Dikubur Hidup-hidup: Dinyatakan Sudah Mati Ternyata Masih Hidup

Ilustrasi/daily.jstor.org
Bunyi lonceng kecil yang berdering dari bawah tanah pernah dianggap teknologi penyelamat nyawa. Bukan metafora. Bukan adegan novel gotik. Lonceng itu benar-benar dipasang pada peti mati.

Seorang dokter Jerman bernama Adolf Gutsmuth pada awal abad ke-19 bahkan begitu terobsesi dengan kemungkinan dikubur hidup-hidup, hingga ia beberapa kali meminta dirinya dikubur sementara untuk membuktikan bahwa seseorang dapat bertahan di dalam peti mati dengan bantuan ventilasi. Dalam salah satu demonstrasi yang terkenal, makanan dan minuman diturunkan kepadanya melalui tabung. Dunia saat itu tidak hanya takut pada kematian. Dunia takut pada diagnosis kematian.

Ketakutan tersebut memiliki nama: taphophobia, ketakutan dikubur hidup-hidup. Nama yang terdengar berlebihan bagi orang abad ke-21 yang hidup di tengah monitor jantung, CT scan, EEG, dan protokol medis yang rinci. Namun bagi penduduk Paris, London, Vienna, atau Philadelphia pada abad ke-18 dan ke-19, ketakutan itu memiliki dasar yang cukup nyata untuk membuat orang-orang waras menulis surat wasiat yang aneh.

Salah satu contoh paling terkenal datang dari penulis Denmark, Hans Christian Andersen. Ia hidup dengan kecemasan luar biasa terhadap kemungkinan dinyatakan mati saat sebenarnya masih hidup. Setiap kali tidur di hotel, ia sering meninggalkan catatan di dekat tempat tidurnya: "Saya hanya tampak mati." Kalimat itu terdengar lucu sampai kita mengingat bahwa pada zamannya, garis antara hidup dan mati memang jauh lebih kabur.

Masalahnya sederhana sekaligus mengerikan. Tubuh manusia dapat memasuki keadaan yang menipu. Hipotermia, koma, epilepsi, keracunan tertentu, katalepsi, atau gangguan neurologis lain bisa membuat seseorang hampir tidak bergerak, bernapas sangat lambat, dan memiliki denyut yang nyaris tak terdeteksi. Dokter abad ke-18 tidak memiliki stetoskop modern. Bahkan stetoskop baru diperkenalkan oleh René Laennec pada tahun 1816. Sebelumnya, banyak pemeriksaan dilakukan dengan menempelkan telinga ke dada pasien atau mengamati tanda-tanda yang sangat kasar.

Di kota-kota Eropa, wabah penyakit memperparah keadaan. Saat epidemi kolera melanda pada abad ke-19, korban meninggal berdatangan begitu cepat sehingga proses identifikasi kematian sering terburu-buru. Tubuh yang tampak tidak bernyawa harus segera dipindahkan. Ruang penyimpanan terbatas. Kuburan harus terus digali. Dalam suasana panik semacam itu, kesalahan jadi lebih mungkin terjadi.

Cerita-cerita mulai beredar. Sebagian mungkin benar, sebagian hampir pasti dibesar-besarkan. Surat kabar abad ke-19 menyukai kisah semacam itu karena pembaca menyukainya. Orang-orang berkumpul di kedai kopi sambil membicarakan jenazah yang ditemukan dengan posisi tubuh berubah ketika makam dibuka kembali. Kuku yang tampak memanjang. Wajah yang seolah membeku dalam ekspresi ketakutan.

Penjelasan modern untuk banyak kisah tersebut sebenarnya cukup membosankan. Kulit mayat menyusut sehingga kuku terlihat lebih panjang. Proses pembusukan menghasilkan perubahan posisi tertentu pada tubuh. Peti mati kayu bisa bergeser. Namun ketakutan manusia tidak pernah tumbuh dari penjelasan yang membosankan. Ketakutan tumbuh dari kemungkinan kecil yang mengerikan.

Maka lahirlah industri yang sekarang terdengar seperti campuran antara rekayasa teknik dan horor. "Safety coffin" atau peti mati pengaman menjadi bisnis yang cukup ramai pada abad ke-19. Berbagai desain dipatenkan di Jerman, Inggris, Prancis, dan Amerika Serikat. Sebagian memiliki tabung udara. Sebagian memiliki bendera kecil yang akan muncul di atas tanah jika tali tertentu ditarik dari dalam peti mati. Sebagian memasang lonceng yang terhubung ke tangan jenazah melalui kabel.

Membayangkan mekanismenya saja sudah membuat tengkuk terasa dingin. Seseorang dikuburkan. Gelap total. Kayu menekan dari segala sisi. Udara terbatas. Jika ternyata masih hidup, ia tinggal menarik tali. Lonceng di atas tanah akan berbunyi.

Pertanyaan yang jarang diajukan: siapa yang mendengar lonceng itu?

