Dalam Perang, Sirine Bisa Menjadi Tanda dan Bahasa Rahasia

Ilustrasi milik BSM
Sirene tidak diciptakan untuk menjadi rahasia. Suara itu justru dirancang agar mustahil diabaikan. Ia harus menembus dinding rumah, percakapan di dapur, suara mesin pabrik, bahkan tidur. Ketika sirene meraung, orang harus tahu bahwa sesuatu sedang terjadi dan tubuh mereka harus melakukan hal tertentu: berlindung, mematikan lampu, menjauh dari jendela, menunggu tanda berikutnya.

Karena itulah gagasan bahwa sistem sirene dapat dipakai jaringan perlawanan terasa begitu masuk akal. Negara pendudukan membangun sistem komunikasi untuk mengendalikan penduduk; jaringan bawah tanah hidup di tengah sistem yang sama. Persoalannya hanya satu: apakah memang ada petugas pemadam kebakaran tertentu yang melakukan itu?

Yang benar-benar terdokumentasi justru lebih menarik karena lebih membosankan pada awalnya.

Sirene merupakan bagian dari infrastruktur pertahanan sipil Eropa. Di Inggris, sistem Air Raid Precautions dibangun untuk menghadapi serangan udara dan mengatur respons penduduk. Sirene memberi tanda bahaya; jaringan pengawas, pemadam kebakaran, pos pengendalian, messenger, telepon, dan pusat laporan bekerja di sekelilingnya. 

Pemerintah Inggris sendiri menjelaskan pada 1940 bahwa sistem peringatan sirene sudah menjadi salah satu bagian penting pertahanan sipil bersama layanan pemadam kebakaran, pertolongan pertama, rumah sakit, dan pengawasan serangan udara.

Pemadam kebakaran memiliki hubungan yang bahkan lebih dekat dengan bunyi tersebut.

Sebelum perang, sirene memang sudah digunakan untuk memanggil firemen paruh waktu. Ketika perang dimulai, banyak sirene diambil alih dan disesuaikan untuk kebutuhan peringatan serangan udara. Setelah perang, fungsi lama itu kembali. 

Dalam sidang House of Commons pada Oktober 1946, pemerintah menjelaskan bahwa sekitar 200 sampai 300 sirene telah digunakan sebelum perang untuk memanggil pemadam kebakaran paruh waktu. Ketika perang berlangsung, alat yang sama dipakai untuk sistem peringatan serangan udara, kemudian dikembalikan kepada fungsi pemanggilan fire brigade.

Artinya, satu benda memiliki dua kehidupan. Sirene dapat berarti: pesawat musuh mendekat. Sirene juga dapat berarti: pemadam kebakaran harus berkumpul.

Bagi orang yang tinggal di kota selama bertahun-tahun perang, perbedaan bunyi dan pola menjadi pengetahuan tubuh. Orang tahu bunyi tertentu. Mereka tahu kapan harus berlari ke tempat perlindungan. Petugas tahu kapan harus menuju kendaraan. Pengawas tahu kapan harus menghubungi pusat laporan.

Sebuah kota yang sedang berperang penuh dengan tanda semacam itu. Itulah bagian yang menarik bagi sejarah resistance. Jaringan bawah tanah tidak perlu selalu menciptakan alat komunikasi baru. Mereka dapat memanfaatkan alat yang sudah dimiliki kota.

Masalahnya, memanfaatkan sesuatu dan membuktikan bahwa seseorang benar-benar memanfaatkannya adalah dua hal berbeda. 

Kita tahu sistem sirene tersedia. Kita tahu petugas pemadam kebakaran mengoperasikannya. Kita tahu sebagian firemen bekerja paruh waktu dan tersebar di berbagai tempat kerja sehingga membutuhkan sistem panggilan yang efektif. Hansard bahkan menyebut alternatif yang digunakan untuk memanggil mereka: telepon, pelari, lonceng, peluit, buzzer, marun, dan sirene.

Kita tahu, dengan kata lain, kota-kota Eropa yang diduduki atau terancam perang mempunyai jaringan komunikasi yang jauh lebih padat daripada yang terlihat dari jalan.

Sebuah sirene di atap gedung. Telepon di kantor pemadam. Pusat pengendalian. Pos pengawas. Pelari. Kendaraan. Orang yang bekerja di pabrik pada siang hari lalu menjadi fireman pada malam hari. Semua terhubung. Resistance hidup di antara hubungan-hubungan itu.

