Fusus al-Hikam, Ibn Arabi Membahas Para Nabi dan Realitas Ilahi

Ilustrasi milik BSM
Ibn Arabi mengambil para nabi yang selama berabad-abad dikenal umat Islam melalui kisah-kisah mereka, lalu melakukan sesuatu yang agak mengganggu kebiasaan membaca kita. Adam tidak berhenti sebagai manusia pertama. Nuh tidak berhenti sebagai pembawa bahtera. Ibrahim tidak berhenti sebagai penghancur berhala. Musa tidak berhenti sebagai nabi yang berhadapan dengan Firaun. Isa tidak berhenti sebagai putra Maryam. Muhammad tidak berhenti sebagai penutup para nabi. Dalam Fusus al-Hikam, masing-masing nabi menjadi pintu menuju sebuah persoalan tentang Tuhan, manusia, pengetahuan, dan struktur kenyataan.

Karena itulah judul kitab ini, Fusus al-Hikam—“Permata-permata Hikmah”—cukup tepat. Ibn Arabi menyusun kitab berdasarkan daftar para nabi, dan pada setiap nabi ia membicarakan suatu hikmah, kebijaksanaan atau prinsip spiritual tertentu yang dikaitkan dengan “kalimah”, kata atau realitas kenabian mereka. Adam menjadi hikmah ilahiyyah; Nuh hikmah subbuhiyyah; Ibrahim hikmah khaliliyyah; Musa hikmah kalimiyyah; Isa hikmah ruhiyyah; sedangkan Muhammad dikaitkan dengan hikmah fardiyyah. Susunan itu sudah memberi tahu pembaca bahwa kitab ini tidak sedang menulis sejarah para nabi. 

Ibn Arabi menulis Fusus al-Hikam di Damaskus menjelang akhir hidupnya. Kitab ini lebih pendek jika dibandingkan dengan Al-Futuhat al-Makkiyyah. Justru karena pendek, kepadatannya terasa lebih brutal. Kalimat-kalimatnya dapat memuat beberapa lapisan sekaligus. Satu istilah Arab bisa membawa persoalan teologi, bahasa, Al-Qur'an, pengalaman mistik, dan ontologi pada waktu yang sama. Membacanya dalam terjemahan kadang membuat kita mendapat ilusi bahwa kalimatnya sudah jelas, padahal istilah kuncinya sedang menarik seluruh sistem pemikiran Ibn Arabi dari belakang.

Bab Adam memberi contoh yang bagus. Adam disebut sebagai kalimah ilahiyyah—sebuah “Kata Ilahi”. Ibn Arabi tidak sedang mengatakan Adam adalah Tuhan. Yang ia lakukan jauh lebih rumit: manusia dipahami sebagai tempat munculnya berbagai nama dan sifat Tuhan, sebuah barzakh atau perantara yang menghubungkan berbagai tingkat realitas. Adam menjadi semacam ringkasan kosmos karena manusia memiliki hubungan dengan berbagai dimensi wujud yang tersebar dalam ciptaan.

Gagasan manusia sebagai mikrokosmos memang bukan milik Ibn Arabi seorang diri. Tradisi filsafat dan mistik sebelum dirinya telah mengenal hubungan antara manusia dan kosmos. Ibn Arabi mengolahnya dengan cara yang sangat khas. Manusia memperoleh posisi istimewa karena mampu menerima tajalli, penyingkapan atau manifestasi nama-nama Tuhan secara lebih lengkap. Kata “manifestasi” di sini perlu dipahami hati-hati: ia tidak berarti Tuhan berubah menjadi manusia atau alam adalah Tuhan dalam pengertian sederhana. Ibn Arabi sedang berbicara mengenai bagaimana realitas ilahi diketahui dan tampak melalui ciptaan.

Bagian Nuh bahkan memperlihatkan mengapa Fusus al-Hikam tidak nyaman dibaca secara hitam-putih. Nuh berhadapan dengan kaumnya yang menolak dakwahnya. Dalam pembacaan biasa, kita segera tahu siapa yang benar dan siapa yang salah. Ibn Arabi membawa pembaca ke persoalan tanzih—menyucikan Tuhan dari segala keserupaan dengan makhluk—dan tashbih, pengakuan bahwa Tuhan memiliki hubungan dan dapat dikenali melalui tanda-tanda dalam ciptaan. Ketegangan antara dua cara berbicara tentang Tuhan itu menjadi persoalan metafisik yang besar.

Nuh, dalam tafsir Ibn Arabi, berkaitan dengan penekanan tertentu pada tanzih. Problemnya bukan sekadar apakah kaum Nuh menyembah berhala. Ibn Arabi bertanya tentang apa yang sebenarnya mereka lakukan ketika memberi bentuk tertentu kepada yang ilahi. Perdebatan teologis yang biasanya kita temukan dalam buku akidah berubah menjadi pembahasan mengenai bagaimana manusia mengenal Tuhan dan mengapa bentuk pengetahuan keagamaan tertentu bisa menjadi terlalu sempit.

Ibrahim mendapat perlakuan berbeda. Ia disebut sebagai khalil Allah, kekasih atau karib intim Allah, dan Ibn Arabi mengembangkan konsep khulla. Ibrahim dalam kitab ini bukan sekadar figur yang menerima perintah menyembelih Ismail atau menghancurkan berhala. Ia menjadi pintu untuk memikirkan hubungan antara Tuhan dan manusia yang sangat dekat, sampai kedekatan itu sendiri membutuhkan penjelasan metafisik.

