Al-Farabi, Pemikir Cemerlang yang Membangun Pijakan Filsafat Islam

Ilustrasi/chanelmuslim.com
Di antara semua filsuf dalam sejarah Islam, Al-Farabi mungkin salah satu yang paling aneh. Bukan karena gagasannya sulit dipahami—meskipun memang sering begitu—tapi karena kehidupannya sendiri terasa seperti kontradiksi yang berjalan. 

Ia hidup pada masa ketika para pejabat berlomba mendekati istana, ketika ulama dan cendekiawan mencari patron yang kaya, ketika jabatan bisa mengangkat seseorang menjadi tokoh besar. Al-Farabi justru terkenal karena hidup nyaris seperti pertapa intelektual. Ia menjadi salah satu pemikir paling berpengaruh dalam sejarah dunia tanpa meninggalkan kisah-kisah kemenangan politik yang gemerlap.

Ketika orang menyebut filsafat Islam, nama yang biasanya muncul lebih dulu adalah Ibn Sina atau Ibn Rushd. Keduanya memang raksasa. Tetapi sebelum mereka berdiri, ada sosok yang membangun panggung tempat mereka berpijak. Sosok itu adalah Abu Nasr Muhammad ibn Muhammad ibn Tarkhan ibn Awzalagh al-Farabi.

Ia lahir sekitar tahun 870 di Farab, sebuah wilayah di Transoxiana yang sekarang berada di kawasan Kazakhstan. Kota itu juga dikenal dengan nama Otrar. Lokasinya berada dekat Sungai Syr Darya, di jalur perdagangan yang menghubungkan dunia Persia, Asia Tengah, dan Tiongkok. Karavan lewat membawa sutra, rempah, manuskrip, dan berita politik. Debu gurun menempel pada pakaian para pedagang. Kuda-kuda menggeram di tempat peristirahatan. Di wilayah seperti itulah Al-Farabi tumbuh.

Banyak rincian masa mudanya kabur. Sumber-sumber abad pertengahan tidak sepakat mengenai asal etnisnya. Sebagian menyebutnya berdarah Turki, sebagian menghubungkannya dengan lingkungan Persia. Perdebatan itu masih berlangsung hingga sekarang, sering kali karena alasan nasionalisme modern yang sebenarnya tidak terlalu relevan bagi dunia abad ke-9. Al-Farabi hidup dalam peradaban yang jauh lebih cair daripada batas negara modern. Seorang ilmuwan dapat lahir di Asia Tengah, belajar di Baghdad, mengajar di Suriah, lalu dimakamkan di Damaskus.

Yang lebih penting daripada asal-usulnya adalah obsesinya terhadap ilmu.

Pada suatu titik dalam hidupnya, ia meninggalkan Farab dan bergerak menuju Baghdad. Kota itu sedang berada di pusat dunia intelektual Islam. Sulit mencari padanan modern yang tepat. Baghdad saat itu adalah perpustakaan, universitas, pusat penerjemahan, pasar internasional, dan arena pertarungan ide sekaligus. Di sana, karya-karya Yunani diterjemahkan ke bahasa Arab. Nama-nama seperti Aristotle, Plato, dan Galen, beredar di kalangan terpelajar. Al-Farabi datang bukan sebagai bintang. Ia datang sebagai murid.

Salah satu gurunya adalah Yuhanna ibn Haylan, seorang filsuf Kristen Nestorian yang mengajarkan logika Aristoteles. Detail semacam itu sering terlupakan ketika sejarah intelektual Islam disederhanakan menjadi kisah satu agama atau satu kelompok. Seorang Muslim dari Asia Tengah belajar filsafat Yunani dari seorang guru Kristen di Baghdad yang diperintah khalifah Muslim. Dunia nyata jauh lebih berantakan daripada slogan-slogan identitas yang muncul berabad-abad kemudian.

