Xi Jinping, dari Lumpur Desa Menjadi Penguasa Negara Raksasa
https://www.belajarsampaimati.com/2026/08/xi-jinping-dari-lumpur-desa-menjadi.html
![]() |
| Ilustrasi/idnfinancials.com |
Bau kotoran ternak tidak pernah muncul dalam pidato-pidato geopolitik. Ketika para analis di Washington membahas kebangkitan China, mereka berbicara tentang kapal induk, kecerdasan buatan, semikonduktor, Laut China Selatan, atau cadangan devisa triliunan dolar. Ketika para investor mempelajari Beijing, mereka melihat grafik pertumbuhan ekonomi dan angka ekspor. Jarang ada yang membicarakan kotoran ternak.
Padahal salah satu orang paling berkuasa di dunia pernah menghabiskan masa mudanya dengan mengangkut kotoran ternak dengan keranjang. Namanya Xi Jinping.
Sulit memahami Xi Jinping tanpa memahami desa bernama Liangjiahe.
Liangjiahe bukan tempat yang romantis. Desa itu berada di Provinsi Shaanxi, wilayah dataran tinggi loess yang tanahnya berwarna kekuningan dan mudah tergerus angin. Musim dinginnya keras. Musim panasnya kering. Pada akhir 1960-an, banyak rumah penduduk masih berupa yaodong, gua-gua yang digali di lereng bukit.
Di sanalah Xi Jinping, yang waktu itu seorang remaja Beijing berusia lima belas tahun, tiba setelah dunianya runtuh.
Bayangkan kontrasnya.
Xi lahir pada 1953 sebagai putra Xi Zhongxun, salah satu veteran revolusi yang membantu membawa Partai Komunis menuju kemenangan. Keluarganya termasuk aristokrasi baru republik yang baru lahir. Mereka hidup dekat pusat kekuasaan. Nama keluarga mereka membuka pintu.
Lalu datang Revolusi Kebudayaan. Sulit menjelaskan kepada generasi sekarang betapa kacau periode itu. Ketika orang membayangkan rezim otoriter, mereka sering membayangkan struktur yang rapi dan disiplin. Revolusi Kebudayaan justru sering tampak seperti ledakan yang tak terkendali. Murid-murid mengkritik guru. Anak-anak mengkritik orang tua. Pejabat tinggi dihina di depan umum. Karier puluhan tahun bisa lenyap dalam semalam.
Ayah Xi menjadi salah satu korbannya. Ia dituduh menyimpang secara politik. Jabatannya dicabut. Keluarga mereka ikut terseret ke bawah. Salah satu saudari tiri Xi meninggal dalam periode penuh kekacauan itu. Banyak detail tragedi keluarga tersebut masih kabur sampai hari ini.
Yang jelas, status mereka berubah drastis. Anak yang sebelumnya hidup di Beijing kini harus tinggal di desa miskin.
Ada kisah yang berulang dalam berbagai wawancara warga Liangjiahe. Mereka mengingat Xi muda sebagai pemuda yang awalnya kesulitan beradaptasi. Tidak mengherankan. Ia berasal dari ibu kota. Mendadak harus hidup di tempat yang bahkan listrik pun belum jadi hal biasa.
Ia tidur di ranjang bata, bekerja di ladang, mengangkut pupuk, membersihkan kandang.
Banyak orang membayangkan pengalaman semacam itu akan melahirkan pemberontak. Atau setidaknya seorang sinis. Yang terjadi justru sebaliknya. Dan itulah bagian yang menurut saya paling menarik sekaligus paling membingungkan dari biografi Xi.
Partai menghancurkan keluarganya. Xi memilih masuk partai. Bukan sekali mencoba. Berkali-kali. Permohonan keanggotaannya ditolak berulang kali karena latar belakang keluarganya dianggap bermasalah. Ia tetap mengajukan lagi. Ditolak lagi. Mengajukan lagi. Ada sesuatu yang hampir keras kepala dalam keputusan itu.
Sebagian orang melihatnya sebagai oportunisme. Sebagian melihatnya sebagai keyakinan ideologis. Sebagian lagi melihatnya sebagai pelajaran yang dipetik dari Revolusi Kebudayaan; jika ingin selamat dalam sistem, jadilah bagian dari sistem.
Saya tidak yakin ada jawaban tunggal. Manusia jarang sesederhana teori politik.
Ketika akhirnya diterima menjadi anggota Partai Komunis, Xi telah melewati pengalaman yang tidak dialami banyak elite Beijing lain. Ia mengenal pedesaan dari dalam, bukan dari laporan statistik. Pengalaman itu terus muncul dalam cara ia berbicara bertahun-tahun kemudian.
Setelah belajar teknik kimia di Tsinghua University, Xi tidak langsung menjadi tokoh nasional. Jalurnya justru terasa membosankan jika dibandingkan dengan pemimpin karismatik yang sering muncul dalam film. Tidak ada revolusi. Tidak ada pidato legendaris. Tidak ada momen besar yang membuat namanya mendadak terkenal.
Kariernya bergerak seperti birokrat yang sangat sabar. Hebei. Fujian. Zhejiang. Shanghai. Satu jabatan ke jabatan berikutnya. Satu provinsi ke provinsi berikutnya. Dan itu berlangsung selama tiga puluh tahun.
