Saya Berpikir, Manusia Zaman Sekarang Mirip Ayam Broiler

Ilustrasi/agropustaka.id
Lampu padam selama beberapa jam saja sudah cukup membuat banyak orang gelisah. Baterai ponsel mulai berkurang. Pendingin ruangan berhenti berdengung. Lift tidak bergerak. Orang-orang membuka jendela dan mendadak menyadari udara malam ternyata lebih panas daripada yang mereka ingat. Dalam beberapa menit, kenyamanan yang biasanya terasa permanen berubah menjadi sesuatu yang rapuh.

Perasaan aneh muncul pada saat-saat seperti itu. Bukan karena kita sedang menghadapi bencana besar. Justru karena gangguannya kecil. Gangguan kecil kadang membuka rahasia yang selama ini tersembunyi: sebagian besar kemampuan kita sebenarnya berada di luar tubuh kita sendiri.

Manusia modern sering membanggakan dirinya sebagai spesies paling cerdas dalam sejarah. Mungkin benar. Kita membangun satelit, reaktor nuklir, model kecerdasan buatan, jaringan internet global. Kita dapat mengirim pesan dari Jakarta ke Reykjavik dalam hitungan detik. Kita dapat memesan makanan tanpa bergerak dari sofa.

Tetapi ada pertanyaan yang terasa agak mengganggu. Seandainya seluruh sistem pendukung itu menghilang besok pagi, berapa lama rata-rata manusia kota mampu bertahan hidup?

Saya tidak sedang berbicara tentang perang nuklir atau kiamat Hollywood. Cukup bayangkan seseorang diturunkan sendirian di hutan tropis Kalimantan dengan pakaian yang ia kenakan hari itu dan isi sakunya.

Kebanyakan dari kita mungkin tidak akan bertahan lama.

Fakta itu menarik, karena tubuh kita sebenarnya merupakan hasil jutaan tahun seleksi alam. Leluhur manusia melewati musim kering, banjir, predator, penyakit, kelaparan, migrasi antarbenua, dan berbagai bentuk kesulitan yang sulit dibayangkan dari kursi kantor berpendingin udara. Otak yang sekarang dipakai untuk membuat presentasi PowerPoint dulunya dipakai untuk mengenali jejak hewan di tanah basah, mengingat lokasi sumber air, membaca perubahan cuaca dari warna awan.

Sebagian kemampuan tersebut belum hilang sepenuhnya. Mereka hanya menganggur terlalu lama.

Kehilangan insting pangan mungkin merupakan contoh paling jelas. Banyak orang dapat menjelaskan perbedaan antara iPhone terbaru dan model tahun sebelumnya, tetapi tidak dapat membedakan singkong dari talas ketika keduanya masih tumbuh di tanah. Banyak anak kota mengenal merek kopi lebih baik daripada bentuk tanaman kopi. Kita mengetahui lokasi minimarket terdekat dengan presisi tinggi, tetapi tidak mengetahui tumbuhan liar mana yang dapat dimakan tanpa menyebabkan keracunan.

Hubungan manusia dengan makanan mengalami transformasi yang luar biasa dalam dua abad terakhir. Makanan dulu merupakan proses. Kini makanan menjadi produk.

Seekor rusa yang diburu pemburu-pengumpul membutuhkan pelacakan berjam-jam. Sebungkus ayam goreng membutuhkan beberapa ketukan jari pada layar ponsel.

Perubahan tersebut membawa manfaat besar. Kelaparan massal berkurang di banyak tempat. Produktivitas meningkat. Waktu dapat dialihkan ke aktivitas lain.

Harga yang dibayar jarang dibicarakan. Sebagian besar manusia tidak lagi memahami bagaimana makanan sampai ke piring mereka.

Cobalah lakukan eksperimen sederhana. Ambil selembar kertas. Tulis semua bahan yang diperlukan untuk membuat sepotong roti tawar. Tepung, ragi, air, garam. Mudah. Sekarang jelaskan bagaimana menghasilkan tepung tanpa supermarket, tanpa pabrik penggilingan, tanpa truk distribusi, tanpa listrik. Kertas itu biasanya mulai kosong.

Pemandangan serupa muncul pada hewan yang hidup dekat manusia. Di beberapa wilayah Jepang, monyet liar turun dari pegunungan untuk mengobrak-abrik tempat sampah. Di kota-kota pegunungan Amerika Utara, beruang hitam belajar membuka kontainer sampah lebih cepat daripada membuka sarang rayap. Ahli biologi konservasi telah lama mengamati fenomena itu. Hewan memilih jalur yang paling mudah.

Tidak ada moralitas di sana. Hanya efisiensi. Monyet yang memperoleh kalori dari sampah tidak perlu menghabiskan energi mencari buah liar. Manusia juga melakukan hal yang sama.

GPS memberikan contoh yang bahkan lebih aneh. Penelitian dalam ilmu saraf menunjukkan bahwa bagian otak yang terkait dengan navigasi spasial, termasuk hippocampus, aktif ketika manusia membangun peta mental lingkungan. Pengemudi taksi London pernah menjadi subjek penelitian terkenal, karena mereka harus menghafal ribuan jalan dan gang dalam sistem yang dikenal sebagai "The Knowledge". Pekerjaan itu melelahkan. Otak mereka berubah secara fisik.

Kini banyak orang bahkan tidak mengingat rute menuju tempat yang mereka kunjungi setiap minggu. Mereka mengikuti panah biru di layar. Belok kanan. Belok kiri. Lurus dua ratus meter. Perintah demi perintah. Peta mental perlahan digantikan instruksi.