Al-Farabi menghabiskan waktu bertahun-tahun mempelajari logika. Logika pada zamannya bukan sekadar cabang filsafat. Ia dianggap sebagai alat berpikir itu sendiri. Banyak laporan menyebutkan bahwa ia membaca karya Aristoteles berulang-ulang. Ada cerita terkenal bahwa ia membaca buku De Anima dua ratus kali dan Physics empat puluh kali. Angka-angka itu mungkin dilebih-lebihkan oleh para penulis biografi. Tetap saja, kisah tersebut menunjukkan reputasi yang melekat pada dirinya: seseorang yang belajar dengan intensitas hampir tak masuk akal.

Ada sesuatu yang sedikit gila dalam gambaran itu. Bayangkan ruangan kecil yang diterangi lampu minyak. Asap tipis mengambang di udara. Mata mulai pedih karena membaca naskah yang sama berkali-kali. Jari menghitam oleh tinta. Sementara di luar, Baghdad tetap ramai oleh perdagangan dan politik.

Al-Farabi tidak hanya mempelajari filsafat Yunani. Ia mencoba membangun sistem yang utuh. Ia ingin memahami bagaimana logika, metafisika, etika, musik, politik, psikologi, dan agama, dapat ditempatkan dalam satu kerangka besar. Ambisi intelektualnya hampir berlebihan. Karena itulah ia kemudian dijuluki Al-Mu’allim al-Thani—Guru Kedua. Guru Pertama adalah Aristoteles.

Julukan semacam itu terdengar luar biasa berani. Dunia Islam menghasilkan banyak filsuf besar, tetapi hanya satu orang yang secara luas memperoleh gelar tersebut. Julukan itu bukan tanda bahwa semua orang setuju dengannya. Justru sebaliknya. Banyak pemikir kemudian menghabiskan waktu berdebat dengan ide-idenya.

Karyanya sangat banyak. Salah satu yang paling berpengaruh adalah Al-Madinah al-Fadilah, sering diterjemahkan sebagai Kota Utama atau Kota yang Bajik. Dalam buku itu, Al-Farabi membayangkan masyarakat ideal yang dipimpin oleh seorang penguasa-filsuf. Pengaruh Plato terlihat jelas. Tetapi Al-Farabi tidak sekadar menyalin Plato. Ia menggabungkan filsafat Yunani dengan pengalaman politik dunia Islam.

Ketika membaca bagian-bagian tertentu dari buku tersebut, saya selalu mendapat kesan bahwa Al-Farabi tidak terlalu percaya pada kebijaksanaan massa. Pandangannya cukup elitis. Ia membayangkan masyarakat yang tertata secara hierarkis dengan pemimpin yang memiliki kualitas intelektual luar biasa. Banyak pembaca modern mungkin merasa tidak nyaman dengan gagasan itu. Kenyamanan tampaknya bukan prioritas Al-Farabi.

Ia juga menulis tentang musik. Itu salah satu sisi dirinya yang sering membuat orang terkejut. Banyak filsuf berbicara tentang etika atau metafisika. Al-Farabi menulis salah satu risalah musik paling penting pada Abad Pertengahan, Kitab al-Musiqa al-Kabir. Ia menganalisis interval nada, harmoni, struktur musik, dan hubungan antara suara dengan jiwa manusia.

Cerita-cerita legenda tentang kemampuannya bermunculan. Salah satu kisah populer menyebut bahwa ia memainkan alat musik hingga para pendengar tertawa, menangis, lalu tertidur. Kemungkinan besar cerita itu fiksi. Tapi tetap menarik bahwa imajinasi masyarakat menggambarkannya bukan sebagai akademisi kering, tetapi seseorang yang memahami daya emosional musik.

Baghdad kemudian mengalami gejolak politik. Al-Farabi berpindah-pindah. Ia tinggal di Aleppo di bawah perlindungan penguasa Hamdaniyah, Sayf al-Dawla. Istana Sayf al-Dawla menjadi tempat berkumpul para penyair, ilmuwan, dan filsuf. Di sana hadir pula penyair besar Al-Mutanabbi.

