Bagaimana Kebencian Pada Yahudi Bermula dan Terus Ada

Ilustrasi milik BSM
Prasangka terhadap Yahudi pada zaman kuno tidak memerlukan internet, surat kabar, atau komunikasi antarbenua. Tetapi antisemitisme dalam pengertian modern belum ada pada zaman kuno, dan tidak semua masyarakat kuno di berbagai tempat secara serentak membenci Yahudi.

Yang memang terjadi adalah sesuatu yang lebih rumit: komunitas Yahudi tersebar sangat luas, dan di beberapa tempat mereka berulang kali menjadi sasaran prasangka, tuduhan, atau kekerasan. Fenomena itu muncul secara independen di lingkungan yang berbeda, karena ada beberapa kondisi sosial yang terus berulang.

Yang paling menarik adalah: prasangka itu tidak selalu harus “menular” dari satu wilayah ke wilayah lain. Ia bisa lahir kembali secara lokal.

Yahudi sudah tersebar jauh sebelum internet. Kita sering membayangkan diaspora Yahudi sebagai akibat Holocaust atau pengusiran dari Eropa abad pertengahan. Padahal penyebaran Yahudi sudah sangat tua.

Setelah penaklukan dan pembuangan oleh kekuatan-kekuatan kuno seperti Assyria dan Babilonia, komunitas Yahudi berkembang di luar Palestina. Pada zaman Romawi, populasi Yahudi sudah terdapat di Palestina, Mesir, Suriah, Asia Kecil, Yunani, Italia, Afrika Utara, dan berbagai wilayah lain.

Alexandria, misalnya, memiliki komunitas Yahudi yang sangat besar. Roma juga memilikinya. Jadi ketika kita menemukan konflik antara orang Yahudi dan masyarakat mayoritas di Alexandria, misalnya, kita tidak perlu membayangkan seseorang di Roma mengirimkan “berita buruk tentang Yahudi” kepada seseorang di Mesir. Kondisinya sudah tersedia secara lokal. 

Yahudi juga memiliki identitas yang berbeda dan mudah dikenali. Orang Yahudi memiliki hukum dan kebiasaan yang membuat batas komunitas relatif jelas: Sabat, hukum makanan, sunat, kalender keagamaan, aturan perkawinan, dan praktik ibadah. Dalam dunia kuno yang kehidupan sosialnya sangat terikat pada agama lokal, hal itu bisa terasa aneh.

Bayangkan sebuah kota Yunani atau Romawi yang hampir semua kegiatan publiknya berkaitan dengan dewa-dewa kota. Festival kota, upacara keagamaan, jamuan, sumpah politik, dan kehidupan sipil, semuanya bercampur. Kemudian terdapat sebuah komunitas yang mengatakan: kami tidak akan ikut menyembah dewa kalian.

Itu bukan sekadar perbedaan teologi. Dalam masyarakat kuno, agama juga merupakan bagian dari loyalitas sosial dan politik. Maka penolakan terhadap ritual bersama dapat ditafsirkan sebagai penolakan terhadap masyarakat. Di sinilah prasangka bisa tumbuh tanpa perlu ada komunikasi lintas wilayah.

Ada paradoks yang mengganggu di sini: semakin eksklusif sebuah komunitas, semakin mudah ia dicurigai.

Itu bukan berarti orang Yahudi “bersalah” karena mempertahankan identitasnya. Justru kemampuan mempertahankan identitas tersebut merupakan salah satu alasan komunitas Yahudi dapat bertahan selama ribuan tahun.

Tetapi dari sudut pandang masyarakat mayoritas, komunitas yang memiliki aturan internal kuat dapat terlihat tertutup. Mereka menikah di dalam komunitas. Mereka memiliki makanan tertentu. Mereka memiliki hari ibadah sendiri. Mereka memiliki hukum agama sendiri. Mereka memiliki jaringan keluarga dan perdagangan sendiri. Mereka mempertahankan identitas ketika kelompok lain mengalami asimilasi.

Dalam kondisi damai, hal itu bisa saja tidak jadi masalah. Dalam kondisi krisis, karakter yang sama dapat berubah menjadi bahan tuduhan: “Mereka tidak seperti kita.” Dan setelah kalimat itu muncul, imajinasi manusia dapat mengisi sisanya.

