Al-Milal wa al-Nihal, Kitab Al-Shahrastani yang Merekam Debat Teologi

Ilustrasi milik BSM
Bayangkan membuka sebuah kitab abad ke-12 lalu menemukan Mu‘tazilah, Asy‘ariyah, Khawarij, berbagai kelompok Syiah, filsuf, Majusi, Yahudi, Kristen, serta tradisi keagamaan lain, duduk di dalam satu karya yang sama. Bukan sebagai catatan kaki. Masing-masing mendapat ruang untuk dijelaskan, diklasifikasikan, dibedakan dari kelompok tetangganya. Pembaca segera menemukan sesuatu yang agak mengguncang: dunia intelektual Islam pada masa itu ternyata sangat ramai.

Muhammad ibn ‘Abd al-Karim al-Shahrastani lahir di Shahrastan, Khurasan, sekitar 1086. Ia hidup pada masa ketika kota-kota seperti Nishapur, Baghdad, Khwarazm, Isfahan, dan wilayah Khurasan menjadi tempat pertemuan para teolog, ahli fikih, filsuf, ahli hadis, pejabat, pengkaji bahasa, serta orang-orang yang datang untuk belajar. Ia belajar di Nishapur, pernah mengajar di Baghdad pada lingkungan madrasah Nizamiyah, lalu kembali ke wilayah Khurasan. Ia wafat pada 1153.

Nishapur penting untuk memahami suasana intelektual yang membentuknya. Kota tersebut bukan tempat dengan satu suara teologis. Perdebatan mengenai sifat Tuhan, kehendak bebas, kenabian, imamah, akal, wahyu, serta status manusia setelah mati, bukan percakapan kecil di pinggir kehidupan. Persoalan-persoalan itu menjadi bagian dari kehidupan intelektual yang serius.

Al-Shahrastani masuk ke dalam keramaian tersebut, kemudian melakukan sesuatu yang membuat Al-Milal wa al-Nihal bertahan berabad-abad: ia menyusun keramaian itu.

Kitabnya biasanya dikenal sebagai karya tentang agama-agama dan sekte-sekte. Terjemahan semacam itu benar, tetapi agak menipu. Kalau hanya membutuhkan katalog, Al-Shahrastani tidak perlu bekerja sekeras itu. Ia berusaha mencari struktur dalam perbedaan. Ia ingin pembaca mengetahui apa yang dipercayai sebuah kelompok, persoalan apa yang memisahkannya dari kelompok lain, serta bagaimana sebuah posisi teologis dibangun.

Perhatikan cara ia memperlakukan perdebatan teologi. Mu‘tazilah tidak cukup disebut sebagai “kelompok rasionalis”. Asy‘ariyah tidak cukup disebut “kelompok Sunni”. Khawarij tidak cukup ditempatkan sebagai “kelompok yang memberontak terhadap Ali”. Label-label semacam itu memang membantu sebagai pintu masuk, tetapi cepat menjadi terlalu kasar ketika kita masuk ke isi pemikiran mereka.

Persoalan tentang sifat-sifat Tuhan, misalnya, menghasilkan perdebatan yang panjang. Apakah sifat Tuhan berbeda dari zat-Nya? Bagaimana memahami ayat-ayat yang berbicara tentang tangan, wajah, atau istiwa? Bagaimana menjaga keesaan Tuhan tanpa menghilangkan makna bahasa wahyu? Mu‘tazilah, Asy‘ariyah, serta kelompok teologis lain mempunyai jawaban yang berbeda, bahkan ketika mereka sama-sama mengaku sedang menjaga tauhid.

Pembaca yang tidak mengetahui sejarah perdebatan itu mungkin mengira semua pihak sedang bertengkar tentang istilah. Setelah beberapa halaman, terasa bahwa istilah tersebut menentukan gambaran tentang Tuhan, manusia, kebebasan, tanggung jawab moral, bahkan bagaimana seseorang memahami Al-Qur'an.

Al-Shahrastani mencatat perbedaan itu.

Ia juga memasuki persoalan kehendak bebas. Apakah manusia menciptakan tindakannya sendiri? Kalau Tuhan mahakuasa, bagaimana tanggung jawab manusia dapat dipertahankan? Mu‘tazilah mempunyai konstruksi tertentu mengenai keadilan Tuhan dan tindakan manusia. Asy‘ariyah mengembangkan konsep kasb. Perdebatan semacam itu tidak berhenti pada satu kalimat “manusia bebas” atau “manusia tidak bebas”. Masing-masing posisi mempunyai konsekuensi teologis.

