Junípero Serra, Tokoh Religius yang Meninggalkan Petaka dalam Sejarah

Ilustrasi/guadalupeshrine.org
Lonceng misi tua di California berbunyi indah sekali kalau didengar sore hari. Dinding kapur putih memantulkan cahaya matahari Pasifik. Bougainvillea merambat di halaman. Turis berjalan pelan sambil membeli rosario, lilin aroma vanila, kartu pos bergambar lengkungan adobe yang romantis. Nama Junípero Serra muncul di brosur wisata sebagai “Apostle of California”.

Di sebagian komunitas Native American California, nama Serra terdengar lebih dekat ke memori penjara.

Kontrasnya terlalu tajam, sampai kadang terasa seperti dua dunia berbeda sedang membicarakan orang yang sama.

Junípero Serra lahir di Mallorca, Spanyol, dengan nama Miguel José Serra Ferrer. Ia kecil, kurus, cerdas, sangat religius. Sejak muda, ia masuk ordo Fransiskan dan menjadi dosen teologi. Hidupnya bisa saja berakhir tenang di ruang kuliah gereja Eropa, dikelilingi manuskrip Latin dan lilin gereja yang baunya agak pengap. Lalu ia memilih pergi ke Dunia Baru sebagai misionaris. 

Ada sesuatu yang keras kepala pada dirinya. Kakinya rusak akibat infeksi setelah perjalanan panjang di Meksiko—kemungkinan dari gigitan serangga yang memburuk karena perjalanan. Luka itu tidak pernah sembuh total. Serra berjalan pincang selama bertahun-tahun, kadang berdarah, kadang bernanah. Ia tetap bepergian ribuan kilometer. Tubuhnya kecil, tapi daya tahannya hampir obsesif.

Orang-orang sering membayangkan kolonialisme Spanyol datang pertama-tama lewat tentara. Di California abad ke-18, gereja sering datang lebih dulu.

Serra tiba di Alta California tahun 1769 bersama ekspedisi Gaspar de Portolá. Mereka mendirikan Mission San Diego de Alcalá, misi pertama dari rantai 21 misi yang kelak membentang sepanjang pesisir California. Nama-nama kota California modern masih penuh jejak sistem itu; San Diego, San Francisco, Santa Barbara, San Juan Capistrano, Santa Clara.

Turis modern sering menikmati nama-nama itu tanpa membayangkan bau kandang, lonceng subuh, atau cambuk kulit.

Sistem misi Spanyol punya tujuan ganda; menyebarkan Katolik dan memperkuat kekuasaan Spanyol terhadap wilayah yang takut direbut Rusia atau Inggris. Agama dan geopolitik tidur di ranjang yang sama. Serra sendiri tampaknya sungguh percaya ia menyelamatkan jiwa manusia. Banyak misionaris kolonial memang seperti itu. Mereka tidak selalu merasa jahat. Kadang justru keyakinan moral merekalah yang membuat sistem jadi lebih mengerikan.

Penduduk asli California sangat beragam waktu itu. Chumash, Ohlone, Tongva, Kumeyaay, Miwok, Esselen, Yokuts. Puluhan bahasa. Jaringan budaya yang sudah hidup ribuan tahun sebelum lonceng gereja Spanyol berbunyi pertama kali di pesisir Pasifik.

Begitu dibaptis, banyak penduduk asli praktis tidak bisa meninggalkan misi tanpa izin. Mereka disebut neophytes—umat baru. Dalam praktiknya, mereka hidup di bawah pengawasan ketat. Jadwal kerja diatur. Ibadah diatur. Seksualitas diatur. Perempuan muda sering dipisahkan ke monjeríos, asrama tertutup yang pengap dan padat. Penyakit menyebar cepat di sana.

Catatan misi penuh detail administratif yang dingin; jumlah baptisan, kematian bayi, panen gandum, ternak.

Angka kematian anak Native di beberapa misi sangat tinggi. Tubuh mereka tidak punya kekebalan terhadap penyakit Eurasia seperti campak dan cacar. Epidemi menghantam komunitas pribumi California seperti api menyambar rumput kering. Kuburan membesar dalam waktu cepat.

Di Mission San Carlos Borromeo dekat Carmel, Serra sendiri pernah menulis dengan bangga soal ribuan baptisan. Membaca arsip semacam itu sekarang terasa aneh. Ada semangat kemenangan religius bercampur tragedi biologis massal.