Lalu ada sesuatu yang jauh lebih besar: orang asing selalu mudah menjadi tersangka. Itu mekanisme yang jauh lebih tua daripada antisemitisme.

Sebuah kota terkena wabah? Cari kelompok yang berbeda. Harga pangan melonjak? Cari kelompok yang dianggap mengendalikan perdagangan. Penguasa tidak populer? Cari pengkhianat. Tentara kalah? Cari orang yang bersekongkol dengan musuh.

Dalam masyarakat kuno, pengetahuan tentang penyebab suatu bencana sering sangat terbatas. Tidak ada mikrobiologi, epidemiologi modern, statistik sosial, atau teori ekonomi seperti yang kita miliki sekarang. Ketidakpastian menciptakan ruang bagi cerita. Dan minoritas yang berbeda secara budaya merupakan sasaran yang nyaman.

Tetapi Yahudi mempunyai satu karakteristik tambahan: mereka hidup sebagai minoritas yang tersebar namun tetap mempertahankan identitas lintas wilayah. Itu sangat mudah menghasilkan fantasi tentang jaringan rahasia. Ironisnya, sesuatu yang sebenarnya merupakan kekuatan komunitas—hubungan antarkomunitas—dapat dibaca oleh orang luar sebagai bukti konspirasi.

Alexandria memberi kita contoh yang sangat bagus. Di Alexandria, Mesir, pada abad pertama Masehi, terjadi konflik serius antara penduduk Yunani dan komunitas Yahudi. Itu penting karena menunjukkan bahwa kebencian terhadap Yahudi tidak selalu datang dari Eropa Kristen.

Alexandria adalah kota kosmopolitan dengan penduduk Mesir, Yunani, Yahudi, dan kelompok lain. Ketegangan politik dan sosial berkembang.

Pada masa pemerintahan Kaisar Caligula, konflik meningkat dan terjadi kekerasan terhadap orang Yahudi. Penulis seperti Philo dari Alexandria meninggalkan kesaksian mengenai perlakuan terhadap komunitas Yahudi.

Apa yang kita lihat di situ bukan “antisemitisme modern”. Lebih tepat disebut konflik etnis, politik, sosial, dan agama, dengan Yahudi sebagai salah satu kelompok yang menjadi sasaran. Dan pola semacam ini dapat muncul tanpa Alexandria pernah berkomunikasi dengan Strasbourg abad ke-14.

Bahkan sebelum Kekristenan, sudah ada stereotip tentang Yahudi. Itu juga sangat penting. Kadang-kadang orang mengira bahwa seluruh permusuhan terhadap Yahudi berasal dari Kekristenan. Itu tidak tepat.

Pada zaman Helenistik dan Romawi, sejumlah penulis non-Yahudi sudah menyebarkan berbagai stereotip tentang Yahudi. Ada yang menggambarkan mereka sebagai misantropis karena tidak mengikuti kebiasaan agama masyarakat sekitar. Ada yang menuduh mereka malas karena memelihara Sabat. Ada yang menganggap mereka aneh karena hukum makanan dan praktik keagamaan mereka.

Penulis Mesir seperti Manetho dan beberapa penulis Yunani-Romawi menghasilkan narasi yang sangat negatif tentang asal-usul dan karakter Yahudi. 

Sekali lagi: itu belum Holocaust, belum antisemitisme rasial, belum Nazi. Tetapi kita sudah melihat bahan psikologisnya. Orang berbeda → tidak ikut kebiasaan kita → berarti tidak menyukai kita → mungkin mereka berbahaya. Itu formula yang jauh lebih tua daripada teknologi informasi.

Tetapi mengapa stereotip yang mirip bisa muncul di tempat yang berbeda? Itu bagian yang menurut saya paling menarik. Karena manusia tidak membutuhkan instruksi untuk menghasilkan prasangka yang sama. Jika dua masyarakat menghadapi kondisi yang mirip, mereka dapat menciptakan cerita yang mirip secara independen.

