Bendera Perang yang Tertinggal dari Pertempuran Iwo Jima

Ilustrasi milik BSM
Benda yang dibawa pulang dari perang sering kali tidak tahu kapan perang itu benar-benar selesai.

Sebuah bendera Jepang pernah terlipat selama puluhan tahun di rumah keluarga Amerika. Kainnya masih utuh. Di permukaannya terdapat lebih dari tiga puluh tanda tangan dan pesan yang ditulis untuk seorang prajurit bernama Masashi Ito. Nama-nama itu berasal dari keluarga, tetangga, teman sekolah, dan orang-orang yang berada di sekelilingnya, sebelum ia berangkat menjadi tentara. Mereka menulis harapan agar Ito selamat, agar ia beruntung, agar ia pulang. Tidak satu pun dari mereka tahu bahwa kain yang mereka tandatangani kelak akan kembali ke Jepang tanpa orang yang menerimanya.

Ito tewas di Iwo Jima pada 17 Maret 1945. Benderanya tidak.

Pada 14 Februari 2019, di Gunma Gokoku Shrine di Takasaki, prefektur Gunma, seorang anggota Angkatan Udara Amerika Serikat bernama Senior Master Sgt. William Lowell Armstrong membuka lipatan bendera tersebut dengan sarung tangan putih. Di hadapannya berdiri Michio Miki, 90 tahun, dan Hideo Ito, 76 tahun, keponakan Masashi Ito. 

Upacara itu sederhana, tetapi adegannya aneh dalam cara yang hanya bisa dihasilkan oleh perang: cucu seorang tentara Amerika berdiri di Jepang untuk menyerahkan kembali barang yang diperoleh kakeknya dari perang kepada keluarga orang Jepang yang tewas dalam perang itu.

Bendera semacam itu dikenal sebagai Good Luck Flag, atau hinomaru yosegaki. Sebelum seorang prajurit berangkat, keluarga dan orang-orang dekatnya akan menuliskan nama atau pesan pada bendera matahari terbit. Bendera tersebut kemudian dilipat dan dibawa ke medan perang. Bentuknya kecil, murah, hampir tidak berarti secara material. Justru karena itulah ia terasa sangat personal. Sebuah senapan dibuat untuk membunuh. Sebuah bendera semacam itu dibuat untuk mengantar seseorang pergi ke medan perang.

Pada bendera Ito terdapat lebih dari tiga puluh tulisan. Kita tidak mengetahui semua hubungan antara penulis dan pemiliknya, tetapi kita tahu fungsi sosial benda tersebut: orang-orang yang mengenal Ito menaruh sebagian kecil diri mereka di atas kain sebelum ia berangkat. Setelah itu kain tersebut mengikuti perjalanan yang tidak mereka ketahui.

Iwo Jima adalah tempat yang buruk untuk sebuah benda semacam itu. Pertempuran di pulau vulkanik kecil tersebut berlangsung pada Februari dan Maret 1945. Amerika membutuhkan Iwo Jima sebagai pangkalan udara untuk mendukung operasi terhadap Jepang. Jepang mempertahankan pulau itu dengan pertahanan bawah tanah yang sangat rumit. Bagi orang yang berada di dalamnya, dunia terdiri dari batu vulkanik, terowongan, asap, ledakan, darah, dan jeda-jeda pendek ketika seseorang masih sempat berpikir apakah ia akan melihat rumah lagi.

Ito tidak melihat rumah lagi. Bendera yang diberikan kepadanya sebelum keberangkatan justru mengalami perjalanan yang jauh lebih panjang daripada pemiliknya. Setelah pertempuran, bendera tersebut jatuh ke tangan Cpl. Lowell Armstrong, kakek William Armstrong. Bagaimana persisnya Lowell Armstrong memperolehnya tidak pernah diketahui keluarga. Ia tidak banyak berbicara tentang masa dinasnya di kawasan Pasifik. Bahkan selama hidupnya, ia tidak menjelaskan kepada keluarga bagaimana bendera Ito bisa berada di tangannya.

Hal semacam itu membuat sejarah terasa lebih mengganggu daripada ketika semuanya memiliki catatan yang lengkap.

Kita tahu bahwa bendera itu berasal dari Masashi Ito. Kita tahu bahwa Ito tewas. Kita tahu bahwa seorang prajurit Amerika membawanya pulang. Setelah itu, yang tersisa adalah benda dan diam.

Lowell Armstrong meninggal pada 2002. Bendera itu kemudian berada di tangan putranya, Steve. Ia mulai mencari cara mengembalikannya. Bertahun-tahun kemudian, keluarga Armstrong menghubungi Obon Society, organisasi yang membantu mengidentifikasi pemilik dan keluarga bendera-bendera Jepang yang dibawa pulang oleh tentara Amerika sebagai suvenir perang. Pada 2016, proses pencarian keluarga pemilik mulai mendapat bantuan organisasi tersebut. Identitas Ito kemudian dapat dipastikan pada 2018.