Tiga puluh tahun adalah waktu yang lama sekali. Seorang bayi yang lahir ketika Xi mulai bekerja di Fujian bisa memiliki anak sendiri ketika Xi mencapai puncak kekuasaan.
Di Fujian, ia berurusan dengan ekonomi pesisir yang berkembang cepat. Di Zhejiang, ia mengawasi salah satu wilayah paling dinamis dalam sektor swasta China. Shanghai memberinya panggung yang lebih besar. Semua itu terlihat biasa sampai seseorang melihat pola yang terbentuk.
Xi tidak pernah menjadi bintang. Ia menjadi arsip. Sedikit demi sedikit ia mengumpulkan pemahaman tentang bagaimana negara raksasa itu bekerja. Kota pelabuhan berbeda dari desa pegunungan. Pengusaha swasta berbeda dari kader partai lokal. Kepentingan militer berbeda dari kepentingan birokrasi.
Ketika banyak analis Barat mencoba menjelaskan kebangkitan Xi, mereka sering memakai bahasa yang terdengar seperti cerita intrik istana. Padahal sebagian kekuatannya justru berasal dari sesuatu yang lebih membosankan; pengalaman administratif yang sangat panjang.
Tahun 2012, banyak petinggi partai menganggap Xi sebagai figur kompromi. Sosok yang aman. Tidak terlalu ideologis. Tidak terlalu berbahaya.
Perhitungan itu ternyata salah besar. Dalam beberapa tahun berikutnya, Xi melakukan konsolidasi kekuasaan paling signifikan sejak era Deng Xiaoping. Kampanye antikorupsinya menyapu ribuan pejabat. Sebagian memang korup. Sebagian adalah rival politik. Sering kali sulit memisahkan keduanya. Nama-nama besar tumbang. Jenderal militer. Kepala keamanan. Tokoh partai senior.
Banyak orang di luar China melihat kampanye itu semata-mata sebagai perebutan kekuasaan. Sebagian warga China melihatnya berbeda. Korupsi memang masalah nyata. Pada tahun-tahun sebelumnya, kemarahan publik terhadap pejabat yang hidup mewah sudah cukup terasa. Mobil mewah, jam tangan mahal, apartemen rahasia, rekening luar negeri.
Xi memanfaatkan sentimen tersebut dengan sangat efektif. Kekuasaan yang diperoleh melalui kampanye itu kemudian diperluas. Batas masa jabatan presiden dihapus. Pemikiran Xi masuk ke dalam konstitusi. Potretnya semakin sering muncul. Namanya semakin sering disebut. Buku-bukunya diterbitkan dalam jumlah besar.
Ada ironi yang menarik di sini. Mao Zedong membentuk generasi yang mengalami kekacauan Revolusi Kebudayaan. Xi adalah salah satu produk generasi tersebut.
Banyak pemimpin yang mengalami trauma politik cenderung membenci sentralisasi kekuasaan. Xi justru tampak percaya bahwa negara sebesar China membutuhkan kendali yang lebih kuat dari pusat.
Bisa jadi pengalaman masa mudanya berperan di sana. Kekacauan sering membuat sebagian orang merindukan ketertiban dengan intensitas yang sulit dipahami oleh mereka yang tidak pernah mengalaminya.
Hari ini, ketika Xi berbicara tentang "Mimpi China", ia tidak sedang menjual slogan yang lahir dari ruang rapat perusahaan konsultan politik. Ada campuran yang lebih rumit. Ingatan tentang kemiskinan. Ingatan tentang penghinaan nasional yang sering diajarkan dalam narasi sejarah resmi China. Ingatan tentang desa-desa yang tertinggal. Ingatan tentang masa ketika keluarganya jatuh dari puncak kekuasaan ke dasar tanah loess di Shaanxi.
Mungkin itu sebabnya banyak pengamat Barat sering salah membaca Xi. Mereka mencari seorang reformis pasar. Atau seorang komunis ortodoks. Atau seorang nasionalis sederhana. Yang muncul justru sesuatu yang lebih sulit dikategorikan.
Seorang pria yang pernah tidur di gua tanah liat kini mengendalikan negara dengan jaringan kereta cepat terbesar di dunia, program luar angkasa yang ambisius, sistem pengawasan digital yang belum pernah ada sebelumnya, dan ekonomi yang masih menjadi pusat manufaktur planet ini.
Di Liangjiahe, gua tempat Xi pernah tinggal, masih ada. Wisatawan datang berkunjung. Foto-foto dipasang. Kisah masa mudanya diceritakan berulang-ulang.
Di Beijing, ribuan kilometer dari sana, dokumen-dokumen kebijakan terus diproduksi setiap hari. Sebagian ditandatangani atas namanya. Sebagian akan menentukan arah hidup miliaran orang yang tidak pernah menginjakkan kaki di Shaanxi.
Malam turun di kompleks Zhongnanhai. Lampu masih menyala di sejumlah gedung pemerintahan. Berkas terus berpindah dari satu meja ke meja lain.
Di Liangjiahe, angin masih membawa debu kuning dari dataran tinggi loess.
Catatan terkait: Che Guevara, Wajah Revolusioner yang Dipisahkan dari Jiwanya


