69 Nama Tanpa Wajah, Tenggelam dalam Arsip Perang Dunia II
https://www.belajarsampaimati.com/2026/08/69-nama-tanpa-wajah-tenggelam-dalam.html
![]() |
| Ilustrasi milik BSM |
Ketika sebuah museum perang mengumumkan 69 nama baru, yang sebenarnya sedang terjadi bukan penambahan 69 baris pada sebuah daftar. Seseorang sedang membuka kembali laci arsip yang selama puluhan tahun dianggap selesai, lalu menemukan bahwa beberapa manusia ternyata tertinggal di dalamnya.
Pada 2021, Australian War Memorial memasukkan 69 perempuan Aboriginal (pribumi Australia) dan Torres Strait Islander (penduduk Kepulauan Torres) ke daftar kontribusi dan dinas selama Perang Dunia II. Daftar itu merupakan publikasi pertama Memorial yang secara khusus memuat kontribusi dan dinas perempuan pribumi. Penelitian tersebut dikerjakan bertahun-tahun, terutama oleh peneliti Larrakia, Danusha Cubillo, bersama Indigenous Liaison Officer Memorial, Michael Bell, serta dukungan Mark Chambers dari Western Australia.
Angka 69 kelihatan terlalu bersih. Sejarah jarang bekerja serapi itu.
Di baliknya terdapat foto yang tidak memiliki keterangan lengkap, nama yang ditulis dengan ejaan berbeda, catatan militer yang tidak menyebut identitas pribumi, hubungan keluarga yang baru terlihat setelah beberapa dokumen disandingkan, dan ingatan orang-orang yang masih hidup. Pekerjaan Cubillo tidak menyerupai pekerjaan seseorang yang tinggal mengetik nama ke dalam mesin pencari. Ia harus mengejar manusia melalui jejak yang kadang sangat tipis.
Salah satu nama yang membantu memahami pekerjaan itu adalah Corporal Dolly Gurinyi Batcho. Memorial sekarang mencatatnya sebagai perempuan Larrakia, lahir sekitar 1905 di Darwin, dan terlibat dalam Australian Women’s Land Army selama perang. Ia juga dikenal sebagai anggota nomor satu Aboriginal Women’s Hygiene Squad pada 69th Australian Women’s Army Service. Dalam koleksi Memorial terdapat foto Dolly dan perempuan-perempuan lain dalam kelompok tersebut, tetapi, ketika penelitian dimulai, banyak wajah dalam foto itu belum teridentifikasi.
Itu bagian yang membuat pekerjaan arsip jadi jauh lebih menarik daripada sekadar membaca sejarah. Foto memperlihatkan wajah. Arsip membutuhkan nama.
Sebuah foto bisa menunjukkan seorang perempuan berdiri dengan pakaian kerja, rambut tersisir, tubuh menghadap kamera, mungkin sedikit tersenyum. Mata kita otomatis menganggap tugas selesai: perempuan itu ada. Sejarawan tidak bisa berhenti di sana. Siapa dia? Dari mana asalnya? Apa pekerjaannya? Apakah ia anggota dinas militer, pekerja sipil, anggota auxiliary, atau seseorang yang kebetulan berada di sekitar instalasi militer? Siapa keluarganya? Apa yang terjadi setelah perang?
Tanpa jawaban itu, wajah tersebut tetap menjadi dekorasi.
Pekerjaan identifikasi jadi semakin rumit karena sistem administrasi Australia sendiri tidak dirancang untuk menyimpan identitas pribumi dengan cara yang konsisten. Pada masa perang, formulir perekrutan tidak secara rutin menanyakan apakah seseorang Aboriginal atau Torres Strait Islander. Beberapa orang mengubah nama, tempat lahir, warisan, bahkan kewarganegaraan agar dapat diterima dalam dinas militer. Ketika perang selesai, catatan resmi sering tidak memberi alasan bagi generasi berikutnya untuk menghubungkan seorang prajurit atau pekerja perang dengan komunitas pribuminya.
Untuk perempuan, persoalannya bahkan lebih kusut. Mereka masuk ke berbagai jalur. Sebagian bergabung dengan Australian Women’s Army Service atau Women’s Australian Auxiliary Air Force. Sebagian bekerja di industri perang atau Australian Women’s Land Army. Perempuan pribumi di Australia utara juga membantu instalasi RAAF yang terpencil dan bahkan terlibat dalam penyelamatan pesawat yang jatuh. Tidak semua orang yang bekerja untuk kepentingan perang secara administratif dikategorikan sebagai anggota angkatan bersenjata.
Kategori administratif itu penting sekarang karena menentukan apakah seseorang muncul dalam daftar sejarah.
Ketika negara membutuhkan tenaga kerja, seseorang dapat menjadi sangat berguna tanpa menjadi sangat terlihat.
Contoh lain memperlihatkan betapa personalnya pencarian tersebut. Myrtle Harris dan Ruby May Elizabeth Harris, dari Western Australia, mendaftar setelah saudara laki-laki mereka, David Harris, ditawan di Eropa. Ketiganya kemudian muncul dalam jejak penelitian Memorial. Dua perempuan yang mungkin selama puluhan tahun hanya dikenal dalam lingkaran keluarga ternyata memiliki hubungan langsung dengan perang melalui kisah saudara mereka.