Serra bukan birokrat lembut yang hanya duduk berdoa. Ia mendukung hukuman fisik terhadap penduduk asli yang melanggar aturan misi. Dalam suratnya, ia pernah membela praktik cambuk sebagai disiplin spiritual dan sosial. Orang yang kabur dari misi bisa diburu tentara lalu dikembalikan untuk dihukum.

Beberapa pembela Serra modern mencoba memperhalus hal itu dengan mengatakan hukuman fisik umum terjadi pada zamannya. Kalimat itu sering terasa seperti kain basah yang dilempar ke darah di lantai, lalu disebut “konteks sejarah”.

Ada detail yang membuat semuanya makin rumit; Serra kadang juga membela Native Californians dari kekerasan tentara Spanyol. Ia pernah mengeluh kepada pejabat kolonial soal pemerkosaan dan penyiksaan oleh tentara. Ia bahkan berjalan jauh ke Mexico City untuk meminta perlindungan hukum lebih besar bagi penduduk asli dalam sistem misi. Lalu ia kembali ke sistem yang tetap menghancurkan dunia mereka.

Sejarah sering dipenuhi manusia yang tampak memiliki belas kasih personal sambil tetap berdiri di dalam mesin penghancur budaya.

Mission San Juan Capistrano terkenal dengan burung layang-layang migrasinya. Mission Santa Barbara tampak sangat cantik di foto-foto. Mission Dolores di San Francisco berdiri di tengah kota modern penuh startup teknologi dan harga apartemen absurd. Di balik estetika “California mission style” yang sekarang dipakai hotel mahal dan restoran brunch, ada pemakaman massal kecil yang lama nyaris tidak dibicarakan.

Banyak keluarga Native California kehilangan bahasa leluhur mereka dalam beberapa generasi setelah sistem misi berkembang. Ritual dihancurkan. Struktur sosial pecah. Anak-anak dibesarkan dalam dunia baru yang memandang tradisi nenek moyang mereka sebagai dosa atau kebodohan pagan.

Kata “civilizing” sering muncul di arsip kolonial Spanyol. Kata yang rapi sekali untuk proses penghancuran identitas.

Paus Francis mengkanonisasi Serra sebagai santo tahun 2015 di Washington, D.C. Upacara besar. Lagu gereja. Kamera televisi. Banyak umat Katolik Latin Amerika dan California bersorak bangga. Serra dipuji sebagai penginjil berdedikasi yang hidup sederhana dan penuh pengorbanan.

Di luar perayaan itu, protes muncul dari komunitas Native American. Sebagian membawa poster bertuliskan “Saint of Genocide”. Kata-kata itu keras, tapi kemarahan mereka bukan muncul dari ruang kosong akademik. Banyak komunitas pribumi California tumbuh dengan cerita turun-temurun tentang misi sebagai tempat hukuman, wabah, pemaksaan.

Beberapa patung Serra kemudian dijatuhkan saat gelombang protes rasial dan kolonialisme tahun 2020. Patung di San Francisco roboh. Patung di Los Angeles dicoret. Sebagian orang marah besar dan menyebutnya vandalisme anti-Katolik. Sebagian lain melihat patung-patung itu seperti simbol luka yang terlalu lama dipoles romantisme.

Aneh melihat bagaimana California modern menjual citra santai, progresif, yoga organik, kopi artisan, sementara fondasi sejarahnya penuh proyek kolonial religius yang keras. Jalan raya melintas dekat bekas misi. Orang jogging pagi sambil melewati tanah pemakaman pribumi tanpa sadar.

Di Mission San Antonio de Padua, lonceng masih digantung. Udara sore di sana kering dan harum rumput. Burung-burung kecil bergerak cepat di sekitar halaman. Dinding tua menyimpan dingin ketika disentuh telapak tangan.

Nama-nama orang yang mati di sana sering cuma tersisa sebagai catatan baptisan pendek dalam bahasa Spanyol yang kaku. “Niña”. “Indio”. Umur perkiraan. Tanggal kematian. Kadang bahkan tanpa nama keluarga.


Related

Tokoh 3899324424618898531

Posting Komentar

emo-but-icon

Terbaru

Banyak Dibaca

Ebook BSM

Mengapa Dunia Seperti Sekarang? 100 Peristiwa yang Membentuk Dunia Kita

Pernah bertanya-tanya, mengapa dunia seperti sekarang? Mengapa dunia terbagi-bagi dalam banyak negara? Mengapa ada orang-orang yang sangat k...

item