Norman Salsitz: Di Antara Perang, Identitas Yahudi, dan Holocaust

Norman Salsitz: Di Antara Perang, Identitas Yahudi, dan Holocaust
Ilustrasi milik BSM
Norman Salsitz tahu bahwa pekerjaan yang diberikan Jerman kepadanya akan berakhir dengan kematian. Setiap hari ia dan para pekerja Yahudi lain membongkar sisa-sisa ghetto yang baru saja dihancurkan. Mereka merobohkan bangunan, membersihkan tempat yang pernah menjadi rumah orang Yahudi, menghapus tanda-tanda kehidupan komunitas mereka sendiri. 

Di tempat lain, teman, saudara, dan tetangga mereka sedang dikirim menuju kamp kematian. Pekerjaan itu mempunyai ironi yang kejam: orang-orang yang masih hidup dipaksa membersihkan panggung sebelum mereka sendiri disingkirkan.

Salsitz lahir sebagai Naftali Saleschutz pada 6 Mei 1920 di Kolbuszowa, sebuah kota kecil di Polandia selatan. Ia anak bungsu dari sembilan bersaudara dalam keluarga Yahudi Hasidik. Foto keluarganya sebelum perang memperlihatkan sesuatu yang sekarang terasa hampir ganjil, karena kita mengetahui apa yang terjadi kemudian: anak-anak masih lengkap, orang tua mereka masih hidup, pakaian masih rapi, dan wajah-wajah di dalam foto belum mempunyai pengetahuan tentang tahun-tahun berikutnya. 

Ayahnya, Isak, dan ibunya, Esther, kelak tewas dalam Holocaust. Isak ditembak di Ghetto Kolbuszowa pada 28 April 1942; Esther dibunuh di Bełżec pada Juli tahun yang sama. 

Sebelum perang, Kolbuszowa memiliki komunitas Yahudi yang besar. Hampir separuh penduduk kota adalah Yahudi. Kehidupan mereka tidak berlangsung di suatu tempat yang terpisah dari masyarakat Polandia; mereka berdagang, bersekolah, beribadah, menikah, bertengkar, membesarkan anak. Ketika Jerman memaksa penduduk Yahudi masuk ghetto pada 1941, ruang kehidupan itu menyempit secara brutal. 

Pada Juni 1941, Salsitz termasuk orang-orang yang dipaksa masuk ke ghetto. Jerman kemudian memilih lelaki muda yang dianggap cukup kuat untuk kerja paksa. Salsitz dikirim membongkar ghetto-ghetto yang telah dihancurkan. Ia melihat apa yang sedang dilakukan pada keluarganya. Ia tahu ibunya sudah dibawa pergi. Ia tahu ayahnya dibunuh. Ia tahu saudara-saudara dan kerabatnya satu demi satu menghilang. 

Bertahun-tahun kemudian Salsitz masih mengingat teriakan ayahnya pada hari terakhir itu. Dari tempat persembunyiannya, ia melihat dan mendengar semuanya. Kesaksian seperti itu tidak membutuhkan tambahan dramatis. Ia sudah terlalu mengerikan dalam bentuk aslinya. 

Pada Oktober 1942, Salsitz memutuskan bahwa menunggu giliran bukan lagi pilihan. Ia mengorganisasi pelarian 55 orang menuju hutan di sekitar Kolbuszowa. Lima puluh lima manusia harus keluar hampir bersamaan dari sistem yang sedang berusaha memastikan tidak seorang pun keluar. Jumlah tersebut menunjukkan betapa berbeda pelarian itu dari tindakan seorang individu yang menyelinap sendirian. Kalau satu orang tertangkap, ia mungkin masih bisa menjaga rahasia. Lima puluh lima orang berarti jejak lebih panjang, kebutuhan makanan lebih besar, suara lebih banyak, dan risiko pengkhianatan yang berlipat. 

Salsitz membawa uang yang ditemukannya ketika bekerja membongkar ghetto. Dengan uang itu ia membeli revolver pertamanya dari seorang Polandia yang bersimpati. Orang tersebut tidak hanya menjual senjata. Ia juga menunjukkan jalan kepada kelompok perlawanan yang bersembunyi di hutan. Detail kecil itu penting karena memperlihatkan bahwa hutan bukanlah wilayah kosong yang tiba-tiba menyediakan kebebasan. 

Untuk bertahan di sana, Salsitz membutuhkan orang yang mengetahui siapa yang bisa dipercaya, siapa yang mempunyai senjata, dan siapa yang bisa membawa seorang buronan menuju kelompok bersenjata. Hutan menjadi rumah mereka dengan cara yang sangat tidak romantis. Cuaca buruk, medan kasar, kekurangan makanan

Unit Salsitz melakukan sabotase terhadap jalur kereta api Jerman, pabrik penggilingan, dan pos polisi. Mereka tidak mempunyai kemewahan perang konvensional. Mereka bergerak, mengamati, menyerang ketika kesempatan muncul, kemudian kembali menghilang. Dalam keadaan seperti itu, sebuah revolver pertama bukan sekadar senjata. Benda logam yang berat di tangan itu adalah perubahan status. Kemarin Salsitz adalah buruh paksa yang harus mengikuti perintah. Sekarang ia mempunyai kemampuan untuk menembak balik. 

Perjalanan Salsitz kemudian jadi lebih rumit karena ia harus bergerak di antara dua ancaman. Ia memerlukan kelompok perlawanan Polandia, tetapi sebagian jaringan bawah tanah Polandia juga mengandung antisemitisme. 