Bab Musa bahkan lebih berani. Musa adalah kalim Allah, “orang yang diajak bicara oleh Allah”, dan karena itu Ibn Arabi mengembangkan hikmah kalimiyyah. Kisah Musa dengan Khidr juga menjadi ladang besar untuk persoalan pengetahuan: mengapa pengetahuan Khidr berbeda dari pengetahuan Musa? Mengapa seseorang yang memiliki otoritas kenabian bisa berhadapan dengan pengetahuan yang tidak segera dapat ia pahami? Itu bukan sekadar kisah tentang guru dan murid. Ibn Arabi sedang mempersoalkan batas pengetahuan yang diperoleh melalui aturan, pengalaman, intuisi spiritual, dan pemberian ilahi.

Isa membawa pembaca ke wilayah yang bahkan lebih aneh. Ia disebut sebagai kalimah dan ruh dari Allah, sehingga pembahasannya berkaitan dengan ruh, penciptaan, kehidupan, dan kemampuan menghidupkan. Dalam Fusus al-Hikam, mukjizat Isa—termasuk menghidupkan orang mati—tidak dibaca sebagai tontonan ajaib belaka. Ibn Arabi menggunakannya untuk memikirkan hubungan antara kehidupan, kehendak ilahi, dan daya manusia sebagai tempat berlangsungnya tindakan tersebut. 

Bagi pembaca Muslim modern, beberapa halaman bisa terasa sangat tidak biasa. Kita terbiasa mengenal nabi melalui pelajaran agama: Adam untuk asal-usul manusia, Nuh untuk keteguhan berdakwah, Ibrahim untuk tauhid, Musa untuk melawan Firaun, Isa untuk mukjizat, Muhammad untuk risalah terakhir. Ibn Arabi mengambil bahan yang sama tetapi memindahkan pusat gravitasinya. Kisah tidak lagi terutama menjawab “apa yang terjadi kepada nabi ini?” Kisah menjadi “apa yang dapat diketahui mengenai Tuhan dan manusia melalui nabi ini?”

Karena itulah Fusus al-Hikam terasa seperti kitab yang sedang membedah para nabi dari dalam. 

Nabi Muhammad ditempatkan terakhir, sebagai hikmah fardiyyah, hikmah keesaan atau keunikan individualitas. Posisi itu tidak berarti Muhammad sekadar satu nabi lagi dalam daftar. Dalam sistem Ibn Arabi, Nabi Muhammad memiliki kedudukan khusus sebagai khatam al-anbiya', penutup para nabi, dan realitas Muhammad menjadi bagian penting dari cara Ibn Arabi memahami kesempurnaan manusia dan hubungan kenabian dengan struktur wujud. Di sini seluruh pembahasan mulai terasa kembali ke pusatnya: manusia sempurna, pengetahuan tentang Tuhan, dan kemungkinan manusia menjadi tempat terlihatnya berbagai nama ilahi. 

Kitab ini juga menunjukkan sesuatu yang sering hilang ketika sejarah pemikiran Islam dipersempit menjadi daftar “teolog A berpendapat X, filsuf B berpendapat Y”. Spektrum pemikiran Islam abad pertengahan ternyata jauh lebih liar. Ibn Arabi dapat berbicara dalam bahasa Al-Qur'an dan hadis sambil menyusun pembahasan yang sangat metafisik. Ia tidak sedang berdiri di luar Islam sambil meminjam beberapa istilah Islam. Ia bekerja dari dalam tradisi itu, tetapi membawa pertanyaan-pertanyaannya sampai ke wilayah yang membuat pembaca fikih atau teologi biasa harus berhenti dan membaca ulang.

Karena itu Fusus al-Hikam juga punya sejarah penerimaan yang rumit. Para pengikutnya menjadikannya salah satu teks terpenting dalam tradisi Akbarian, sementara sebagian ulama mengkritik atau mencurigai beberapa rumusan Ibn Arabi. Perdebatan mengenai apakah ungkapan-ungkapan tertentu harus dipahami secara literal, simbolis, atau dalam kerangka pengalaman mistiknya, berlangsung selama berabad-abad. Syarah terhadap Fusus al-Hikam kemudian menjadi genre tersendiri; komentar Dawud al-Qaysari, misalnya, ikut membentuk cara generasi berikutnya memahami terminologi Ibn Arabi.

Yang membuat kitab ini mengesalkan sekaligus mengesankan adalah kenyataan bahwa kita sudah mengenal tokoh-tokohnya. Kita tahu siapa Adam. Kita tahu kisah Ibrahim. Kita tahu Musa. Kita tahu Isa. Kita tahu Nabi Muhammad. Kita masuk dengan perasaan sudah mempunyai peta, kemudian Ibn Arabi mengambil kisah yang sama dan menggambar koordinat lain di atasnya.

Adam berubah menjadi persoalan manusia sebagai cermin seluruh nama ilahi. Nuh membawa persoalan bagaimana Tuhan dikenali. Ibrahim membuka pembicaraan tentang kedekatan. Musa mengganggu pengertian kita tentang pengetahuan. Isa membawa persoalan ruh dan kehidupan. Nabi Muhammad mengantar pembahasan menuju kesempurnaan manusia.

Setelah beberapa halaman, kisah para nabi yang kita kenal sejak kecil terasa asing lagi.

Kitab tetap berada di tangan, halaman Arabnya padat, tinta hitam memenuhi baris-baris kecil, dan satu kalimat Ibn Arabi bisa membuat pembaca kembali ke paragraf sebelumnya hanya untuk memastikan bahwa ia tidak salah membaca.


Related

Keislaman 579688741108438351

Posting Komentar

emo-but-icon

Terbaru

Banyak Dibaca

Ebook BSM

Mengapa Dunia Seperti Sekarang? 100 Peristiwa yang Membentuk Dunia Kita

Pernah bertanya-tanya, mengapa dunia seperti sekarang? Mengapa dunia terbagi-bagi dalam banyak negara? Mengapa ada orang-orang yang sangat k...

item