara para pejabat gereja terlibat urusan keuangan dalam skala yang sulit ia bayangkan. Ketidakpuasan semacam itu sudah lama beredar sebelum Martin Luther lahir.

John Wycliffe di Inggris atau Jan Hus di Bohemia pernah mengkritik berbagai praktik Gereja jauh sebelumnya. Sebagian kritik mereka dibungkam. Sebagian diwariskan diam-diam dari generasi ke generasi.

Lalu muncul persoalan indulgensi. Banyak orang modern memahami indulgensi secara keliru sebagai "surat masuk surga". Kenyataannya lebih rumit. Dalam teologi Katolik, indulgensi berkaitan dengan pengurangan hukuman temporal atas dosa yang telah diampuni. Sistemnya memiliki logika internal yang panjang dan berkembang selama berabad-abad.

Masalahnya bukan hanya teori. Masalahnya adalah bagaimana teori itu dipraktikkan. Ketika seorang pengkhotbah berdiri di depan kerumunan dan menghubungkan pembayaran uang dengan nasib jiwa di alam setelah kematian, batas antara doktrin dan perdagangan jadi kabur. Di mata banyak orang, keselamatan mulai terdengar seperti transaksi.

Bayangkan seorang tukang sepatu di Saxony yang kehilangan ibunya beberapa tahun sebelumnya. Musim dingin terasa dingin sekali. Salju menumpuk di atap rumah. Ia mendengar bahwa sejumlah pembayaran dapat membantu meringankan penderitaan orang yang dicintainya di api penyucian. Berapa banyak orang yang akan menolak? 

Rasa bersalah adalah kekuatan ekonomi yang luar biasa.

Pembangunan Basilika Santo Petrus di Roma ikut menjadi bagian dari cerita ini. Bangunan itu merupakan salah satu proyek arsitektur paling ambisius dalam sejarah manusia. Nama-nama besar seperti Bramante, Raphael, dan Michelangelo, terlibat dalam proses panjangnya. Bahkan hari ini, ketika seseorang berdiri di bawah kubah raksasa karya Michelangelo, leher terasa pegal karena harus mendongak terlalu lama.

Bangunan sebesar itu membutuhkan dana. Banyak dana. Jumlah yang sulit dibayangkan oleh masyarakat biasa.

Kritik terhadap indulgensi berkembang dalam suasana seperti itu. Sebagian orang mulai bertanya apakah Gereja sedang terlalu jauh masuk ke wilayah yang tidak seharusnya. Martin Luther kemudian datang dengan kegelisahan serupa.

Yang menarik, Luther bukan tokoh yang tampak seperti calon revolusioner. Ia bukan jenderal, bukan bangsawan, dan tidak memimpin pasukan. Ia seorang biarawan Augustinian yang justru sangat serius terhadap agama. Terlalu serius menurut beberapa orang di sekelilingnya.

Ia menghabiskan waktu panjang dalam pengakuan dosa. Ia terus-menerus memikirkan keselamatan jiwanya sendiri. Ia mempelajari Alkitab dengan intensitas yang hampir obsesif. Mata yang lelah karena membaca manuskrip sampai malam bukan gambaran romantis. Mata benar-benar pedih. Punggung benar-benar pegal. Ruangan belajar universitas abad ke-16 bukan tempat nyaman dengan lampu LED dan kursi ergonomis.

Kegelisahan Luther bersifat pribadi sebelum menjadi politik. Ia membaca surat Paulus, terutama Surat Roma. Ia menemukan sesuatu yang menurutnya telah lama tertutup oleh lapisan-lapisan tradisi. Keselamatan, menurut pemahamannya, datang melalui iman kepada rahmat Tuhan, bukan melalui akumulasi jasa atau transaksi keagamaan.

Pemikiran itu terdengar sederhana bagi telinga modern. Pada masa Luther, pemikiran tersebut seperti mencongkel batu fondasi bangunan yang sangat besar.

Tahun 1517 sering muncul dalam buku sejarah karena peristiwa Sembilan Puluh Lima Tesis. Banyak orang membayangkan Luther berjalan dengan penuh keberanian menuju pintu Gereja Kastil di Wittenberg lalu memaku dokumennya di sana. Gambaran tersebut sudah jadi ikon budaya. Detail persisnya masih diperdebatkan para sejarawan.

Yang tidak diperdebatkan adalah dampaknya. Mesin cetak sedang mengubah Eropa. Sebelum teknologi cetak menyebar, sebuah gagasan bergerak dengan kecepatan kuda. Setelah ada mesin cetak, sebuah gagasan dapat melompat dari kota ke kota dalam bentuk pamflet yang dicetak ratusan atau ribuan salinan.

Luther hidup pada saat yang tepat. Atau saat yang paling berbahaya. Tesis-tesisnya menyebar jauh melampaui lingkaran akademik. Orang-orang yang sebelumnya tidak pernah mempelajari teologi mulai membaca perdebatan teologis. Pedagang membaca. Mahasiswa membaca. Bangsawan membaca. Pengrajin membaca.

Persoalan yang semula tampak sebagai sengketa akademik berubah menjadi gempa politik. Roma mengharapkan koreksi. Luther bergerak ke arah lain.

Perdebatan berkembang menjadi konflik terbuka. Ekskomunikasi menyusul. Kekaisaran Romawi Suci ikut terlibat. Para pangeran Jerman melihat peluang. Sebagian mendukung Luther karena alasan religius. Sebagian lagi memiliki kepentingan politik yang lebih praktis.

Dunia yang lahir dari konflik itu tidak jadi lebih tenang. Perang agama meletus di berbagai tempat. Kekristenan Barat pecah menjadi berbagai denominasi. Perdebatan mengenai otoritas kitab suci, tradisi, dan lembaga keagamaan, berlangsung selama berabad-abad setelah Luther meninggal.

Semuanya bermula dari seorang biarawan yang membaca Alkitab terlalu serius, di sebuah kota kecil yang bahkan tidak termasuk pusat kekuasaan Eropa.

Kadang sejarah bergerak karena pasukan besar. Kadang sejarah bergerak karena seseorang membaca satu halaman lagi ketika orang lain sudah menutup bukunya.

Malam di Wittenberg bisa sangat dingin. Lilin menyusut perlahan. Tinta mengering di atas kertas. Dari jendela, mungkin hanya terlihat jalan sempit dan beberapa rumah.

Tidak seorang pun waktu itu dapat melihat tiga abad perang, ribuan buku polemik, jutaan orang Protestan, dan perubahan wajah Eropa yang sedang menunggu di depan.


Related

Sejarah 1338204550258605378

Posting Komentar

emo-but-icon

Terbaru

Banyak Dibaca

Ebook BSM

Mengapa Dunia Seperti Sekarang? 100 Peristiwa yang Membentuk Dunia Kita

Pernah bertanya-tanya, mengapa dunia seperti sekarang? Mengapa dunia terbagi-bagi dalam banyak negara? Mengapa ada orang-orang yang sangat k...

item