Hal serupa muncul dalam pembahasan Syiah. Persoalan imamah tidak sekadar siapa yang seharusnya menjadi pemimpin setelah Nabi Muhammad. Ia menyentuh legitimasi politik, otoritas keagamaan, pengetahuan tentang agama, hubungan antara kepemimpinan dengan garis keturunan, serta status orang yang dianggap memiliki otoritas khusus.

Khawarij membawa persoalan lain: hubungan antara dosa besar dengan status keagamaan seseorang, legitimasi penguasa, pemberontakan, serta batas-batas komunitas Muslim. Kelompok yang lahir dari konflik politik pada masa awal Islam kemudian berkembang menjadi perdebatan teologis tentang siapa yang masih termasuk umat.

Dalam uraian panjang itu, Al-Milal wa al-Nihal mulai terasa seperti peta politik yang disamarkan menjadi buku teologi.

Nama kelompok berubah, tetapi pertanyaan dasarnya keras: siapa yang berhak disebut Muslim? Siapa yang dapat menjadi pemimpin? Apa yang membuat sebuah keyakinan menyimpang? Seberapa jauh perbedaan dapat ditoleransi sebelum berubah menjadi pemisahan?

Al-Shahrastani sendiri tidak menulis dari posisi tanpa keyakinan. Ia biasanya dikaitkan dengan tradisi teologi Asy‘ariyah. Karena itu, jangan membaca Al-Milal wa al-Nihal sebagai survei modern yang sepenuhnya netral. Ia hidup di dalam dunia yang memiliki batas ortodoksi, perdebatan mazhab, serta kategori tentang kelompok yang dianggap benar atau menyimpang. Justru karena itu cara ia menyusun informasi jadi semakin menarik.

Ia membutuhkan pengetahuan tentang lawan-lawan intelektualnya untuk menjelaskan posisi mereka. Seorang teolog tidak dapat membantah Mu‘tazilah kalau ia tidak memahami Mu‘tazilah. Seorang Sunni yang ingin menjelaskan Syiah harus mengetahui apa yang sebenarnya diyakini kelompok-kelompok Syiah yang berbeda. Pengetahuan tentang perbedaan pada akhirnya menjadi bagian dari pekerjaan intelektual sendiri.

Ada ironi kecil di sini. Polemik sering membuat manusia menghafal lawannya lebih baik daripada dirinya sendiri.

Al-Milal wa al-Nihal juga memperluas cakrawala jauh melampaui perdebatan internal Islam. Al-Shahrastani membahas komunitas dan tradisi agama lain, termasuk kelompok-kelompok dari tradisi Persia, Yahudi, Kristen, serta berbagai bentuk kepercayaan yang ia masukkan ke dalam kerangka klasifikasinya. Informasinya tentu harus dibaca dengan hati-hati. Ia memperoleh pengetahuan melalui literatur yang tersedia pada zamannya, laporan intelektual, serta tradisi yang tidak selalu berasal dari pengamatan langsung. Beberapa deskripsinya tidak sesuai dengan standar sejarah agama modern.

Tetapi standar modern itu justru membantu kita memahami nilai kitab tersebut. Kita tidak perlu menganggap setiap deskripsi Al-Shahrastani akurat untuk melihat betapa luasnya dunia yang ingin ia pahami.

Ia hidup di Khurasan, tetapi kitab yang ditulisnya mempunyai ambisi geografis yang jauh lebih besar.

Istilah milal dan nihal menunjukkan perhatian terhadap komunitas agama serta kelompok-kelompok keyakinan. Struktur kitab memperlihatkan usaha klasifikasi yang serius. Ia tidak memasukkan semua perbedaan ke dalam satu keranjang. Kelompok-kelompok dikelompokkan berdasarkan persoalan pokok yang memisahkan mereka. Itu pekerjaan yang membutuhkan ketelitian, karena satu kelompok bisa mempunyai subkelompok yang kemudian saling menuduh menyimpang.