Kita sering membayangkan komunikasi bawah tanah dalam bentuk benda kecil: kertas yang dilipat, mikrofilm, tinta tak terlihat, radio tersembunyi. Infrastruktur kota sebenarnya jauh lebih menarik. Jalan, kereta api, kantor pos, rumah sakit, stasiun pemadam kebakaran, bengkel, toko, bahkan jadwal kereta bisa menjadi bagian dari sistem informasi tanpa perlu berubah bentuk.

Sirene sangat sempurna untuk keperluan propaganda dan kontrol karena sifatnya publik. Semua orang mendengarnya. Justru karena semua orang mendengarnya, satu orang tidak mudah dicurigai hanya karena berada dekat sumber bunyi.

Tetap saja, kita harus berhati-hati dengan bagian berikutnya. Tidak setiap pola sirene adalah kode. Tidak setiap fireman yang menjadi anggota resistance menggunakan sirene untuk mengirim pesan. Tidak setiap penyalahgunaan infrastruktur sipil meninggalkan arsip.

Kekosongan arsip bukan bukti bahwa sesuatu tidak pernah terjadi. Kekosongan itu juga bukan izin untuk menulis seolah-olah sesuatu memang terjadi. Perbedaan itu sangat penting untuk kisah-kisah Perang Dunia II.

Sumber-sumber resmi sering menyimpan fungsi administratif benda: kapan sirene dipasang, siapa yang bertanggung jawab, bagaimana alarm dibunyikan, siapa yang harus berkumpul. Kesaksian resistance lebih mungkin menyimpan cerita tentang bagaimana benda itu dipakai secara menyimpang. Dua jenis sumber tersebut harus bertemu sebelum seorang fireman dapat diberi nama dan diangkat menjadi tokoh sejarah.

Beberapa arsip lokal bahkan memperlihatkan betapa dalamnya sirene masuk ke kehidupan sehari-hari. Di Bexhill, misalnya, sistem peringatan udara digunakan ratusan kali selama perang. Setelah sistem peringatan serangan udara dihentikan pada Mei 1945, sirene kemudian dipakai lagi untuk memanggil Fire Brigade.

Di Bletchley, catatan sejarah lokal memperlihatkan sirene di gedung dewan mengambil fungsi sebagai pemanggil firemen paruh waktu setelah perang. Respons penduduk memperlihatkan sesuatu yang tidak tercatat dalam tabel administrasi: bunyi sirene masih memicu refleks tubuh. Seorang warga bernama A. G. Rawlings bahkan mengeluh bahwa ketika sirene tiba-tiba berbunyi, ia secara spontan menjatuhkan diri ke lantai.

Itu detail kecil yang jauh lebih kuat daripada metafora apa pun. Tubuh manusia mengingat fungsi sebuah suara lebih lama daripada pemerintah.

Orang bisa diberi tahu bahwa perang sudah berakhir. Sistem bisa dinyatakan selesai. Sirene dapat dialihkan kembali menjadi panggilan untuk kebakaran. Namun ketika suara itu menembus udara, seseorang yang pernah mengalami Blitz mungkin tetap merunduk.

Selama perang, negara dan masyarakat menggunakan mesin suara yang sama untuk tujuan yang berbeda. Sirene dapat memanggil orang untuk berlindung, memanggil firemen untuk bekerja, memberi tahu bahwa serangan telah berakhir, dan—setidaknya secara teoritis—menjadi saluran bagi orang yang hidup di bawah pendudukan untuk membaca perubahan keadaan kota.

Satu bunyi. Beberapa arti. Di arsip, bunyi itu biasanya hanya muncul sebagai satu baris: siren sounded. Nama orang yang berdiri di dekat tuasnya belum tentu ikut tertulis.


Related

Sejarah 6450759072044503004

Posting Komentar

Jangan menyisipkan link hidup ke dalam komentar, karena akan ditandai sebagai spam.

emo-but-icon

Terbaru

Banyak Dibaca

Ebook BSM

Mengapa Dunia Seperti Sekarang? 100 Peristiwa yang Membentuk Dunia Kita

Pernah bertanya-tanya, mengapa dunia seperti sekarang? Mengapa dunia terbagi-bagi dalam banyak negara? Mengapa ada orang-orang yang sangat k...

item