Elizabeth Lorraine Anzac Curley mempunyai kisah yang bahkan lebih ganjil. Ia dikenal juga sebagai Gunner Curley. Dinasnya dihentikan setelah pihak berwenang mengetahui bahwa ia telah menikah. Detail kecil semacam itu membuat daftar tersebut terasa kurang seperti daftar penghargaan dan lebih seperti kumpulan kehidupan yang sempat diganggu birokrasi. Seorang perempuan bisa diterima untuk melayani negara, kemudian status perkawinannya jadi persoalan administratif yang cukup untuk mengakhiri karier militernya.
Nama-nama lain masuk dengan cara yang lebih sunyi. Agnes Maude Bonney. Violet Josephine Rachel Coles. Rose Mary Coyle. Dulcie May Kapeen. Annie Logan. Helen Flora Lauraine McDonald. Dorothy Mary Saunders. Jean Elizabeth Stewart. Valma June Weetra. Daftar Memorial memuat pangkat dan nomor dinas mereka, tetapi bagi pembaca yang baru menemukannya, nama-nama tersebut datang tanpa musik pengiring. Hanya huruf, angka, dan pekerjaan penelitian yang membuatnya kembali menjadi manusia.
Itulah kelemahan sekaligus kekuatan arsip. Arsip sangat dingin terhadap manusia ketika dibuat, tetapi bisa menjadi alat yang luar biasa untuk menemukan mereka kembali.
Satu nama di daftar militer dapat membawa peneliti kepada dokumen lain. Dokumen membawa kepada keluarga. Keluarga membawa kepada cerita yang tidak pernah masuk dokumen. Cerita membawa kepada foto lama. Foto kemudian memperlihatkan wajah lain di samping orang yang sudah dikenal. Peneliti kembali ke arsip. Nama baru muncul. Siklusnya menjengkelkan, lambat, kadang buntu.
Memorial sendiri mengakui bahwa daftar Indigenous service bukan daftar yang selesai. Penelitian terus berjalan dan nama-nama baru masih ditemukan. Jumlah orang pribumi yang bertugas selama Perang Dunia II juga tidak dapat dipastikan secara mutlak; perkiraan Memorial menyebut sekitar 3.000 hingga 4.000 orang Aborigin dan penduduk Kepulauan Torres terlibat sebagai personel, anggota unit tidak reguler, atau tenaga pendukung, termasuk perempuan.
Jadi 69 perempuan itu sebenarnya memiliki dua tanggal penting dalam sejarahnya. Tanggal ketika mereka menjalankan pekerjaan atau dinas selama perang, dan tanggal ketika seorang peneliti berhasil menemukan mereka.
Yang kedua mungkin terasa aneh. Orang meninggal, arsip disimpan, negara berganti, museum membangun koleksi, generasi keluarga berpindah kota, nama keluarga berubah ejaan. Kemudian seorang peneliti duduk bertahun-tahun dengan potongan-potongan informasi dan menyadari bahwa perempuan yang tercatat sebagai sesuatu dalam satu dokumen ternyata adalah orang yang sama dengan perempuan dalam foto lain.
Dolly Gurinyi Batcho menjadi contoh yang bagus. Memorial sekarang tidak hanya menyimpan namanya, tetapi juga foto dan konteks kehidupannya di Darwin. Dalam salah satu catatan koleksi, tanggal lahirnya bahkan hanya dicatat sebagai “c. 1905”. Dua huruf dan satu angka perkiraan. Tidak terlalu mengesankan jika dibandingkan dengan tanggal pertempuran atau jumlah korban. Tetapi bagi seseorang yang hampir lenyap dari catatan sejarah, “sekitar 1905” jauh lebih berharga daripada tidak ada tanggal sama sekali.
Pekerjaan seperti itu juga memaksa kita mengubah cara membaca arsip. Kekosongan tidak selalu berarti seseorang tidak melakukan apa-apa. Kadang kekosongan berarti sistem pencatatannya buruk. Kadang berarti identitas seseorang tidak dianggap penting untuk dicatat. Kadang keluarga sendiri menyimpan cerita yang tidak pernah masuk institusi. Kadang nama seseorang memang ada, tetapi hubungan antara nama dan identitas pribuminya telah terputus.
Karena itulah angka 69 terasa menipu. Ia tampak seperti hasil akhir, padahal sebenarnya lebih mirip laporan kemajuan.
Michael Bell pernah mengajak masyarakat yang memiliki informasi tentang kontribusi penduduk Aborigin dan Kepulauan Torres dalam dinas militer atau upaya perang untuk menghubungi Memorial. Penelitiannya membutuhkan informasi keluarga, sejarah lokal, dokumen, foto, dan ingatan. Museum perang, dalam pekerjaan semacam itu, berubah menjadi sesuatu yang sedikit aneh: institusi besar yang justru harus meminta bantuan orang biasa untuk mengetahui siapa saja yang selama ini telah berada di dalam koleksinya.
Mungkin suatu hari daftar itu berisi lebih dari 69 nama.
Kemudian seseorang akan membuka satu nama lagi, menemukan nomor dinas, mencari foto, membaca catatan keluarga, memperbesar wajah perempuan di sudut gambar, dan berkata bahwa perempuan yang selama ini dianggap tidak diketahui ternyata punya nama.
Pekerjaan itu belum selesai. Nama berikutnya mungkin masih terselip di sebuah kotak arsip, ditulis dengan tinta yang mulai pudar.
.jpg)