Semakin lama membaca, semakin terasa bahwa “Islam” dalam sejarah intelektualnya bukan benda yang diam. Ia mempunyai mazhab fikih, teologi, filsafat, gerakan politik, tradisi spiritual, serta perdebatan tentang bahasa dan tafsir. Seorang Muslim abad pertengahan bisa hidup di tengah masyarakat yang secara umum disebut Muslim, sementara, di lingkungan belajarnya, orang sedang memperdebatkan apakah sifat Tuhan identik dengan zat-Nya, apakah Al-Qur'an makhluk, bagaimana manusia memperoleh kemampuan bertindak, atau siapa yang mempunyai hak atas imamah.

Hari ini kita punya istilah “umat Islam” yang terdengar sangat tunggal. Al-Milal wa al-Nihal membuat kata itu terasa lebih bertekstur.

Filsafat bahkan masuk ke dalam peta tersebut. Al-Shahrastani membahas para filsuf, termasuk tradisi yang berkaitan dengan filsafat Yunani yang telah berkembang dalam dunia Islam. Ia menyebut tokoh-tokoh seperti Socrates, Plato, Aristoteles, serta para filsuf Muslim. Hubungannya dengan filsafat juga tidak sederhana. Ia memiliki pendidikan teologis dan kritik terhadap beberapa gagasan filsafat, tetapi tetap membutuhkan pengetahuan yang cukup mengenai filsafat untuk mengklasifikasikan persoalan-persoalan yang dibahas.

Kitab semacam ini menuntut pembaca melakukan sesuatu yang tidak selalu menyenangkan: memahami posisi yang tidak kita setujui.

Bukan berarti memahami berarti menerima. Justru sebaliknya. Kritik yang tidak memahami objeknya biasanya hanya menghasilkan karikatur. Al-Shahrastani, dengan segala keterbatasan dan bias zamannya, setidaknya memperlihatkan kebutuhan untuk mengetahui isi sebuah keyakinan sebelum menghakiminya.

Ada bagian-bagian Al-Milal wa al-Nihal yang terasa seperti membaca laporan tentang sebuah kota yang penuh orang berdebat. Nama-nama muncul dengan cepat. Mu‘tazilah bercabang. Syiah mempunyai kelompok-kelompok sendiri. Khawarij terpecah. Perdebatan teologis melahirkan istilah baru. Filsuf mempunyai kosmologi sendiri. Setiap kelompok memiliki argumen, lawan, dan sejarah.

Mata pembaca kadang terasa lelah mengejar nama-nama itu. Dan kelelahan tersebut memberi gambaran yang cukup jujur tentang betapa padatnya kehidupan intelektual Islam abad pertengahan.

Gambaran tentang dunia Islam sebagai satu blok yang sejak awal memiliki satu formulasi pemikiran yang seragam menjadi sulit dipertahankan setelah membaca kitab ini. Perselisihan bukan gangguan kecil yang muncul sesekali. Perselisihan merupakan bagian dari sejarah intelektualnya. 

Al-Shahrastani tidak menyelesaikan keributan tersebut. Ia mengarsipkannya. Itu keputusan yang jauh lebih berguna daripada kedengarannya. Sebab ketika sebuah perdebatan selesai, generasi berikutnya sering hanya mengingat pemenangnya. Kitab semacam Al-Milal wa al-Nihal menyimpan suara-suara yang pernah berhadapan sebelum sebagian dari mereka menghilang dari ingatan umum.

Nishapur, Baghdad, Khurasan—kota-kota itu terus berganti penguasa. Dinasti berganti. Madrasah berganti. Nama-nama teolog perlahan menjadi bagian dari buku sejarah.

Perdebatan mereka masih tersimpan di halaman-halaman Al-Milal wa al-Nihal, lengkap dengan nama kelompok yang sekarang bahkan mungkin terasa asing di lidah. Buka satu halaman, temukan satu sekte. Buka halaman berikutnya, ternyata sekte itu sendiri terpecah lagi.


Related

Keislaman 778791822308106310

Posting Komentar

emo-but-icon

Terbaru

Banyak Dibaca

Ebook BSM

Mengapa Dunia Seperti Sekarang? 100 Peristiwa yang Membentuk Dunia Kita

Pernah bertanya-tanya, mengapa dunia seperti sekarang? Mengapa dunia terbagi-bagi dalam banyak negara? Mengapa ada orang-orang yang sangat k...

item