Misalnya, ada minoritas yang menjalankan perdagangan lintas kota. Mereka mempunyai jaringan keluarga. Mereka tidak sepenuhnya berasimilasi. Mereka mempunyai praktik agama berbeda. Masyarakat mayoritas mengalami krisis ekonomi. Kemudian muncul tuduhan: “Kelompok itu pasti punya pengaruh tersembunyi.”

Tidak diperlukan WhatsApp untuk itu. Yang diperlukan hanyalah ketakutan + ketidaktahuan + perbedaan + krisis. Itulah mengapa teori konspirasi mempunyai kemiripan di berbagai peradaban.

Tetapi ada satu hal yang membuat sejarah Yahudi berbeda. Ada faktor yang sangat penting: diaspora membuat Yahudi menjadi kelompok yang hadir di banyak masyarakat tetapi selalu sebagai minoritas.

Mereka bisa berada di Mesir. Kemudian di Suriah. Di Asia Kecil. Di Yunani. Di Italia. Kemudian, berabad-abad berikutnya, di Spanyol, Prancis, Jerman, Polandia, Rusia, dan seterusnya. Jadi setiap masyarakat dapat menghasilkan versi prasangkanya sendiri.

Di dunia Kristen abad pertengahan, prasangka mendapatkan bahasa Kristen. Di dunia Islam, hubungan dengan Yahudi berkembang dalam konteks yang berbeda lagi—kadang diskriminatif, kadang relatif toleran, kadang penuh konflik, dan sangat bervariasi menurut tempat serta periode. Di dunia Romawi, konflik sering berkaitan dengan politik dan praktik keagamaan. Di Eropa nasionalis abad ke-19, prasangka berubah menjadi teori ras. 

Objeknya sama, tetapi alasan kebenciannya dapat berubah. Itu yang membuat sejarah antisemitisme begitu panjang sekaligus aneh.

Jadi, apakah ada “jaringan kebencian Yahudi” sejak zaman kuno? Tidak ada dalam arti pusat propaganda global. Tidak ada “kantor pusat antisemitisme” yang mengirimkan instruksi dari Alexandria ke Roma, kemudian ke Eropa.

Yang terjadi lebih mirip evolusi lokal yang kemudian saling bertumpuk sepanjang sejarah. Satu generasi menciptakan stereotip. Generasi berikutnya mewarisinya. Kemudian menambahkan stereotip baru. Lalu stereotip itu ditulis oleh seorang penulis. Kemudian dikutip oleh penulis lain. Kemudian masuk ke khotbah. Kemudian menjadi legenda rakyat. Kemudian masuk ke hukum. Kemudian menjadi kebiasaan sosial.

Kemudian, berabad-abad setelahnya, seorang propagandis mengambilnya dari masa lalu dan berkata: “Lihat, ini sudah terbukti sejak dulu.”

Padahal yang disebut “bukti” itu sebenarnya hanyalah prasangka lama yang dikutip berulang kali sampai tampak seperti fakta. Dan di situlah kita bisa memahami mengapa antisemitisme mampu bertahan begitu lama.

Teknologi modern membuat kebencian dapat menyebar dalam hitungan detik. Tetapi teknologi tidak menciptakan mekanisme kebenciannya. Manusia kuno sudah memiliki versi sederhananya: pasar, pelabuhan, rumah ibadah, cerita dari musafir, pedagang, tentara, penguasa, dan gosip.

Satu orang datang dari kota lain membawa cerita tentang “orang-orang aneh” di sana. Cerita itu dibesar-besarkan. Anak mendengarnya dari ayahnya. Cucu mendengarnya dari kakeknya. Seorang penulis menuliskannya. Seorang penguasa menggunakannya. Lima ratus tahun kemudian, seseorang menemukan tulisan itu dan mengira sedang membaca fakta sejarah.

Kebencian tidak selalu perlu internet untuk menjadi global. Kadang-kadang ia hanya membutuhkan waktu.


Related

Umum 5846033404623845847

Posting Komentar

emo-but-icon

Terbaru

Banyak Dibaca

Ebook BSM

Mengapa Dunia Seperti Sekarang? 100 Peristiwa yang Membentuk Dunia Kita

Pernah bertanya-tanya, mengapa dunia seperti sekarang? Mengapa dunia terbagi-bagi dalam banyak negara? Mengapa ada orang-orang yang sangat k...

item