Saya memperhatikan fenomena kecil yang terasa lucu sekaligus mengganggu. Ketika baterai ponsel hampir habis, sebagian orang jadi cemas bukan karena kehilangan alat komunikasi. Mereka cemas karena kehilangan orientasi. Dunia yang beberapa menit sebelumnya terasa akrab mendadak berubah jadi labirin. Padahal matahari masih terbit di timur seperti biasa.

Tubuh juga mengalami perubahan yang tidak kalah menarik. Leluhur manusia menghabiskan sebagian besar hidupnya bergerak. Berjalan jauh. Mengangkat beban. Memanjat. Menggali. Tubuh manusia dibentuk oleh aktivitas.

Kursi kantor mungkin merupakan salah satu benda paling revolusioner sekaligus paling merusak yang pernah ditemukan. Kita duduk saat bekerja. Duduk saat makan. Duduk saat berkendara. Duduk saat bersantai. Banyak orang menghabiskan lebih dari sepuluh jam sehari hampir tanpa bergerak.

Kemudian mereka membeli keanggotaan gym, agar dapat mensimulasikan gerakan yang dulu muncul secara alami dalam kehidupan sehari-hari. Kontradiksi kecil itu tidak pernah berhenti membuat saya tersenyum.

Lingkungan steril juga membawa paradoks tersendiri. Antibiotik, sanitasi modern, dan kebersihan telah menyelamatkan jutaan nyawa. Tidak ada alasan romantis untuk kembali ke era kolera dan tifus. Angka kematian bayi pada masa lalu sangat brutal.

Meski begitu, beberapa peneliti memperhatikan peningkatan berbagai gangguan imun dan alergi di masyarakat modern. Hipotesis higiene menjadi salah satu penjelasan yang sering dibahas. Sistem imun berkembang dalam lingkungan yang penuh mikroorganisme. Ketika lingkungan jadi terlalu bersih, respons imun terkadang jadi salah sasaran.

Tubuh yang dibangun untuk perang panjang tiba-tiba kehilangan lawan. Ia mulai bertarung dengan serbuk sari. Ia mulai bertarung dengan kacang. Ia mulai bertarung dengan dirinya sendiri.

Bagian yang paling ekstrem terlihat pada domestikasi. Ayam broiler modern tumbuh begitu cepat sehingga beberapa strain mengalami kesulitan menopang berat tubuhnya sendiri. Produktivitas meningkat luar biasa dibandingkan ayam kampung tradisional. Daging menjadi murah. Konsumen diuntungkan.

Coba lepaskan ayam broiler ke hutan, dan lihat apa yang terjadi. Seleksi alam tidak terlalu peduli pada efisiensi produksi.

Benih tanaman modern juga sering dirancang untuk lingkungan yang sangat spesifik: pupuk tertentu, irigasi tertentu, pengendalian hama tertentu. Hasil panennya mengagumkan. Ketergantungannya juga mengagumkan.

Modernisasi sebenarnya bukan kisah tentang manusia yang jadi lemah. Kisahnya lebih rumit. Kita memindahkan kemampuan bertahan hidup dari individu ke sistem. Dulu seseorang harus mengetahui cara mencari air. Kini jaringan pipa yang mengetahui caranya. Dulu seseorang harus memahami musim tanam. Kini rantai pasok global yang mengurusnya. Dulu seseorang harus membaca langit. Kini satelit yang melakukannya.

Kecerdasan tidak hilang. Kecerdasan dipindahkan. Masalah muncul ketika kita mulai mengira bahwa kemampuan sistem adalah kemampuan pribadi.

Seorang pegawai yang dapat memesan makanan dari tiga aplikasi berbeda mungkin merasa sangat mandiri, sampai jaringan internet terputus. Seorang profesional yang mengelola data miliaran rupiah mungkin tidak tahu cara menyalakan api tanpa korek.

Malam semakin larut. Pendingin ruangan masih bekerja. Lampu masih menyala. Air masih mengalir ketika keran dibuka. Makanan masih memenuhi rak supermarket. Semuanya terasa normal.

Seekor kucing liar yang berkeliaran di belakang pasar mungkin memiliki pengetahuan yang lebih berguna tentang bertahan hidup daripada sebagian penghuni gedung pencakar langit di sekitarnya.

Kucing itu sedang mengendus sesuatu di dekat tumpukan kardus basah. Ia tampak sangat sibuk dengan urusannya sendiri.


Related

Hoeda's Note 1314545341265143565

Posting Komentar

  1. begitu juga dengan AI

    AI bisa nulis, AI bisa ngoding

    tapi apa efeknya? ya susah sekali menemukan tulisan lucu dan punya jiwa

    padahal dulu mudah, banyak blogger lucu-lucu dan menggemaskan, hehe

    begitu juga website dulu banyak yang unik-unik, sekarang mirip semua (efek hasil AI)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bahkan video-video di Youtube banyak yang kelihatan mirip, padahal beda channel. Aku sering nonton video di sana dan kadang sambil mikir, "Kok ini kayak video yang pernah aku tonton sebelumnya, ya?" Waktu dicek ternyata memang mirip. Cara penyampaian, visual, sampai urutan isinya.

      Hapus

emo-but-icon

Terbaru

Banyak Dibaca

Ebook BSM

Mengapa Dunia Seperti Sekarang? 100 Peristiwa yang Membentuk Dunia Kita

Pernah bertanya-tanya, mengapa dunia seperti sekarang? Mengapa dunia terbagi-bagi dalam banyak negara? Mengapa ada orang-orang yang sangat k...

item