Pada 1944 ia bergabung dengan Armia Krajowa, atau AK, salah satu organisasi bawah tanah Polandia yang paling besar. Untuk dapat bekerja di dalamnya, ia menyembunyikan identitas Yahudinya. Ia tahu bahwa seorang Yahudi yang terang-terangan menyatakan dirinya Yahudi tidak selalu akan diterima sebagai rekan seperjuangan.

Kemudian terjadi sesuatu yang membuat penyamaran itu mustahil dipertahankan.

Komando AK memberikan tugas kepada unit Salsitz untuk mencari dan membunuh orang-orang Yahudi yang sedang disembunyikan di sebuah pertanian. Salsitz menawarkan diri ikut dalam misi tersebut. Ia pergi bersama orang-orang yang mengira ia bagian dari mereka. Ketika mereka hendak menyerang keluarga Yahudi yang bersembunyi, Salsitz menembak orang-orang dari kelompoknya sendiri yang hendak melaksanakan pembunuhan itu, menyelamatkan orang-orang Yahudi tersebut, kemudian melarikan diri dari AK dan kembali ke unit partisan sebelumnya.

Peristiwa itu membuat istilah “perlawanan” terasa terlalu bersih. Salsitz tidak hanya harus menentukan siapa musuhnya. Ia harus menentukan kapan sebuah organisasi yang selama ini menjadi sekutunya berubah menjadi ancaman bagi orang-orang yang hendak ia lindungi. Senjata di tangannya tidak selalu menunjuk ke arah yang sama sepanjang perang. Politik memindahkan garis musuh. Orang yang kemarin berdiri di sebelahnya dapat menerima perintah untuk membunuh orang yang sedang ia lindungi hari ini.

Salsitz kemudian kembali kepada kelompok partisan Yahudi dan bertahan sampai pembebasan oleh pasukan Soviet pada pertengahan 1944. Kota kelahirannya telah dihancurkan. Hampir seluruh keluarganya tewas. Ia kemudian bergabung dengan tentara Polandia dan ikut dalam pembebasan Kraków. Pada 1947 ia beremigrasi ke Amerika Serikat.

Ia membawa lebih dari ingatan.

Salsitz menjadi fotografer dan penulis. Foto-foto yang ia buat tentang Kolbuszowa dan orang-orang Yahudi yang dikenalnya sebelum perang menjadi satu-satunya catatan visual tentang mereka yang tersisa setelah 1945. Ia juga terus berbicara tentang apa yang terjadi. Ibunya pernah meninggalkan pesan agar jika ia selamat, pergi kepada saudara-saudaranya, dan menceritakan kepada dunia tentang apa yang dilakukan para pembunuh Jerman terhadap keluarga mereka. Salsitz menjalankan pesan tersebut selama puluhan tahun.

Pada 1987, ketika berusia 67 tahun, Salsitz hadir dalam sebuah acara yang menghormati dua perempuan Polandia yang telah membantu menyelamatkan orang Yahudi. Salah satunya, Stanislawa Bardzik, pernah membantu Salsitz sendiri ketika ia bersembunyi di hutan. Ia masih ingat masalah yang sangat konkret: bagaimana menyembunyikan keberadaan begitu banyak orang Yahudi dari tetangga Polandia yang mungkin memperhatikan “mata Semitik” mereka. 

Bardzik adalah gadis berusia enam belas tahun ketika membantu mereka. Ia sendiri terhubung dengan gerakan bawah tanah Polandia yang dikenal memiliki unsur antisemit. Pada kesempatan itu Salsitz berbicara tentang sesuatu yang jauh lebih kecil daripada perang: makanan, tempat berlindung, informasi, dan keberanian orang-orang yang mempertaruhkan hidup mereka untuk memberi semua itu. 

Ia mengirim hadiah dan bantuan kepada keluarga-keluarga Polandia yang pernah menyelamatkan orang Yahudi. Ketika ditanya mengapa ia memberi kepada orang-orang yang bahkan tidak ia kenal, jawabannya sederhana: kalau seseorang membantu seorang Yahudi, orang itu juga telah membantunya.

Norman Salsitz meninggal pada 11 Oktober 2006.

Nama Naftali Saleschutz tetap ada di bawah semua nama yang pernah ia gunakan. Ia pernah memakai tujuh nama sepanjang hidupnya. Mungkin karena satu nama saja tidak cukup untuk melewati perang semacam itu.

Di Kolbuszowa, foto keluarga lama masih menyimpan Isak, Esther, anak-anak mereka, dan Naftali kecil yang berdiri di sana sebelum semuanya pecah. Foto itu tidak memperlihatkan revolver pertama yang dibelinya. Tidak memperlihatkan 55 orang yang mengikutinya ke hutan. Tidak memperlihatkan rel kereta yang dirusaknya, atau keluarga Yahudi yang kelak ia selamatkan dari regu pembunuh.

Hanya sebuah keluarga. Kemudian seseorang menutup album itu.


Related

Tokoh 5159238075085954382

Posting Komentar

emo-but-icon

Terbaru

Banyak Dibaca

Ebook BSM

Mengapa Dunia Seperti Sekarang? 100 Peristiwa yang Membentuk Dunia Kita

Pernah bertanya-tanya, mengapa dunia seperti sekarang? Mengapa dunia terbagi-bagi dalam banyak negara? Mengapa ada orang-orang yang sangat k...

item