Kuburan tidak selalu ramai. Penjaga makam bisa tertidur. Angin bisa menggerakkan mekanisme. Hewan kecil bisa mengganggu tali. Banyak rancangan peti mati pengaman ternyata lebih meyakinkan secara psikologis daripada efektif secara praktis.

Kisah-kisah paling terkenal sering memiliki riwayat yang berantakan ketika diperiksa lebih dekat. Cerita tentang wanita yang terbangun saat proses autopsi. Kisah bangsawan yang ditemukan dalam posisi berbeda setelah makam dibuka. Narasi tentang gadis muda yang terdengar mengetuk dari bawah tanah. Banyak yang berasal dari surat kabar sensasional, buku anekdot, atau cerita yang terus disalin dari satu publikasi ke publikasi lain tanpa sumber primer yang jelas.

Ironisnya, ketakutan terhadap dikubur hidup-hidup justru berkembang pesat ketika ilmu kedokteran mulai lebih ilmiah. Sebelum itu, kematian sering diterima sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari. Ketika dokter mulai mengklaim kemampuan lebih besar untuk memahami tubuh, publik juga mulai menyadari kemungkinan bahwa dokter bisa salah.

Suasana psikologis abad ke-19 memang cocok untuk kecemasan semacam itu. Kota-kota tumbuh cepat. Rumah sakit berkembang. Hubungan manusia dengan kematian berubah. Sebelumnya, banyak orang meninggal di rumah, dikelilingi keluarga. Kini kematian semakin sering terjadi dalam institusi medis. Tubuh manusia mulai menjadi objek pemeriksaan profesional. Ketika otoritas medis meningkat, ketakutan terhadap kesalahan medis ikut meningkat.

Dunia sastra segera menangkap kegelisahan itu. Tidak mengherankan jika Edgar Allan Poe menulis cerita pendek berjudul The Premature Burial. Poe memahami sesuatu yang sering luput dari dokter dan insinyur. Horor terbesar bukan kematian. Horor terbesar adalah kesadaran.

Mayat tidak takut dikuburkan. Orang yang masih hidup takut.

Saat membaca deskripsi Poe tentang seseorang yang terbangun dalam ruang sempit dan gelap, dada terasa sedikit sesak meskipun pembaca tahu itu hanya fiksi. Tubuh manusia bereaksi sangat cepat terhadap gagasan terjebak. Lorong sempit, lift macet, ruang tanpa jendela, peti mati. Otak tampaknya memiliki tombol panik bawaan untuk situasi seperti itu.

Kemudian teknologi berkembang. Stetoskop menjadi umum. Elektrokardiogram muncul. Defibrilator ditemukan. Pemahaman neurologi meningkat. Kriteria kematian jadi jauh lebih ketat. Kesalahan tentu masih mungkin terjadi dalam dunia medis modern, tetapi kemungkinan seseorang dikubur hidup-hidup telah turun ke tingkat yang nyaris tak terbayangkan dibanding dua abad lalu.

Lucunya, rasa takutnya tidak ikut menghilang. Film horor masih menggunakannya. Novel thriller masih memakainya. Orang-orang masih bergidik ketika mendengar cerita tentang peti mati. Ketakutan tersebut bertahan karena menyentuh sesuatu yang sangat dasar. Hampir semua bentuk kematian mengandung ketidakpastian. Dikubur hidup-hidup mengandung kepastian yang jauh lebih mengganggu: sadar sepenuhnya terhadap apa yang sedang terjadi.

Museum-museum kedokteran di Eropa masih menyimpan gambar rancangan peti mati pengaman. Beberapa tampak cerdas. Sebagian terlihat putus asa. Tali, katrol, lonceng, pipa udara, jendela kecil, alarm mekanis. Perangkat-perangkat itu mengingatkan bahwa selama ratusan tahun manusia tidak hanya bertanya apakah seseorang telah mati. Mereka juga bertanya kapan seseorang benar-benar mati.

Pertanyaan tersebut terdengar sederhana sampai kita melihat foto-foto ruang mayat abad ke-19, lampu redup memantul pada logam dingin, tubuh-tubuh terbujur tanpa monitor elektronik yang berkedip. Seorang dokter membungkuk, mencoba mendengar denyut yang hampir tak terdengar. Keluarga berdiri beberapa langkah di belakangnya. Udara bercampur bau lilin dan kain basah.

Seseorang harus membuat keputusan. Sekarang atau tunggu satu hari lagi. Tidak semua orang yang berada di ruangan itu merasa yakin.


Related

Umum 2617401864153595166

Posting Komentar

emo-but-icon

Terbaru

Banyak Dibaca

Ebook BSM

Mengapa Dunia Seperti Sekarang? 100 Peristiwa yang Membentuk Dunia Kita

Pernah bertanya-tanya, mengapa dunia seperti sekarang? Mengapa dunia terbagi-bagi dalam banyak negara? Mengapa ada orang-orang yang sangat k...

item