Ingatan, Kenangan, dan Keluarga yang Terpisah oleh Perang
https://www.belajarsampaimati.com/2026/08/ingatan-kenangan-dan-keluarga-yang.html
![]() |
| Ilustrasi milik BSM |
Flora Singer mengenali wajah lelaki itu. Ia hanya tidak langsung mengenali ayahnya.
Ia turun dari kapal Santa Paula di pelabuhan New York sebagai seorang gadis berusia hampir enam belas tahun. Di sana dua lelaki menunggu. Salah satunya terasa samar-samar dikenalnya. Setelah diperkenalkan, Flora mengetahui bahwa lelaki itu adalah ayahnya. Ia mengenali wajahnya, tetapi segera merasa ada yang salah. Dalam ingatannya, ayahnya adalah lelaki yang sangat tinggi dan kuat. Lelaki yang berdiri di hadapannya pendek—belakangan Flora mengetahui tingginya hanya sekitar lima kaki enam inci—dengan perut yang sedikit menonjol.
Sebelum pertemuan itu, delapan setengah tahun telah berlalu.
Bagi orang dewasa, delapan setengah tahun bisa berarti perubahan pekerjaan, rumah, kebiasaan, berat badan, garis rambut. Bagi anak yang tumbuh dari 7 tahun menuju hampir 16, delapan setengah tahun adalah hampir seluruh masa pembentukan tubuh dan ingatan. Ayah yang ditinggalkan Flora di Eropa berada di satu titik dalam hidupnya. Lelaki yang menunggunya di New York berada di titik lain.
Flora sendiri kelak menulis bahwa ayahnya meninggalkan Belgia ketika ia belum genap delapan tahun. Ketika mereka bertemu lagi, ia sudah menjadi perempuan muda. Jarak waktu itu membuat pertemuan tersebut terasa aneh bahkan sebelum mereka berbicara.
Ibunya dan anak-anak telah hidup bertahun-tahun dengan aturan yang sangat berbeda dari kehidupan keluarga biasa. Mereka berpindah-pindah tempat, tinggal di beberapa biara, menyembunyikan identitas Yahudi, menghindari Gestapo. Ibunya melatih anak-anak untuk tidak membiarkan lelaki asing menyentuh mereka. Bahkan pelukan yang bagi keluarga lain mungkin terasa biasa menjadi sesuatu yang membuat tubuh Flora kaku. Ketika kedua lelaki di pelabuhan memeluk mereka, Flora tidak langsung merasakan kedekatan keluarga. Ia merasa tidak nyaman dipeluk lelaki yang secara hukum dan biologi adalah keluarganya sendiri.
Kalimatnya sangat mengganggu karena begitu sederhana: ia kesulitan membedakan lelaki asing dari anggota keluarganya. Perang telah mengajari sesuatu pada tubuhnya yang kemudian harus dibongkar kembali.
Flora dan saudara-saudaranya bahkan tidak segera memanggil lelaki itu “Papa”. Mereka menyebutnya “the man”—“lelaki itu”. Bukan karena mereka tidak tahu siapa dia. Mereka tahu. Justru karena tahu, persoalannya jadi lebih kacau. Nama hubungan keluarga masih tersimpan, tetapi kebiasaan untuk menjalankan hubungan itu sudah hilang.
Mobil yang membawa mereka kemudian meninggalkan pelabuhan menuju Queens. Flora melihat gedung-gedung tinggi New York, Empire State Building, Chrysler Building, jalan yang penuh kendaraan dan manusia. Ia menyebut pemandangan kota itu memusingkan sekaligus menggairahkan. Ada sesuatu yang hampir lucu dalam ingatannya: ia sudah membayangkan kedatangannya ke Amerika, tetapi tidak pernah membayangkan sampah di jalan dan grafiti di dinding.
Amerika datang dengan Empire State Building dan sampah. Ayahnya datang sebagai lelaki yang lebih pendek daripada yang diingat. Keduanya sama-sama mengejutkan.
Rumah keluarga di Queens jauh lebih tenang. Rumah bata dengan taman yang dirawat rapi dan pepohonan tua. Di dalam, meja makan dipenuhi makanan Amerika. Flora dan saudara-saudaranya menatap makanan tersebut dengan mata yang tentu saja ingin segera mengambilnya, tetapi mereka telah dilatih untuk menyembunyikan rasa lapar. Jika ditawari makanan, mereka harus menolak lebih dulu. Jika ditawari tambahan, mereka juga harus menolak sebelum akhirnya menerima. Kebiasaan itu terdengar kecil sampai kita menyadari bahwa seorang anak harus belajar memainkan sandiwara tentang rasa lapar untuk bertahan hidup.
Ayah mereka hampir tidak berbicara saat makan.
Flora memperhatikannya. Ia mencoba mencocokkan lelaki pendiam itu dengan ayah yang ia ingat: lelaki yang dulu tertawa keras dan bermain bersama mereka ketika mereka masih kecil. Pencocokan tersebut gagal. Wajahnya ada. Nama dan hubungan keluarganya benar. Tubuhnya ada di kursi. Tingkah lakunya tidak sesuai dengan arsip di kepala seorang anak.
Bertahun-tahun kemudian Flora memahami sesuatu yang saat itu belum mungkin dipahaminya. Ayahnya juga sedang berhadapan dengan orang-orang yang sudah berubah.
Ia meninggalkan seorang istri dan tiga anak kecil. Ketika mereka tiba di pelabuhan New York, ia bertemu empat perempuan yang secara biologis adalah keluarganya, tetapi yang hidupnya telah berlangsung tanpa dirinya selama bertahun-tahun. Ia sendiri telah menjalani kehidupan sebagai seorang lelaki lajang. Ia tidak lagi menjalankan rutinitas sebagai ayah setiap hari. Ia baru saja keluar dari Angkatan Darat Amerika Serikat, tempat ia bertugas secara sukarela. Sekarang keluarga lama itu tiba sebagai keluarga baru.