Hubungan Al-Farabi dengan lingkungan istana terasa agak canggung. Banyak sumber menggambarkannya hidup sangat sederhana meskipun memiliki akses ke penguasa kaya. Ada kisah yang menyebut ia hanya menerima empat dirham sehari untuk kebutuhan hidupnya. Kebenaran detail angka tersebut sulit diverifikasi, tetapi reputasinya sebagai pribadi asketis muncul berulang kali dalam berbagai sumber.

Sifat itu mungkin menjelaskan mengapa tulisan-tulisannya sering terasa berbeda dari karya para intelektual yang terlalu dekat dengan kekuasaan. Ia memang berbicara tentang negara ideal, tetapi jarang terdengar seperti juru bicara penguasa tertentu.

Pengaruh Al-Farabi terhadap filsafat Islam hampir mustahil dilebih-lebihkan. Ibn Sina mengakui utangnya kepada Al-Farabi. Menurut sebuah kisah terkenal, Ibn Sina kesulitan memahami metafisika Aristoteles, sampai menemukan penjelasan karya tersebut yang ditulis Al-Farabi. Setelah membacanya, ia merasa seolah kabut tersingkap dari pikirannya.

Jejak Al-Farabi tidak berhenti di dunia Islam. Pemikiran politik dan metafisikanya mempengaruhi tradisi Yahudi melalui tokoh seperti Maimonides. Sebagian gagasannya kemudian masuk ke percakapan filsafat Eropa Latin.

Ia meninggal di Damaskus sekitar tahun 950. Kota itu pada abad ke-10 dipenuhi kebun, saluran air, pasar, dan bangunan batu yang menghadap jalan-jalan sempit. Banyak versi mengenai kematiannya. Sebagian sumber menggambarkannya meninggal secara alami. Sumber lain menawarkan cerita yang lebih dramatis, termasuk kemungkinan dirampok dalam perjalanan. Riwayat yang lebih sederhana biasanya dianggap lebih dapat dipercaya.

Yang tersisa setelah kematiannya bukan sekolah besar yang memakai namanya, bukan dinasti intelektual yang dijalankan keluarganya, bukan pula gerakan politik yang mengklaim dirinya sebagai nabi ideologi tertentu. Yang tersisa adalah ribuan halaman buku yang terus diperdebatkan selama berabad-abad.

Ada bagian yang saya sukai dari biografi Al-Farabi, justru karena detailnya kecil dan agak tidak penting. Beberapa penulis abad pertengahan menggambarkannya senang menyendiri di taman-taman Damaskus untuk membaca dan menulis. Sulit memastikan akurasi cerita itu. Tetapi gambaran tersebut terasa cocok dengan sosok yang muncul dari karya-karyanya: seorang lelaki yang menghabiskan hidup mengejar keteraturan pikiran di dunia yang sebenarnya sangat berisik.

Di suatu tempat di Damaskus, sekitar pertengahan abad ke-10, seorang filsuf tua duduk dengan naskah di pangkuannya. Di pasar, para pedagang masih menawar harga. Tentara masih berlatih. Penyair masih mencari patron. Politik terus bergerak dengan segala keramaiannya. Al-Farabi tetap sibuk dengan persoalan yang menurut sebagian orang tidak praktis sama sekali: bagaimana manusia berpikir, bagaimana masyarakat harus diatur, mengapa musik bisa mengubah suasana hati, dan mengapa begitu banyak orang berbicara tentang kebenaran sementara begitu sedikit yang mau bekerja keras untuk mencarinya.


Related

Tokoh 3626028383366311888

Posting Komentar

emo-but-icon

Terbaru

Banyak Dibaca

Ebook BSM

Mengapa Dunia Seperti Sekarang? 100 Peristiwa yang Membentuk Dunia Kita

Pernah bertanya-tanya, mengapa dunia seperti sekarang? Mengapa dunia terbagi-bagi dalam banyak negara? Mengapa ada orang-orang yang sangat k...

item