Jarak waktunya terasa hampir tidak masuk akal. Empat tahun perang, tujuh puluh lebih tahun penyimpanan, beberapa generasi manusia, lalu sebuah alamat keluarga ditemukan. Orang yang menerima bendera itu pada 2019 bahkan tidak mengenal Ito sebagai seorang dewasa. Yang mereka terima adalah peninggalan seorang paman yang sudah lama menjadi bagian dari masa lalu keluarga.

Michio Miki mengatakan ia terkejut bendera tersebut masih ada setelah lebih dari tujuh dekade. Ia juga menyebut pengembalian itu sebagai sesuatu yang sangat mengejutkan mengingat jutaan orang tewas dalam perang.

Kalimat seperti itu mudah lewat begitu saja kalau kita membacanya sebagai berita. Padahal angka tujuh puluh empat tahun di sini mempunyai bentuk yang sangat konkret. Seorang anak yang masih hidup pada 1945 bisa memiliki cucu pada 2019. Rumah berubah. Nama keluarga bercabang. Orang-orang yang menulis tanda tangan di kain tersebut telah lama meninggal. Tulisan tangan mereka tetap menempel di sana, sementara tubuh mereka sudah tidak ada.

Benda itu menjadi semacam daftar orang yang pergi.

William Armstrong sendiri bahkan tidak pernah melihat bendera tersebut sampai proses pengembaliannya. Ia baru mengetahui keberadaannya sekitar dua setengah tahun sebelum upacara. Ia mengatakan bahwa keluarganya bersyukur kakeknya menyimpan bendera itu dalam kondisi baik, dan bahwa keluarganya merasa benda tersebut seharusnya dikembalikan kepada pemiliknya.

Ada bagian dari kisah ini yang menurut saya lebih menarik daripada seremoni perdamaian atau rekonsiliasi yang biasanya ditempelkan pada cerita semacam ini. Keluarga Armstrong tidak memiliki jawaban lengkap tentang bagaimana Lowell mendapatkan bendera tersebut. Mereka hanya mempunyai sebuah benda yang diwariskan, lalu sebuah keputusan: simpan atau cari keluarganya.

Keputusan itu sederhana, tetapi tidak netral.

Bagi tentara Amerika pada 1945, bendera Jepang yang ditangkap dapat menjadi suvenir perang. Bagi keluarga Ito, bendera yang sama berisi nama-nama orang yang pernah berdiri di sekeliling Masashi sebelum ia pergi. Dua makna tersebut dapat hidup pada benda yang sama tanpa salah satunya menghapus yang lain. Sejarah memang sering menyimpan benda dalam keadaan seperti itu: satu benda, beberapa pemilik makna, dan tidak ada label yang mampu menjelaskan seluruhnya.

Pada hari pengembalian, Armstrong mengenakan sarung tangan putih sebelum membuka kain tersebut. Ia kemudian menyerahkannya kepada Michio Miki dan Hideo Ito. Foto-foto dari upacara itu memperlihatkan wajah-wajah tua, sebuah bendera yang dibentangkan, dan foto Masashi Ito di dekat foto Cpl. Lowell Armstrong. Dua orang yang tidak pernah bertemu, dipisahkan oleh laut, perang, bahasa, dan tujuh puluh empat tahun, muncul dalam satu meja upacara.

Kita sering membayangkan perang melalui benda-benda yang besar: tank, kapal perang, pesawat, artileri. Bendera Ito jauh lebih kecil. Bisa dilipat dan disimpan dalam lemari. Bisa berpindah tangan tanpa diketahui siapa pun selama puluhan tahun. Mungkin justru karena ukurannya kecil, sejarah manusia terasa lebih jelas di sana.

Lebih dari tiga puluh orang pernah menulis pada kain itu sebelum Masashi Ito berangkat. Mereka mungkin menekan ujung pena sedikit lebih kuat pada bagian tertentu. Mungkin ada tulisan yang dibuat tergesa-gesa. Mungkin seseorang bercanda ketika menulis namanya. Mungkin seorang ibu menulis lebih lama daripada yang lain. Kita tidak tahu. Kainnya menyimpan tinta, bukan suara.

Kemudian Ito pergi ke Iwo Jima. Pada 17 Maret 1945, hidupnya berhenti.

Bendera itu menempuh perjalanan lain: dari Iwo Jima ke tangan seorang prajurit Amerika, dari rumah Lowell Armstrong ke keluarganya, dari Steve Armstrong ke Obon Society, kemudian ke Takasaki. Pada 14 Februari 2019, William Armstrong membukanya di depan dua lelaki tua dari keluarga Ito.

Tidak ada satu pun tanda tangan baru yang ditambahkan. Kain itu sudah penuh sejak sebelum perang.

Related

Sejarah 2355551280008281977

Posting Komentar

emo-but-icon

Terbaru

Banyak Dibaca

Ebook BSM

Mengapa Dunia Seperti Sekarang? 100 Peristiwa yang Membentuk Dunia Kita

Pernah bertanya-tanya, mengapa dunia seperti sekarang? Mengapa dunia terbagi-bagi dalam banyak negara? Mengapa ada orang-orang yang sangat k...

item