Flora baru memahami hal tersebut setelah dewasa.
Saat makan malam pertama, ia belum mempunyai jarak untuk memahami apa pun. Ia hanya melihat seorang lelaki yang wajahnya dikenali tetapi tubuhnya terasa asing.
Pertemuan semacam itu sering hilang dari sejarah perang karena tidak mempunyai ledakan, tanggal pertempuran, atau keputusan politik. Tidak ada peta yang menjelaskan bagaimana seorang anak kembali mengenali ayahnya. Tidak ada laporan militer yang bisa menerangkan mengapa sebuah pelukan membuat tubuh seorang gadis menjadi kaku.
Padahal pengalaman itu sangat nyata. Keluarga mereka terpisah bukan karena perceraian, kematian biasa, atau pilihan pribadi. Setelah Nazi memperketat pengejaran terhadap orang Yahudi, ayah Flora dan ibunya berusaha mengirim anak-anak mereka keluar dari bahaya. Flora dan saudara laki-lakinya, Joseph, akhirnya diselundupkan ke Prancis.
Setelah tentara Jerman menginvasi Prancis, hubungan mereka dengan orang tua terputus. Ayah dan ibunya kemudian berhasil berimigrasi ke Amerika Serikat bersama bayi mereka, Ernest, pada 1940. Sang ayah menulis surat kepada HIAS, American Friends Service Committee, dan Departemen Luar Negeri, untuk berusaha mendapatkan visa serta dokumen yang memungkinkan anak-anaknya menyusul.
Surat-surat itu menunjukkan sisi lain dari lelaki yang dilihat Flora di meja makan. Ia tidak pasif. Ia terus meminta bantuan. Ia mengurus dokumen. Ia mencoba menarik anak-anaknya keluar dari Eropa.
Flora akhirnya sampai di Amerika, tetapi penyelamatan administratif tidak otomatis mengembalikan keluarga kepada bentuk lamanya. Itu bagian yang kurang enak dari cerita penyelamatan. Kita suka membayangkan keluarga yang lolos dari Holocaust kemudian berpelukan dan kembali menjadi keluarga. Tubuh manusia tidak bekerja serapi itu.
Flora bahkan menulis bahwa mereka tidur terpisah dari orang tua pada malam pertama. Mereka terbiasa tidur bersama ibu. Sekarang sang ibu masuk ke kamar lain bersama lelaki yang secara resmi adalah suaminya. Flora dan saudara-saudaranya menunggu, bingung, dan bertanya-tanya bagaimana ibunya akan tidur bersama “the man”. Mereka sudah terlalu lama hidup tanpa ayah, sehingga keberadaan ayah di kamar sebelah terasa seperti sesuatu yang harus dipelajari lagi.
Kita sering berbicara tentang ingatan seolah-olah ia menyimpan seseorang dalam bentuk utuh. Flora memberikan contoh yang lebih berantakan. Ia menyimpan wajah ayahnya. Ia menyimpan tubuh ayahnya yang tinggi. Ia menyimpan suara tawanya. Ia menyimpan permainan masa kecil.
Kemudian perang mengambil hampir sembilan tahun dan mengembalikan seorang lelaki dengan wajah yang sama, tinggi badan yang berbeda dalam ingatan, kebiasaan yang berbeda, dan pengalaman yang tidak bisa dibagi kepada anak-anaknya hanya dengan duduk di meja makan.
Hubungan mereka tidak berhenti di sana. Ayah Flora kemudian menjadi bagian penting dalam kehidupan keluarga di Amerika. Ia mendorong pendidikan anak-anaknya, mengantar Flora ke University of Maryland ketika mereka tidak mampu membiayai tempat tinggal di kampus, menyaksikan pernikahannya, kemudian menjadi kakek bagi tiga cucu. Ia bahkan datang dengan tenang ketika cucu-cucunya panik karena seekor kelelawar masuk rumah, menangkapnya di kamar mandi, dan membawanya keluar.
Kelelawar itu hampir terasa sebagai detail yang terlalu kecil untuk masuk sejarah Holocaust. Justru karena itu saya menyukainya.
Setelah Gestapo, pelarian, biara, kapal, dan perang, seorang lelaki yang pernah terpisah bertahun-tahun dari anak-anaknya akhirnya dikenang juga sebagai kakek yang datang ketika cucu-cucunya ketakutan oleh kelelawar.
Flora pernah berdiri di pelabuhan New York dan menatap lelaki yang wajahnya ia kenal tetapi tubuhnya tidak cocok dengan ingatannya. Puluhan tahun kemudian, ia masih menulis tentangnya.
Foto ayahnya tetap tersimpan di USHMM: seorang lelaki muda dengan jas bergaris, saputangan putih di saku dada, kepala sedikit menunduk, tangan menggandeng seorang anak perempuan berusia sekitar tiga tahun di jembatan Sungai Nahe di Bad Kreuznach.
Anak perempuan itu adalah Flora. Lelaki itu adalah ayahnya. Di situ tidak ada pelabuhan, tidak ada pelukan yang membuat tubuh kaku, tidak ada “the man”. Hanya tangan kecil yang digandeng tangan seorang lelaki yang, untuk beberapa saat dalam hidupnya, harus dikenali lagi.
Catatan terkait: 69 Nama Tanpa Wajah, Tenggelam dalam Arsip Perang Dunia II
.jpg)

